
Tiba-tiba, air matanya jatuh tanpa bisa dibendungnya, nyeri menyerang sekujur tubuhnya, ketika melihat bagaimana selama ini kebenciannya telah merebut senyum dan kebahagiaan dua saudari ini.
Didikan dan ajarannya untuk selalu membuat Sarah di buat menderita ada kalanya ternyata tak bisa di lakukan oleh keduanya. Sarah tak pernah sekalipun kehilangan rasa cintanya pada Sally meskipun Sally telah melakukan banyak hal yang menyakiti perasaan Sarah.
Sebagai seorang ibu ternyata begitu banyak hal yang telah dilewatkannya, begitu banyak momen tak diketahuinya, dia begitu sibuk dengan rasa dendam hingga tak tahu caranya mencintai.
Mytha terisak-isak, kakinya yang goyah membuatnya terduduk di lantai, tas yang dipeluknya sedari tadi, jatuh di kakinya.
Isinya berhamburan, dari dompet, sisir, handphone dan lipstik dan dua lembar foto usang yang telah robek namun di rekatkan kembali.
Fotonya bersama Winarta, ayah Sarah!
Tangis Mytha terdengar begitu pili, betapa banyak penyesalan dan kemarahan yang di simpannya dalam bentuk dendam sepihak. Semua itu serasa lebur saat dia mendengar bagaimana Sarah tak pernah sedikitpun membenci dirinya, betapa Sarah tetap berusaha mengasihinya meskipun dia telah merenggut dan menyiksa hidup anak itu bahkan dari dia pertama kali di lahirkan.
Ego Mytha yang segunung itu seakan meleleh tak berkekuatan lagi menghadapi semua kasih sayang yang di tunjukkan Sarah. Sayangnya, dia telah kehilangan segalanya sekarang. Suami yang mencintainya, anak-anak yang telah menjauh darinya, harta kemewahan yang menguap seperti di tarik magnet dari dirinya.
Tak ada lagi yang bersisa padanya sebagai bentuk kebanggaan buah dari dendam yang dipupuknya tanpa alasan hanya karena keegoisan dan keserakahan.
Sejenak dia menangis sesenggukan di cerukan ruang kerjanya. Tak ada yang memegang pundaknya, tak ada yang mengatakan semuanya akan baik-baik saja.
Hidup Mytha telah hancur tak berbentuk.
Suara ketukan di kaca balkon kamar Sarah, di mana tempat waktu kecil Sally diam-diam datang menyelinap ke sana hanya sekedar untuk melihat langit bersama-sama dengan Sarah.
Ketukan itu dari mulut seekor burung gereja yang tak sengaja singgah di sana, sesaat kemudian terbang tak tahu kemana.
Meskipun Sally kadang kala merebut segala hal yang di inginkannya dari Sarah, tapi Sarah selalu menyayangi Sally dengan caranya.
Mytha berdiri, melihat keluar jendela, matahari yang baru turun dari atas kepala itu, bersinar terik menyilaukan mata.
Di lihatnya bayangan Sarah dan Sally sedang duduk bercanda di pinggir jendela. Fatamorgana membiaskannya seolah nyata, saat mata Mytha yang berkabut oleh air mata menantang cahaya.
Mytha mendekat,
"Sarah...Sally turunlah dari sana..." Panggil Mytha.
Tapi kedua gadis kecil itu tetap saja di sana, tertawa seolah sedang bercerita sesuatu yang sangat lucu.
"Sarah, aku akan menghukummu jika Sally sampai kenapa-kenapa...!" Ancaman yang biasa di ucapkannya pada saat mereka kecil itu seolah diulangnya kembali, sekedar untuk membuat Sarah ketakutan padanya.
Mytha mendekat kedepan, terhuyung-huyung ke sana berusaha menarik Sally, tapi kemudian tangannya menyentuh kaca jendela.
Mytha segera tersadar, apa yang dilihatnya itu hanya bayangan, jarena dia baru saja melihat foto itu.
"Ugh!" Mytha memegang dahinya yang terasa pusing, kamar yang luas itu mendadak terasa pengap, nafasnya tiba-tiba terasa sesak.
Dengan tergesa di bukanya gerendel jendela kaca itu dan mendorongnya, sesaat kemudian sinar terik mengenai wajahnya, begitu silau, udara merangsek masuk membuat nafasnya kembali lega.
Langit begitu cerah, mata Mytha terpicing menatap ke atas, entah mengapa dia merasa begitu hidup melihat ke arah langit.
Wajah Wijaya, dengan kacamata dan senyumnya yang malu-malu di masa muda tiba-tiba terlukis di antara hamparan awan yang abstrak.
"Jangan pernah pisahkan Sarah dari suaminya! Sarah berhak bahagia!" Kalimat itu berdengung memenuhi telinganya.
"Mama...mama...aku ingin Raka...mama aku ingin Raka...!" Wajah Sally tumpang tindih di sana, membuat Mytha benar-benar depresi dengan ilusi yang bermain di dalam pandangannya.
