Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 201 MENJADI IMAM


"Kebetulan kalau begitu, kita berdua bisa sholat di sini."


"Di sini?"


Doddy menunjukkan sebuah pintu yang terhubung di dalam ruangannya.


"Di dalam sini ada musholla..."


"A...aku bisa sholat di musholla karyawan." Tolak Diah, tak nyaman dengan sikap Doddy. Rasanya, sungguh tak sopan jika dia, seorang asisten biasa, menerima tawaran presdir sebuah perusahaan, yang bahkan bukan bossnya itu.


"Jangan menunda niat baik, jika kamu berniat mendirikan sholat, lakukanlah, maka kamu tidak menghalangi pahala untukmu..." Ucapan itu terdengar tegas tetapi lembut.


"Tapi..." Diah benar-benar tak mau bersikap kurang ajar, sebagai tamu dia tak ingin melampaui batas.


"Jangan pernah melewatkan sholat. Karena ada jutaan manusia di alam kubur yang ingin dihidupkan kembali hanya untuk bersujud kepada Allah sekali lagi."


Kata-kata itu terdengar dalam, membuat Diah terpana jengah, tak bisa menolak mengangkat wajahnya pada Doddy.


Pertama kali dia mendengar seorang laki-laki mengucapkan kalimat yang sedemikan menggetarkan jiwanya. Seperti seseorang yang sedang berusaha mengangkat telunjuknya menunjuk arah jalan saat kakinya enggan melangkah.


Sesaat pias ragu di wajah Diah, tapi kemudian setelah melihat bagaimana seriusnya Doddy menawarkan hal tersebut.


"Apakah...apakah tak apa-apa?" Diah bertanya dengan suara sedikit lirih.


"Jika niatmu ibadah, di manapun itu, jangan menjadi beban bagimu. Semua tempat baik jika niatnya baik."


Diah menganggukkan kepalanya masih dengan hati yang bimbang.


"Sholat adalah obat bagi jiwa yang hampa, pikiran yang bimbang, dan hati yang terluka. Lalu kenapa menjadi ada apa-apanya. Kita hanya ingin beribadah sesuai waktu dan hukumnya, kenapa tidak boleh? Sholat bukanlah untuk Allah, tapi untuk diri kita sendiri. Allah tidak membutuhkan kita, tapi kitalah yang membutuhkan Allah, karena itulah kita sholat. Ketika beribadah bisa di lakukan tidak harus sendiri, kenapa tidak?"


Kata-kata panjang itu begitu teratur, seolah mustahil di ucapkan oleh seorang laki-laki semodern dan sefashionable Doddy.


Dia tak nampak seperti anak santri tapi setiap kalimat yang di ucapkannya begitu menenangkan seperti air yang mengalir, mendinginkan setiap relung hati.


"Di sana kamar mandi, kamu boleh berwudhu di sana." Doddy menunjukkan pintu lain di sebelah kanan ruangannya.


Lalu dengan langkah ringan Doddy keluar dari dalam ruangan kerjanya itu, meninggalkan Diah yang melongo sendiri.


Diah tak bisa menyembunyikan rasa takjupnya pada laki-laki ini.


...***...


Setelah berwudhu dan mengenakan mukena yang selalu di bawanya di dalam tas kecil di dalam tasnya, Diah memasuki ruang Mushola pribadi yang di tunjuk oleh Doddy di dalam ruangannya.


Sesaat dia terkejut saat membuka pintu mushola kecil yang di desain sedemikian nyamannya di dalam ruang kerja Doddy itu, di sana menghadap kiblat telah


duduk Doddy membelakangi pintu dengan seorang lain yang juga sudah bersiap untuk Sholat ashar.


bersama seorang lain lagi, mungkin adalah asistennya, sepertinya mereka hanya menunggu kedatangan Diah. Entah dimana dia dan orang lain ini sudah berwudhu, tapi mereka sudah di sana dalam keadaan siap untuk Sholat.


Doddy sana sekali tidak menoleh saat Diah membuka pintu tapi dia menyadari benar kedatangan Diah, tanpa bicara dia memulai sholat saat Diah sudah mengambil tempat di belakangnya dan temannya itu.


Hari ini, Diah tak pernah menyangka mendirikan sholat di mana seorang laki-laki asing di matanya, menjadi imam baginya, meski tidak sendiri.


Doddy telah membawa orang lain berjamaah dengan mereka, beibadah bersama-sama.


Entah mengapa rasa haru itu menyeruak di antara damai yang menyusup di dalam dadanya, selama ini dia selalu melakukan sholat sendiri tanpa pernah sekalipun suaminya menjadi imam baginya.


Tapi, sampai hari ini, dia belum bertemu dengan jawaban do'anya. Dia tetap bersujud dalam kesendiriannya yang hening, dalam kerinduannya yang panjang. Kadang dia berfikir, apakah karena dosanya sedemikian besarnya, sehingga Tuhan bahkan berpaling darinya dan tak mau mendengar untaian do'anya.


Di dalam setiap do'anya tak lekang dia yang selalu meminta kembalinya sang suami ke jalan yang benar dan bisa menjadi imam yang membawa dirinya dan anak-anak pada surga.


Hari ini, ketika dia duduk sebagai makmum seperti berada di dalam rumahnya sendiri, dia tak bisa menjelaskan bagaimana rasanya, begitu aneh tetapi luar biasa, hanya di sayangkan yang kini berada di depannya bukan Bram.


Mengikuti gerakan orang yang memimpin dengan khusuk di depannya membuat Diah hampir menitikkan air matanya. Benaknya teringat pada Bram, suaminya.


Betapa rindu hatinya berjamaah seperti ini dan melantunkan segala puja puji pada sang pencipta bersama-sama.


Dia bersedia menukar seluruh hidupnya demi suaminya itu berada di sana, di depannya, memimpinnya menunjukkan jalan Allah yang senantiasa dirindukannya dalam keberadaannya sebagai istri.


Bibir Diah gemetar melafalkan kalimat Al-fatihah. Betapa khusuknya Diah, dalam sholatnya hari ini, meskipun waktu berjalan begitu sesaat, momen itu berlangsung hanya sesaat.


Diah tak bisa menjabarkan perasaannya, ketika rasa tenang yang aneh itu merasuk jiwanya, betapa dia di hantar begitu dekat pada Allah, oleh seorang asing yang dia sendiri nyaris tak mengenalnya.


...***...


"Kamu pulang sendiri?" Tanya Doddy ketika Diah berpamitan untuk kembali ke kantornya.


Diah mengangguk, mengambil tasnya dari atas meja sambil memegang dokumen yang di titipkan Doddy untuk Sarah.


"Mobilmu di bawah?"


"Saya naik taksi." Sahut Diah sambil menundukkan wajahnya.


Doddy menaikkan alisnya,


"Tunggu sebentar..." Doddy berbalik, mengambil handphonenya di atas meja dan sebuah kunci kontak,


"Aku akan mengantarmu."


"Eh..." Diah tampak terkejut.


"Tidak perlu, pak...tidak usah. Saya bisa memanggilkan grab..."Tolak Diah dengan wajah memerah. Dia benar-benar merasa dirinya tidak etis sekarang jika Doddy mengantarnya.


"Tidak apa-apa. Aku juga sedang ingin keluar, jadi sekalian aku akan mengantarmu." Doddy berjalan mendahului Diah dan membuka pintu untuk Diah, mempersilahkan perempuan itu keluar dengan sikap yang gentle.


Diah melangkah keluar, tak tahu harus berkata apa lagi.


Doddy benar-benar tahu bagaimana menghargai dan bersikap sopan pada perempuan.



(Hari ini, Othor crazy UP, ya😅 Maafkan jika othor Salah dalam menjabarkan suasana sholat ini, mohon di maklumkan dengan pengetahuan othor yang sedikit☺️


Terimakasih untuk banyaknya komen positif untuk novel ini. Meskipun kadang othor tak bisa membalas satu persatu, othor sungguh merasa tersanjung dengan komen kalian semua🥰 Kalian adalah inspirasi dalam menyelesaikan cerita ini❤️❤️


Setiap agama mengajarkan hal yang baik, kembali kepada kita manusia yang mengamalkannya🤗 Semua kebaikan tentunya datang dari hati yang bersih❤️


I love You, all my readers🥰❣️❣️)


...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya.....