
"Benarkah?" Mata Doddy berbinar menatap Diah, rasa lelah segera menguap, menatap kepada sang istri. Pengalaman beberapa malam terakhir bersama Diah membuatnya menelan ludah, dia sedang tergila-gila dengan kemolekan tubuh istrinya itu.
Diah tidak menjawab, hanya senyum mengambang di bibirnya, lalu perlahan dia mendekati suaminya itu, tangannya terangkat dan jemarinya berada di dada Doddy.
Doddy terkesima seperti seorang anak kecil yang memandang sang ibu, ketika satu-satu jemari lentik Diah membuka kancing bajunya.
"Eh...kamu sedang apa?" Doddy salah tingkah saat Diah melakukannya, dadanya mendadak bergemuruh dengan aneh.
"Bagaimana aku bisa memijatmu jika kamu masih menggunakan pakaian lengkap seperti ini?" Diah menjawab tanpa menoleh sedikitpun pada Doddy yang sedikit menunduk menatap wajah Diah yang hanya berjarak dua jengkal darinya.
Pada saat jari Diah melepaskan kancing terakhir dari kemejanya, Doddy tak bisa menahan diri untuk tak memegang bahu Diah.
"Aku akan membukanya sendiri." Ucap Doddy parau, dia merasa darahnya seketika naik ke ubun-ubun ketika ujung jari Diah menyentuh perutnya.
"Sttt..." Diah mendonggak pada Doddy, matanya berkilat lembut.
"Biarkan aku melakukannya." Lanjutnya, bibirnya yang basah dengan polesan warna nude itu terlihat bergerak, mengeluarkan suara setengah membisik.
Doddy hanya mengerjap matanya, lalu dengan patuh tak bergerak ketika Diah melepaskan kemeja atasan yang di kenakannya, menyisakan pakaian dalam yang melekat erat di tubuh tegapnya.
Saat jari Diah turun ke pinggangnya, menyentuh kepala belt yang melilit di sana. Doddy menelan ludahnya. Dia heran sendiri, bari saja Diah melakukan hal seperti itu, sesuatu di bawah sana sudah mulai bereaksi, mulai menegang.
Diah berusaha membuka melepaskan belt itu dan beberapa saat dia nampak kesulitan sendiri.
"Akh..." Doddy tak sabar melihatnya lalu dengan sukarela dia membantu Diah melakukannya.
Diah mengangkat wajahnya, sesaat mata mereka beradu. Kepala Doddy turun dan membungkuk, dia tak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak mencium bibir Diah yang terlihat menggairahkan itu meski tangannya sibuk melepaskan ikat pinggangnya sendiri.
Diah tak membalas ciuman singkat Doddy tetapi tangannya naik dan mengalung di leher laki-laki yang mendadak merasa puyeng tak jelas itu.
"Istriku, kamu cantik sekali." Doddy kehilangan kata-kata saat diperlakukan seperti itu, sehingga hanya kalimat itu yang bisa di keluarkan olehnya.
Diah tersenyum kecil, lalu berjinjit mencapai wajah Doddy, dengan mata terpejam dia menciumi lembut bibir Doddy.
Dengan sigap Doddy membalasnya, belt yang berhasil di lepasnya itu di lemparnya begitu saja, kedua tangannya segera memeluk pinggang Diah yang ramping itu.
Sesaat mereka berdua saling memagut dalam ciuman yang liar, Diah benar-benar mampu membakar gairah Doddy dalam sekejap. Rasa lelah yang tadi dirasakan Doddy, telah hilang, menguap entah kemana.
"Ugh..." Suara lenguh Diah yang lembut itu semakin membuat Doddy bersemangat untuk terus *****@* bibir Diah.
Ketika tangan Doddy naik kepunggung Diah, menekan bagian itu supaya tubuh Diah semakin merapat ke tubuhnya, Diah melepaskan ciuman mereka berdua.
Doddy melotot dengan nafas sedikit terengah-engah, tampak tak rela dengan apa yang dilakukan Diah, gairahnya sedang terbakar hebat.
"Kapan aku memijatmu, jika kita terus melakukannya." Diah menaikkan alisnya sambil menggigit sedikit ujung bibirnya.