Kemudian, dia teringat dengan semua kekalahannya di meja judi, kehilangan saham akibat perbuatannya sendiri. Kalimat-kalimat Sarah yang terasa seperti ingin membuatnya terpenjara dalam rumahnya sendiri, membuatnya semakin gelisah dan berusaha berontak.
Mytha kemudian menyadari dia telah kalah total, dia mempertaruhkan semua kebahagiaan dalam hidupnya demi memuaskan dendam, nafsu dan keserakahannya. Tak ada yang benar-benar bisa di milikinya, Winarta pergi bahkan lebih baik mati dari pada menuruti kehendaknya, Wijaya meninggalkannya, Sally menjauh darinya dengan memilih tinggal bersama laki-laki yang tak berguna itu, Sarahpun sekarang malah menjadikannya hidup bergantung kepada Sarah setelah menanggung malu di depan semua orang.
Dan sekarang dia tak punya apa-apa, kecuali hidup dalam belas kasihan seorang anak yang dipeliharanya untuk di siksanya itu.
Dalam kesedihannya dia tetap berusaha melawan kenyataan, dia tak ingin hidup untuk menerima penghinaan.
Dengan tekad yang kuat dan jiwa yang terluka, dia naik ke jendela kamar yang terbuka lebar itu. Di luar jendela itu ada selasar kecil yang sempit dengan pagar setinggi pinggang.
Tangan Mytha menapak pinggirannya, matanya perlahan menatap ke bawah, halaman belakang mereka terlihat jauh dari lantai tiga itu.
Rumah mereka itu memang di buat tinggi, khas rumah mewah.
Mytha menghapus air matanya, dia sudah tak punya apa-apa lagi, dia bahkan tak punya alasan untuk tidak datang di party judi yang digelar malam ini. Jika dirinya jatuh miskin, siapa yang akan mau berteman dengannya?
Tubuh tuanya gemetaran, tapi dia hatinya yang keras itu melawan kekuatannya sendiri.
Dengan berpegangan di sudut balkon dia tekah berdiri di atas pagar besi itu. Matanya dipejamkannya.
Wajah-wajah semua orang berkelebat di kepalanya,
"Aku tak akan tinggal untuk kalah, aku tak akan hidup untuk menerima penghinaan. Aku adalah Mytha Amora, anak satu-satunya yang di cintai semua orang. Aku tidak pernah tidak mendapatkan apa yang ku inginkan dalam hidupku, kecuali seorang laki-laki sombong bernama Winarta." Bibirnya bergetar, mengucapkan kalimat itu.
"Selamat tinggal anakku Sally, aku tak bisa lagi mewujudkan keinginanmu, karena itu lebih baik aku mati. Aku sudah tak memiliki apa-apa lagi, karena itulah aku memilih tidak hidup daripada dipermalukan. Aku...aku tidak menyesali semua yang kulakukan...aku tidak menyesalinya...!" Airmatanya turun dengan deras, jauh di lubuk hatinya dia sesungguhnya menyesali semua perbuatannya tetapi jiwa angkuhnya tak pernah ingin mengakuinya.
"Mama pergi..." Matanya di pejamnya kuat-kuat, tak ada lagi rasa takut di dalam dirinya, ketika tangannya mekepas perlahan pegangan tangannya...tubuhnya merasakan sesaat menghantam angin, seperti sedang terjun bebas, sebelum kemudian sesuatu menghantam kepalanya, terasa sakit seoerti terantuk sesuatu dan tubuhnya menghantam ubin yang keras dan dingin. Suara derak yang aneh sempat di dengarnya, dari tubuhnya sendiri...sebelum kemudian langit yang berbintang menjadi gelap...pekat...dan suara-suara samar itu menghilang. Dingin...gelap...hampa!
(Akhir hidup dari seorang Mytha memang tragis, tetapi dialah yang telah mencoret garisan hidupnya sendiri dengan pilihan menjadi orang yang tak pernah menyesal sampai akhir hidupnya. Keserakahan, nafsu, dendam dan hati yang jahat membuat seseorang kadang kala menjadi keras dari batu. Setiap orang nempunyai pilihan cara hidup dan menjadi seorang Mytha adalah hal yang jangan pernah kita lakukan. Karena kematian dalam keadaan tanpa pernah mengucapkan sedikitpun kata tobat dan ingatan kepada Tuhan, tak akan membawa kita pada kedamaian di alam manapun.
Mencintai diri sendiri dengan berlebihan, membuat kita kehilangan kesempatan untuk merasakan di cintai oleh orang lain.
Agama mengajarkan kita tentang kasih sayang, Tuhan membuat kita tahu arah kebaikan dan keselamatan. Tetapi kesadaran diberikan Tuhan untuk kita bisa menentukan pilihan hidup)
HAPPY NEW YEAR SEMUANYA READER....🎉🎉🎉
SELAMAT MENYAMBUT TAHUN BARU 2022, SELAMAT TINGGAL TAHUN 2021 PENUH KENANGAN PAHIT MANIS, SUKA DUKA❤️❤️❤️
SEMOGA DI TAHUN YANG BARU KITA SEMUA BAHAGIA❤️❤️🤗🤗
Nantikan beberapa part berikutnya sebelum ending ya😊😊😊
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya....