
Raka menjejakkan kakinya ke dalam kubangan air dalam bak itu, airnya terasa hangat menyentuh kulit kakinya.
Sarah tampak tersenyum menyambut suaminya yang terlihat bersemangat.
"Air hangat bisa mengurangi stres dan mengembalikan kesegaran." Ucap Sarah, bibirnya tetap merekah, senang akhirnya orang yang ditunggunya sedari tadi datang juga.
"Sayang...kenapa baru di sini kamu punya ide mandi berdua dalam bathtup begini? Di rumah juga bisa kan?" Raka duduk dan memberikan punggungnya dengan manja pada Sarah yang sudah bersiap dengan sebuah spon di tangan, dia benar-benar berniat memandikan sang suaminya ini, seperti memandikan bayinya Rae.
"Di rumah, baru kamu masuk ke bathtup, undur-undurmu itu sudah ngamuk-ngamuk cari mommy dan daddynya." Sarah terkekeh sambil menyiram punggung Raka dengan air sembari menggosoknya lembut.
Tangan Raka tak bisa diam di bawah air, mencari-cari dan mengelus-ngelus dengan gemas kaki Sarah, naik ke atas, singgah di setiap lekuk membuat Sarah menggeliat-geliat geli.
"Sayang..." Raka memanggil istrinya itu dengan mata terpejam, setengah bersandar pada tubuh sang istri.
"Hmm..."
"Kamu tahu tidak?"
"Apa?"
"Aku selalu merasa jatuh cinta padamu setiap hari." Raka berucap dengan suara yang serius.
"Akh, gombalnya keluar, pasti ada maunya?" Sarah meringis tersipu sambil menggosok leher, turun ke bahu hingga dada sang suami dari belakang.
"Swear. Aku mengatakan ini dengan sungguh-sungguh. Rasanya aku selalu takjub saat aku mengenalmu semakin lama. Banyak hal yang tak kutahu tentang dirimu dan ketika aku tahu, aku selalu merasa begitu beruntung bisa memilikimu dalam hidupku." Raka memeluk tangan Sarah dan menariknya hingga badan Sarah menempel pada punggungnya, posisi itu seolah-olah Sarah yang mendekapnya dengan erat.
"Sayang...jangan membuatku merasa geer. Nanti kalau aku terbang, bagaimana?" Sarah menyahut dengan suara yang malu-malu masih tersipu.
"Aku tak akan membiarkanmu terbang sendiri." Raka tiba-tiba berbalik, menghadap pada Istrinya itu dengan pandangan nanar, mengamati dengan lekat sesaat seolah-olah dia baru pertama kali melihat wajah Sarah.
"Jika waktu dikembalikan ke awal, dan Tuhan memberikan aku kesempatan untuk mengulang, aku berharap kembali berdiri di depan altar, mengucapkan sumpah pernikahan kita dengan benar dan sungguh-sungguh. Aku selalu ingin menikahimu berkali-kali dengan cara benar dan benar-benar dalam suasana bahagia." Raka memegang dagu Sarah yang terpaku menatap matanya, sedikit bingung dengan kalimat-kalimat suaminya itu.
"Ada apa denganmu, sayang? kenpa kamu membicarakan hal ini lagi?" Sarah menyelidik mata Raka, berusaha menemukan akar pangkal kenapa tiba-tiba suaminya itu bersikap begitu melankolik.
"Aku hanya ingin mengatakan padamu, aku mencintaimu," Raka menelan ludahnya, membahasahi keringkongannya yang mendadak kering.
"Aku mengambilmu sebagai istriku, Sarahku. Aku berjanji akan menjagamu selama-lamanya aku berada di dunia, dalam susah dan senangku, dalam kelimpahan dan kekuranganku. Aku akan tetap setia di sampingmu dalam waktu sehat dan sakit, Aku sungguh akan berjanji mengasihi dan mencintaimu, sampai maut memisahkan kita." Kslimat brrikut di ucapkannya dengan lancar seperti seorang pengantin laki-laki yang sedang berjanji di hadapan altar pernikahan.
Sarah melotot ada Raka yang berusaha mengulang ucapan sumpah pernikahan mereka, seakan dia sangat ingin membuktikan bahwa dia benar-benar menncintai istrinya itu tanpa ada keraguan lagi.
"Sayang...apa kamu sedang demam?" Sarah meletakkan punggung tangannya di dahi Raka sambil tertawa kecil, Sarah tak bisa menepis salah tingkah yang menghinggapinya diperlakukan sedemikian rupa.
"Eh, memangnya kenapa?" Raka balas melotot pada sang istri, protes denga pertanyaan yang menyebutnya sedang tidak sehat itu.
"Tapi, aku sungguh-sungguh." Raka merengut melihat Sarah yang menertawakannya.
"Sekarang, aku mau kamu yang mengucapkannya padaku..."Pinta Raka dengan manja tapi benar-benar mengharap Sarah mau melakukannya.
"Aku tidak mau." Jawab Sarah cepat, dua orang yang merapat di dalam bak mandi, duduk dengan air yang merendam sebatas dada itu sejenak saling berpandangan. Mata Raka berkilat menatap istrinya itu, sedikit terkejut dengan jawabannya yang terdengar tegas menolak itu.
"Aku tidak mau, mengulang mengucapkan sumpah setiaku padamu karena aku hanya ingin mengucapkan satu kali saja untuk seumur hidupku, pada orang yang telah menjadi suamiku." Sarah tersenyum, mengatasi kekecewaan yang sempat berkelebat di raut wajah suaminya.
"Aku tak perlu mengatakannya lagi, karena kamu lebih tahu, aku tak bisa jauh darimu lagi." Sarah memeluk tubuh polos dan basah suaminya itu, senyumnya merekah laksana bunga bakung yang mekar di dalam kolam.
Sarah tak perlu mengucapkan apa-apa lagi, Raka sudah menarik tubuh basah istrinya itu merapat padanya, mendudukkannya di atas pahanya. Sebuah ciuman penuh gairah menghentikan mulut Sarah yang terbuka ingin melanjutkan kalimat yang lain, untuk memberikan argumen lain sebagai alasan kenapa dia begitu mencintai suaminya itu.
"Aku tahu itu..." Bisik Raka parau, tangannya menempel erat di pinggang dan leher Sarah, menariknya lebih rapat kepada tubuhnya sendiri, hingga kulit mereka yang menyatu bergesekan dengan lembut.
"Aku ingin kita terus begini sampai menua bersama, aku ingin kamu melahirkan anakku yang banyak, kita akan di kelilingi banyak undur-undur yang cantik dan tampan. Aku hanya ingin menghabiskan semua waktuku denganmu."
Raka menutup pidato cintanya itu dengan menciumi sekujur wajah Sarah.
Mereka berpagut di dalam air yang hangat itu, sehangat hati dan perasaan sepasang suami istri yang di mabuk gairah itu.
Setiap gerakan mereka begitu provokatif saling membalas, seolah tak ada yang ingin mengalah, membuat gelombang air yang tak bisa diam di dalam bak mandi itu. Dari kaki dan tangan mereka saling membelit, air berkecipak halus, membuat air itu muncrat keluar sebagian.
"Bagaimana aku memandikanmu jika begini?" Tanya Sarah manja dengan suara parau jarena gairah yang juga sedang melanda otaknya.
"Sttt...jangan ribut." Raka menempelkan telunjuknya di bibir Sarah yang ranum tanpa lipstik itu.
"Ini pengalaman pertamaku bercinta di dalam bathtup, jadi biarkan aku menikmatinya." Raka melancarkan cumbuan yang lebih liar, di bawah air tubuh mereka nenyatu dengan sempurna.
Cinta memang perlu di nyatakan dan di ekspresikan, tidak ada yang salah selama itu di lakukan oleh sepasang insan yang telah di halalkan dalam pernikahan.
Memang tak semua orang bisa bersikap romantis, tetapi kadang kala cinta perlu di ucapkan sekali-kali untuk membahagiakan pasangan kita.
(Yang manis dan panas sudah dulu yaš¤ Akak dah double UP hari ini khusus part Sarah dan Raka, di part selanjutnya kita akan bertemu Sally, jadi please mari tahan esmosiš¤£)
...Terimakasih sudah membaca novel iniā¤ļø......
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikanš...