Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 73 MEMAAFKAN


"Tanteeeee...." Tiba-tiba seseorang berlari ke ruang tamu besar itu, menjatuhkan diri kehadapan mama Raka dan memeluk kaki perempuan itu dengan tangisan yang tak terbendung.


Semua terpana, tak menyangka dengan kehadiran Sally yang begitu mendadak itu.


"Sally?" Mama Raka terpana, menatap ke arah gadis yang menangis di lututnya itu sambil mendekap kedua kakinya dengan erat.


"Tante ini aku, Sally."Dia sesenggukan seperti orang yang sedang begitu menyesal.


"Tante, Sally minta maaf atas apa yang telah Sally lakukan. Sally bersalah...Sally sangat bersalah." Sally berkata terbata-bata, disela sedu sedannya.


"Sayang, bangunlah. Sudahlah! Jangan permalukan dirimu seperti itu." Mamanya berteriak tertahan, menatap anaknya yang bersikap sangat merendahkan dirinya, di mata sang mama, ini memalukan.


"Tante harus tahu, ma...kalau Sally masih sangat mencintai Raka. Sally sampai sekarang masih sangat mencintai tunangan Sally, ma." Sally berpaling kepada mamanya dengan wajah menghiba.


"Sally lari dari pernikahan itu karena takut dan bingung, tante...! Sally benar-benar menyesalinya..."Sally meraung di kaki mama Raka yang menatapnya dengan wajah yang tak kalah bingungnya.


Papa Raka dan Papa Sarah saling menatap, dua laki-laki teman lama itu tak bisa berkata apa-apa. Drama ini mungkin akan merenggangkan hubungan bisnis sekaligus hubungan persahabatan mereka.


"Raka, aku minta maaf. Aku hanya begitu takut dengan pernikahan itu. Aku terlalu pengecut saat memikirkan ikatan pernikahan akan merubah hubungan kita, tak lagi seperti sebelumnya." Sally mendonggakkan wajahnya pada Raka yang duduk di samping Sarah dengan wajah yang mengeras seperti batu.


Dia menatap dingin ke arah Sally, tanpa sedikitpun tersentuh dengan sikap emosionalnya itu.


Delapan tahun Raka mengenal Sally, lima tahun terakhir menjadi tunangannya, dia sampai heran sendiri bagaimana bisa pernah sangat menyukai gadis ini.


Ternyata Raka tak pernah benar-benar mengenalinya dengan baik, Sally menyimpan sisi begitu licik dan egois dibalik sikap hangat, manja dan menyenangkannya.


Mama Sarah bangkit dari duduknya, mencengkeram kedua bahu anaknya itu supaya berdiri dan menghentikan sikap memalukannya itu.


Tapi dengan kasar Sally mengibas tangan mamanya dan tetap bersimpuh di depan mama Raka.


"Mama, Sally hanya perlu menjelaskan semuanya kepada tante. Sally tahu, tante sangat menyayangi Sally. Tante hanya akan mendengarkanku." Sally mengangkat wajahnya, berusaha mencari-cari rasa pengertian dari wanita yang mematung seperti arca di depannya itu.


Melihat mama Raka tak merespon apa-apa padanya, Sally sekarang melepaskan tangannya dari kaki mama Sarah yang masih tercengang seolah berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Dengan lututnya yang masih bersimpuh Sally datang kepada Sarah, mengambil tangan gadis itu dari genggaman Raka dengan kasar.


"Sarah, aku tahu kamu selalu mengerti tentang aku. Aku berterimakasih kamu telah membantuku melewati banyak hal, memastikan aku selalu baik-baik saja. Tapi, aku tak pernah memintamu menikahi tunanganku. Seharusnya kamu bisa menundanya sementara sampai aku kembali." Sally menggenggam tangan Sarah dengan kedua tangannya, seolah ingin mengingatkan Sarah dialah pemilik Raka.


"Aku tak bisa hidup tanpa Raka, aku tak bisa hidup lagi jika kamu tidak mengembalikan dia kepadaku."Rengek Sally, serupa anak-anak yang minta mainannya dikembalikan.


"Sarah aku masih adikmu, kan?" Airmata Sally bercucuran, menatap wajah Sarah dengan putus asa.


Pertama kali dalam hidupnya, dia merendahkan diri meminta sesuatu dengan bersimpuh pada Sarah.


Selama ini, dia tidak perlu memintanya cukup merebutnya jika dia menginginkannya maka Sarah akan pasrah merelakannya untuk dirinya.


Sarah balas menatap wajah adiknya itu dengan raut iba, ada apa dengan Sally yang begitu labil dalam bersikap? Tanda tanya dan rasa sedih tak urung menyeruak dalam hati Sarah, bagaimana tidak, beberapa hari yang lalu dia datang kepada Sarah dengan emosi yang meledak-ledak dan sekarang dia bersikap seperti anak kecil yang merengek-rengek minta belas kasihan.


"Sally, aku masih kakakmu..."Sarah menyahut dengan getir.


"Tapi aku bukan orang yang berhak mengatur semua keputusan perihal hidup orang lain. Kamu telah mengecewakan Raka sedemikian beratnya, apakah pantas kamu mengharapkan dirinya lagi? Aku tidak bisa mengembalikan apa yang tidak pernah aku pinjam darimu." Lanjut Sarah kemudian.


"Raka adalah tunanganku!"Sergah Sally dengan nada tinggi.


"Tapi dia adalah suamiku sekarang, jangan pernah lupakan itu."Sarah menyahut tajam.


Sarah membiarkan tangannya diremas oleh Sally sampai merah tapi dia hampir tak bisa merasakan apa-apa.


"Sally! Hentikan semua ini!" Suara bentakan itu keluar dari mulut papanya yang sedari tadi diam tak bicara apapun.


Mata itu semerah saga, tak bisa ditebak apa yang kini ada di dalam hatinya.


Dan semua yang ada di dalam ruangan itu terpaku pada satu titik, pada Sally yang kini seperti orang tak sadar dengan dirinya sendiri.


"Hentikan saja sandiwaramu ini, Sally. Tak ada yang perlu dijelaskan lagi. Kamu harusnya sedikit punya rasa malu, karena jika papa dan mama tahu apa alasan kepergianmu itu, bersama siapa dan apa yang telah kamu lakukan, mungkin mereka enggan melihatmu lagi."


Tiba-tiba Raka menepis genggaman Sally pada tangan Sarah, membuat Sally tercengang dengan sikap Raka yang tanpa perasaan itu.


"Raka, aku hanya membuat satu kesalahan, kamu pasti akan memaafkan aku seperti biasanya."Sarah mengangkat wajahnya yang sembab itu pada Raka.


"Cukup, Sally. Jangan berusaha memperkeruh suasana. Aku tidak perlu menyebutkan secara terbuka kesalahan apa yang membuatmu sama sekali tidak pantas dimaafkan itu. Jangan merendahkan harga dirimu dan berpura-pura lupa. Aku menahan diri, karena masih memandang om dan tante Wijaya." Raka mendekatkan wajahnya kepada wajah Sally setengah berbisik, dengan suara geram.


"Semua sudah terang benderang. Tak ada lagi yang kami luruskan. Untuk semua hal yang telah terjadi aku minta maaf, khususnya kepada orangtuaku yang tidak tahu apa-apa." Raka berdiri dari duduknya, dan membungkuk dalam rasa penyesalan yang dalam.


Sally sekarang benar-benar begitu putus asa, seperti orang yang kehilangan cara untuk kembali.


"Tante..." Sally kembali beringsut pada mama Raka yang menatapnya begitu dalam, tatapan yang menyimpan seribu makna. Perempuan yang dikenalnya penuh kasih sayang itu, seolah tak lagi dikenalnya.


"Sally..."Mama berbicara untuk pertama kalinya kepada Sally, setelah sekian lama diam seribu bahasa.


"Tante aku minta maaf." Sally menunjukkan wajah menghiba dengan amat sangat, bersimpuh sambil memegang lutut mama Raka.


Tiba-tiba mama Raka mengusap kepala Sally dengan lembut, menatapnya dengan pias yang berubah hangat.


"Tante memaafkanmu, nak." Katanya bergetar.


Sally mendonggak tak percaya, begitupun Raka dan Sarah, mereka bahkan berhenti berkedip saat mama mengatakan itu.


"Mama!" Raka yang dalam posisi berdiri bahkan tanpa sadar, mengeluarkan volume tinggi karena terkejut.


"Mama memaafkan Raka, mama memaafkan Sarah...mama juga memaafkan Sally, untuk apapun yang terjadi." Desahnya.


"Tapi, setiap kata maaf bukan untuk memberi kesempatan mengulang atau berusaha mengembalikan masa lalu. Maaf diberikan adalah untuk bisa memperbaiki diri sendiri meski tak selamanya bisa memperbaiki keadaan." Mama masih mengusap rambut anak gadis yang dulu pernah dekat dengannya itu.


"Sally sayang, maaf memang tak punya batasan, tapi memberi maaf tak selamanya selalu bisa dilakukan oleh seseorang. Sayangnya tante juga mempunyai hati yang berbatas, tante tak akan pernah bisa memberikan maaf lebih lagi jika kamu berusaha merebut kebahagiaan Sarah. Bahkan Raka pun tak akan menerima satu kata maaf lagi dari tante jika dia menyakiti Sarah, karena dia adalah anak tante sekarang."


Suara itu begitu bening dan halus tapi terasa begitu dalam menyayat.


Dia tidak perlu menurunkan tangan serta kata-kata kasar, tapi kalimat lembut sudah cukup membuat setiap yang mendengarnya tahu, dimanakah dirinya berpihak.


...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...Nantikan episode selanjutnya, yang lebih seru🙏...