
Sarah melepaskan safety beltnya dengan senyum misterius. Lalu keluar dari mobil di ikuti oleh Dea yang masih bingung.
"Dea bisa menunggu di luar saja." Tolak Dea, tidak enak rasanya berada di areal privat sang istri majikan dengan begitu kurang ajar.
"Hush, menurut saja." Sarah menarik tangan Dea. Merapikan sedikit rambut gadis itu dengan tidak sungkan sama sekali, meskipun sebenarnya jika menilik status mereka Sarah adalah ibu bosnya.
Dea benar-benar terpana dalam hati, sungguh perempuan cantik di depannya ini adalah ibu boss terbaik di dunia. Begitu ramah dan menyenangkan, baik hati dan tidak sombong sama sekali. Di cari di dunia ini, seperti mencari jarum dalam jerami.
Saat sampai lobby utama klinik bertingkat tiga itu, seorang petugas perempuan muda dengan pakaian seragam biru muda menyambut mereka dengan ramah. Sarah menyebutkan janji temu dengan dokter Yogi.
"Silahkan langsung ke ruangan di lantai dua, bu. Sudah di tunggu pak dokter." Katanya dengan ramah.
"Terimakasih." Sarah tersenyum tak kalah ramahnya sembari menarik lengan Dea yang masih kebingungan. Si gadis lugu ini baru pertama kali masuk ke klinik dokter kandungan dan bersalin seperti ini, tentu saja dia seperti orang linglung
Begitu sampai depan pintu ruangan pemeriksaan dokter Yogi, mereka berdua di antar oleh seorang petugas dari lobby.
Dia membuka pintu dan di sambut oleh seorang perawat yang lain.
"Toilet di mana?" tiba-tiba Sarah bertanya.
"Ujung belok kiri, bu." Jawab si petugas berseragam biru yang mengantar, lalu dengan sopan meminta ijin pamit turun kembali.
"Kamu menemaniku masuk ke dalam ya, mengganti bosmu yang sok sibuk itu." Sarah berkata setengah berbisik.
Dea melongo sambil menegakkan kacamatanya, mendengarkan permintaan yang serupa perintah itu.
"Aku ke toilet dulu, kamu masuk duluan. Tunggu aku di dalam." Sarah nyengir sebelum pergi, Menyukai ekspresi Dea yang masih bingung.
"Silahkan masuk bu..." si perawat muda dengan dress putih model pakaian perawat kebanyakan itu, mempersilahkan Dea masuk sambil menutup kembali pintu.
"Saya..." Dea belum sempat menjawab si perawat langsung berjalan lebih dahulu membuka tirai tempat hospital bed di sudut ruangan.
"Pak dokternya sedang ke lantai atas sebentar, ibu di minta langsung pemeriksaan awal saja dulu. Berbaring santai saja di sini, ya bu."
"Tapi..."
"Sebentar bu, saya ambilkan rekam medical pemeriksaan ibu."
"Tapi saya...!"
Si perawat muda yang manis itu tersenyum seolah memahami kegugupan yang terpancar dari wajah Dea, yang di kiranya pasien ibu muda teman dokter Yogi, yang barusan di beritahukan sang dokter untuk dilayani sampai dia datang.
"Tenang saja bu, kehamilan pertama memang selalu bikin gugup. Saya akan mencatatkan hasil pemeriksaan awal kita nanti beserta keluhan-keluhannya. Tunggu sebentar ya, bu..." Si perawat muda itu segera menghilang di balik tirai pembatas itu.
Dea menarik nafasnya panjang-panjang, duduk di pinggir hospital bed yang empuk itu, berharap istri sang bos itu segera tiba. Dia merasa terjebak dalam situasi tanpa sempat menjelaskan ada kesalahpahaman yang terjadi antara dia dan si perawat.
"Maaf, harus menunggu." Dokter Yogi muncul sambil merapikan baju putihnya dan stetoskop yang melingkar di lehernya.
"Tadi Raka sudah telpon...." Kalimat itu segera menggantung, mulut Dokter Yogi yang tipis bagus itu terbuka tanpa lagi mengeluarkan suara.
Bukan keterkejutan karena bukan Sarah yang berada di sana tapi wajah ini terasa begitu amat dikenalnya.
"Gina?" matanya terpana seolah melihat hantu yang sangat ingin dilihatnya.
Dea menatap wajah dokter tampan yang cute di depannya itu setengah mendonggak, sama terpana tapi jelas raut Dea gugup dan bingung, tanpa menunjukkan dia mengenal sang dokter.
"Maaf, ibu Sarah sedang ke toilet. Saya cuma asisten yang mengantar." Dea berucap terbata-bata, memegang kacamatanya dengan gemetar.
Dia tidak mengerti, entah mengapa dadanya berdesir halus, degup jantungnya tak beraturan seakan ingin melompat dari tempatnya, matanya terpaku pada mata sang dokter.
Berdetik-detik mereka saling pandang tanpa berkedip.
"Oh, my God! I'm falling in love!"
"Oh, maaf..." Dokter Yogi segera tersadar, mengerjap matanya yang bening itu dengan salah tingkah. Sungguh, dia merasa telah melihat Gina, mantan kekasihnya yang telah meninggal beberapa tahun yang lalu.
Wajah mereka begitu mirip terutama bibir dan matanya, tapi Gina tak memiliki poni dan kacamata. Tampilan Gina pun jauh lebih dewasa dari gadis yang ada di depannya itu.
Tapi, kemudian dia menyadari, pandangan pertama memang terasa mirip tapi jika di lihat lagi, tampilan mereka memang berbeda.
Hanya saja, jika ada yang bilang Dea adalah adik Gina maka Dokter Yogi akan percaya.
"Aku yang minta maaf..." Dea masih menatap wajah dokter Yogi dengan kekaguman meskipun pipinya seperti buah jambu, merona tersipu.
"Eh, maaf..seharusnya aku yang minta maaf." Sarah tersenyum dengan wajah senang, sebuah skenario kecilnya berhasil untuk membuat Dokter Yogi bertemu Dea.
"Aku terlalu lama di toilet tadi, jadi membuat kalian harus menunggu."
"Perkenalkan ini adikku, namanya Dea, asistennya Raka, dia yang bersamaku kemari." Sarah menepuk pipi Dea dengan riang.
"Oh, Iya, Dea...ini dokter Yogi." Sarah mengerlingkan matanya pada Dea yang menjadi malu karena tanpa mereka sadari, Sarah dan perawat muda yang menerima Dea tadi telah berdiri dibelakang dokter Yogi saat mereka saling tertegun sekian detik.
Dua orang itu saling menyodorkan tangan dan bersalaman, di iringi tatapan puas Sarah.
"Aku akan menunggu di luar." Dea segera berdiri meskipun lututnya terasa gemetar.
Saat dia hendak berjalan, Sarah menahan tangannya.
"Jangan jauh-jauh, ya." Sarah mengedipkan matanya pada Dea.
"Aku hanya USG sebentar."
Dea menganggukkan kepalanya, sambil menangkup tangannya nemegang handphone yang sedari tadi di pegangnya begitu erat.
Lalu dengan langkah tergesa dia menuju pintu dan keluar. Mengatur nafas sejenak sebelum dia berjalan ke arah jalan menuju toilet.
Dea tidak tahu, entah mengapa dia terpesona luar biasa dengan wajah cute dokter muda itu.
Matanya, hidungnya, rambutnya, semuanya benar-benar mempesona. Apalagi seulas senyum pertama saat mereka bersirobok pandang. Tanggan di letakkan di dadanya sendiri, merasakan degup jantungnya yang berdebar semakin tak karuan.
"Astaga, dia begitu mempesona." Bibirnya tersenyum kecil, lalu dalam malu- malu dia merapikan poninya yang memenuhi dahinya di depan wastafel mengamati wajahnya sendiri yang tersipu di pantulan cermin.
Sekilas wajah dokter Yogi melintas di benaknya, terpana menatapnya, dengan mata nyaris tak berkedip.
"Oh, Tuhan...dia benar-benar tampan." Dea menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, tak berani melihat betapa merah wajahnya sendiri.
Dea benar-benar telah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan dokter Yogi.
(Terimakasih, ya tetap stay di novel akak...🙏part Dea dan dokter Yogi, hanyalah selipan di novel ini, untuk kisah mereka akan hilang jangan di cari, kelanjutan kisah cinta mereka akan di lanjutkan di spin off novel Menikahi Tunangan Adikku nantinya pada novel baru yang akan rilis setelah MTA tamat,
"My Dokter, I Love You".)
Di episode selanjutnya, kita akan fokus pada kisah cinta Sarah dan Raka, ya🤗🤗
Seseorang akan memicu hormon ibu hamil yang rawan sensitif menjadi sedikit cemburu, siapakah dia...😅😅😅 Tetap bersama novel ini yaaa❤️❤️
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...I love you all❤️...