Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 98 TIBA-TIBA CEMBURU


Raka tiba tepat saat Sarah baru saja keluar dari pintu klinik dokter Yogi, disambut wajah masam Sarah.


"Eh, sudah selesai, ya?"Raka menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dengan wajah penuh rasa bersalah.


Sarah melirik jam di pergelangan tangannya sambil menaikkan alisnya yang rapi dan hitam cantik itu.


"Suami siaga kesayanganku ini akhirnya datang juga." Nada sindiran yang telak itu membuat Raka masam-mesem.


"Cepat sekali sih Yogi periksanya?"


"Hampir sejam aku di dalam di bilang cepat? Memangnya periksa kandungan perlu berapa lama?" Sarah masih manyun sambil melangkah menuju parkiran, di mana Dea tampak menunggu dengan muka yang masih bersemburat aneh.


"Kamu boleh pulang duluan, De...terimakasih ya sudah mengantar ibu." Raka menggandeng tangan Sarah sambil mempersilahkan Dea pergi.


"Oh, iya pak..." Dea masih terlihat salah tingkah.


"Kamu kenapa?" Raka sedikit heran melihat ke arah Dea.


"St...bagaimana tadi, De?" Sarah menyunggingkan senyum menggoda pada Dea.


Dea menundukkan wajahya yang merah.


"Akh, ibu... eh..." Wajah Dea benar-benar seperti kepiting rebus.


"Ku suruh panggil aku dengan apa?" Sarah memicingkan matanya kepada Dea.


"Iya, bu...eh kak Sarah..."


Sekarang Raka yang bingung sendiri dengan tingkah dua perempuan di depannya itu.


"Kenapa kalian berdua menjadi aneh begitu?" Raka bertanya dengan curiga.


"Kamu biasa panggil bu Sarah, kenapa sekarang memanggil dia kakak?"


"Tidak usah ikut campur urusan perempuan." Sarah melepaskan tangannya dari Raka, sambil melirik Dea yang tampak tidak bisa menjawab apa-apa.


"Terimakasih sudah mengantarku, De. Lain kali aku tidak keberatan, kamu mengantarku lagi." Sarah mengedipkan matanya pada Dea.


"Hey, kok bisa begitu?"Raka protes.


"Pulang saja duluan, De...aku masih ada sedikit urusan dengan bosmu ini. Tunggu kejutan selanjutnya" Sarah mendorong Dea sedikit, isyarat menyuruhnya segera pergi.


Tanpa di suruh dua kali, Dea segera ngacir, masuk ke dalam mobil dengan tergesa, menyembunyikan wajah merahnya yang masih tersipu.


"Sayang, kenapa lama sekali?" Tiba-tiba Sarah berbalik, tangannya menyangga pinggangnya seolah kelihatan begitu kesal.


"Iya, aku minta maaf, sayang...Tuan Wang itu cerewet sekali, dia ngomongnya lama..."


"Alasan...!"Si bumil cantik ini merengut.


"Sumpah sayang, andai bukan tindak kriminal, si Tuan Wang itu sudah ku bekap, ku masukin karung, ku kirim langsung ke Singapore lewat ekspedisi. Tapi, sungguh aku tak berdaya, dia tamunya..." Wajah Raka memelas.


Melihat wajah sang suami, Sarah tak tahan tidak tersenyum. Mimiknya yang lucu dengan raut amat menyesal membuat Sarah geli.


"Sayang, Kamu melewatkan Baby empat bulanmu."


Sarah berjalan melewati Raka, mendahului menuju mobil.


"Eh, kita balik lagi saja ke dalam, kan bisa USG ulang? " Raka menarik lengan Sarah manja, menggandengnya dengan sayang.


Sarah melotot pada Raka, jika saja tidak di tempat umum seperti biasa, sikap Sarah yang menggemaskan itu akan menuai ciuman.


"Iya..iya...jangan melotot begitu nyonyaku," Raka memencet hidung bangir istrinya itu dengan gemas.


"Sayang, apa kabarmu hari ini? daddy tidak bisa melihatmu, mommymu ngambek. Sial sekali daddymu ini..." Raka sempat-sempatnya mengelus perut Sarah.


Sarah masuk ke dalam mobil dengan wajah cuek, dia memang sedikit kesal karena Raka tidak menepati janji tapi dia tidak benar-benar marah. Dia tahu, suaminya itu mempunyai alasan tidak bisa datang tepat waktu.


"Sayang, Foto 4 bulannya ada, kan?" Tanya Raka masih penasaran dengan perkembangan bayinya.


Sarah merogoh tasnya dan menyerahkan tiga lembar cetakan foto hasil USG.


Raka memicingkan matanya, mengamati dengan antusias foto di tangannya.


"Dia cepat sekali besar...lihat kakinya, tangannya, kepalanya...dia tidak nampak seperti ini bulan kemarin." Raka mengelus gambar itu dengan takjub.


"Laki-laki apa perempuan kata dokter Yogi?" Raka berpaling dengan penasaran.


"Jenis kelaminnya belum jelas sayang..." Sarah merapatkan tubuhnya melihat ke lembaran fito di tangan Raka dengan sumringah.


Dalam sepersekian menit mood Sarah telah berubah, rasa kesalnya pada suaminya itu menguap entah kemana ketika membicarakan calon bayi mereka.


"Panjangnya 12 Centi, beratnya 250 gram, kira-kira sebesar buah alpukat sekarang." Sarah mengulang keterangan dokter Yogi, dengan wajah bangga.


"Wow...sudah sebesar itu?" Raka terpesona.


"Anakku, sudah sebesar itu?" Dengan refleks tangan Raka menyentuh perut Sarah yang tersenyum lebar sambil mengangguk bahagia.


"Terimakasih sayang, sudah menjaga anakku." Sebuah ciuman mendarat di pipi Sarah.


"Eh, kita sampai kapan di parkiran begini?" Sarah mendelik pada suaminya itu, pura-pura protes padahal hatinya berbunga-bunga diperlakukan seperti itu.


Raka tersenyum melihat sang istri yang tak lagi marah padanya.


Menyenangkan melihat senyum Sarah yang merekah kembali.


"Aku mau makan sesuatu..." Sarah memasang safety belt sambil mengerling manja pada Raka.


"Siap nyonyahku." Raka menyahut jenaka.


Dalam beberapa saat kemudian mobil Raka telah berada di jalan raya.


"Makan apa? kemana? Please, jangan cendol ya..."


"Aku mau makan yang berat-berat..."


"Apa?"


Sarah tampak memikirkan sesuatu, Raka menjadi sedikit gugup, ibu hamil kadang-kadang tak bisa di tebak maunya apa.


"Sayang, aku mau mau makan cumi?"


"What?" Raka sekarang yang melotot, dari kecil dia paling ngeri kalau melihat cumi. Apalagi kalau melihat si cumi-cumi yang menjulur kan kakinya itu kesana kemari berada di dalam piring, dia benar-benar tidak tahu mengapa, rasanya seperti melihat apa.


"Sayang, kenapa melotot begitu?"


"Please, jangan cumi." Raka memelas.


"Memangnya kenapa dengan cumi?" Sarah bingung melihat Raka yang tiba-tiba berubah pias.


"Cumi itu aneh..."


"Yang makannya kan aku, sayang...kamu pilih menu yang lain"


"Tapi di piringmu nanti ada cuminya."


"Hm...jangan bilang kamu phobia cumi-cumi..." Sarah tergelak melihat sang suami yang gelisah saat memikirkan cumi-cumi.


Sarah memandang Raka dengan geli, ternyata ketika mereka berdua tinggal bersama sebagai suami istri banyak hal-hal tentang suaminya yang baru dia tahu.


Apa yang dia suka dan tak suka bahkan tentang hal-hal kecil tentang suaminya itu, begitu lucu dan menggelikan.


Itulah rumah tangga, semuanya akan terbuka dengan begitu saja, kebiasaan baik maupun buruk tak akan tersembunyi.


Bahkan hal remeh yang kadang tak masuk akal seperti ini.


"Em...seafood yang lain saja kan banyak yang bukan cumi, ada udang, ikan, kepiting...asal jangan cumi." Raka merinding sendiri.


"Iya...iya...di resto favoritmu saja, aku bisa makan semuanya kok." Sarah terkekeh geli melihat suaminya yang benar-benar terlihat ngeri.


Raka menarik nafas lega, mendengar sang istri yang mengalah dengan suka rela.


Handphone Raka berbunyi kecil.


Sebuah pesan masuk,


Raka memeriksanya dan seketika pias wajahnya berubah.


"Maaf pak Raka, minta waktu malam ini bertemu, ada hal yang perlu saya diskusikan dengan bapak, terkait ketersediaan tanah di bagian timur. Terimakasih. Tania."


Raka memberikan handphonenya kepada Sarah,


"Bacalah..."


Seketika wajah Sarah sedikit menegang, melihat nomor tak dikenal yang mengirimkan pesan singkat itu adalah Tania.


Rasa ketakutan terhadap Tania jika bertemu Raka tiba-tiba menggelitik, matanya menatap kepada suaminya dan ponsel yang berada di tangannya bergantian. Teringat Tania yang telah mencuranginya di masa lalu tak bisa memungkiri rasa khawatir yang mengganggu hatinya.


Dadanya berdegup seperti begitu penuh, rasa cemburu yang menyusup itu membuatnya merasa nafasnya sedikit berat, tapi dia berusaha menekannya.


"Aku perlu bertemu dengannya atau tidak?" Tanya Raka kemudian terlihat acuh, mengamati sekilas pias ragu di wajah Sarah.


"Aku mempercayaimu..." Hanya itu kalimat yang keluar dari bibir Sarah, tanpa menolak atau menyetujui.


(Apakah Raka akan bertemu Tania, atau kah Raka lebih menjaga perasaan sang istri, yuk tunggu episode berikutnya yang sedikit agak memanas🤣🤣 Terimakasih atas dukungan semuanya, baik vote, like, komen bahkan tips berupa koin yang telah di kirimkan untuk Raka dan Sarah. Love You semua🄰🄰🄰)



...Terimakasih sudah membaca novel iniā¤ļø...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...I love you allā¤ļø...