
"Aku tak ingin berbicara tentang langit biru, tentang janji yang mungkin tak bisa kutepati. Aku bukan perayu ulung yang bisa membuat hatimu berbunga-bunga. Aku sungguh tak bisa melakukannya." Doddy berucap, di bawah lampu yang bersinar di dinding-dinding sudut tempat meja mereka itu, mata Doddy berkilat begitu hangat.
"Aku hanya ingin bertanya padamu, Diah...Will You marry me?"
Diah benar-benar seperti orang kesetrum, matanya melotot, mulutnya tanpa sadar terbuka, dia sekarang seperti manusia yang di sihir menjadi batu.
Doddy setelah memberi pertanyaan yang luar biasa itu tak kalah tegangnya, dia duduk tak bergeming seolah seseorang yang sedang bersembunyi, takut memberi gerakan apapun yang mungkin membuat perempuan yanng berada di depannya ini tiba-tiba lari atau kabur dari hadapannya.
"Haaa..." Diah benar-benar seperti orang bego, tak tahu harus menjawab apa, hanya kedipan matanya yang menandakan dirinya dalam keadaan sadar sepenuhnya.
Doddy dengan wajah yang hampir tanpa ekspresi karena gugup dan tegang yang melanda dirinya, menggigit bibir tipisnya sesaat, lalu mulai berbicara lagi, dengan canggung dan terkesan tak sabar,
"Aku sudah menunggu saat ini untuk waktu yang lama, perlu banyak keberanian untuk mengatakan ini, aku butuh banyak waktu yang tak bisa ku katakan. Aku juga berusaha mempertimbangkan segala hal yang mungkin terjadi, karena antara aku dan kamu bukan lagi anak kecil kemarin sore. Tak kurang aku bermunajat pada Tuhan untuk menentukan pilihan yang paling tepat. Dan berkali-kali ku tanya pada hatiku sendiri. Sudah benarkah orang yang kucintai, sudah tepatkah pilihanku ini? Dan berkali-kali pula jawabannya tetap sama, itu semua adalah kamu." Doddy menarik nafasnya panjang, dan sebelum Diah mengerjapkan kelopak matanya,
"I will only ask once more, Will you marry me?"
Diah yang masih terpana itu, perlahan menganggukkan kepalanya dengan wajah merah merona. Mata Doddy berbinar seperti orang yang sedang takjup melihat gerakan kepala Diah, meski di detik berikutnya segera menunduk dengan pias malu luar biasa.
Doddy meraih dagu Diah dengan gemetar, pertama kali dalam hidupnya menyentuh Diah, perempuan yang sangat di sukainya sejak dulu itu. Dengan perlahan di angkatnya, supaya mata mereka berdua sejajar saling bertemu pandang.
"Please, give me one answer...a simple answer, yes or no?" Suara parau Doddy setengah berbisik, mulai putus asa dengan respon Diah.
"Yes I will...but..." Diah akhirnya menjawab dengan gugup, tak pernah dia merasakan sensasi perasaan se aneh ini, rasa malu, senang, bahagia, takut yang bercampur aduk menjadi satu. Bahkan Bram yang menikahinya pun tak pernah menyatakan perasaan padanya apalagi melamarnya dengan cara seperti ini.
"But?" Doddy meraih jemari Diah, telapak tangannya tak kalah dinginnya dari jemari perempuan yang di pegangnya itu. Diah menatap tangan mereka yang bertaut itu dan entah mengapa dia merasa dalam kegugupannya, rasa nyaman menjalar lewat nadinya, mengalir dalam darahnya.
"Is this not wrong?" Pertanyaan itu mengambang seperti apu-apu di atas kolam
"Salah? apanya yang salah? kenapa salah?" Doddy meremas jemari Diah tanpa sadar.
"Ini mungkin terlalu cepat..."
"Aku sudah menunggu saat ini dari sepuluh tahun yang lalu, bagaimana bisa kamu mengatakannya terlalu cepat."
"Tapi...aku bukan Diah sepuluh tahun yang lalu. Aku...adalah Diah tapi mungkin tak pantas untukmu lagi. Jangan mencintaiku, jika kamu berharap aku adalah Diah yang kau lihat dalam baju SMA dulu." Diah mengucapkannya sambil menundukkan kepalanya, suaranya seperti tercekat.
Diah tahu, dia mempunyai perasaan yang sama dengan Doddy, ketika malam tiba, kerap kepalanya dipenuhi oleh bayangan laki-laki ini. Dan ketika dia menyadari dia merindukan Doddy, segera dia memejamkan matanya kuat-kuat, membunuh perasaan itu.
Sebagai seorang janda, dia tahu diri dengan benar, tidak sembarang orang bisa menerima status itu dengan besar hati, apalagi sekelas Doddy, bujang dengan sejuta pesona dan kesuksesannya.
"Aku tak akan menyatakan perasaanku ini, jika aku perduli kamu adalah Diah yang mana. Yang aku pahami hanya satu hal, jika aku tak memilikimu di sisa hidupku selanjutnya, aku akan menyesalinya seumur hidupku." Tatapan itu begitu meyakinkan, membuat Diah merinding sendiri melihatnya.
"Aku hanya takut...kamu menyesalinya." Diah berkata dalam suara bergetar.
"Aku tak punya alasan untuk menyesal." Sahut Doddy sambil menggelengkan kepalanya seakan memberikan keyakinan pada Diah, bahwa dia tidak main-main dengan pernyataannya.
"Pernikahan bukan hanya tentang kita berdua, tetapi pernikahan melibatkan banyak orang lain termasuk keluarga kita. Kamu mempunyai keluarga dan apakah kamu yakin mereka menerimaku seperti dirimu? Pernikahan tanpa restu orang tua tak akan pernah mudah." Diah memberanikan dirinya menantang mata Doddy yang terlihat begitu hangat menatapnya.
"Baiklah, aku mengerti." Doddy melepaskan jemari Diah perlahan.
"Aku akan memberi kita waktu untuk mengejar restu itu. Selama tenggang itu, aku memintamu menjaga hatimu untukku saja. Aku tidak ingin memilikimu sebagai kekasih yang begitu possesif." Doddy menarik tubuhnya dengan senyum yang terkembang puas.
"Aku akan memperjuangkan restu itu untuk kita dan jika aku telah mendapatkannya, tak ada alasan bagimu untuk mengatakan tidak. Karena aku hanya akan memegang satu kalimat darimu, bahwa kamu telah bersedia menikah denganku."
Doddy menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, bersamaan dengan menu utama makan malam mereka di sajikan.
Langit cerah bertabur kerlipan bintang, lampu-lampu dari seantero kota di bawah mereka menjadi lautan pemandangan yang mempesona seakan menjadi saksi sepasang insan yang sedang merasakan perasaan membuncah yang tak bisa di jabarkan.
"Aku akan berusaha menjagamu hingga halal bagiku menyentuhmu." Ucap Doddy saat pelayan itu meninggalkan mereka berdua.
(Setiap orang punya cerita dalam hidupnya, bahkan jodoh dan maut adalah Tuhan yang mengaturnya. Maafkan jika sebagian pembaca tidak menyukai tentang kisah cinta Doddy yang telah jatuh cinta pada Diah, karena kini adalah seorang janda, ada beberapa komen keberatan soalnya😅
Tak ada yang salah sebenarnya tentang status itu, setiap orang berhak di cintai oleh siapapun. Tentu saja tak ada seorangpun yang ingin gagal dalam pernikahannya.
Tak ada hukumnya, ketika seorang lajang menikah dengan orang yang pernah berumah tangga adalah haram, karena Tuhan menciptakan Cinta untuk semua orang untuk jalan kepada ibadah.
Hanya mungkin penerimaan untuk status itu terasa sulit untuk sebagian orang. Tapi, orang yang punya kebesaran hati untuk bisa menerima kekurangan seseorang dengan ikhlas, tentulah adalah pemilik cinta yang sempurna🥰
Jika di dunia nyata mungkin terasa sulit tapi di dunia halu tidak ada yang mustahil🤣🤣)
JANGAN LUPA VOTE YAAAAAA, MUMPUNG SENIN🙏😅 I LOVE YOU AL MY READERS🥰🥰🥰
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...