
Selama mereka turun ke bawah bersama-sama, di dalam lift, mereka saling diam tak saling bicara, Diah benar-benar sungkan dengan Doddy, laki-laki itu seperti tak menganggapnya sebagai bawahan rendahan, dia begitu menghormati Diah.
Sementara Doddy sendiri sepertinya tidak ingin mengganggu keheningan mereka, dia tak berbicara untuk membuat mereka berdua beradaptasi dengan kedekatan yang terasa mendadak itu.
Doddy memperlakukannya seperti seharusnya laki-laki beretika memperlakukan perempuan dengan hormat, Diah tak pernah merasa begitu di hargai oleh seorang laki-laki seperti ini.
Saat mereka keluar dari lift, pegawai-pagawai perempuan di lobby tampak menatap Doddy dengan pandangan meleleh, bahkan ada yang rela tak berkedip memandang kepadanya.
Yah, Doddy presdir muda itu, dia laki-laki single yang menawan. Dengan jabatan dan latar belakangnya, kekayaan dan ketampanannya, tak ada seorangpun yang tak menginginkan berjalan di sampingnya.
Sayangnya, dia laki-laki yang begitu sulit di jamah, wajahnya sedingin es jika berjalan itu tak tergoyahkan, meskipun saat berbicara dia bersikap ramah dan tegas.
Di mata mereka, Diah yang kini ada di sebelah Doddy adalah perempuan paling beruntung, yang bisa berjalan beriringan dengan sang bos.
"Karin, tolong katakan pada pak Ferdian jika dia mencariku, aku sedang keluar dan kemungkinan langsung pulang." Doddy berhenti pada salah satu gadis yang berada di balik meja di lobby itu.
"Iya, pak." Gadis itu mengangguk dengan wajah sumringah, jarang-jarang anak bos besar mereka itu menyapanya, momen itu tentu saja tak ingin di sia-siakannya, siapa tahu anak pak bos ini tertarik padanya. Mendengar namanya di sebutpun dia merasa senang bukan main.
Biasanya dia hanya lewat saja, paling-paling menganggukkan kepalanya sedikit, itupun bisa membuat hari para perempuanyang bertugas di lobby itu begitu menyenangkan.
Siapa sih yang tidak ingin di jadikan istri, laki-laki setampan dan sebaik Doddy?
"Katakan pada Arman, ruanganku boleh di bereskan dan periksa dokumen di atas meja, jika ada yang ketinggalan ku tanda tangani, hubungi aku nanti. Besok semuanya akan ku cek kembali. Hari ini aku ada urusan penting." Doddy merapikan bajunya dan menoleh kepada Diah yang kini berada di belakangnya dan menganggukkan kepalanya sedikit memberi isyarat supaya mengikuti langkahnya keluar dari lobby itu.
Karin dan dua orang gadis yang berada di samping Karin menatap iri pada Diah, perempuan di sampingnya itu memang cukup cantik tapi dari penampilannya yang sedikit rikuh, menurut mereka dia biasa saja.
Herannya sang anak bos itu tampak memperlakukannya dengan begitu hati-hati.
...***...
Diah duduk di samping Doddy, sambil menggenggam erat tas di pangkuannya, entah mengapa perasaannya gugup tak jelas sekarang.
Apakah mungkin karena statusnya masih istri orang, dan duduk berdua dalam satu mobil dengan laki-laki lain yang membuatnya menjadi berkeringat dingin?
Diah memang tak terbiasa berbicara dengan laki-laki lain karena keterbatasan pengalaman bersosialnya, dia hanya ibu rumah tangga biasa, yang selalu merasa jika berduaan dengan laki-laki lain tanpa ada orang ketiga bisa menimbulkan fitnah.
Meskipun, sebenarnya di dunia pekerjaan, dalam hubungan kerja hal itu lumrah, yang penting memang tak ada niat maksiat dalam keberadaan itu.
Tapi, dia sangat sering bersama satu mobil dengan pak Ardie, saat dia di antar Pak Ardie, sopir pak Rudiath, rasanya tidak se aneh ini?
Diah, berusaha kelihatan rileks meskipun dadanya mendadak berdegup kencang tak seoerti biasanya.
Sesaat suasana kembali hening antara mereka berdua, saat mobil yang dikemudikan oleh Doddy meluncur di jalan raya, membelah kota yang semarak menjelang sore.
"Diah...bolehkah aku memanggilmu tanpa kata ibu di depannya?"
"A...eh..." Diah tak tahu harus menjawab apa, matanya melirik kepada Doddy.
"Terserah saja, bagaimana enaknya saja." Jawab Diah kemudian.
"Kamu boleh memanggilku Doddy saja, usia kita sama lahir di bulan juli hanya saja aku lebih dulu lahir sepuluh hari. Jadi ku rasa tidak perlu terlalu sungkan dan formal."
Diah tak tahan untuk tidak menoleh, dia benar-benar terkejut mendengar pernyataan Doddy, bahkan laki-laki ini tahu dia lahir di bulan juli.
"Kamu...benar-benar tidak mengingatku, Diah?" Pertanyaan itu hampir tanpa gelombang, datar dan santai.
"Eh, maksud bapak, em...maksudnya kita pernah saling kenal sebelumnya?" Diah tercengang, dengan raut wajah tak yakin, matanya tanpa bisa disembunyikannya lagi mengamati Doddy dengan seksama.
"Kita tidak saling kenal...tapi kita sering bertemu, sepuluh tahun yang lalu."
Diah sekarang benar-benar melongo, dia benar-benar terpana menatap pada laki-laki di sampingnya yang sedang berada di belakang setiran itu.
"Kita? Kita pernah bertemu?" Alis Diah naik tinggi, mata bulat cantiknya mengerjap, dia seakan sedang menghimpun semua pengingatannya tentang wajah yang kini tersenyum tipis sambil melirik padanya.
"Kita sangat sering bertemu, tapi sayangnya kamu tak pernah menyadari aku ada..." Tandas Doddy, akhirnya untuk pertama kali Diah melihat senyum yang begitu lebar dan manis di bibir Doddy, sepertinya dia begitu puas telah mengucapkan kalimat itu.
"Di mana?" Diah bertanya dengan bimbang. Dia menjadi tidak nyanan saat dia sungguh tak bisa mengingat Doddy dengan benar, rasanya dia seperti orang sombong atau mungkin benar-benar tak sopan.
Diah menghimpun semua memorrynya, tapi tak sekelebatpun dia mengingat pernah bertemu laki-laki tampan ini di dalam sepuluh tahun terakhir hidupnya.
"Apakah memang aku sana sekali tak pernah kamu ingat? Atau mungkin wajahku benar-benar berubah jauh. Sampai-sampai seorang teman tak mengingat keberadaanku sama sekali." Seloroh Doddy sambil tertawa kecil, seakan menertawakan rasa penasaran dan rasa bingung yang berbaur di wajah Diah.
Diah tanpa sadar menggelengkan kepalanya, seakan memastikan pada dirinya sendiri, dia memang tak mengingat Doddy.
Kehidupannya hanya berputar dan bermuara pada Bram semata, bahkan sekelilingnya tak ada yang penting baginya.
"Aku memang orang yang tak cukup menarik untuk di ingat, tapi...tapi kamu adalah orang yang paling sulit untuk di lupakan..."
(Rangkaian Crazy UP masih othor usahakan berlanjut, meski mungkin tayang nanti malam di jam kuntiš Jangan bilang pendek, yaaaa....othor dah kasih 3 bab lho hari iniš¤£š¤£
Love You allā£ļøš
Banyak hal yang terlewatkan dalam hidup, saat kita hanya terfokus pada satu hal sajaāŗļø Apakah ada yang bisa menebak di manakah mereka pernah bertemuš¤)
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Rakaš¤...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya.....