Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 83 MELEPASMU PERGI


Sarah berada di Bandara Juanda ini untuk mengantarkan Raka memang sudah untuk yang kedua kalinya. Meskipun dulu ketika mengantar Raka pertama kali, dia tak sempat bertemu secara langsung hanya mengucapkan salam perpisahan lewat video Call.


Rasanya, agak aneh, begitu berat memang untuk berpisah, hanya kepergian Raka kali ini tidak sesedih hatinya ketika melepaskan Raka sebelumnya.


Dulu dia berfikir, melepaskan Raka untuk selama-lamanya dari hidupnya ketika mengucapkan selamat jalan tapi bedanya sekarang, hanya melepasnya untuk sementara saja. Meskipun sama-sama begitu berat di lakukan.


Raka dan Sarah duduk berhadapan di pisahkan sebuah meja, pada sebuah cafe kecil di ruang publik Terminal 2. Keberangkatan masih sejam lagi, Raka masih belum pergi untuk cek in, tiketnya sudah dipesan seperti biasa oleh Dea, asistennya lewat salah satu aplikasi pemesanan tiket online.


Waktu semakin sedikit tapi rasanya sangat enggan untuk saling meninggalkan.


"Sayang, kamu tidak apa-apa kan kutinggal? Satu semester ini, aku mungkin tidak bisa pulang." Raka berucap sambil menggengam jemari Sarah.


"Ya, aku akan baik-baik saja." Suara Sarah seperti tercekat di tenggorokan. Dia tersenyum lebar tapi sangat tidak syncron dengan suasana perasaannya.


"Jangan lupa, istirahat yang cukup, makan yang banyak, jangan sibuk menggambar baju-bajumu itu sampai lupa waktu dan...minum susu juga yang teratur." Raka mengingatkan dengan wajah serius. Pesan yang panjang itu di ucapkan seperti seorang dokter yang sedang menjelaskan list resep kepada pasiennya.


Sarah menganggukkan kepalanya. Mendapat wejangan seperti itu terasa membuat hatinya luluh. Perhatian Raka menghadirkan rasa haru di sudut hatinya.


"Aku hanya memastikan, istri dan anakku selalu baik-baik saja sampai aku pulang." Raka mengelus punggung tangan Sarah dengan lembut.


"Kamu juga, jangan lupa makan kalau lagi sibuk dengan tugas. Jangan tidur terlalu malam." Sarah menatap Raka dengan mata sedikit berembun. Memikirkan akan lama lagi jemarinya dielus seperti ini oleh suaminya, terasa menyesakkan meskipun dia berusaha seperti istri yang tidak berkeberatan dengan perpisahan sementara ini.


"Dan juga..."Sarah berucap sedikit ragu untuk meneruskan.


"Apa lagi?"


"Jangan suka keluyuran malam-malam, di sana banyak bule-bule cantik macam Beatrix...." Sarah tersipu, wajahnya sedikit memerah saat mengucapkannya.


"Eh, istriku ini sepertinya bisa cemburu juga...!' Raka melotot dengan jenaka sambil mencubit hidung bangir Sarah.


"Bukan begitu..." Sarah memasang wajah masam,


"Aku...aku cuma mau bilang jangan keluyuran malam-malam, bisa masuk angin. Kalau sakit kan repot tidak ada yang ngurusin." Sarah berdalih sambil meneguk kopi di papper glass yang sedari tadi menganggur di depannya, disambut tawa Raka yang berderai puas.


Di cemburui oleh orang yang kita sukai kadang-kadang memang terasa menyenangkan, seolah-olah kita adalah satu-satunya yang terpenting baginya.


"Kata orang, orang wanita hamil biasanya suka rewel kalau jauh dari suami. Tapi sepertinya aku akan jauh lebih rewel nanti, ponselmu harus standbye, kalau aku lagi kangen aku akan telpon, takutnya kangenku tiap jam kambuhnya...." Raka membelai wajah Sarah yang cantik, seakan ingin mematrinya dalam ingatannya.


Sarah tak tahan untuk tidak tertawa mendengarnya, ternyata rindu itu bisa di ibaratkan penyakit menahun, yang sewaktu-waktu bisa kambuh.


"Dan satu hal lagi..." Tiba-tiba wajah Raka menjadi serius, menatap tajam kepada Sarah.


"Apa?" Sarah menaikkan alisnya, penasaran dengan perubahan raut Raka yang tiba-tiba.


"Kamu tidak perlu bertemu Sally, apapun alasannya. Atau kalau bisa tidak usah ke rumah orang tuamu, apalagi jika aku sedang tidak ada.


Aku tak ingin terjadi apa-apa padamu." Nada itu seperti peringatan, begitu berat dan tajam.


Sarah menatap ke kedalaman mata suaminya itu, dan mendapati sirat khawatir yang begitu besar.


Sekali lagi, Sarah menganggukkan kepalanya kuat-kuat dengan patuh dan tersenyum, untuk menyatakan dirinya akan selalu mengingat apa yang di ucapkan suaminya itu.


Setengah jam sebelum jadwal pesawat berangkat, mereka berpelukan erat. Begitu erat. Beberapa kali Raka mencium kepala Sarah,


"Aku mencintaimu, sayang...sangat mencintaimu." Bisiknya dengan suara parau.


"Jaga dirimu baik-baik, karena aku tak ingin seujung kukupun kamu terluka lagi." Lanjutnya lagi dengan nada yang begitu tegas.


"Aku juga mencintaimu. Benar-benar mencintaimu. Jangan lama-lama pergi, karena aku akan sangat rindu...." Sarah tak dapat membendung air matanya, yang di tahannya sedari dia tahu Raka akan pergi.


Tubuhnya bergetar halus, di dada Raka, dia sedang benar-benar ingin menangis.


"Aku hanya sebentar..."


Sesungguhnya, diapun enggan untuk pergi.


"Sayang, aku akan telpon kalau sudah sampai." Raka mencium kening Sarah begitu lembut, mereka bahkan tak sadar beberapa orang menoleh pada mereka berdua yang tampak larut dalam situasi sendiri.


Sarah menyeka buliran bening dari sudut matanya. Senyum lebar segera menghias bibirnya, dia mendonggak dengan wajah seceria mungkin.


"Aku akan menunggu!" Sambutnya sambil berjinjit merapikan kerah jaket burberry suaminya.


"Aku pergi dulu, sayang. Pulangnya menyetir pelan-pelan saja, tidak perlu terburu-buru." pesan Raka.


"I love you, sayang." Raka mencium sekali lagi dahi Sarah, dalam dan lama.


"Love you too." Sarah menyahut sambil tetap tersenyum lebar. Dia tidak ingin Raka berat meninggalkannya, jika terlalu menunjukkan perasaannya.


Raka melirik ke jam di tangannya, meraih kopernya. Lalu membalikkan badan sementara perlahan Sarah melepas genggaman tangan Raka, membiarkan suaminya itu berjalan meski beberapa kali dia tampak menoleh hingga hilang di balik pintu boarding room.


Melepas seseorang yang kita cinta pergi walaupun hanya untuk sementara tetap saja bukan hal yang mudah.


Sarah berharap mereka berdua, sama-sama saling menjaga diri sampai pertemuan berikutnya tiba.


...***...


Sarah keluar dari pintu ruang tunggu, berjalan di area publik dengan langkah sedikit gontai.


Terasa aneh ketika tiba-tiba Raka harus pergi saat mereka berdua sedang begitu dekatnya.


Tentu akan berat, ketika akan melewati hari-hari ke depan saat dia sedang hamil muda.


Terbersit di fikirannya memang untuk ikut saja bersama Raka, tapi banyak hal yang menjadi pertimbangannya. Menempel pada suaminya bukan hal yang bijak, terutama sekarang dia sangat menjaga kehamilannya ini.


Anak di dalam kandungannya ini, adalah anugrah terindah dalam hidupnya, bersama kehadiran buah cintanya ini sejuta kebahagiaan di kirim Tuhan.


Khayalannya yang masih kemana-mana itu, membuatnya tanpa sengaja menabrak seorang anak perempuan kecil yang usianya mungkin sekitar empat tahun. Gadis kecil itu berlari dan terjatuh saat tubuh mungilnya menubruk kaki Sarah.


"Oh, sayang...kamu tidak apa-apa? Maafkan tante, ya...." Sarah membungkuk dengan gugup dan memegang kedua bahu kecilnya dan membuatnya berdiri tegak.


Mata bulat bening itu menatap Sarah, sambil meringis tapi dia sama sekali tidak menangis.


"Ayo, minta maaf pada tante..." Sarah mendonggakkan wajahnya pada tubuh tegap seorang laki-laki yang berdiri di belakang gadis kecil itu dan kemudian dia terpana merasa tak asing pada wajah yang kini sama terkejutnya melihat ke arahnya.


Mereka dulu pernah saling mengenal bahkan dia sangat tahu, orang yang kini berdiri dengan sedikit tegang di depannya itu.


"Sa...Sarah?"


(Yuk...tunggu Author UP lagi ya, untuk mengawal kisah cinta Raka dan Sarah😊 Jangan lupa VOTEnya yah, biar akak semangat 45 untuk segera khilaf crazy UP😂😂)


Love You all, my readers...🌹🌹🌹❤️❤️❤️❤️



...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...❤️...