
"Ayah...bagaimana kabar ayah hari ini?" Sarah muncul di pintu kamar ruang perawatan sang ayah sambil menggendong Rae, sementara Raka berada di belakang mereka membawa banyak tentengan, kue, buah dan roti.
"Ayah merasa lebih baik, nak..." Di sambut senyum lebar sang ayah yang sedang bersandar di bed hospitalnya. Dia seperti sedang menulis sesuatu di sebuah notes kecil, lalu segera di tutupnya saat menyadari banyak yang masuk ke dalam kamarnya.
"Ayah sudah sehat, katakan pada dokternya, ayah siap pulang ini..." Suara setengah merajuk itu membuat Sarah langsung masam.
"Lihatlah kakekmu itu, Rae...dia sangat keras kepala. Masih sakit tapi mau pulang saja..." Sarah memanyunkan mulutnya pada Rae kecil yang berada di gendongannya, seolah-olah Rae bisa mengerti ucapannya.
"Eh...cucu kakek sayang..."Ayah Sarah terlihat riang melihat kepada bayi yang matanya berbinar-binar lucu itu. Tangannya terulur mengelus pipi Rae yang tampak tenang. Dia tidak bertingkah seperti biasanya ketika melihat orang asing, mungkin dia sudah mulai terbiasa melihat ayah Sarah.
"Hari ini Rae menjenguk kakeknya, biar semangat..." Raka menimpali, mengambil Rae dari Sarah, supaya Sarah bisa memeriksa keadaan ayahnya.
"Bagaimana tidur ayah hari ini?" Tanya Sarah sambil memegang tangan ayahnya.
"Ayah tidur nyenyak malam ini." Ayah Sarah menjawab sambil tersenyum.
"Seharusnya memang begitu..." Tiba-tiba seseorang menyeletuk dari depan pintu.
Ayah Sarah tertegun melihat dua orang yang berdiri di belakang kedatangan Sarah dan Raka.
"Papa dan mama ingin menjenguk ayah..."Sarah berucap setengah berbisik.
Ayah Sarah kehilangan kata-katanya, dia tidak menyangka besannya ini datang menjenguknya ke rumah sakit.
Raka dan Sarah telah menceritakan keadaan ayah Sarah yang sebenarnya dari kedatangannya kembali sampai bagaimana ayahnya menderita sakit Myeloma Multiple.
Tak ada yang Sarah sembunyikan karena dia menganggap mertuanya ini juga adalah orangtuanya. Kesusahannya juga mereka wajib tahu, apapun reaksi papa dan mama Raka untuk masa lalunya, dia menerimanya.
"Semoga pak Winarta cepat sembuh..." Papa Sarah mengulurkan tangannya dengan senyum hangat.
"Anak-anak ini lambat menceritakan jika besan sedang di rawat di rumah sakit, Jadi kami lambat menjenguk." Mama Raka menimpali dengan ramah.
"Aku...oh...terimakasih...terimakasih...maaf merepotkan." Ayah Sarah menyahut terbata-bata, dia tidak siap dengan pertemuan ini. Rasa malu dan rendah diri menjalar dalam hatinya, sebagai seorang ayah dia merasa tidak pantas datang kepada mereka dalam keadaan seperti ini.
"Kita adalah keluarga, tidak ada kata saling merepotkan." Papa Raka tersenyum pada ayah Sarah.
Dia terpana, semua bayangan tentang pertemuan yang menakutkan dan mungkin menyulut prasangka karena kedatangannya yang tiba-tiba setelah sekian lama, menguap begitu saja.
Keluarga suami dari putrinya ini benar-benar begitu ramah dan wellcome. Dia merasa diperlakukan dengan sangat baik.
"Jangan terlalu banyak fikiran negatif saat sakit itu mempengaruhi imun tubuh, lho. Berfikir yang baik-baik dan tetap bersemangat. Nanti kalau sudah sembuh, harus ke rumah. Saya dan Sarah akan memasak makanan yang enak..." Mama Sarah menambahkan lagi.
Sungguh, ayah Sarah tak punya banyak kata kecuali rasa syukur yang tak terhingga, Sarah telah menemukan keluarga sebaik mereka.
Setelah hampir setengah jam mereka mengobrol ringan, tak sekalipun mereka menanyakan tentang kemana dan di mana ayah Sarah selama ini. Semua mengalir seperti sebuah keluarga yang bertemu dan pertemuan itu sangat menyenangkan.
Badan Ayah Sarah mungkin sedang sakit dan nyeri dari ujung kaki hingga seluruh tubuhnya tapi hatinya bahagia berada di tengah-tengah mereka, terlebih di dampingi Sarah, anak yang selalu dirindukannya siang dan malam
"Kami sepertinya harus pulang, Aku ada janji sejam lagi." papa Raka menyela dengan raut menyesal.
