Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 133 GAMBARAN DIRI


Sarah menggandeng tangan sang ayah dengan senyum terkembang di bibirnya.


Dokter mengijinkan ayahnya pulang beberapa hari tapi tetap dalam pantauan. Sarah berencana membawa ayahnya ke rumah orangtua Raka, tempatnya tinggal sekarang tapi ayahnya menolak. Ayahnya berdalih, merasa malu dalam keadaan sakit tinggal di rumah orangtua Raka, meskipun orang tua Raka tak akan keberatan sama sekali.


Gara-gara urusan Tania sebelumnya, Raka dan Sarah belum melanjutkan rencana mendirikan rumah, apalagi kemudian mereka konsen mengurus kelahiran Rae.


"Sarah cuma punya apartemen kecil..." Sarah menatap ayahnya yang seketika nampak lebih tua dari sebelumnya, dia menjadi ringkih dan rapuh. Jalannya pun tidak setegap dan segagah sebelumnya.


"Ayah tinggal di apartemenmu saja, nak..."Ayah Sarah tersenyum.


"Aku akan menemani ayah, di manapun ayah mau tinggal."


"Bagaimana jika tinggal di apartemenku saja...di sana kamarnya ada dua." Usul Raka.


Apartemen Raka memang lebih besar dari apartemen Sarah.


"Kita berdua bisa menginap di sana juga sementara ayahmu tinggal dengan kita."


Sarah senang mendengarnya, Raka sangat pengertian sekali. Dia sangat ingin merawat ayahnya itu dengan tangannya sendiri, setidaknya sebagai anak dia bisa mengabdi de


"Antar ayah ke satu tempat..." pinta Ayah tiba-tiba saat mereka sudah di dalam mobil.


Dia menyebutkan satu alamat pada Raka.


"Kita kemana?" Tanya Sarah penasaran.


"Kita akan menemui seseorang...Dia pasti senang bertemu denganmu."Senyum tak lepas dari bibir ayah Sarah. Dia terus melihat keluar kaca tak bicara lagi.


Sarah tak mau bertanya lagi, dia menikmati raut senang di wajah sang ayah.


Melewati sebuah toko bunga, ayahnya meminta berhenti, kemudian turun dan membelikan buket bunga krisan berwarna kuning.


"Dia pasti senang dengan bunga favoritnya ini..." Kalimat itu, seperti seseorang yang ingin memberi surprise pada kekasihnya.


Seperempat jam kemudian, mereka sampai di depan sebuah tempat dengan gapura besar, itu adalah sebuah pemakaman umum.


"Kita akan bertemu ibumu..." Ayah Sarah memegang erat tangan Sarah, saat Sarah menggandengnya dengan mata berkaca-kaca.


Dia tidak pernah bermimpi jika akhirnya akan dipertemukan dengan ayahnya dan juga ibunya, meskipun itu cuma sebuah makam.


Sarah merasa, hidupnya sungguh berarti, dia bukan anak yang dibuang dan tak di inginkan. Dia punya orangtua yang sangat mencintai dan menyayanginya.


Ayah Sarah membawa Sarah dan Raka pada sebuah makam. Makam ini sederharna, hanya di dada makam itu tertulis nama Viani Renata.


kemudian tertera tanggal lahir dan tanggal meninggal. Ibunya ini meninggal pada usia muda, 24 tahun.


Sarah baru menyadari, dia dilahirkan pada saat ibunya masih sangat muda.


"Via, aku membawa anakmu hari ini, aku menepati janjiku..." Suara ayah Sarah seperti tercekat, saat dia meletakkan buket krisan kuning yang sedari tadi di peluknya.


Air mata Sarah tak terbendung, dia tersungkur di atas kuburan sang ibu, menangis tanpa bisa di tahan lagi. Dia sangat rindu, rindu sekali pada momen ini, meskipun dia sendiri tak tahu seperti apa rupa ibunya.


"Ibu, ini Sarah..." Sarah tak henti mengelus dada pusara itu. Dia benar-benar tak pernah tahu, jika akhirnya Tuhan memberinya kesempatan untuk bertemu dengan kuburan ibunya yang telah lama tiada.


Raka berada di sebelah Sarah, dia diam tak bersuara seakan memberi kesempatan Sarah mengeluarkan semua emosi yang dipendamnya itu.


