Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 220 PERTEMUAN TERAKHIR


"Aku sudah pamit pada mama dan papa, meskipun kita telah resmi bercerai, mereka tetaplah orangtua bagiku dan nenek kakek Bella." Diah duduk berhadapan dengan Bram.


Bram diam, menatap surat cerai yang telah mereka berdua tanda tangani di depan hakim yang kini tergeletak di atas meja.


Ya, pada hari di mana talak ketiga Diah di jatuhkan oleh Bram, pada hari yang sama sidang terakhir cerai mereka berdua di gelar.


Beberapa bulan yang lalu, Diah datang ke kantor Agama setelah talak pertama, dia membawa pengajuan dan membahas soal berkas cara perceraian dan mengakhiri hubungan pernikahan antar keduanya. Saat berkasnya sudah lengkap, memang dilaksanakan mediasi tetapi keduanya sama-sama tak menghadirinya, hanya di wakili oleh pengacara mereka.


Begitupun saat sidang jawaban, dimana Bram sebagai pihak tergugat mendapatkan kesempatan untuk melakukan pembelaan diri dari maksud dan tujuan yang telah disampaikan oleh Diah selaku penggugat. Bram tak hadir di sana, hanya Diah yang menghadirinya.


Replik dan duplik tidak terlalu rumit, Diahpun tidak mengajukan pembagian harta gono gini atau tuntutan pemenuhan nafkah karena itulah tahap yang lain cenderung lancar meski tanpa di hadiri langsung oleh kedua belah pihak, karena perceraian itu memang benar-benar di inginkan hingga hari ini, sidang keputusan di gelar.


"Hasil keputusan sidang ini...menerima dan mengabulkan gugatan penggugat seluruhnya dan menyatakan perkawinan antara penggugat dan tergugat putus karena perceraian..."


Itulah kalimat terakhir yang di dengar oleh Diah, sebelum palu perceraian itu di ketukkan oleh hakim.


Bersamanya, dua bulir bening jatuh di sudut pipi Diah, meski dia begitu meniatkan perceraiannya dengan Bram, tetap saja perpisahan adalah hal yang paling menyakitkan. Tidak ada pasangan di dunia ini yang menikah dan mengharapkan dia bercerai di kemudian hari.


Tetapi jika sudah tidak bisa memaksakan hubungan, maka tidak salah untuk memiliki kebebasan itu.


Perzinahan dalam bentuk perselingkuhan yang terjadi dalam hubungan pernikahan adalah alasan yang sulit di toleransi, urusan selingkuh mengakibatkan akhir dari kehidupan pernikahan mereka. Mahligai rumah tangga mereka runtuh dan hancur seperti pecahan kaca mata dalam waktu singkat.


Saat Diah sadar, dia tak sanggup lagi bertahan demi suami yang mengkhianatinya untuk bersama orang lain secara terus menerus, tidak ada lagi perasaannya yang tersisa.


Mempertahankan rumah tangga yang sedemikian hambar dan buruknya, Diah memutuskan menyerah.


Tapi, hati seorang perempuan tetaplah hancur saat duduk di depan hakim dan mendengar keputusan itu dijatuhkan.


Setelah sidang perceraian itu, mereka berdua duduk di kantin kecil kantor pengadilan tersebut atas permintaan Diah, sebuah permintaan terakhir sebelum mereka tak lagi tinggal satu atap lagi.


"Kamu juga boleh bertemu dengan Bella, kapan saja. Meskipun hak asuhnya jatuh kepadaku, tetapi bagaimanapun kamu adalah ayah Bella. Hanya saja..." Diah meletakkan tangannya di atas meja, saling bertaut sedemikian rupa.


"Hubungi aku lebih dulu, biar aku bisa mengatur pertemuan kalian." Terdengar miris memang, saat Diah mengucapkannya. Setelah mereka berdua resmi bercerai, seorang anak harus bertemu orangtuanya dengan berbagai aturan dan kecanggungan.


Tapi Diah dengan cara bagaimanapun, tetap ingin Bella tak merasa dia kehilangan sosok ayah kandungnya, meskipun selama inipun Bram juga jarang berada di rumah dan bertemu dengan ayahnya.


Bram diam saja, duduk menatap Diah lekat, serasa mereka berdua begitu asing dan jauh.


Perlahan-lahan Diah mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam tasnya.


"Tidak ada yang baik tentang perceraian, perceraian tidak pernah menjadi pengalaman yang menyenangkan. kita memang telah gagal menjadi sepasang suami istri, tetapi aku harap kita belajar menjadi orang yang berbeda begitu kita berpisah. Semua orang akan belajar lebih banyak dari kegagalan daripada dari kesuksesan." Diah membuka kotak kecil itu.


Bram yang dari awal hanya diam tanpa bicara itu menatap bergantian pada cincin di dalam kotak itu dan kepada wajah Diah yang terpekur di seberang meja.


Sekilas kenangan lama itu berkelebat, di hari pernikahan mereka yang sederhana, setelah ijab qobul dia menyematkan cincin itu di jari manis Diah dengan hati yang tanpa rasa dan penuh keterpaksaan sementara wajah polos Diah tampak berbinar bahagia, seperti seorang gadis yang dipersunting oleh pangeran.


Dan hari ini, saat dia menatap cincin itu, semua sungguh terbalik dan telah jauh berubah, Diah dalam wajah yang beku menyerahkan kembali sisa kenangan yang menjadi simbol pengikat pernikahan mereka.


"Kamu tidak perlu mengembalikan cincin itu. Itu adalah milikmu..." Ucap Bram dengan suara berat nyaris tercekat.


Cincin pernikahan milik Bram sendiri, dia lupa entah diletakknya di mana, atau mungkin dia telah membuangnya. Dia sungguh-sungguh lupa, karena dia selama ini menganggap barang itu tak penting seperti halnya pernikahan mereka yang tak mempunyai arti apa-apa baginya. Sallypun tidak menyukai jika dia mengenakannya saat bersama kekasihnya itu, sehingga dia melepaskannya dengan sembarangan, bahkan mungkin telah menghilangkannya.


Dan hari ini, cincin di dalam kotak itu membuat hatinya bergetar, ada rasa sakit yang menyusup, seperti seseorang yang sedang bergantung di helai rambut, ketakutan untuk benar-benar berpisah itu baru terasa kental.


"Bagaimana aku bisa menyimpannya? Ini tak lagi punya arti apa-apa lagi bagiku. Dulu kamu yang telah memberikannya padaku sebagai tanda aku adalah milikmu seutuhnya, tapi kita sudah bukan siapa-siapa lagi. Aku adalah orang yang bebas karena itu aku tak ingin menyimpannya lagi." Sahut Diah dengan suara yang bening.


"Kamu boleh membuangnya jika kamu tak menginginkankannya." Entah kenapa Bram mengucapkannya dengan parau dan berat.


"Kamu memberikannya padaku sebagai mas kawin dengan perantaraan kalimat suci, bagaimana mungkin aku membuangnya. Aku hanya ingin mengembalikannya padamu, sekaligus sebagai pengingat, tak ada apapun lagi yang mengikat kita bahkan meskipun itu hanya sekedar simbol dalam bentuk benda." Diah menutup kotak itu dan mengansurkannya ke depan Bram yang duduk mematung hampir tak berkedip itu.


"Aku akan keluar dari rumah kita hari ini, semua barang-barangku sudah ku packing dan ku kirimkan ke tempat tinggalku yang baru. Jadi, setelah pulang dari sini, kamu jangan kuatir untuk bertemu denganku lagi di rumah itu." Diah tersenyum untuk pertama kalinya, senyum itu terlihat hambar sekali.


"Kamu akan tinggal di mana? kamu...kamu boleh tetap tinggal di sana, itu...itu adalah rumahmu dan Bella." Bram mengucapkannya dengan terbata-bata, dia telah memutuskan bahwa setelah mereka resmi bercerai maka dia yang benar-benar keluar dari rumah itu.


Bagaimanapun, dia masih punya hati nurani, setidaknya Bella adalah pengikat hubungan mereka yang tak bisa di buang. Bella adalah darah dagingnya sendiri, yang jikapun dia tak bisa bertanggungjawab setidaknya dia mewariskan sesuatu untuk anaknya itu.


Mata Diah tak berkedip menatap Bram.


"Aku tak menginginkan rumah itu..."


(Akhirnya, sebuah perceraian itu tak bisa di elakkan. Meski bukan karena ingin tetapi kadang kala karena harus, karena tak berguna mempertahankan pernikahan jika saling menyakiti atau salah satu tersakiti😔 Hakikat pernikahan adalah hidup bahagia bersama dalam suka duka, tetapi jika hubungan itu seperti neraka dan tak lagi membuat hati tenang, maka pernikahan bukan lagi bentuk ibadah kepada Tuhan. TAK ADA HAL YANG BAIK DARI PERCERAIAN tetapi kadang kala PERCERAIAN ADALAH PILIHAN TERBAIK DARI YANG TERBURUK UNTUK SEBUAH HUBUNGAN🙏☺️



Tetap ikuti novel ini, ya...akak crazy UP lho hari ini😅 Berikan akak VOTE, biar tambah semangat menulis dan menghibur pembaca semu☺️🙏)


...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya....