
Sally memoles bibirnya dengan lipstik sekali lagi. Rambutnya yang di cat pirang terurai sempurna. Sungguh sebenarnya kecantikan Sally adalah perpaduan antara keelokan wajah pak Wijaya dan kecantikan Bu Mytha dari masa muda.
Tubuhnya yang ramping semampai itu di turunkan dari sang mama, tidak ada yang sebenarnya kurang dari Sally.
Malam ini dia menggunakan pakaian dengan bahu terbuka, hanya tali kecil terkait di kedua bahunya, dada yang rendah, sehingga ketika dia duduk maka belahan yang indah itu mengintip, membuatnya terlihat seksi dan menggoda.
Terngiang di kepalanya, ucapan sang mama tadi pagi tentang pertemuan yang harus di lakukannya malam ini,
"Kamu harus membuat anak Fedian itu bertekuk lutut. Penghinaan kemarin siang harus kau balas, Sally. Dia telah memandang remeh mama dengan sikap soknya itu." Mamanya begitu berapi-api, menunjukkan murka yang kadang membuat nyali Sally menciut.
Meski mamanya itu begitu memanjakan dirinya, tapi jika dia marah maka Sally lebih memilih diam.
"Tapi, kenapa mama harus berhutang pada om Ferdian? Bukankah mama tahu dia adalah teman papa?" Tanya Sally dengan takut-takut, dia cemas kalimat itu akan memancing amarah sang mama.
"Karena dia adalah teman papamu, aku mengira dia benar-benar bisa dipercaya. Ternyata dia licik dan tak sabaran. Aku tak menyangka dia menggunakan hutang ini untuk benar-benar mengambil alih saham. Semula aku mengira dia orang yang mudah untuk diajak bekerjasama." Bibir Mytha yang di kedua belah ujungnya mulai menunjukkan kerutan kecil halus itu komat kamit, merutuk dan menyumpah tidak jelas setelah menjawab pertanyaan anaknya itu.
"Mama kenapa tidak mengatakan kepadaku lebih dulu?" Tanya Sally dengan sikap hati-hati, salah-salah amarah mamanya itu akan di semburkannya pada Sally.
"Memangnya apa yang bisa kamu lakukan, Sally? Kamu sibuk dengan Brammu yang tak berguna itu. Laki-laki parasit yang hanya menempel padamu, bahkan sekarang kamu begitu senang menghabiskan waktumu pada laki-laki tak jelas yang telah menelantarkanmu itu!" Mama membeliak pada Sally, matanya yang bulat besar itiu seolah hendak melompat dari rongga matanya.
"Mama tidak perlu mengurusi privacyku. Bukankah aku tak pernah kepo dengan semua urusan mama? Aku masih membutuhkan Bram di sampingku, jadi jangan usik dia selama aku masih menginginkannya." Sally berucap tak kalah kerasnya pada mamanya itu, dia begitu berani menantang mata mamanya itu, matanya yang indah itu seperti menyembunyikan sesuatu tentang obsesinya bersama dengan suami perempuan lain itu.
"Mama berhutang begitu banyak untuk apa? Seharusnya mama berfikir sedikit ketika mama berani menggelontorkan uang sebegitu banyaknya, jika ada papa..."
"Tidak perlu mengungkit papamu yang bodoh dan tak berguna itu!" Sambar Mytha sambil mengacungkan telunjuknya pada putri kandung satu-satunya itu
" Semua bukan urusanmu, Sally! Kamu kira kamu bisa duduk di kursi komisaris itu dengan saham lebih rendah dari Rudiath dan Sarah? Sekarang mama hanya membutuhkan bantuanmu, bukan semata demi mama tapi juga demi mengamankan posisimu di kemudian hari."
"Bagaimana cara aku membalasnya?" Sally tertegu menatap pada mata nyalang yang licik milik mamanya itu.
"Kamu tahu, laki-laki tak akan bisa menolak perempuan, lakukan apa yang bisa kau lakukan untuk menyelamatkan posisi kita." Mamanya menatap tajam padanya, mata itu berbinar licik dan menuntut.
Sally sangat mengenal mamanya ini, jika mamanya berkata seperti itu maka dia sedang tak ingin di bantah.
"Aku tidak terlalu mengenal anak om Ferdian itu. Dia dulu waktu kecil sangat culun, aku benar-benar tak menyukainya."
"Tidak perlu menyukai seseorang jika kamu hanya ingin menjebaknya. Waktu kita tidak banyak Sally, 2 hari lagi kita akan menghadapi mereka. Jika Doddy ada dipihak Sarah atau Rudiath, maka habislah kita. Kamu tidak akan bisa masuk ke dalam perusahaan ini. Dan apakah kamu benar-benar rela mantan tunanganmu itu selamanya menjadi milik Sarah?"Pertanyaan itu seketika membangkitkan rasa dendam Sally.
Untuk Raka dan membuat Sarah menangis darah dia siap melakukan apapun.
"Aku akan mengatur pertemuanmu dengan Doddy lewat Ferdian, kamu hanya datang saja, dan bawalah ini..."Mytha menyerahkan sebuah map kepada Sally.
"Ini apa?"
"Bawa saja, katakan mama tak bisa datang karena itulah kamu yang mewakilinya."
Sally mengambil map biru dari plastik itu. Dia tak mau bertanya lagi.
"Buatlah Doddy bodoh itu jatuh cinta padamu..." Mamanya berucap datar.
"Aku sungguh tak menyukai Doddy." Sahutnya serupa keluh.
"Kamu hanya membuatnya jatuh cinta, paling tidak tergoda padamu, dengan begitu kamu bisa mengendalikannya. Laki-laki jika tergila-gila pada perempuan dia akan serupa dengan keledai, kamu bisa menungganginya sesuka hatimu."
Kalimat itu mengakhiri perdebatan ibu dan anak itu.
Mamanya selalu bisa membuat Sally menurutinya, sifat semena-mena itulah yang kini diadopsi oleh Sally dengan sempurna.
Cermin tak pernah memberi gambar yang berbeda, jika kita berdiri di depannya.
"Honey, kamu mau kemana malam ini? Cantik sekali..." Bram memeluk tubuh Sally dari belakang. Dia baru saja menghabiskan beberapa botol Wine.
Sally menggeliat dan melepaskan diri dari pelukan Bram.
"Jangan merusak dandananku, aku harus bertemu seseorang hari ini."
"Siapa?" Bram menyusupkan kepalanya di leher Sally, beberapa hari ini dia memang hanya duduk saja di dalam apartemen tempat mereka berdua tinggal satu atap.
Bayangan wajah Diah, beberapa hari terakhir ini begitu mengganggunya, dengan minum maka dia bisa mencumbu istrinya itu sesuka hati di dalam imajinasinya.
Dia tak bisa lari dari Sally, dia begitu tergantung dengan Sally sekarang, apalagi Diah sama sekali tak lagi perduli padanya.
Orangtuanya sudah menyerah dengan hubungannya dengan Diah. Sekeras-kerasnya mereka berusaha menahan Diah, tapi semenjak Diah secara finansial sudah tidak lagi bergantung pada orangtuanya, siapapun tak lagi bisa memberi alasan untuk membuat perempuan yang lama di rasuk derita itu bertahan.
Mereka telah menjadi saksi bagaimana Diah merangkak dalam penderitaannya dalam pengkhianatan Bram dan sekuat tenaga berjuang merawat anak-anaknya meskipun Bram hampir-hampir tak punya peran apa-apa dalam meringankannya.
"Kamu tak perlu tahu, mungkin malam ini aku tidak tidur di rumah." Sally mendorong tubuh Bram lalu meraih ponsel dari atas meja dan memasukkannya ke dalam tas tangannya.
"Honey?" Bram Menatap Sally dengan nanar.
"Kamu kemana? aku akan mengantarmu." Bram meraih jaketnya dari lengan sofa.
"Bram, aku mau kamu tinggal. Aku tidak memerlukanmu mengantarku." Sally membeliak pada Bram dengan gusar.
"Kamu akan bertemu laki-laki?" Raut cemburu itu terpampang di wajah Bram yang merah padam karena pengaruh alkohol.
"Aku akan bertemu siapa, kurasa aku tak perlu melaporkan apa-apa padamu."
(Yeayyyy...Othor triple UP ya hari ini😁Maafkan othor, jika menulis tentang 3 orang sosok antagonis ini dalam satu part, othor tahu akan menuai hujatan✌️😁 Tapi jika tidak di tulis, susah menyambungkan kisahnya dengan part-part selanjutnya. Apalagi, saat cerita ini bersiap-siap bertemu endingnya🤭🤭)
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya.....