
Semua mata tertuju pada Sarah sekarang, seolah suaranya mampu membuat segenap perhatian berpusar padanya.
Raka lebih terkejut lagi, tidak menyangka Sarah bersikap begitu. Sesuatu yang hampir mustahil dilakukan oleh Sarah mengingat dia sangat penurut bahkan kadang sangat penuh pertimbangan.
"Sayang..."Raka menyentuh pergelangan tangan Sarah, mencoba mengingatkannya, untuk menahan diri.
"Sarah...!" Mama Sarah menatap anak angkatnya dengan tatapan tajam menusuk dari seberang.
"Ada apa ini, sayang." Mama Raka menoleh pada Sarah yang duduk tidak jauh darinya itu.
"Mama, Raka tidak membuat kesalahan apapun." Sarah melepas pandangan pada Raka, balas memegang tangan suaminya itu. Seolah meyakinkan, sebagai istri dia akan siap menjaga kehormatan suaminya. Tak seujung kuku dia rela mendengarkan suaminya di salahkan apalagi dipermalukan untuk kesalahan yang sama sekali tak diperbuatnya.
"Raka tidak pernah menghianati pertunangannya dengan Sally. Dia tidak pernah ingin mempermalukan semua keluarga karena pernikahannya yang gagal setelah semuanya sudah siap bahkan undanganpun sebagian sudah di sebarkan. Itulah alasan Raka menikahiku dengan terpaksa." Sarah berucap begitu datar, tatapannya tak lepas menatap laki-laki yang juga sedang menatapnya tak lepas, dengan raut tak percaya mendengar setiap kata yang meluncur dari bibirnya.
"Tapi, bukankah Raka yang bilang, Sally dan dia sepakat membatalkan pernikahan karena mereka berdua mempunyai pilihan masing-masing?" Papa Raka menatap tak kalah tajam pada anaknya itu.
"Raka tak punya pilihan, selain menikahiku, yang sama sekali tak pernah di inginkannya menjadi istrinya." Sahut Sarah, sekarang dia menatap mamanya dengan wajah memelas.
"Dia melakukannya karena menyelamatkan dua nama besar keluarga."Lanjutnya.
"Hentikan omong kosong ini, Sarah." Mama menyela dengan suara sinis.
"Mungkin sekarang waktu yang tepat untuk memberitahukan semuanya, supaya tidak ada lagi ketakutan, tidak ada lagi kebohongan-kebohongan lain untuk menutupi kebohongan yang sudah terjadi. Rasanya tak enak harus selalu bersembunyi terus dari masalah ini. Dan lagi, ma...semua sekarang sudah baik-baik saja." Sarah seolah hanya sedang berbicara pada mama angkatnya itu.
"Sarah mungkin benar..."tiba-tiba papa Sarah angkat suara, terdengar sedikit ragu memang.
"Papa!" Mama Sarah mengalihkan pandangannya kepada suaminya itu dengan wajah merah. Dialah yang membuat ide dan rencana pernikahan itu demi menyelamatkan wajah mereka dan wajah Sally. Tentu saja dia tidak ingin terpojokkan di depan semua orang.
"Aku rasa Sarah benar." Sekarang Raka yang berbicara dengan suara berat.
"Ada beberapa hal yang harus kita luruskan supaya tidak terjadi salah paham, dan aku yakin papa dan mama akan mengerti." Raka menegakkan badannya, wajah itu begitu kaku bahkan sekarang bekesan tanpa ekspresi.
"Sayang, biarkan aku yang menjelaskan."Raka melihat raut yang cemas di wajah Sarah, menatap suaminya itu menjadi sedikit bimbang ketika Raka memilih mengambil tanggungjawab meneruskan apa yang Sarah mulai.
Sarah sangat tahu bagaimana Raka, dia bisa saja membuat dirinya menjadi seolah-olah penjahat untuk menyelamatkan keadaan.
"Mama, papa...mungkin sekarang waktu yang tepat untuk menjelaskan mengapa aku menikahi Sarah dan bukan Sally." Raka menghela nafas. Semua mata menatap kepada Raka. Dan sangat jelas, tatapan mama Sarah yang paling menentang.
"Om dan tante Wijaya, sebelumnya saya minta maaf jika ini harus di beberkan, orangtuaku juga berhak untuk tahu kebenarannya. Semoga setelah ini, tak ada lagi salah paham, tak ada lagi yang perlu di sembunyikan. Tak ada dusta di antara kita semua."
"Bicaralah, Raka..."Suara papa terdengar berat, menyela kalimat dari mulut Raka.
"Dua minggu sebelum pernikahan itu, Sally lari dari pernikahan kami ke luar negeri." Ucap Raka memulai. Mama Sarah nampak menegang, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Suaminya sendiri tidak jauh dari tempatnya duduk diam seribu bahasa, mengucapkan apa-apa pun tidak.
"Untuk menjelaskan kenapa, mama bisa bertanya kepada yang lebih tahu dan mungkin lebih berhak menjawab." Raka mengarahkan matanya kepada mama Sarah yang langsung piasnya berubah merah padam. Dia begitu jengah menyadari mama Raka menatap dirinya dengan begitu penasaran dan menuntut.
"Sally...Sally..." Mama Sarah tergagap, sementara Sarah menunduk, bagaimanapun perempuan yang terpojokkan di depannya ini adalah keluarganya walaupun tidak pernah benar-benar menyayanginya.
"Mungkin tante Wijaya belum siap mengatakan kenapa tapi aku berjanji jikapun tante Wijaya tak ingin mengatakan sekarang, mama akan tahu kenapa setelah ini tapi yang pasti dia mempermalukan aku dan menginjak-injak harga diriku dengan melarikan diri dari pernikahan kami."
Raka menatap nanar pada mama Sarah, sungguh dia tak lagi bisa menghormati perempuan itu sejak melihat bagaimana dia menutupi kesalahan anaknya dan menyerahkan anaknya yang lain sebagai tumbal.
Itulah alasan mengapa, sampai hari ini lidahnya tak bisa di bawa berkompromi untuk memanggil papa dan mama pada kedua mertuanya itu.
Dia lebih suka memanggil om dan tante seperti saat dia masih bertunangan dengan Sally. Hal itu membuat jarak sehingga dia tidak merasa terbeban untuk menjadi dekat.
"Tahukah, mama...siapa yang menyelamatkan muka keluarga kita, menyelamatkan harga diriku di depan orang banyak?"Raka menggengam jemari Sarah yang terasa berkeringat dingin.
"Dia adalah istriku yang sekarang, yang bahkan dalam menangispun dia diam. Dia yang mengorban mimpi dan masa depannya demi kita semua. Tanpa cinta sama sekali, dia hanya menjalani nya meskipun aku telah menghina dirinya dengan semua sikap aroganku.Yang padanya, aku telah berhutang banyak."
Sarah menundukkan wajahnya semakin dalam, dua bulir bening jatuh dari sudut matanya. Dia tak tahu harus berkata apa.
"Tapi, pada saat bulan madu kalian, papa lihat kalian begitu dekat..." Papa Raka menukas, seolah tak percaya dengan semua yang di dengarnya.
"Ya, papa...demi mama yang sedang sakit, demi hubungan baik dua keluarga, demi keberlangsungan bisnis kita, Sarah telah menurutiku untuk bersandiwara di depan semua orang. Yang akan bersiap kapan saja menyandang status janda jika aku menceraikannya."
Mama Raka ternganga, pandangannya terpaku pada anak dan menantunya itu dengan perasaan yang tak bisa di ungkapkan.
"Bahkan, kami berdua tak pernah benar-benar berhubungan layaknya suami istri, sebelum mama mengirim Sarah ke Leiden untuk menyusulku."Raka menggenggam erat tangan Sarah, yang menitikkan air mata dalam diamnya. Dia seperti memutar pita kaset, di bawa kembali ke awal pernikahannya bersama Raka.
"Sayang, apakah itu benar?" Tanya mama dengan suara bergetar, tak bisa di bayangkannya perasaan gadis ini menjalani hidup sebagai pengantin pengganti yang di abaikan oleh orang yang menikahinya.
Sarah tidak menjawab, hanya bahunya berguncang, menandakan dia sedang menangis.
"Tapi...aku akan mengumumkannya sekarang, di depan semua orang malam ini. Aku telah jatuh cinta pada istriku ini dan benar-benar mencintainya dengan segenap hatiku. Tak akan ada tempat bagi siapapun selain Sarah di dalam hatiku, sampai maut memisahkan kami. Aku siap melakukan apapun untuk membahagiakannya dan anakku yang kini sedang di kandung olehnya!"
(Maafkan othor khilaf lagi UP dobel lagi hari ini🙏☺️
mudah-mudahan ada yang masih bangun di tengah malam begini. Sayang selalu buat pembaca setia "menikahi tunangan adikku" jangan lupa like dan komennya ya...😅)
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...Nantikan episode selanjutnya, yang lebih seru🙏...