Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 124 MIMPI SEORANG AYAH


Sarah terdiam mendengar suara ayahnya yang hampir tak sampai di telinganya itu.


"Aku hanya datang untuk melihatmu, dan kalau boleh aku ingin bertemu dengan cucuku..." Lanjutnya dengan pias salah tingkah, mencuri pandang kepada Sarah yang masih menatapnya dengan tak berkedip.


"Aku sudah meminta ijin kepada papamu untuk bisa bertemu satu kali saja denganmu, dan aku juga telah meminta ijin dengan suamimu untuk bisa berbicara denganmu, sebelum aku kembali ke Kanada besok." Kata ayah Sarah, berusaha tersenyum kembali.


Hati Sarah sesungguhnya begitu teriris mendengar seorang ayah harus meminta ijin kepada orang lain untuk bertemu anaknya, tapi apa yang bisa di katakannya, dia hanya menelan ludahnya sendiri dengan dada yang terasa semakin sesak seperti dihimpit oleh batu besar.


"Kanada? besok? " Bibir Sarah gemetar.


"Aku sangat mengerti jika kamu tak pernah bisa menerima ayah. Tak apa...sungguh ayah tak apa. Melihatmu saja sudah cukup. Memastikan kamu baik-baik saja, itu sudah cukup." Suara ayah Sarah terdengar getir.


Sarah tak bisa berkata apa-apa. Hanya matanya yang tak lepas memandang setiap perubahan wajah ayahnya.


Semua tanya yang selalu dirancangnya jika Tuhan memberikan dia kesempatan untuk bertemu sang ayah seolah hilang begitu saja.


Di kepalanya, sosok ayah yang telah meninggalkannya adalah laki-laki yang jahat tanpa perasaan. Ya...tentu saja, sosok yang digambarkannya selama puluhan tahun, dalah seorng penjahat.


Tapi, apa yang kini ada di depan matanya, jauh dari bayangannya. Dia adalah laki-laki yang nyaris untuk berbicara padanya pun begitu banyak menunduk dan tak hampir tak satupun pertanyaan dari bibirnya mampu benar-benar di jawabnya.


"Aku sudah berada di sini hampir tiga pekan, sayangnya aku membuang-buang waktuku dengan percuma karena aku begitu pengecut, aku tak punya keberanian untuk bertemu denganmu. Tapi, kerinduan kadang mengalahkan rasa takut dan rasa bersalah. Waktuku tak banyak...melihatmu sebentar saja rasanya sudah cukup. Andai kamu tak bisa memaafkan ayahmu ini, aku tak sedikitpun menyalahkanmu." Ayah Sarah tampak putus asa, semua reaksi Sarah begitu dingin bahkan dia tak banyak bicara, hanya memberi pertanyaan demi pertanyaan yang di sendiri tak mampu menjawabnya.


Saat pelayan cafe datang, menanyakan apa menu yang akan dipesan, Sarah tetap tak bergeming. Dia hanya berusaha mencerna semua yang di katakan oleh ayahnya itu tanpa bisa mengerti mengapa dia benar-benar ditinggalkan oleh ayahnya.


"Tidak...kami mungkin tak memesan apa-apa lagi...Kami akan segera pergi. Berikan saja billnya." ayah Sarah mendonggakkan wajahnya sesaat pada pelayan yang nampak bingung melihat pada mereka berdua bergantian, lalu dengan ragu meninggalkan meja nomor 5 itu.


Laki-laki paruh baya ini hampir setengah jam duduk dengan gelisah dan hanya memesan sebuah kopi pahit tanpa gula. Dan setelah di bertemu dengan orang yang ditunggunya, dia seolah kehilangan semua harapan, pelayan cafe itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, dia mungkin sedang di putusi oleh kekasihnya, itu yang ada di dalam benaknya.


Ayah Sarah berdiri, sepertinya dia memang harus pergi, dia tak merasa anaknya itu menginginkan pertemuan itu lebih lama.


"Terimakasih sudah boleh bertemu denganmu, Sarah..."Ayah Sarah berdiri, dengan wajah yang tertunduk, dua bulir bening jatuh lagi di sudut matanya.


Dia bersyukur setidaknya telah bertemu dengan anaknya itu, dan dia tahu anaknya itu telah sangat bahagia dalam hidupnya. Mendapatkan seorang suami yang baik dan berkecukupan, memiliki seorang anak. Sungguh tak ada lagi yang disesalinya dalam hidup.


Meskipun, mungkin dia akan menanggung dibenci oleh Sarah seumur hidupnya, dia tak lagi menyesalinya.


Via, aku telah bertemu dengan anak kita, dia baik-baik saja...


Dia sangat mirip denganmu, dia cantik dan sangat kuat, seperti dirimu.


Entah bagaimana dia melewati hidup selama ini tanpa kita, tapi dia sungguh sangat baik-baik saja.


Via, saat aku kembali kepadamu nanti, aku bisa mengatakan ini dengan senyum.


Sesaat ayah Sarah berdiri menatap pada puncak kepala sarah, sementara Sarah sendiri tak mengalihkan wajahnya, tatapannya kosong dan lurus.


"Selamat tinggal, nak...terimakasih..." Suara ayah Sarah gemetar mengucapkan kata pamit ini. Ini mungkin adalah kali pertama dan terakhir dia bertemu dengan Sarah.


Multiple Myeloma yang telah terdeteksi dalam sel plasma di dalam sumsum tulang belakangnya ini divonis telah di stadium empat, itupun baru diketahui saat dirinya mengalami patah tulang pada lengan kirinya dua bulan yang lalu.


Penyakit ini tak bisa disembuhkan dan ayah sarah tak berharap untuk sembuh. Tak ada lagi yang ingin diperjuangkannya dalam hidup.


Dia menolak saran untuk kemoterapi supaya bisa menjalani transpalantasi stem cell, karena dia tahu benar, itu hanya menunda sementara saja perkembangan sel kangker yang telah menjalar hampir di seluruh tulang-tulang di dalam tubuhnya.


Dosa masa muda mungkin memang akan di bayar di hari tua, bertahun-tahun kemudian setelah kita menua. Dia menyadari semua kesenangan di masa lalu harus di bayar lunas di kemudian hari. Di akhirat Tuhan mungkin akan menghitung amal ibadah kita tapi di dunia kita tetap harus bertemu karma.


Menanggungnya dengan lapang hati adalah pilihan bagi ayah Sarah, karena itu dia memilih untuk tidak berusaha melawan penyakit yang kini sedang di deritanya.


Dia akan kembali ke tempat persembunyian hampir di separuh umurnya, di kota kecil Kanada. Di sana memang tak ada yang menunggunya kecuali seekor anjing siberia bernama Choky. Dia pernah hidup bersama dengan seorang wanita selama beberapa tahun, sayangnya dia memutuskan untuk berpisah darinya karena dia tak pernah benar-benar bisa melupakan Viani dari hidupnya.


Ayah Sarah beranjak, dia berbalik sebelum air matanya yang lain akan jatuh menyusul, namun sesaat sebelum dia melangkah pergi, sebuah sentuhan di jemarinya, terasa dingin dan sedikit gemetar.


"Ayah..." tangan itu menggenggam tangan kanannya, seperti orang yang ketakutan ditinggal pergi.


Ayah sarah tertegun, dia terpaku di tempatnya, rasanya dia sedang bermimpi mendengar panggilan ayah di telinganya.


"Ayah...aku mohon jangan pergi lagi..." Sebuah pelukan di punggungnya terasa hangat, begitu hangat bahkan terasa sampai ke jantungnya.


Ayah Sarah benar-benar terpaku, dia tak bergerak seperti patung, di punggungnya sebuah isakan terdengar sementara lengan putih itu berkait, memeluknya dengan kuat.


Mata ayah sarah terpejam, airmata yang dibendungnya sedari tadi akhirnya tumpah ruah di pipinya. Rasa haru biru itu membuatnya hampir tak bisa bernafas.


Seumur hidup dia sangat memimpikan bayi perempuan kecil yang menangis di dalam gendongannya di depat jasad sang istri, 27 tahun yang lalu, memanggilnya dengan kata "ayah"


(Maafkan author lambat UP...kehidupan dunia nyata begitu kerasnya, sampai-sampai tak bisa menjenguk dunia halu😅 Tetap bersama Sarah yaaaa...❣️❣️❣️❣️❣️)



...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️......


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...I love you all❤️...