Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 80 AKAN TETAP DI SINI


Sarah mematung di tempatnya berdiri. Dia tidak ingin bertanya, ada apa, tapi hanya menunggu.


"Sayang, bisa kah kamu mendekat kemari?" Raka berucap perlahan, suaranya menjadi lebih hangat sekarang.


Sarah mendekat, sehingga dia berada tidak lebih setengah meter dari Raka hanya di pisahkan oleh meja.


Raka memundurkan kursi kerjanya, menimbulkan derit halus di lantai saat rodanya bergeser. Memberi ruang di antara meja dan kursinya Sementara dia sendiri masih duduk di kursinya, tak bergeming.


"Aku mau kamu kemari...lebih dekat lagi."


Sarah menaikkan alisnya, mendengar kalimat Raka yang terdengar aneh itu.


Lalu perlahan Sarah berjalan memutari meja kemudian berdiri di samping kursi Raka.


Wajah Raka masih begitu serius, hanya matanya yang bergerak mengawasi istrinya itu dengan seksama.


Lalu sekonyong-konyong tangannya terulur, meraih lengan Sarah dan membimbingnya berdiri tepat di hadapannya, di antara kursinya tempatnya duduk dengan meja kerjanya.


"Sayang, ada apa ini?" Akhirnya Sarah tak bisa menahan diri dengan perlakuan Raka, dia rasa sekarang mungkin saat yang tepat untuk mempertanyakan sesuatu.


Raka mendonggak pada istrinya yang berdiri menunduk padanya, mencengkeram pergelangan tangan Sarah seperti orang yang takut terlepas.


"Sayang, aku takut..."Suara Raka terdengar begitu parau.


"Takut?" Sarah menatap Raka dengan bingung.


"Aku takut harus berpisah darimu."Ucap Raka kemudian.


Sarah terpana, mendengar kata berpisah membuat kakinya terasa lemas. Tanpa sadar pinggulnya bertahan di pinggir meja kerja Raka, sementara pergelangan tangan Sarah masih cengkeram Raka begitu erat.


Ada apa ini?


Raka bersikap sangat misterius, membuat Sarah semakin bertanya-tanya dalam hati.


"Berpisah? Kenapa?" Entah mengapa pertanyaan yang keluar dari bibir Sarah hanya sepotong-sepotong.


"Sayang...aku tidak ingin meninggalkanmu...sungguh..."Raka memandang wajah Sarah dalam keremangan ruangan, hanya berharap penerangan dari lampu meja yang menunduk di atas meja.


"Kenapa kita harus berpisah? Kenapa kamu ingin meninggalkanku?" Sarah bertanya dengan suara gemetar.


Suasana mendadak hening sejenak, jemari Raka tiba-tiba terangkat, memainkan ujung rambut Sarah yang jatuh tergerai saat dia menunduk menyambut tatapannya.


"Karena aku harus kembali ke Leiden, lusa..."Raka menjawab kemudian.


Sarah terpaku di tempat, bibirnya setengah terbuka, tak tahu harus mengucapkan apa. Hampir saja dia menangis karena ketakutan yang berlebihan.


Jika hanya karena harus kembali ke Leiden, Sarah rasa Raka tidak perlu bersikap seserius itu, sehingga hampir membuatnya gelisah setengah mati.


"Sayang...! kamu membuatku takut saja." Sarah menggigit bibirnya kemudian memasang wajah cemberut untuk menutup kelegaan di hatinya.


"Kamu tidak perlu begitu serius, jika hanya untuk kembali ke Leiden. Apakah itu alasan wajah murammu itu kau pasang sepanjang sore ini?" Cecar Sarah sambil menggoyang tangan Raka dengan kesal.


"Hey, aku begitu bingung dan tersiksa memikirkannya selama setengah hari ini, begitu resah tak tahu harus bagaimana menyampaikan padamu dan kamu malah bilang aku terlalu serius?" Raka mendelik pada Sarah.


Sarah tertawa kecil, mendengar ucapan Raka itu.


"Itu bukan masalah besar, sayang. Aku sudah tahu jika tiba saatnya, kamu harus kembali ke Leiden untuk sementara. Kenapa aku harus membesar-besarkannya." Sarah tersenyum dengan penuh pengertian, meskipun sesungguhnya hatinya pun merasa berat, jika harus berpisah jarak dengan suaminya itu.


Tapi, dia harus bersikap tegar supaya Raka tidak merasa terbebani meninggalkannya.


Raka meraih pinggang istrinya itu dan mengalungkan tangannya melingkari pinggang istrinya itu. Di peluknya Sarah dengan meletakkan kepalanya di perut istrinya itu dengan mata terpejam.


"Sayang, aku masih ingin bersama dengan kalian berdua lebih lama." Desah Raka.


"Meninggalkanmu dengan anakku, rasanya begitu berat dan menyiksa." Keluh Raka lagi.


"Sayang, kami berdua akan baik-baik saja, menunggu papanya pulang."Sahut Sarah sambil tertawa kecil menenangkan Raka.


"Sayang, aku tidak akan kemana-mana."Sahut Sarah dengan tegas.


"Aku tidak mau mempertaruhkan bayi kita dalam perjalanan begitu jauh ke sana, dalam usia kehamilan seperti ini. Dan lagi aku takut, jika tiba saat melahirkan, kita malah tidak di perbolehkan terbang ke Indonesia karena hamil tua."


"Kamu kan bisa melahirkan di Leiden."


"Aku mau melahirkan di sini, sayang...aku mau melahirkan di dekat mama."


"Kalau soal mama, bisa kita atur untuk datang ke Leiden."


"Sayang, tidak sesederhana itu...." Sarah menatap mata suaminya itu.


"Leiden itu terlalu jauh. Aku akan lebih aman di sini. Dan lagi, aku tidak ingin merepotkanmu di sana karena mengurusku, kamu harus konsentrasi belajar bukan menemani ibu hamil yang cerewet ini."


Raka meraih tubuh Sarah, memeluk istrinya itu kuat-kuat.


"Kamu sepertinya begitu enteng menyikapi perpisahan kita, tidak kah kamu tahu, aku bahkan hampir kehilangan kewarasanku saat berfikir akan berjauhan denganmu." suara Raka setengah berbisik di telinga istrinya. Nafasnya terasa hangat berhembus di kulit leher Sarah.


"Sayang, ini cuma sebentar kan? tidak sampai 5 bulan, kamu akan balik lagi ke sini. Dan saat aku akan melahirkan, aku yakin kamu sudah berada di sini lagi." Sahut Sarah sambil menggigit bibirnya sendiri.


Sarah mengalungkan kedua tangannya di leher Raka, lalu menatap mata suaminya itu dalam-dalam dalam jarak yang hanya sejengkal.


"Aku akan menunggumu, sayangku. Di sini. Aku tak akan ke mana-mana." Lalu dengan lembut dan sedikit berjingkit dia meraih bibir Raka dan mengecupnya dengan lembut.


Raka mendekap pinggang Sarah, lalu membalas ciuman istrinya itu dengan tak kalah lembutnya. Besertanya, menyeruak perasaan haru.


"Aku mencintaimu, Raka..." Sarah berbisik di sela ciuman itu.


Raka menjauhkan bibirnya, terpana mendengar kalimat itu. Dia merinding saat mendengar namanya di sebut sedemikian lembut. Sarah jarang sekali memanggil namanya, bahkan sebelum mereka mematrikan cinta di Leiden pun, Sarah hampir tak pernah menyebut namanya.


"Aku mencintaimu sebagai Raka dan sebagai suamiku...ingat itu, di manapun kamu berada."


Sarah mengucapkannya lagi dalam penekanan yang begitu dalam, seperti sebuah peringatan, bahwa Raka tidak boleh mengingat siapapun selain dirinya.


"Aku mencintaimu, Sarah...sebagai istriku dan kekasih terakhirku." Raka menyunggingkan sebuah senyuman penuh kelegaan, lalu mendaratkan bibirnya pada bibir istrinya itu dengan penuh perasaan.


Ternyata memendam satu masalah sendiri tak akan menyelesaikan masalah. Menyampaikannya dengan terbuka jauh melegakan, karena menyikapinya dengan dua kepala lebih baik dari pada memikirkannya sendiri.


Sarah memejamkan matanya, menerima kehangatan yang di berikan oleh suaminya itu, Kedua lengannya mengunci leher Raka, sementara kakinya semakin berjinjit, berharap tingginya mensejajari sang suami demi sebuah ciuman yang terasa semakin menggoda itu.


Raka mengangkat pinggul Sarah dan mendudukkan istrinya itu di pinggir meja kerjanya, kedua tangannya memeluk tubuh Sarah dengan semakin bersemangat.


Ibu hamil ini, terasa begitu menggairahkan di matanya. Dengan gemas dilumatnya bibir Sarah yang begitu menantang untuk terus di sasar.


"Sayang, biarkan aku bernafas dulu." Sarah melepaskan bibirnya dari kekuasaan suaminya itu, sambil tertawa kecil. Raka melotot dengan wajah gemas, merasa Sarah sedikit mempermainkan dirinya.


"Aku masih mau lagi..." Keluh Raka memohon.


Sarah tertawa melihat tingkah suaminya itu lalu dalam posisi duduk di pinggir meja kerja sang suami, dia membuka kedua paha mulusnya, menarik suaminya itu lebih mendekat tanpa terhalang lututnya lagi.


"Sayang, kamu boleh melakukan apa saja sekarang...." Sarah mengedipkan matanya kepada Raka yang terpaku karena terpesona melihat istrinya itu.


(Maafkan author yang sdh bikin deg-degan☺️


Tapi di episode selanjutnya author janjikan part yang lebih menegangkan😅😅 Jangan lupa votenya ya, plus like dan komen supaya author lebih semangat lagi menuliskan perjalanan cerita cinta Sarah dan Raka tersayang ini🙏🤗🤗)



...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...Nantikan episode selanjutnya, yang lebih seru...