"Aku...aku rasa kita bisa melakukan itu nanti." Doddy menjawab dengan polos, bola matanya berbinar seperti mata seekor anak kucing.
"Aku sudah berjanji padamu untuk memberimu pijatan supaya mengurangi lelahmu. Acara hari ini tentu menguras tenagamu."
"Kamu juga pasti lelah, kamu tidak perlu melakukannya..." Sela Doddy, bukan karena dia tidak mau Diah memberinya pijatan yang tampaknya sangat menjanjikan itu tetapi dia sedang terbakar oleh gairah sendiri, ada satu ritual yang seolah lebih menarik baginya dan sesuatu yang ada di bawah sana sepertinya semakin membuatnya merasa kesemutan.
"Aku tetap akan melakukannya, kamu pasti akan menyukainya." Diah menarik tubuh Doddy dan membimbing perlahan suaminya itu ke tempat tidur, dengan kedua tangannya, dia membaringkan Doddy di sana.
Dengan santai Diah membuka kaos kaki Doddy, kemudian jemarinya berpindah melepaskan pengait celana Doddy.
"Sayang..." Doddy mencengkeram pergelangan tangan Diah, saat akan membuka resleting celananya. Wajahnya memerah tersipu ketika Diah mengernyit dahinya karena menyentuh sesuatu yang mengeras seolah hendak berusaha membebaskan diri dari kurungannya.
Diah hanya nyengir,
"Belum apa-apa, dia sudah berdiri saja." Goda Diah.
"Kamu membangunkannya, dan kamu harus bertanggungjawab untuk itu." Sahut Doddy dengan suara paraunya.
Diah tertawa kecil, menurunkan resleting celana Doddy, dan dengan gerakan di sengaja dia membiarkan jemarinya bersentuhan dengan area yang maha sesnsitif itu.
Doddy seperti orang kelojotan, darahnya sekali lagi terasa seperti naik ke ubun-ubun.
"Jangan mempermainkan aku begini." Bisik Doddy, dia tak bisa menyangkal istrinya ini sungguh sangat berpengalaman darinya dalam hal seperti ini. Setiap malam rasanya dia bertemu pengalaman baru, saat Diah melayaninya dengan cara-cara yang berbeda.
Dan Doddy tak bisa menyangkal betapa dia sangat kecanduan dan penasaran pada Diah, di setiap detiknya.
Diah meloloskan celana kainnya itu dan Doddy sekarang pasrah hanya bisa mengatur nafas, membiarkan Diah melakukan apapun padanya.
Jemari lentik Diah merayap di betisnya, mulai menekan dengan sedikit bertenaga.
"Akh..." Doddy memejam matanya, pijatan yang di berikan Diah benar-benar nyaman sekaligus membuatnya semakin tak bisa mengendalikan gairahnya.
Saat tangan Diah mulai naik ke pahanya, rasa sedikit geli dan nyaman bersamaan membuat darah Doddy seperti tersirap, dia tak lagi merasakan tekanan itu sebagai pijatan yang berarti karena mendadak tubuhnya seperti mati rasa.
Tanpa di komando, Doddy menarik tubuh Diah dan dalam sekejap tubuh yang masih terbalut gaun malam itu sudah berada di bawahnya.
"Aku tahu, kamu tidak sedang benar-benar ingin memijatku, kamu hanya sedang ingin menggodaku." Doddy tersenyum lebar, melihat wajah istrinya yang merah merona dalam riasan tipis, rambutnya yang semula rapi menjadi sedikit berantakan.
"Kalau kamu berniat memijatku, kamu pasti lebih dulu berganti pakaian dan bersiap-siap dengan paling tidak oliv oil..." Doddy berkata dengan penuh kemenangan.
Diah tak bisa menahan tawanya, melihat Doddy yang bersikap beringas berusaha menindihnya.
"Ayo kita lakukan saja sekarang, sayang. Aku tak sanggup lagi kamu bawa berputar-putar." Doddy menarik gaun Diah melewati bahunya yang putih mulus itu.
(Lamaaaa liburnya Othor hari dua bab langsung yaaaaah๐๐๐
Yuk di VOTE sayangku semua, sebelum Doddy dan Diah mengakhiri bab2 cerita mereka dengan indah๐ ๐ )
Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor๐ค i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis๐๐๐๐
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...