Papa dan mama Raka pamit untuk pulang, karena papa Raka ada janji dengan koleganya.
"Kami masih di sini...hari ini ayah ada jadwal CT-SCAN full body." Kata Sarah.
"Aku akan menemani Sarah..." Ujar Raka.
"Baiklah, mama pulang lebih dulu, Rae bisa ikut mama duluan, biar kalian bisa konsentrasi mengurus ayahmu."
Mama membawa Rae pulang lebih dulu, sementara Sarah dan Raka tetap tinggal.
"Sayang, papa ingin bicara dengan kalian berdua..." Tiba-tiba ayahnya yang berkata, saat semua orang telah pergi, kecuali Raka yang selalu berada di samping Sarah.
Wajah ayahnya terlihat lebih tirus, bahkan tubuh itu terlihat menjadi lebih tua, setelah seminggu berada dalam perawatan.
Sarah dan Raka saling pandang, lalu duduk menghadap ranjang sang ayah. Menunggu dengan canggung karena wajah ayahnya tampak serius.
"Ayah mungkin tak perlu bohong tentang penyakit yang kini ayah derita, mungkin kalian lebih tahu, tanpa ayah mengatakan lagi." Ayah Sarah tersenyum samar.
"Ayah...seharusnya ayah mengatakan dari awal..." Sarah menundukkan wajahnya dengan sedih.
"Kemarin ayah telah memberikan riwayat kesehatan ayah yang di kirimkan oleh dokter yang menangani ayah di Kanada sebelumnya. Sudah ayah kirim ke email dokter Pram, supaya tidak mempersulit diagnosa masalah data kesehatan ayah."
Sarah menganggukkan kepalanya pelan, sementara Raka mematung di sebelah Sarah.
"Sarah, ayah hanya ingin menceritakan dengan sejujurnya, awal dari semua derita yang harus kamu terima. Semua buah dari kesalahan ayahmu yang tahu diri ini. Bahkan jika ayahmu fikirkan berulang-ulang, penderitaan ibumu juga karena menanggung dosa yang telah kulakukan." Papa Sarah menerawang.
Suaranya yang lebih lemah dari biasanya, dia bersikap kuat selama ini di depan Sarah.
"Ayahmu dulu adalah laki-laki yang bajing*n, yang tak tahu diri..." Ayah Sarah mengucapkan kalimat itu dengan getir, lalu mengalirlah kisah kelam di masa lalunya bersama mama angkat Sarah. Semua hal di ceritakan ayahnya tanpa meninggalkan satu bagian manapun, bahkan sebuah pengakuan bagaimana dia melakukan hubungan terlarang dengan mama Sarah.
Ayah Sarah sama sekali tidak berusaha membela diri atas kesalahan yang telah di lakukannya itu.
Bahkan sampai pada sebuah foto yang membuat dia seperti di kejar setan di bawah ancaman Mama angkat Sarah itu.
Dia terlalu takut dengan aib itu, dia terlalu takut untuk menghancurkan rumah tangga kakaknya sendiri. Tapi dia membuat kesalahan besar dengan menyerahkan anak semata wayangnya itu kepada orang yang telah menjahati hidupnya.
Airmata penyesalan di ujung kisah panjangnya itu, Sarah hanya tercengang di tempatnya, mendengar dengan selaksa perasaan yang begitu sulit di ungkapkan.
Dia tak tahu harus mengatakan apa, dan jikapun kekecewaan dan lukanya itu membara, dia hendak tumpahkan kepada siapa?
Sarah tak punya cara menghakimi atas penderitaannya berpuluh tahun tanpa ayahnya itu.
"Ayah minta maaf, entah kata maaf ini cukup untuk membayar semuanya. Penyesalanpun tak ada gunanya lagi." Air mata ayahnya membasahi pipinya sendiri, dia menangis tanpa suara.
Sarah menoleh pada Raka, sang suami hanya diam, tapi mata itu bersinar hangat, seolah mengatakan, Sarah tahu apa yang harus di lakukan.
"Ayah..." Sarah beranjak dan duduk dengan hati-hati di tepi ranjang ayahnya.
" Terimakasih atas kejujuran ayah..." Ucap Sarah sambil memegang jemari ayahnya, tanpa sedikitpun emosi yang berlebihan.
"Sarah tak mau tahu, apapun yang pernah terjadi di belakang, kita berdua telah melewatinya meski di jalan derita yang berbeda. Yang Sarah tahu sekarang...ayahku telah kembali." Sarah mengusap air mata ayahnya. Dan memeluknya. Hati kedua orang ayah beranak itu seringan kapas.
Sebuah kejujuran sekali lagi membuktikan, dia mampu menyudahi sebuah kekeliruan meski mungkin menyakitkan untuk di dengar.
...Baby Rae...
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️......
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...I love you all❤️...