
Sarah tertawa geli dengan tingkah Raka, di bawanya goody bag di tangannya menuju kamar mandi.
Raka dengan antusias mengikuti dari belakang, ketika sampai pintu kamar mandi, Sarah berbalik kepada Raka.
"Sayang..."
"Hm..."
Mata Sarah memicing melihat Raka yang berdiri penuh harap di hadapannya.
"Aku mau tes dulu di kamar mandi."
"Aku ikut."
"Hush, sembarangan!"
"Aku mau yang pertama lihat hasilnya."Raka tersenyum lebar.
"Sayang, bagaimana aku pipis kalau kamu ikut."
Sarah mendorong lembut suaminya itu menjauh dari pintu dengan nada protes.
Raka tersipu di tempatnya menanggapi kalimat penolakan itu dalam detik berikut, Sarah telah menutup pintu kamar mandi di depan hidungnya.
"Jangan lama-lama ya, sayang!"Raka berteriak dari balik pintu.
"Memangnya dia kira, tes kehamilan dicolok di hidung." Sarah menggerutu, dia juga gugup dan tak sabar ingin melihat hasilnya.
Setelah menampung urinenya di sebuah gelas plastik kecil yang di siapkannya sebelum Raka datang, dia mencelupkan ujung salah satu test pack dari dalam tas yang diberikan Raka dengan gemetar.
Menunggu beberapa detik saja rasanya begitu lama. Sebuah strip warna merah muda muncul di batangan test pack. Sarah menunggu beberapa detik lagi dengan gugup, semenit... dua menit...tak ada muncul strip ke dua.
Yang dia tahu, jika ada muncul dua garis merah di test pack itu berarti hamil.
Sarah memandang nanar ke arah test pack yang di pegangnya. Rasa kecewa tiba-tiba menyeruak, dadanya menjadi sesak.
Rasa sesak itu naik, hingga matanya terasa mulai panas.
Dengan gugup diambilnya lagi test pack yang lain, yang kedua ini pun sama hanya strip satu.
"Sayang....bagaimana hasilnya" Suara penuh harap Raka terdengar tak sabaran dari luar.
Sekarang air matanya hampir keluar, kekecewaannya begitu kuat.
Dengan putus asa di bukanya lagi satu test pack, untunglah Raka membeli banyak test pack, setidaknya ini membuatnya merasa puas jika ternyata hasilnya sungguh tak sesuai keinginan.
Di celupnya dengan tangan gemetar, dengan yang mata berkaca-kaca mulai berembun.
Strip satu segera naik, Sarah memejam matanya dengan sedih. dua bulir bening jatuh di sudut matanya. Ketika kita sedang begitu berharap sesuatu dan kita tidak dapat meraihnya, sakit itu sungguh luar biasa.
"Sayang...buka pintunya, lama sekali." Raka memanggil lagi, sekarang sambil mengetuk-ngetuk.
Sarah merasa tak siap mengatakan kalau ternyata hasilnya tidak seperti harapan mereka berdua, dia belum siap melihat kekecewaan di wajah suaminya itu.
Saat dia membuka matanya yang sudah basah, tiba-tiba dia terpana, hampir menjatuhkan test pack di tangannya.
Ada garis kedua yang muncul meskipun cuma samar. Sarah menggigit bibirnya, dia tak yakin sampai melotot menatap garis di test pack itu.
Memang ada garis kedua merah yang sangat muda seperti bayang-bayang.
Sarah menggeleng-geleng kepalanya, strip itu sangat samar, mungkin saja test pack ini keliru membaca. Seharusnya garis di sana merah yang sama dengan diatasnya, tegas dan nyata.
Sarah berlari membuka pintu kamar mandi, Raka berdiri tegap di sana, dengan raut sedikit tegang.
"Lama sekali..."Keluhnya.
Tapi saat menangkap pemandangan mata Sarah yang sembab, Raka menaikkan alisnya.
"Ada apa?" Suaranya bergetar, tak bisa menyembunyikan rasa kuatir.
Sarah menggeleng kuat-kuat, sesal di dadanya serasa begitu penuh dan dalam sekejap dia sudah memeluk tubuh Raka dan terisak di dada suaminya.
"Mungkin aku yang terlalu berharap." Sarah tersedu, tubuhnya berguncang.
Sejenak Raka mematung, dia tidak pernah merasa begitu kecewa setelah sangat bersemangat tadi. Meski menanggung kekecewaan, perlahan tangannya naik menepuk-nepuk punggung Sarah yang masih terisak di pelukannya.
"Sayang, tidak apa-apa. Masih banyak waktu. Jangan sedih begitu." Raka menenangkan isterinya.
Apapun yang dirasakannya sekarang, dia tidak ingin terlihat kecewa, karena sebagai suami, dalam situasi apapun Raka ingin isterinya itu tahu, apapun yang menjadi masalah dalam rumah tangga mereka, dia sebagai suami adalah tempat berpegang yang kuat bagi isterinya.
Jika seorang suami tampak rapuh di hadapan isterinya, lalu di manakah isteri mencari perlindungan dan ketenangan?
Rejeki dan nasib sudah di atur-Nya untuk masing-masing orang, menjalaninya dengan rasa syukur akan membuat kita bisa menerima segala sesuatu dengan hati yang lapang.
"Maafkan aku, mengecewakanmu..." Sarah menarik tubuhnya, tangannya memegang tiga buah test pack di tangannya dengan kuat. Kepalanya menunduk masih terisak.
"Sayang, kenapa kamu bersikap seperti ini, seolah dunia telah berakhir? Perjalanan kita masih panjang, jika Tuhan mengatakan ini belum waktunya, maka syukurilah. Mungkin kita belum cukup pantas menerima apa yang kita minta, karena menurut-Nya kita belum siap sekarang untuk itu. Atau mungkin... kita masih perlu bulan madu lebih lama...." Raka mengangkat dagu isterinya itu dengan senyum lebar yang lepas.
Seolah dia tidak kecewa sama sekali.
"Tapi, kamu begitu berharap...." Sarah menyahut, mata basahnya menatap tak berkedip ke mata Raka, sementara jemari Raka masih memegang dagunya dengan lembut.
"Aduh, sayang...setiap orang boleh berharap tapi bukan berarti apa yang menjadi keinginan kita, jika tidak terkabulkan membuat kita harus terpuruk seolah langit sedang runtuh.
Sikapi dengan baik, syukuri saja, ini pasti yang terbaik." Raka mengusap air mata Sarah yang meleleh lewat sudut matanya.
"Dan lagi ini baru satu setengah bulan, masih banyak pasangan yang lain di dunia ini, merindukan seorang anak dalam kehidupan rumah tangganya, bertahun bahkan belasan tahun.
Usia pernikahan kita tidak seberapa dan lagi si burung ini baru bertemu sarangnya baru satu bulanan lebih sedikit. Wajarlah!" Raka mencium dahi isterinya itu dengan sayang.
"Tenang saja, si burung elang ini berjanji akan menjenguk sarangnya lebih intensive lagi."
Raka berbisik di telinga istrinya setengah berkelakar.
Senyum Sarah perlahan mengambang di bibir merah mudanya, lalu mencubit pinggang Raka.
"Itu memang mau mu!"
Raka terkekeh sambil memeluk isterinya, dia tidak menyangka diam-diam ternyata isterinya lebih berharap dari dirinya untuk seorang anak.
Selama ini, dia lah yang selalu nampak bersemangat dan antusias, sementara Sarah tidak pernah terlihat begitu menginginkannya.
Sarah memeluk pinggang Raka, kuat-kuat.
Suaminya ini tidak pernah kehilangan kata untuk membuatnya kembali tersenyum. Setiap kata-katanya begitu menenangkan.
Bahkan dalam badai sekalipun, dia selalu berusaha memegang tangan Sarah, seolah mengatakan,
"Tenanglah, Sayang...semua akan baik-baik saja, kita bisa melewati apapun asalkan kamu tetap memegangku dan mempercayaiku"
Dan Sarah, selalu menemukan jalan untuk kembali menjadi tenang saat berada di dalam pelukan Raka.
"Sayang....!"
Suara lain terdengar di pintu, Sarah dan Raka terpana sesaat dan sama-sama melepaskan pelukan.
Mereka menoleh ke pintu kamar yang terbuka lebar, di sana telah berdiri mama dengan tatapan kuatir.
Sungguh, mereka tak menyadari mama ada di sana.
Sarah yang terkejut, menjatuhkan test pack dari tangannya, hingga tiga test pack yang di genggamnya dari tadi itu berhamburan di atas lantai.
"Mama..."
"Mbak Marni bilang, Raka tadi tergesa-gesa keluar dan mengatakan ke mbak Marni, Sarah sedang tidak enak badan." Mama melangkah mendekat.
"Aku tidak apa-apa, ma." Sarah berjongkok dan segera memungut test pack yang berhamburan di lantai.
Tapi satu test pack berada di dekat kaki mama.
Mama membungkuk dan mengambilnya,
"Sayang, kamu...kamu hamil?" Mama bertanya dengan mata melotot kepada Sarah.
Raka dan Sarah bertukar pandang, tidak tahu harus berkata apa.
(Maafkan otor lg khilaf update😂)
Terimakasih sudah membaca novel ini❤️
Like dan komen kalian selalu author nantikan 😊
Nantikan episode selanjutnya, yang lebih seru dan penuh kejutan dalam judul part "KEJUTAN DARI MAMA"
...Nantikan part selanjutnya besok, ya.......
...Lope-lope berhamburan dari Sarah dan Raka❣️❣️...