Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 210 MESIN WAKTU


Aku sungguh bisa naik taksi saja..." Diah masih merasa tidak enak pada Doddy, saat dia telah duduk bersampingan di dalam mobil Doddy. Ini kali kedua dia berada di dalam mobil itu.


"Biarkan aku mengantarmu pulang..."


Doddy memundurkan mobilnya dari parkiran resto itu mengikuti instruksi juru parkir di belakangnya, setelah mobil Sarah dan Raka menghilang di antara keramaian jalanan malam Surabaya.


"Ini hampir jam sepuluh, tak baik kamu pulang sendiri." Lanjut Doddy ketika mereka sudah berada di antara kerlap kerlip lampu mobil yang berpapasan, cahaya lampu jalan dan lampu dari gedung dan bangunan di kiri kanan jalan.


"Runahku tak lagi searah dengan rumahmu." Diah berkata sedikit tak nyaman, dia takut Doddy masih berfikir dia tinggal di rumah orang tuanya.


"Aku tahu..." Jawaban itu pendek keluar dari mulut Doddy dengan santainya.


"Aku sudah menikah." Bibir Diah gemetar mengucapkannya.


"Aku tahu..."


"Kamu tahu rumahku sekarang di mana?" Diah mengangkat wajahnya dengan bingung.


"Aku tidak tahu. Tapi...kamu bisa memberitahukan kepadaku kemana aku harus mengantarmu." Sahut Doddy dengan santai.


"Tapi..." Diah menundukkan wajahnya, dengan gugup.


"Karena aku sudah menikah, sebenarnya di antar malam-malam oleh lelaki lain, aku takut bisa menyebabkan fitnah." Lanjut Diah sambil mencuri pandang pada Doddy dengan canggung.


Sesaat Doddy terdiam, kata-kata Diah segera menyadarkannya, apa yang membuat Diah begitu menolak di antar olehnya.


"Tapi, kita tak mempunyai hubungan apa-apa, hanya sebatas teman dan rekan kerja." Doddy berucap ragu, nampak pias bersalah di wajahnya.


"Aku tahu...tapi orang lain mungkin tak tahu. Kadang mata orang lebih suka menarasikan apa yang mereka lihat dengan prasangka daripada mencari tahu tentang kebenaran." Sahut Diah, terdengar pelan namun terasa menusuk sampai kalbu.


Diah sendiri sedikit bimbang mengucapkannya, tapi dia tidak ingin membuat Doddy salah sangka dengan usaha penolakannya dari tadi.


"Aku dan sopir Sarah yang mengantarmu, apa bedanya? anggap saja aku sopir Sarah yang biasa mengantarmu itu." Doddy terkekeh garing, rasanya aneh ketika dia terlalu memaksakan diri untuk bersikap di luar kebiasaannya.


Perasaannya ingin dekat dengan Diah, sejenak mengalihkan akal sehatnya, meskipun cuma memgantarkan dengan niat baik tanpa ada apa-apanya.


Jika dia membiarkan Diah pulang sendiri dengan taksi rasanya malah lebih kurang ajar lagi.


"Aku tetap akan mengantarmu pulang, sebagai seorang teman yang tak bisa membuatkan teman baiknya pulang sendiri. Tuhan tahu, aku tak bermaksud apa-apa. Tolong katakan kepadaku, kemana aku harus mengantarmu?"


Dalam dilemanya, Doddy memutuskan untuk tetap mengantarkan Diah pulang.


Diah menyebutkan alamat rumahnya, dia masih tinggal di rumahnya bersama Bram, karena memegang janji masa idahnya, menanti talaknya yang hanya bersisa dua minggu ke depan.


Doddy menganggukkan kepalanya tanda mengerti tanpa bertanya lagi.


Diah terdiam, duduk dengan hampir tak bergeming di sisi Doddy yng menyetir sekaku baja, setelah kalimat yang bagai teguran bagi mereka berdua itu yang keluar dari mulut Diah.


Suasana hening, mereka berdua saling diam.


"Bagaimana bisa, suamimu menyia-nyiakan orang sebaik kamu?" Tiba-tiba pertanyaan Doddy setengah gumam tanpa sadar itu membuat Diah terkesiap.


"Apa maksudmu...?" Diah seakan ingin memastikan apa yang dia dengar.


"Oh, maaf...tidak apa-apa. Aku tidak sedang membicarakan apa-apa." Doddy menjawab tergagap. Sungguh tidak etis jika dia ikut campur urusan rumah tangga orang lain, meskipun hanya sekedar menunjukkan rasa care. Dia adalah laki-laki lain di luar lingkaran rumah tangga Diah dan Bram, terlepas dari prahara yang sedang melanda pernikahan mereka, mengomentarinya bisa membuat prasangka tak baik.


"Maafkan aku yang tak tahan untuk tak mengucapkannya. Memang sedikit lancang tetapi aku merasa sangat sakit melihat keadaanmu sekarang. Apapun yang jamu alami, seolah perihnya dapat ku lihat dari matamu." Doddy membathin dalam hatinya terdalam.


Saat pertama kali bertemu dengan Diah di kantor Rudiath - Wijaya Group, dia telah mengenal Diah dalam sekali lihat meskipun jauh lebih dewasa penampilannya dari terakhir kali dia melihatnya di sepuluh tahun yang lalu.


Dia menghimpun informasi tentang perempuan itu secara diam-diam, meskipun kemudian dia menelan kekecewaan ketika mengetahui Diah benar-benar sudah menikah.


Tapi dalam kelemahannya sebagai manusia, dia tak bisa memungkiri, mendengar gonjang ganjing rumah tangga Diah dengan suaminya yang arogan dan tak setia itu, di balik rasa sedihnya, ada sedikit lega disematkannya di sudut hatinya.


Dia merasa dirinya jahat pada titik itu, tapi menyukai Diah sejak dulu bukan sesuatu yang bisa di elaknya.


Kebodohannya serasa begitu merajai ketika berbicara tentang Diah, akal sehatnya terasa berada di dengkulnya, dua kali dia membina hubungan dengan perempuan berbeda, tetapi semuanya gagal. Satu hal yang di sadari Doddy, rasa rindunya pada Diah adalah hal yang berperan besar dalam kegagalannya itu.


Orang mengatakan cinta pertama itu hanya cinta monyet, yang sekilas datang dan segera pergi, berganti dengan cinta lain.


Tapi anehnya, cintanya pada Diah, meskipun bertepuk sebelah tangan tapi begitu membekas sampai ke hati.


"Kamu tahu tentang suamiku?" Diah tiba-tiba bertanya, mengejutkan Doddy di belakang setir mobil.


"Bagaimana mungkin aku tak tahu tentang suamimu dan affairnya dengan Sally. Semua orang membicarakannya." Jawaban itu hanya sampai ujung lidahnya, tak bisa di semburkannya.


"Aku tidak tahu apa-apa tentang itu." Jawab Doddy kalem.


Sesaat mereka kehilangan kata, saling diam kembali beradu dengan hening, kecuali deru mesin yang terdengar halus samar-samar.


Doddy mencairkan suasana canggung antara mereka dengan memutar tape mobil, terdengar sebuah lagu memecah sunyi dari audionya, di hantarkan oleh suara dalam yang menyentuh dari Budi Doremi,


Kalau harus ku mengingatmu lagi


Aku takkan sanggup dengan yang terjadi pada kita


Jika melupakanmu hal yang mudah


Ini takkan berat, takkan membuat hatiku lelah


Kalah, kuakui aku kalah


Cinta ini pahit dan tak harus memiliki


Jika aku bisa, ku akan kembali


Ku akan merubah takdir cinta yang kupilih


Meskipun tak mungkin, walaupun ku mau


Membawa kamu lewat mesin waktu


Jika melupakanmu hal yang mudah


Ini takkan berat, takkan membuat hatiku lelah


Panjang perjalanan yang harus kulalui


Merelakanmu


Jika aku bisa, ku akan kembali


Ku akan merubah takdir cinta yang kupilih


Meskipun tak mungkin, walaupun ku mau


Membawa kamu lewat mesin waktu, ho-uh-oh


Wo-uh-oh


Jika aku bisa, ku akan kembali


Ku akan merubah takdir cinta yang kupilih


Meskipun tak mungkin, walaupun ku mau


Membawa kamu, oh-oh


Jika aku bisa, ku akan kembali


Ku akan merubah takdir cinta yang kupilih


Meskipun tak mungkin, walaupun ku mau


Membawa kamu lewat mesin waktu


Sampai lagu itu berakhir mereka berdua tetap dalam diam, terpaku hening. Seolah meresapi semua kalimat-kalimat dalam lagu yang seolah mengiris sampai ke jantung masing-masing.


"Andai selamanya aku mungkin tak bisa menyampaikan isi hatiku, tapi semoga lagu ini membuatmu tahu, apapun dirimu, tak ada yang berubah di mataku. Jika memang kita tak mempunyai jodoh di dunia ini, aku berharap di alam surga, Allah mempertemukan kita dengan cara yang berbeda." Bisik Doddy dalam hati.



(Ayokkkk....yang belum Vote, mari merapat lemparkan ke jidat othor yang selebar kolam renang ini😅 Terimakasih buat yang sdh kirim Vote, mawar, kopi, tips dan semua bentuk gift. Rasanya bahagia bisa menghibur kalian semua lewat cerita ini. Akak Crazy UP yaaaa....nantikan part lanjutannya hari ini🥰 i love You)


...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya.....