"Ibumu berulang tahun bulan depan, aku takut tak sempat membawamu kepadanya, dia harus melihat anak yang di lahirkannya dengan bertaruh nyawa itu sangat cantik dan baik...anaknya ini secantik dan sebaik dirinya."Ucap Ayah Sarah, senyum di wajah yang sedikit pucat itu merekah.


Lalu perlahan tangannya mengeluarkan selembar foto dari balik baju.


"Kamu pasti ingin melihat seperti apa rupa ibumu..." Ayah Sarah mengangsurkan lembaran foto lama itu ke tangan Sarah.


"Viani sangat mirip denganmu, nak. Bahkan hampir tak ada yang berbeda dari kalian berdua, aku seperti melihat gambaran Viani dalam dirimu."


Jantung Sarah terasa berhenti berdetak, dia melihat foto itu seolah tak percaya, wajah ibunya saat muda sangat mirip dengannya.


Bahkan andai dia bercermin maka dia akan hampir tak bisa membedakan dengan dirinya.


"Kamu tidak perlu mencari bagaimana ibumu, jika kamu merindukannya, pandanglah kaca, dia ada di sana, di dalam dirimu..." Ucap ayah Sarah sambil tersenyum, meski getir.


Sarah menatap foto itu tak berkedip, dia terlalu jauh membayangkan seperti apa rupa ibunya, bahkan setiap hari dia bisa melihatnya dalam gambaran dirinya.


Diciuminya foto sang ibu, memeluknya dengan air mata berderaian. Hatinya menaikkan seribu do'a, untuk kedamaian ibu tercinta meski dia berada di alam berbeda.


...***...


Sarah dan Raka memberitahukan segala sesuatu tentang penyakit ayahnya kepada orangtua Raka, sekaligus Sarah meminta ijin sementara waktu akan tinggal di apartemen bersama Raka.


Orangtua Raka tidak keberatan malah berharap Sarah bisa membawa ayahnya untuk tinggal di rumah mereka. Sayangnya ayah Sarah memilih sementara tinggal di apartemen saja sambil menunggu jadwal melakukan Radiotherapy yang akan dilakukan saat kondisi ayah Sarah memungkinkan.


Sarah sangat ingin merawat sang ayahnya dengan tangannya sendiri. Meluangkan waktunya untuk sang ayah sebanyak mungkin untuk bisa bersama. Betapa berharganya waktu dan kebersamaan saat kita tahu, masa itu begitu singkat.


"Ayah, mau makan apa malam ini?" Tawar Sarah sat mereka duduk santai di ruang tamu apartemen. Ruangan di situ hanya ada 4, dua kamar tidur dan satu dapur kecil di tambah ruang tamu. Untuk ukuran kemewahan, apartemen Raka itu cukup Lux.


"Iya, pa...Sarah jago masak, lho." Raka mengerling ke arah isterinya sambil memainkan kerincingan Rae di dalam boxnya.


Si bocah mungil tampak asyik menggapai-gapai dengan kaki tangannya.


"Terserahlah mau masak apa, ayah makan semuanya."


"Di Kanada ayah biasa makan apa?" Tanya Sarah sambil memasang celemeknya.


Ayah Sarah mengangkat alisnya, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.


"poutine? split pea soup? Sarah bisa memasaknya biarpun tidak mahir sekali, tapi lumayanlah rasanya." Sarah tersenyum pada ayahnya, membanggakan kemampuannya.


"Aku mau, sayang..." Raka menyahut dengan antusias.


"Kamu, semua-semuanya juga mau. Perasaan tellor ceplok saja tetap minta tambah tadi pagi." Sarah terkekeh pada Raka.


"Ya, iyalah. Kalau istriku yang masaknya, telor ceplok saja rasa rendang daging."Raka nyengir.


"Masa, sih? perasaan daging sama telor jauh lho rasanya, sayang. Kalau muji suka kelewatan." Sarah mencubit lengan suaminya itu dengan gemas.


"Tapi kamu suka, kan?" Raka tertawa menyambut cubitan yang sama sekali tidak sakit itu.


Ayah Sarah menatap mereka dengan perasaan yang sulit di ungkapkan, ada rasa haru dan bahagia bercampur aduk.


Tidak salah jika Sarah memilih Raka menjadi suaminya, dia begitu penyayang dan tampak mencintai Sarah dengan sepenuh hati.


Tidak ada yang di khawatirkannya lagi jikapun dia harus pergi dari dunia ini.


(Love You all my readers...🥰 sayangilah orangtua kita selagi mereka ada...💗💗💗💗)




...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️......


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...I love you all❤️...