Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 50 MEMULAI DARI AWAL


(Warning ya...banyak adegan dewasa di part ini, mohon pembaca bijak. Untuk yang belum cukup umur, episode ini bisa di skip🙏☺️)


"Aku tidak merasa bisa mengalahkan Sally dalam banyak hal..."Sarah berucap dengan terbata-bata.


"Cinta bukan soal kalah menang, cinta soal kenyamanan."Raka menurunkan tubuhnya perlahan, membuat tubuhnya bergesek perlahan ke tubuh Sarah.


"Aku sangat tahu, kamu meragukan aku, hanya karena aku menghabiskan banyak waktu dengan Sally, jauh dari pada bersamamu. Tapi ada kala waktu tidak membuktikan apapun, perasaan cinta tidak semata-mata karena terbiasa tapi bisa saja karena kenyamanan yang tercipta. Aku merasa nyaman bersamamu sayang...sangat nyaman. Sampai-sampai aku mengira aku telah menghabiskan sepuluh tahun bersamamu dalam sepuluh hari ini..." Sebuah ciuman tiba-tiba didaratkan Raka di bibir Sarah yang ternganga di bawahnya, mendengarkan pengakuan Raka yang begitu mendebarkan hatinya.


"Raka..."bibir Sarah bergetar, semua yang di dengarnya mementahkan sedepa keraguannya pada Raka.


"Aku tidak suka kamu memanggilku Raka...!" Tiba-tiba Raka mendelik.


"Aku mau kamu memanggilku sa...yang! Ingat, panggil aku Sayang! Jika kamu memanggil namaku lagi, aku tidak akan membiarkanmu keluar dari kamar ini." Raka mencium bibir Sarah dengan liar.


Tangannya mulai menyusuri tiap bagian tubuh istrinya itu.


Membelainya dengan lembut, sampai Sarah merasa panas dingin dibuatnya.


Raka meletakkan jarinya di bibir Sarah yang seperti cacing kepanasan itu, menulisnya mengikuti siluetnya.


"Kita belum secara resmi merubah kesepakatan." Raka berkata setengah berbisik.


"Kesepakatan apa?" Sarah menggigit bibirnya, setengah mendesah, dia sedikit kesal saat Raka menghentikan gerakannya.


"Bahwa kita berdua akan bercerai..."


"Bercerai?" Sarah mendelik.


"Kita pernah membuat perjanjian, menikah hanya pura-pura. Dan sekembalinya aku dari Leiden, kita akan bercerai."


Sarah menegang dengan gemetar. Kalimat itu terasa begitu menakutkan di telinganya sekarang.


"Karena sekarang, aku tidak punya kekuatan jika di paksa menceraikanmu, saatnya kita membatalkan kesepakatan itu." Raka merentangkan tangan Sarah seperti akan mengajarinya terbang.


"Untuk membatalkannya, aku mau isteriku ini memimpinku bercinta sepanjang hari ini." bisik Raka di telinga Sarah, begitu menggoda.


Sarah tersipu dengan pias merah padam.


"Ini masih siang..." Suara Sarah terdengar serak.


"Sayang, aku tak perduli sekarang siang bolong atau pagi buta, aku hanya mau isteriku..."


Raka tersenyum kecil, melihat pandangan Sarah yang mulai meredup di dalam dekapannya.


Lalu perlahan dia menjatuhkan badannya di sebelah Sarah, berbaring terlentang sambil memejamkan matanya.


Sarah tengkurap di sebelah Raka dengan raut kesal, Raka begitu pintar menggodanya.


"Kalau aku tidak mau?" Sarah memainkan jemarinya diatas dada bidang Raka, yang dua kancingnya telah terbuka entah kapan itu.


"Kalau kamu tidak mau, jangan harap aku akan membiarkanmu keluar dari kamar ini."Jawab Raka acuh tanpa membuka matanya sama sekali.


Sarah tertawa kecil mendengarnya. Sekarang hatinya yang risau benar-benar telah kehilangan kegundahannya. Raka telah menenangkan badai keraguan di hatinya.


"Mengancam ada pasalnya, sayang...itu termasuk pasal KDRT." Sarah menggelitik pinggang Raka.


"Aku tidak takut." Raka menggelinjang, lalu dengan sedikit nakal, dia menyusupkan jarinya ke balik dress tanggung Sarah.


"Sayang, tangannya dikondisikan!" Sarah menangkap jemari Raka dan menepisnya, dibalas wajah cemberut suaminya itu.


"Sttt..." Raka tiba-tiba mendekap Sarah.


"Aku masih menunggu, pembatalan perjanjian pra nikah kita secara resmi." Raka mencium bibir Sarah dengan raut kesal, dia tak sabar lagi.


Sarah menggigit bibir Raka sampai lelaki itu meringis.


"Kamu benar-benar menginginkannya?" Sarah menarik tubuhnya dan duduk. Raka menatap nanar pada Sarah, menunggu kelanjutan reaksi Sarah.


Raka terpesona dari tempatnya berbaring, mengagumi keberanian Sarah yang di luar dugaannya sekaligus mengagumi tubuh isterinya itu yang setiap jengkalnya benar-benar luar biasa.


Lalu dengan perlahan, jemari Sarah melepas kancing kemeja Raka satu persatu, senyumnya merekah tipis, menikmati tatapan Raka yang hampir tak berkedip padanya.


"Sarah..."Raka menelan ludahnya, tanpa sadar memanggil nama istrinya itu.


"Aku mau kamu memanggilku sa...yang! Ingat, panggil aku dengan Sayang! Jika kamu memanggil namaku lagi, aku tidak akan membiarkanmu keluar dari kamar ini." Sarah melotot pada Raka mengulang perkataan Raka tadi dengan sempurna lalu mencium bibir Raka dengan liar.


Raka tak bisa menahan diri untuk tidak tergelak dengan tingkah istrinya itu.


"Kamu cepat belajar ya sekarang...!" Raka menerima ciuman Sarah dengan riang.


"Aku punya guru yang pintar, dia mengajariku dengan baik."Sahut Sarah. Lalu jemari Sarah berkeliaran diatas tubuh Raka, seperti yang biasa dilakukan Raka padanya.


Sekarang tubuh Sarah berada di atas Raka, begitu menantang, mempertontonkan keindahan tubuhnya.


Dengan gerakan lamban yang di sengaja, Sarah melucuti pakaian yang bersisa di tubuh Raka. Membuat Raka benar-benar hampir tak bisa menahan kesabarannya.


Dia menelan liurnya sendiri di kerongkongan, kepalanya mendadak begitu pusing dengan gairahnya sendiri.


"Sayang..."Raka memejamkan matanya, ketika Sarah menciumi bibir Raka, menuruni dagunya, melewati lehernya dan bermain dengan lidahnya yang hangat di area dada Raka yang terbuka.


"Sayang...sayang...ukh..." Raka benar-benar telah meremehkan keterampilan isterinya itu, dia tidak menyangka, Sarah benar-benar menjadi pemandu dalam adegan percintaan mereka hari ini.


Sarah menantang Raka untuk membenamkan wajahnya pada bukit kembar di balik bra kremnya, membimbing tangan suaminya menjelajah setiap lekuk tubuhnya. Raka benar-benar tidak tahan untuk tidak menyesapnya, seperti bayi yang kehausan.


Raka benar-benar menyerah pada semua kemesraan yang di sodorkan Sarah yang kadang lembut menggoda dan di saat yang lain menjadi liar tak terduga.


Mereka saling memagut dan mendekap, tangan dan kaki saling mengait dan menyusup.


Dengus nafas yang saling berpadu itu seolah tak ingin melewatkan apapun lagi, lalu Sarah benar-benar melakukannya, dia melepas semua yang tersisa pada badannya. Tubuh mulus itu polos tanpa sehelai benangpun. Serupa manequin yang tanpa cacat.


Kembali, untuk kesekian kalinya dia menyerahkan dirinya kepada Raka, melakukannya dengan begitu bersemangat dengan posisi berada di atas tubuh suaminya.


Gerakan-gerakan yang semula dalam ritme pelan dan hati-hati, menjadi menghentak tak beraturan, keringat mereka berdua seperti air hujan. Sarah seolah ingin melampiaskan setiap emosi yang menyesakkan dadanya, membuangnya bersama desah nafasnya yang tak terkendali.


Dia mengklaim dengan sempurna bahwa dirinya adalah istri Raka, dia ingin membatalkan dengan resmi semua perjanjian konyol di awal pernikahan mereka.


Menyatukan dua tubuh mereka, menjadi sebuah kesatuan yang tak terpisahkan, memadu setiap perasaan yang tak lagi terkatakan. Berusaha mengejar setiap kenikmatan yang seperti tak mengizinkan Sarah untuk berhenti memutar pinggul rampingnya.


Sampai di detik mereka berdua bertemu puncak tertinggi dari titik kulminasi yang mereka ingin gapai.


Lenguhan panjang keduanya mengakhiri setiap perjuangan yang ingin mereka buktikan kepada satu sama lain. Dan Sarah akhirnya terhempas di dada Raka, memekik kecil dan terbenam dalam dekapan kuat Raka.


"Terimakasih Sayang...kesepakatan berpisah, resmi di batalkan..." Raka berucap dengan nafas yang masih tak teratur, dia begitu puas dengan sikap total Sarah.


Sarah tak menjawab, hanya dia memeluk Raka dengan erat.


Begitulah suami istri, mereka kadang harus berdebat untuk beberapa hal, sedikit bertengkar dan kemudian menyelesaikannya dengan kekalahan dan kemenangan yang setara di atas peraduan.


"Sayang, bisakah kita melupakan masa lalu kita, untuk sedikit memberi ruang untuk saling mengenal satu sama lain."Bisik Raka di telinga Sarah yang masih menempel seperti perangko di atas tubuhnya.


"Kita memulai dari awal, dengan saling mempercayai."Lanjut Raka sambil menarik selimut dari bawah, menutupi tubuh polos keduanya.


Sarah mengangguk di bawah dagu Raka. Dia sekarang benar-benar yakin, Raka adalah suami yang di harapkannya.


(Maafkan author jika para readers sedikit kepanasan untuk part ini... Khusus untuk episode ke-50 Sarah agresif dikit, boleh ya🤭)


...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...


...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...


...Biar author tambah rajin UP...