Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 44 DI BAWAH LANGIT LEIDEN


MALAM PERTAMA DI BAWAH LANGIT LEIDEN


(Area dewasa mohon pembaca bijak sebelum membaca, yang belum cukup umur please skip ya)


Raka membawa tubuh ramping Sarah seperti membawa setumpuk kain, tanpa beban sama sekali. Menaiki satu demi satu anak tangga menuju kamar apartemennya yang bernuansa kayu dan sederhana itu.


Hanya dengan sedikit dorongan memggunakan jemari kakinya, pintu kamar itu segera terbuka lebar.


Wajah Sarah yang merona antara gugup, malu dan bergairah itu, menatap nanar pada wajah yang sedari tadi tertuju lurus ke depan.


Lalu perlahan dibaringkannya tubuh Sarah di atas tempat tidur berseprai katun warna coklat muda pucat yang sewarna dengan dinding-dindingnya.


Sarah tak sempat membenarkan letak kepalanya pada bantal karena dengan rakus Raka menciumi leher sampai bawah telinga Sarah. Berkali-kali menjelajah pipi dan bibirnya, sementara tangannya sibuk menyusup ke sana kemari.


Sarah menggelinjang karena geli, tapi tak sempat bersuara, bibirnya yang merah muda itu sudah menjadi bahan permainan Raka. Kadang di tekannya dengan lembut, kadangkala lidahnya yang panas menyasar seperti dayung mencari celah.


Sarah tak pernah menerima cumb*an sedemikian panasnya sampai sekujur tubuhnya menegang menggeliat tak jelas.


"Sayang...bolehkah sekarang aku memanggilmu begitu?" Raka berbisik dengan suara serak. Menikmati pemandangan di mana sarah hanya mampu memejamkan matanya.


Sarah tak menyahut hanya kelopak matanya sedikit terbuka, seperti seseorang yang sudah tak berdaya.


"Sayang, kamu mendengarku?" tanya Raka dengan nakal, dia menahan gerakannya, kedua tangannya bertumpu pada permukaan tempat tidur seperti bayi yang sedang belajar merangkak di atas tubuh Sarah.


"Terserah kau saja."Sarah menjawab sambil merayapkan jemarinya di atas kain tshirt yang membalut dada bidang Raka. betapa penasarannya dengan apa yang berada di balik kain itu tetapi dia begitu malu untuk mengatakannya.


Raka tersenyum kecil melihat tingkah gadis yang sedang di bakar gairah itu, betapa lugunya dia, hanya di tuntun oleh nalurinya. Lalu dengan gaya acuhnya, dia menarik kaos itu ke atas, sehingga tampaklah dada bidang yang sangat menawan itu dengan perut rata yang kencang meski tidak kotak-kotak serupa roti sobek tapi berlekuk sedikit dan sangat menawan.


Yang tersisa di tubuh Raka hanyalah celana Jeansnya yang terkunci oleh belt kulit Coklat.


Sarah melongo, tangannya tak bisa menolak untuk tidak menyeret jemari lentikya dipermukaannya.


Tangan Raka membalas tak kalah, menyusup diantara leher baju Sarah yang cukup tinggi.


"Sekarang, bolehkah ini ku singkirkan? ini terasa menganggu sekali." Raka berucap dengan suara seperti memohon.


Sarah tertawa geli melihat tingkah Raka, lalu dengan kesadaran penuh dia menaikkan tubuhnya bertahan dengan kedua lengannya, memberi kesempatan Raka untuk menarik dress tidur panjang tanpa kancing itu.


Dengan malu-malu Sarah mengangkat kedua lengannya ke atas saat dress itu di tarik Sarah melewati kepalanya, sehingga tubuh mulusnya hanya tertinggal di balut bra warna hitam dan sebuah penutup bagian bawah dengan warna senada.


Sedikit rikuh Sarah memeluk badannya sendiri, menarik selimut di atas kepalanya yang masih terlipat rapih.


Raka dengan sedikit kasar melempar kain itu ke lantai, kemudian Yang Mulia menyeret dengan lembut telunjuknya dari bibir gadis yang setengah terbuka dan berkilat basah itu.


"Kita tidak perlu itu." Kata Raka dengan wajah keberatan. Sarah bergelung dengan malu merasakan tubuhnya yang hampir tak di lapisi apapun.


"Aku punya sesuatu untukmu..." Raka mengambil sesuatu dari sebelah bantal Sarah, sebuah remote control.


Lalu dengan sekali pencet, entah bagaimana atap yang ada di atas mereka berderak dan bergeser perlahan, menampakkan kaca di baliknya, sehingga pemandangan bintang di langit terhampar cerah di atas.


Sarah terpana, dia tak menyangka pada rumah sesederhana itu, ada hal secanggih ini. Dibalik Plafon sewarna dinding itu ternyata ada sebuah atap kaca.


Sarah menutup tubuhnya dengan kedua tangannya dengan canggung, karena merasa seperti sedang berada di alam bebas.


Melihat Sarah yang tampak malu, Raka mematikan lampu kamar dan menghidupkan dua lampu tidur yang berada di kiri kanan tempat tidur.


Sarah merutuk dalam hati, kepalanya sudah pusing luar biasa dengan sentuhan-sentuhan Raka tapi dengan santainya dia berjalan ke sana ke mari, membuat Sarah merasa malu dengan penampilannya sendiri.


"Setiap malam aku melukiskan wajahmu di atas langit sana, merindumu dengan sangat. Aku tak pernah bermimpi di bawah langit yang sama, aku menghabiskan malam pertama denganmu." Raka sekarang duduk berlutut dengan mengangkangi badan ramping di atas tempat tidur itu.


"Malam pertama?"Bibir Sarah gemetar sendiri, meskipun dia sangat mendambakan sentuhan suaminya itu tapi mendengar dua kata itu cukup membuatnya merinding.


Mata Sarah membeliak, suara belt yang di tarik dari pinggang dengan tergesa itu, membuatnya melengkung kaku.


Telapak tangan Raka menempel pada kulit punggung mulus gadis itu. Menariknya untuk bangun dan bersimpuh di hadapannya.


Sarah menahan nafasnya yang terasa putus-putus.


Kamar kecil dengan atap rendah itu seketika sekarang menjadi pengap dan panas, keringat membuat kulit mulusnya terasa sedikit lengket.


Tubuhnya panas dingin, sementara jemari Raka bergerak menyisir tiap lekuk tubuhnya, merengkuhnya dengan lembut.


Rambutnya sebagian jatuh di dahinya yang berkilat, menutup sebagian pandangannya, sementara kedua tangannya tak ada waktu untuk merapikannya karena memeluk erat bergantung pada leher laki-laki yang kini berada tepat di atasnya


Nafas Raka terasa hangat menghembus kulit wajahnya, dengan lembut Sarah mengumpulkan keberanian membalas ciuman panas Raka, bibirnya di sasar oleh bibir Raka seketika badannya menegang.


Sarah menarik tubuh diatasnya itu kuat-kuat, memeluk Raka erat-erat seolah ingin menyatukannya dengan kulitnya sendiri.


Nafas Raka tersengal, wajah Sarah terasa seperti terbakar. Jantung mereka berpacu dalam degup yang semakin kuat tak terkendali


"Aku harus memanggilmu bagaimana?" Sarah berusaha berbicara dengan nafas tersengal.


"Panggil aku Sayang..."Bujuk Raka dengan senyum senang, sungguh dia sangat ingin gadis itu memanggilnya dengan kata itu.


"Sayang..."Sarah mengucap pasrah,


"Aku mencintaimu." lanjutnya dengan bibir yang kemudian langsung di hujani ciuman liar.


Panggilan itu begitu indah di telinga Raka, dia benar-benar sangat menginginkan gadis yang telah sekian lama menjadi istri sah tapi sandiwara itu, memanggilnya semesra itu.


"Aku juga mencintaimu, sayang..." Bisik Raka lirih di telinga Sarah. Gadis itu melenguh bernada menyerah saat tangan Raka kemudian berkeliaran penuh gairah dari bagian dadanya sampai sela kakinya.


Tubuh Sarah dan Raka memanas, Sarah sudah tak perduli lagi dengan keadaan tubuhnya. Dengan bertumpu pada betisnya yang menekuk, Sarah mencongklang seperti sedang berdiri dengan lututnya. Menyerahkan dadanya yang menantang kepada wajah Raka.


Raka menerimanya dengan senang, dia membenamkan wajahnya sambil bersimpuh ke belahan yang masih tertutup rapat pembungkus warna hitam itu. Begitu kontras dengan kulit putihnya sehingga semakin membakar gairah Raka.


Sarah meremas kepala Raka, rambut hitam Raka acak-acakan di sela jari Sarah, sementara Sarah melengkung menahan sensasi saat lidah hangat Raka memutari puncak gunung merah jambu yang menyembul dari antara kain itu. Sekali tarik saja penutupnya sudah meninggalkan tempatnya menyisakan pemandangan indah yang membuat darah Raka terbakar dalam sekejap.


Sarah mendesah tak terkendali, kepalanya mendonggak ke arah pemandangan bintang di atas langit Leiden, ketika dengan nakal jemari Raka sudah menyusuri tempat yang tersembunyi di sela kedua pahanya.


Raka benar-benar puas melampiaskan rasa rindu dan penasarannya pada setiap lekuk tubuhnya.


"Sayang, apakah kamu sudah siap?"bisik Raka, Sarah hanya menyahut dengah suara terengah.


Raka mendorong tubuh Sarah dengan wajahnya sementara tangannya sibuk melloloskan semua perintang pada tubuh mereka berdua. Membuat tubuh mereka sekarang begitu eksotis di bawah temaram lampu meja yang bersinar oranye itu.


Dadanya yang begitu kekar dan kuat itu menindih tanpa permisi membuat kulit mereka bergesek, menyisakan rasa panas dan kesemutan yang tiba-tiba. Panas itu menjalar ke seluruh tubuh mereka.


Lengan Raka merengkuh tubuh Sarah, kebahagiaan dan gairah berpadu membakar dua insan yang di mabuk cinta itu.


Tak ada wilayah dan tempat yang tak di susuri, entah itu lekukan, tanjakan bahkan celah.


Kemesraan mereka seperti kobaran api, terus tak terkendali, saling memagut, saling membalas, seolah-olah mereka adalah dua musafir yang kehausan.


Sarah menggigit bibirnya dengan keras saat Raka membuka pah*nya dan membiarkan sesuatu masuk ke sana.


Terasa sakit, tapi ditahannya karena pada waktu bersamaan dia merasakan suatu kenikm*tan yang tak bisa terkatakan.


Raka berusaha melakukannya dengan hati-hati saat melihat gadis di bawahnya itu meringis dengan mata terpejam, tapi Sarah menarik pinggul Raka dengan tak sabar. Sekarang Raka lah yang tak bisa menahan geraman dari mulutnya.


Suara desah mereka beradu, berpadu dengan keringat yang membasahi tubuh.


Secara naluriah, mereka mereka bergerak terus tanpa ada yang memimpin ataupun memberi aba-aba.


Pada satu titik kulminasi, Raka mendesah setengah mendesis, sementara Sarah terpekik, rasa perih yang bercampur nikm*t itu membuat tubuhnya melengkung.


Sesuatu yang hangat berwarna merah merembes perlahan dari sana, menyusuri paha putihnya, jatuh dan menyatu dengan kain sepray di bawahnya.


Raka memandang Sarah dengan rasa puas, malam pertama yang tertunda itu, Sarah telah menyerahkan dirinya secara utuh dan sempurna.


Raka menarik tubuhnya, supaya tak lagi menghimpit gadis yang terkulai lemas di atas tempat tidurnya itu.


Lalu sebuah kecupan hangat mendarat di dahi Sarah.


"Terimakasih, sayang...kebahagiaanku telah sempurna" Bisik Raka, sambil menarik kain selimut dan membungkus tubuh mereka. Menarik tubuh Sarah ke dadanya. Memeluknya dan terus mencium rambut gadis itu. Sarah tak menyahut dia sibuk mengatur nafasnya.


"Terimakasih juga, telah membuatku menjadi istrimu yang sesungguhnya."Sahut Sarah, tangannya melingkari pinggang Raka.


"Sayang, kesepakatan resmi berubah, sekarang kamu adalah istriku sebenarnya, sampai seterusnya."Raka membelai rambut hitam Sarah yang tergerai di bawah dagunya.


Sarah memejam matanya, dia merasa kelelahan sekali.


"Beristirahatlah sebentar, perang kita belum usai." Kata Raka. Sarah memukul dada bidang itu dengan tersipu.


"Seperti inikah malam pertama itu?"Batinnya dengan senyum bahagia.


(Maafkan author yang kebablasan, episode ini jadi terlalu panjang🤣 Mohon tidak terlalu di hayati, ini cuma dongeng sebelum tidur☺️)



...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...


...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...


...Biar author tambah rajin UP...