
Raka benar-benar dibuat puyeng oleh Sarah berkeliling Mall. Turun naik, putar-putar di dalam Galaxy Mall yang luas itu hanya untuk berburu cendol. Di dalam pencarian yang tak kunjung bertemu itu. Dari ratusan gerai makanan dan minuman, mencari cendol seperti mengubek jarum di dalam jerami.
Yang ada di sana paling banyak adalah gerai coffe, tea atau macam-macam minuman lainnya.
"Akhirnya ketemu...!" Raka menunjuk sebuah gerai minuman.
"Itu cincau, sayang...bukan cendol."
"Modelnya sama, lho. Masih saudaraan itu."
"Beda, dong."
"Kita beli yang itu saja ya, sama aja sayang..."Bujuk Raka.
"Tapi aku maunya cendol, sayang...bukan cincau."
Raka hanya bisa menganggukkan kepalanya, si es cincau itu ternyata tak bisa menggantikan pesona es cendol.
Alhasil, mutar-mutar dua jam, Raka menenteng beberapa tas belanjaan dari beberapa gerai yang menarik perhatian Sarah. Dan sang suami ini di buat bingung sendiri, antara mencari cendol dengan shopping menjadi beda tipis.
Tapi Raka sungguh sangat menikmati keceriaan isterinya itu saat mereka berdua berjalan sambil dia menggandeng istri cantiknya itu. Sekilas dia merasakan kadang banyak mata yang memandang iri pada mereka berdua yang selayaknya sepasang remaja baru dilanda asmara. Sensasi itu tak pernah dirasakannya, karena dia bukan tipe laki-laki yang suka jalan-jalan ke mall atau tempat yang terlalu ramai.
Raka dan Sarah adalah dua orang yang sibuk dan berjiwa praktis, mereka jarang berada di mall hanya untuk sekedar shopping atau semacamnya. Untuk berbagai kebutuhan seperti pakaian, sepatu ataupun keperluan fashion lainnya mereka sudah biasa mengorder dari gerai-gerai merk ternama hanya dengan katalog, tanpa harus capek berjalan memilih barang. Tapi hari ini, Raka merasa kegiatan ini cukup menyenangkan dilakukan berdua, mungkin kedepannya dia harus menjadwalkan untuk shopping bersama istri sekaligus bersantai.
"Sayang, kita cari di luar saja ya, sepertinya di sini susah mencarinya." isterinya itu tampak menyerah sendiri. Raka pelan-pelan menghembuskan nafas dengan lega, setidaknya dia bisa mengistirahatkan kakinya yang terasa mulai pegal.
Dia heran luar biasa dengan perempuan, yang tidak pernah merasa capek keliling-keliling berjalan tanpa arah seperti ini ketika mencari sesuatu yang diinginkannya.
Beberapa saat kemudian Sarah dan Raka sudah keluar dari dalam mall itu dan sudah berada di jalan raya, menyusuri jalan dengan perlahan sementara Sarah sibuk memperhatikan ke kiri kanan jalan. Tapi mencari si cendol itu ternyata lumayan sulit.
"Sayang, ganti dong ngidamnya pakai pizza hut, Donut, es teler, juice atau apa gitu, yang enak carinya?" Raka melirik kepada sang istri.
Sarah tidak menanggapi, lehernya yang jenjang nampak menjulang saat melongok dari balik kaca mobil, seperti tidak mau melewatkan satu tempat yang manapun, yang mungkin menjual es cendol.
Sampai kemudian mereka berdua di sebuah perempatan dan nampak gerobak cendol yang lagi mangkal di sana.
"Sayang...itu es cendolnya!" Sarah menunjuk dengan wajah berseri. Raka melongo, si bapak penjual es cendol itu memang menakjubkan, dia membuka lapak di pinggir jalan di depan sebuah toko kecil, tidak jauh dari lampu merah, di depan sebuah ruko hampir di pinggir trotoar jalan.
"Serius? kamu mau itu?" Raka terpesona menatap wajah sumringah istrinya itu, dari kecil bukan karena sombong, Raka tidak pernah singgah makan di lapak pinggir jalan, apalagi menyambangi gerobak es seperti itu.
"Memangnya kenapa?"Sarah menatap suaminya dengan tanpa dosa, berbanding terbalik dengan Raka yang dari kecil selalu berada di lingkungan sekolah yang elite. Sarah meskipun orang tua angkatnya mungkin dalam hal kekayaan bisa melebihi keluarga Raka, tapi dia terbiasa berada di lingkungan sederhana.
Dia hanya pernah bersekolah di sekolah swasta elite saat dia berada di tingkat dasar, tetapi ketika dia sudah bisa memilih sendiri, saat sekolah menengah, dia malah memilih bersekolah di sekolah negeri sampai tingkat atas dan tetap memilih sekolah kejuruan negeri hingga berkuliah di Universitas lokal di kotanya, sementara Sally sang adik selalu berada di sekolah swasta bergengsi, hingga pada saat SMA mempertemukan adiknya itu dengan Raka di sekolah yang sama dan mereka sama-sama melanjutkan pendidikan ke luar negeri.
"Aku tidak pernah singgah sembarangan seperti ini..."
"Kamu tidak pernah jajan di pinggir jalan?"
Raka menggedikkan bahunya, menandakan dia tidak tidak pernah melakukannya.
"Pantesan es cendol saja tidak tahu. Mainnya kurang jauh sih kamunya, sayang."
Sarah tertawa cekikikan, Raka manyun mendengarnya.
Raka meminggirkan mobilnya sambil menyetir perlahan,
"Kita parkir di mana ini?" Raka kebingungan.
"Tuh, ke depan ruko itu saja,"
"Memang boleh? itu bukan tempat parkir, lho?"
"Stt...belok saja. masuk lewat samping paman cendol itu, terus parkir di depan toko roti itu."
Sarah mengomando.
"Serius, nih?" Raka menuruti dengan ragu.
"Iya, percaya saja..." Sarah tersenyum kecil.
Raka menuruti saja permintaan istrinya itu dengan pasrah.
Ketika mobil mewah Raka itu sudah berada di depan toko roti. Sarah segera keluar mobil dengan menenteng tas tangannya.
Bukannya menuju gerobak paman cendol di pinggir jalan dekat trotoar itu, dia malah menghilang masuk ke dalam toko roti.
Raka menggeleng-geleng kepalanya tak mengerti, apakah ibu hamil yang sedang ngidam itu selalu cerewet begini?
Baru saja Raka keluar dari belakang mobil, Sarah sudah keluar dari dalam toko roti. Hanya sekejap dia di dalam sana, mungkin ijin parkir, pikir Raka.
"Kamu dari mana?"
"Sttt...." Sarah meletak telunjuk lentiknya di bibir, lalu menggandeng tangan Raka.
"Kita kemana lagi?"
"Lho, kan beli es cendol!" Sarah menjawab sambil menarik tangan Raka.
"Pak, mau pesan es cendol."
"Ya, neng. Berapa gelas?" Si Bapak membalikkan badan mendapati dua orang muda mudi dengan penampilan borju itu berada di belakangnya.
"Segelas berapa?" Tanya Sarah,
"Lima ribu rupiah, neng." Jawab bapak yang jual.
Raka tercengang, belum pernah mendengar ada minuman semurah itu.
"Pesan berapa gelas neng?"
"Satu." Jawab Sarah pendek.
Si bapak yang menjual es cendol sedikit bingung, melihat ke arah Raka yang wajahnya di pasang sok cuek itu.
"Segelas saja, neng?"
"Iya."
"Mas nya?"
"Dia tidak usah, pak."
Raka melotot pada istrinya, meskipun dia belum pernah minum es cendol, tapi hari panas ini sangat menggoda untuk minum juga.
Sejak kapan istrinya ini berubah jadi pelit begini dengan suami?
"Oh..." Paman mengambil gelas.
"Tapi pak, saya minta maaf, biar suami saya saja yang membuatnya."
"Hah..." Si bapak menoleh kepada Raka dengan ragu.
"Stt...pak, saya lagi ngidam es cendol bikinan suami...boleh ya pak, pinjam gerobaknya." Sarah memelas.
Si bapak sejenak melongo tapi kemudian dengan segera bergeser dari tempatnya berdiri.
"Oh, silahkan neng...silahkan." Ucap si bapak dengan wajah tulus ihklas, dia ingat istrinya sendiri ketika ngidam, bukannya mau es cendol juga tapi mau minum es dari termosnya langsung. waktu di tegur, eh malah ngamuk-ngamuk, ngambek lalu alhasil dia tidur di pos kamling. Berurusan dengan perempuan hamil yang mengatasnamakan kata keramat ngidam, bisa membuat masalah tambah runyam.
(Sehabis rempong urusan ngidam cendol dan manisnya kebersamaan suami istri yang sedang jatuh cinta ini, sepertinya ada yang harus pergi...😭
yuuuuk, tetap ikuti cerita ini ya, yang akan semakin seru untuk part-part konflik utama mendekati akhir cerita😊)
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...Nantikan episode selanjutnya, yang lebih seru...