
Ketika mereka keluar dari lift, tiba-tiba mereka berpapasan dengan seorang perempuan berambut panjang menggunakan dress longgar menggandeng seorang anak perempuan yang akan masuk ke dalam lift.
Sejenak dia menatap kepada Raka dengan ragu, lalu dengan bibir gemetar dia memanggil,
"Pak Raka..."
Raka yang sibuk menggendong Rae, menoleh pada perempuan itu, dengan alis bertaut. Sejenak mereka saling bertemu pandang, dan dahi Raka semakin mengerut.
"Apakah kita saling mengenal?" tanya Raka dengan pias bingung.
"Ma...maaf, saya mengenal anda tapi anda mungkin tidak menegenal saya." Perempuan itu menunduk dengan takut-takut.
"Anda mengenal saya di mana?"
"Di foto dan tabloid saja, pak..." Jawab perempuan ini dengan salah tingkah, menyesal telah sembarangan memanggil nama orang dengan sembarangan, hanya karena dia begitu reflek atas pertemuan yang tidak disengaja itu.
"Oooh..." Raka tersenyum ramah, kemudian tersenyum dan mengalihkan pandangan pada Sarah yang mematung menatap ke arah perempuan yang menyapanya itu.
"Ayo, sayang..." Raka menyenggol lengan isterinya itu, tapi yang disenggol sama sekali tidak bergeming.
"Sayang..."
"Tunggu dulu!" Sarah menghentikan gerakan perempuan itu yang bersiap untuk pergi setelah membungkukkan badannya sedikit, memberi isyarat akan pergi.
Wajah perempuan itu terangkat dengan wajah merah, menunjukkan rasa sesal karena mungkin membuat istri dari pak Raka ini marah atas sikapnya yang tidak sopan.
"Maaf..."Bibirnya yang dipoles lipstik nude hampir pucat itu, bergetar.
Sarah sama sekali tidak menunjukkan dia tertarik kepada perempuan yang memanggil nama suaminya dengan begitu lirih tapi dia lebih terpana pada anak perempuan yang digandengnya itu, dia merasa pernah mengenalnya.
"Aku mengenalmu..." Akhirnya wajah Sarah yang sempat di landa kebingungan itu tampak senang, akhirnya dia bisa mengumpulkan remah-remah ingatannya.
Sarah membungkuk dan menyentuh bahu gadis kecil dengan rabut di kepang itu.
"Kamu Bella, kan?" Tanyanya setengah menebak.
Anak itu menatap bingung pada Sarah, menunjukkan bahwa dia tidak mengerti. Matanya yang bulat cantik itu menatap balas menatap Sarah beberapa saat. Lalu dengan geakan cepat dia beringsut ke belakang ibunya, seperti segera menyadari sesuatu.
Wajah gadis berumur enam tahun itu tampak ketakutan,
"Tante...jangan marahin Bella..." Ucapnya dengan takut.
Ibu dari anak itu seketika menjadi terkejut.
"Tante jangan...jangan marahin papa..." bibir mungilnya itu mengatup, ketika rekaman memorry kecilnya mengingat wajah Sarah yang melotot dan berteriak-teriak pada papanya.
"Maaf, kalau tidak salah, kamu istri Bram?" tanya Sarah kemudian dengan alisnya yang meninggi.
"Ya...saya Diah, istri dari Bram." Jawaban itu seketika membuat Raka seperti tersedak, benar-benar suatu kejutan saat bertemu dengan istri dari laki-laki yang telah membawa kabur mantan tunangannya di hari menjelang pernikahan mereka, bertahun yang lalu.
"Kenalkan, aku Sarah, istri dari Raka..."Sarah mengangkat tangannya dan memberi isyarat untuk bersalaman, senyum Sarah begitu ramah membuat Diah seperti tersihir.
Dua perempuan itu berjabat tangan, mereka berkenalan secara resmi setelah sekian lama hanya sebatas mengenal nama saja.
"Aku pernah bertemu dengan Bram di bandara sekitar dua tahun yang lalu, saat itu dia membawa Bella, katanya sedang ingin menyusul istri dan anaknya yang sedang berda di Singapura." Sarah menjelaskan supaya kebingungan Diah bagaimana dia mengenal Bella segela terjawab.
"Ooooh, maaf, mungkin dia lupa...ayo, Bella minta maaf pada tante, kamu tidak boleh begitu..." Diah menggoyang tangan anaknya yang semakin menyembunyikan diri di belakang punggung ibunya.
"Aku yang seharusnya minta maaf, karena pernah membuatnya takut padaku..." Ucap Sarah dengan raut menyesal.
"Sayang, kita sebaiknya segera pergi." Raka berkata dengan suara rendah.
"Sayang, bisa bawa Rae ke mobil lebih dulu? nanti aku akan menyusul. Aku mau berbicara sebentar dengan Diah..."
Raka menatap istrinya itu dengan tatapan keheranan, menunjukkan bahwa dia tidak suka Sarah terlibat urusa dengan siapapun yang berhubungan dengan Sally ataupun Bram, orang-orang yang telah hampir membuatnya kehilangan muka dan dipermalukan.
"Sayang..."
"Please, sepuluh menit saja." Ucap Sarah dengan penuh permohonan.
"Baiklah..." Sahut Raka kemudian.
"Jangan lama-lama, kasihan Rae." Lanjutnya lugas, sebelum kemudian berlalu.
Di lorong depan Lift itu sekarang hanya berdiri Sarah, Diah dan Bella.
Wajah Diah yang tampak muram itu berusaha mengembangkan senyumnya, meski dengan sala tingkah.
"Maaf, jika saya membuat anda marah, telah memanggil nama suami anda dengan tidak sopan, saya tidak sengaja karena...karena...saya pernah melihat fotonya dulu...eh...maksud saya...saya benar-benar minta maaf, bukan maksud saya..."
"Aku yang seharusnya minta maaf kepadamu, sebagai seorang kakak yang tak bisa mendidik adik saya sehingga menjadi monster dalam pernikahanmu. Biar bagaimanapun, aku adalah kakaknya." Suara bening dan lembut milik Sarah menyela kalimat terbata-bata yang keluar dari bibir Diah.
Diah mengangkat wajahnya dengan tercengang pada Sarah, dia mendadak kehilangan kata-katanya.
Perempuan di depannya itu adalah kakak Sally, perempuan yang telah menghancurkan rumah tangganya seperti ****** beliung, bahkan setelah anak pertamanya meninggal, Bram sama sekali tidak lagi perduli dengan dirinya dan anaknya. Kini yang dia tahu Sally dalam tiga bulan ini telah tinggal serumah dengan Bram tanpa ikatan pernikahan di sebuah apartemen milik keluarga Wijaya!
(Terimakasih untuk tebakannya🙏😊 kalian semua pembaca kesayangan...umuach🤗 Hari ini akak double UP ya...🥰)
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya......