Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 185 TUGAS TERAKHIR


Bram mematung menatap piring yang berisi nasi dan potongan daging rendang kesukaannya. Terlihat menggugah tapi seleranya hilang entah kemana, pandangannya sekarang hanya tertuju pada Diah.


"Kenapa? Mas tidak lapar? aku masak banyak sekali untuk menyambut mas hari ini. Atau...mas takut, aku akan meracuni mas Bram?"


Diah bertanya sambil mengangkat alisnya, membuat Bram melongo. Bulu kuduknya meremang, dia merasa tersudutkan sekaligus di sindir bahkan dia juga merasa teranc pada saat bersamaan dengan begitu keras.


Dengan acuh Diah menyuap sepotong daging ke mulutnya dan mengunyahnya. Menelannya kemudian seolah Bram tak sama sekali di anggapnya ada.


"Aku menunggumu hari ini." Ucapnya kemudian setelah meneguk air di dalam gelas kaca yang ada di depannya.


"Sepanjang hari ini aku benar-benar menunggu kedatanganmu. Kau tahu mengapa, mas? Aku hanya ingin melaksanakan tugas terakhirku sebagai istri, karena ini adalah dinner pertama dan mungkin dinner terakhir kita, rasanya memang aneh tetapi sekaligus melegakan akhirnya aku bisa mewujudkan impianku duduk makan malam bersama, hanya berdua saja." Diah bergumam sambil memainkan garpu yang ada


di tangannya, seulas senyum tipis menghias bibirnya.



"Jangan bertingkah seperti orang gila, Diah." Entah untuk kali keberapa Bram menelan ludahnya sendiri, kerongkongannya terasa kering saat bertatapan dengan istri yang terasa seperti baru pertama kali di jumpainya itu.


"Entah aku atau kamu yang gila, atau kita berdua sama-sama gila."Diah menyahut dengan tak acuh, seringai tersampir di bibir merahnya.


"Kenapa kamu bekerja tanpa berbicara padaku?" Tuding Bram berusaha bersikap keras meskipun hatinya tiba-tiba dag dig dug tak karuan.


Dia tak tahu entah mengapa otaknya tak bisa bersikap seperti keinginannya.


"Apakah aku harus melakukannya seijin, mas?" Diah menghentikan aktivitasnya menyendok nasi di piringnya, matanya tertuju pada Bram beberapa jenak.


"Aku adalah suamimu!" Sambut Bram tajam,.


"Jika mas adalah suamiku, berarti aku adalah istri mas, kan?" Tanya Diah dengan alis yang berkerut.


Bram terkesiap mendengar pertanyaan yang begitu tajam menghujam telinganya.


"Jika demikian, apakah mas pernah meminta ijin juga padaku untuk meniduri perempuan lain selain aku, istri sah mas? Atau minimal ijin pergi menjadi pemuas nafsu ratu terkasihmu itu? Apakah benar mas merasa memperlakukanku seperti seorang istri? Apakah mas pernah menganggapku isteri selama ini." Lanjut Diah dalam banyak pertanyaan yang bertubi-tubi.


"Tidak usah membahas hal lain, aku tidak suka kamu bekerja di situ." Sergah Bram, rautnya mengeras tanda dia sedang kesal di cecar begitu rupa.


"Oh, ya? Apakah kita akan membahas tentang hal suka atau tidak suka? Apa aku juga bisa mengatakan hal apa yang tidak kusukai padamu, mas?" Diahvmenaikkan alisnya, tubuhnya terlihat tegak seakan siap untuk berdebat.


"Berhentilah bekerja dengan Sarah!" Bram menyela, nada itu di ucapkan Bram seperti perintah, bukan sebuah permintaan.


"Pelacurmu itu menyuruhmu melakukan ini padaku, kan?" Tanya Diah dengan berani, dia tak nampak takut sama sekali kepada Bram.


"Jangan sembarangan berbicara, Diah. Tak perlu memancingku untuk marah."


"Aku tidak sedang ingin membuatmu marah, mas. Aku sedang bertanya alasan, mengapa aku tak boleh bekerja dengan ibu Sarah."


"Aku hanya tak ingin melihatmu bekerja dengan Sarah, apakah aku perlu menjelaskan dengan detail kenapa aku tak menyukainya?"


"Mas tidak menyukainya, karena pacar mas itu tidak menyukainya!" Todong Diah dengan ketus.


"Jaga bicaramu, Diah! Kamu semakin kurang ajar saja."


"Katakan padanya, aku bukan di bawah kekuasaannya."Diah tersenyum sinis, tak perduli dengan raut tak senang Bram.


"Aku yang menyuruhmu berhenti!"


"Karena aku adalah suamimu."


"Suami...? Suami katamu, mas? apakah kamu mengerti apa yang sedang kamu ucapkan itu? Kamu tahu apa itu suami? Atau kamu hanya tahu dirimu di sebut suami karena telah mengucapkan kabul atas namaku? atau mungkin karena aku telah memberi service ranjang kapanpun kamu mau dan menjadi anjing penjaga rumahmu sehingga kamu layak di sebut suami untukku?" Diah memicingkan matanya.


Bram terdiam ketika Diah memajukan wajahnya, sorot matanya sungguh berbeda.


"Suami adalah imam dan kepala rumah tangga yang menjadi suri teladan bagi keluarga, yang mengayomi dan mencintai istrinya, yang mendidik dan membesarkan anak-anaknya, yang menjaga marwah dan menjauhkan keluarganya dari api neraka. Di antara tanggungjawab itu, adakah satu saja yang telah di jalankan mas dengan baik sehingga mas pantas menyebut diri mas suami?"


Bram tercengang pada Diah, tak pernah dia mendengar perempuan ini berbicara begitu banyak, bahkan mempertanyakan dirinya.


"Jangan bersikap kurang ajar padaku." Bram merasa gusar, tapi entah mengapa dia seperti es cream yang meleleh saat menatap kepada Diah.


Jantungnya berdetak seolah tak mau diam.


"Aku sudah hampir delapan tahun bersikap sopan padamu." Tukas Diah.


"Kamu perlu uang? Apa uang yang diberikan papa kurang untuk biaya hidupmu dan Bella? Jangan mempermalukan aku dengan bekerja di sana."


"Seharusnya dari dulu kamu malu, karena yang menafkahi istri dan anakmu bukan dirimu. Aku bekerja untuk membuat diriku tidak lagi bergantung pada orangtuamu." Dia menjawab tanpa ekspresi.


"Diah bisakah kita berbicara baik-baik." Baru kali ini Bram menyerah di depan Diah, nahkan untuk berdebatpun dia tak mampu.


"Aku sedang berusaha berbicara padamu." Diah melipat lengannya di atas meja dengan serius setelah menyingkirkan piring dari depannya.


"Apa yang ingin kamu katakan?"


"Aku tidak ingin mengatakan apapun pada mas, tapi aku ingin meminta mas mengatakan sesuatu padaku sekarang."


Mata yang berapi-api itu, menyorot lurus kepada Bram.


Tangannya merogoh sesuatu dari saku dressnya, sebuah kertas yang terlipat rapi.


Perlahan di angsurkannya kepada Bram, tepat di depan lengan Bram yang berada di atas meja


"Apa ini?"


"Bukalah."


Dengan pias ragu, Bram meraih dan membukannya.


Sesaat matanya tak berkedip mengeja kalimat apa yang tertulis di atas kertas itu, tanpa di sadarinya dia mengucapnya dalam gumanan kecil tapi tetap terdengar jelas,


"Diah Pitaloka binti Sophan Abdillah, saya talak engkau dengan talak satu. Mulai saat ini saya bebaskan engkau dan melepas tanggung jawab saya terhadapmu,"


Mulut Bram ternganga mengangkat wajahnya pada Diah yang mematung menatapnya dari seberang meja,



(Ugh...readers tersayang...menulis part ini, menguras emosi othor, ๐Ÿ˜… Ijinkan othor bernafas dulu dan menulis sambungannya. Hari ini othor usahakan tetap Double UP ya๐Ÿ˜… Jadi please, jangan marah dengan othor, karena menulis satu bab juga perlu berjam-jam meskipun bacanya cuma dua menit๐Ÿ˜† Tapi, othor akan tetap semangat...๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช Love You all my readers)


...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka๐Ÿค—...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya......