Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 193 AWAL KEHANCURAN


"Diah, bawakan tamu kita kemari, beri kesempatan padanya membuktikan bahwa apa yang dikatakannya bukan sekedar omong kosong." Diah berkata dengan suara lugas dan jelas.


"Semua yang hadir menatap pada satu titik, dalam raut penasaran, hanya pada Sarah.


Sarah memberi isyarat kepada Diah untuk keluar, memanggil seseorang yang sedang menunggu di luar untuk dipersilahkan masuk ke dalam ruangan meeting itu.


Ibu Mytha duduk dengan tegang, tanpa suara, seperti menunggu sebuah pertunjukan di gelar, piasnya tak bisa menyembunyikan ketegangan yang terpancar di wajahnya.


Matanya berputar dengan penasaran dan gugup bercampur aduk, cara Sarah yang kalem dan tenang itu malah membuat dirinya semakin terintimidasi.


Diah membuka pintu dan keluar, sejenak suasana hening menyandera ruangan, mereka semua saling pandang, menunjukkan pias penasaran pada siapa yang sedang di panggil.


Ketegangan itu sebenarnya hanya benar-benar di rasakan oleh ibu Mytha, dia tahu yang telah dia lakukan tapi di luar perkiraannya jika semua itu terbongkar begitu cepat, dia merasa sudah bermain cantik di belakang.


Perjanjian itu antara dia dan Ferdian saja. Dia meminjam sejumlah uang, karena terbelit hutang, tetapi Ferdian teman lama yang tak sengaja bertemu dalam sebuah pesta itu sempat menunjukkan keraguan. Tetapi dua hari kemudian menghubungi dia dan menyetujui, dengan persyaratan 15 persen dari kepemilikan saham yang ada diperusahaan itu di atas namakan kepada dirinya.


Sempat Mytha merasa ragu tetapi pesona uang tunai sekian milyar yang sebagiannya memang sedang di perlukannya itu membuat dirinya segera melupakan keraguan dan akal warasnya.


"Ini bukan karena rasa tak percaya, hanya saja tak nyaman nantinya jika di ketahui orang terlebih istri saya, saya meminjamkan uang kepada anda." Pak Ferdian mengerutkan dahinya sambil menghela nafas berat, seolah sedikit tak nyaman dengan arah pembicaraan mereka.


"Tapi soal uang ini sedikit sensitif, apalagi jumlah 35 miliar itu cukup besar, bukan hal yang bisa saya sembunyikan. Ini hanya di atas kertas saja." Itu yang di katakan Ferdian padanya sebagai alasan kenapa harus ada agunan pasti untuk peminjaman itu.


"Tapi nilai separuh saham saya di dalam perusahaan itu melebihi uang yang aku pinjam." Mytha berdalih, sedikit keberatan.


"Ya, saya mengerti. Jika memang sudah bisa di kembalikan, saham ini akan kembali kepada anda. Tapi untuk sekarang saya perlu agunan untuk membuat peminjaman ini meyakinkan. Ibu tahu sendiri soal uang, apalagi dalam jumlah yang nilainya besar, tak bisa hanya dialaskan dalam kata-kata tanpa kontrak perjanjian yang jelas" Alasan Ferdian itu sangat masuk akal.


"Saya punya beberapa aset tak bergerak dalam bentuk rumah, tanah, bangunan, itu bisa di jadikan agunan." Mytha menawarkan alternatif lain, dia sedikit keberatan jika harus menjadikan sahamnya sebagai jaminan.


"Rumah, tanah dan aset lainnya atas nama putri anda, yang benar-benar atas nama anda adalah saham itu. Saya tidak mau ambil resiko untuk hal ini. Saya yakin jika bu Mytha melunasinya, ini bukan hal yang sulit nantinya, hanya di pindah tangankan." Ferdian begitu meyakinkan, memaksa Mytha berfikir ulang kembali.


Mytha tak bisa berkelit karena memang dia telah menjual dua rumah mereka di daerah pinggiran surabaya dan Jakarta dalam satu bulan ini. Sisa aset yang lain, termasuk rumah yang mereka tinggali sekarang di atas namakan kepada Sally. Dia hampir kehilangan semua hartanya hanya dalam jangka waktu tiga bulan.


Sejak bercerai, dia berkumpul kembali dengan genknya semasa muda, para sosialita yang juga mempunyai hobby yang sama, pesta dan judi. Uang segunungpun akan tetap habis jika di letakkan di meja judi.Mytha sudah tak memiliki filter dalam hidupnya meskipun itu sekedar mengingatkan dirinya.


Sebanyak apapun uang jika di hambur-hamburkan tanpa kemampuan mengelolanya akan tetap habis dengan sendirinya.


Selama ini, hanya Wijaya yang sanggup bekerja keras untuk memenuhi jiwa konsumtifnya. Dan pernikahannya, cukup berpengaruh dalam membelenggu sebagian nafsu liarnya, meski Wijaya tidak benar-benar memperingatkannya tapi dia malas berdebat jika dia bersikap bebas, setidaknya pernikahan mereka menahan nafsunya untuk bertaruh di atas meja judi.


Sekarang dia telah bercerai, tak ada rambu-rambu yang harus di jaganya.


Semua serba hijau di matanya.


Wijaya tahu benar sifat sang istri, dia melimpahkan warisan terbesar kepada putrinya, Sally. Meslipun Sally mempunyai sifat yang kurang lebih ibunya, dia tidak suka berjudi, hanya menyukai pesta dan gila pada laki-laki.


Mytha adalah muara segala sifat buruk yang sebenarnya, jika tak ada yang menekannya dengan norma maka dia lebih gila dari anaknya.


Dalam tubuh tuanya itu terperangkap sifat kanak-kanak karena kemanjaan yang berlebihan.


Pada Mytha di berikan saham yang tak akan bisa menjadi uang jika dia tidak menjalankannya. Tapi memberikan tepung pada orang yang buta mengolahnya, tentu saja akan sia-sia. Tak ada yang akan benar-benar jadi. Semuanya sia-sia.


Wijaya telah memikirkan semuanya, dari berbagai sisi, dia tahu kemampuan Sarah dan kepribadian anak angkat sekaligus keponakannya itu. Dia bukan orang yang suka rela melepaskan hasil jerih payahnya menjadi sampah.


Hal terakhir yang ada di benaknya, Sarah akan mampu mengambil alih semua saham itu. Bermodal kepintaran, Kebijakan dan sedikit rasa sakit hatinya yang mumgkin mengendap di dalam dasar hatinya.


Perlahan pintu di buka dan Diah muncul kembali, membawa seseorang,


"Silahkan masuk, pak Doddy..." Suara Sarah terdengar memecah ketegangan.


Sarah menyambut laki-laki yang di panggilnya pak Doddy itu dengan senyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Terimakasih."


Lelaki tampan dengan kacamata di atas hidungnya yang mancung itu berdiri tepat di belakang Diah yang segera menyingkir dari pintu yang terbuka itu memberi jalan untuk tamunya itu masuk, sebaris senyum tipis pada mata yang ramah itu berbinar.


Sesaat Doddy menoleh kepada Diah, menganggukkan kepalanya seakan mengucapkan terimakasih, sebelum dia masuk dengan langkah panjang dan gagah.


"Perkenalkan, saya Doddy Alfajri, maaf jika kedatangan saya sedikit mengganggu pertemuan ini." Dia membungkukkan badannya dengan sikap hormat dan resmi.


Dia adalah Doddy Alfajri putra tunggal Pengusaha pak Ferdian, Sahabat lama pak Wijaya.


^^^



DODDY ALFAJRI FERDIAN^^^


(Eits...kita double UP ya hari ini, sambungannya di tunggu yaaaah, othor balik ke real life dulu, masak2 dan nyuci baju🤭 Mari kita kagumi dulu wajah tampan si Doddy ini, dan seperti apa dia membuat Mytha kehilangan wajahnya hari ini? Othor aja klepek2 sama mas Doddy ini😂)


...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya.....