Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 222 LEPASKAN SAJA


Bram duduk di sebuah Bar, menatap gelas anggur entah keberapa kali dia menengaknya. Tetap saja wajah Diah bermain di kepalanya, tak mau hilang.


Tatapan kosong Diah, cincin di atas meja, dan surat cerai mereka bermain silih berganti di kepalanya.


Rasanya begitu aneh, semua terasa begitu menyakitkan saat kehilangan, padahal saat dia ada, Bram tak pernah menoleh sedikitpun padanya.


Perpisahaan seringkali mengajarkan kita betapa berharganya seseorang setelah dia tiada.


Terbersit perasaan untuk menolak perceraian mereka tetapi kemudian ditepisnya.


Terlalu dalam luka yang di goreskannya pada hati Diah, begitu banyak air mata telah dia renggut dari istrinya itu. Betapa tak tahu dirinya dia jika berharap Diah memaafkannya kembali.



Mungkin saja Diah bisa memberinya kesempatan demi anak mereka, tetapi kesempatan seperti apapun tak akan merubah hati Diah yang telah retak. Dia sungguh terlalu egois jika meminta Diah kembali memakluminya. Hampir seminggu ini, setelah pertemuannya dengan Doddy di cafe depan kantor Rudiath-Wijaya Group.


Saat itu Bram sedang duduk seperti biasa, bukan karena menunggu Sally tapi berharap melihat Diah dari jauh, melihatnya datang dengan grab setiap pagi pada jam 07.45 WIB. Atau kadang dia yang saat sore, jam 04.30 tepat, Diah pasti akan keluar dengan sopir kantor itu, mengantarnya pulang.


Setelah tahu ada seorang laki-laki yang mendekati Diah, Bram benar-benar tak bisa menahan kecemburuannya. Karena itulah dia diam-diam memata-matai Diah, sekedar ingin tahu, apakah benar selama ini Diah mempunyai kekasih.


Tapi, berhari-hari dia duduk di meja sudut itu, tak pernah dia melihat laki-laki bernama Doddy itu mengantar atau menjemput Diah lagi.


TIGA HARI SEBELUM SIDANG CERAI


Sampai pada tiga hari yang lalu di satu sore, ketika dia duduk di tempat yang sama menghadap secangkir kopi cappucino favoritnya, menunggu Diah keluar dari tempatnya bekerja, laki-laki bernama Doddy itu muncul di depannya. Dalam balutan kemeja rapi, tubuh tingginya tampak menjulang. Berdiri tepat di depan meja Bram menghalangi pandangan Bram ke gedung megah di seberang jalan.


Bram mendonggak, wajahnya merah padam.


"Berikan aku segelas kopi mocca." Ucapnya pada seorang pelayan yang berdiri membersihkan meja di sampingnya.


Lalu dengan acuh tak acuh dia menarik kursi di depan Bram.


"Apakah anda sedang mencariku?" Tanyanya sambil melipat lengannya di depan Bram.


Bram masih terpana menatap Doddy yang datang tiba-tiba itu.



"A...apa maksudmu?" Pias Bram berubah merah.


Pelayan cafe tiba mengantarkan secangkir kopi kepada Doddy, untuk sesaat mereka berdua saling pandang dalam diam.


"Aku tahu, anda sedang mengorek informasi tentang diriku dari beberapa orang bahkan dari juru parkir di depan gedung kantor Rudiath-Wijaya grup. Entah apa yang anda cari tentang aku, jadi aku memutuskan untuk menghampiri anda ke mari, ke tempat favorit anda ini yang bahkan bisa anda datangi sehari dua kali." Kalimat panjang itu serupa sindiran. Bram benar-benar di buat skakmat oleh Doddy.


"Jangan berbicara sembarangan, aku sama sekali tidak mengenalmu." Sahut Bram gusar.


"Perkenalkan, namaku, Doddy..." Tangannya terulur ke arah Bram.


"Aku tahu!" Akhirnya Bram menyahut gusar tanpa berniat untuk menyambut tangan yang mengambang di depan wajahnya itu.


"Tentu saja anda tahu, anda sudah memata-mataiku beberapa hari ini." Doddy terkekeh karena berhasil membuat Bram memakan umpan yang telah di lemparnya.


Tangannya yang terulur itu perlahan diturunkannya, sekilas senyum terlihat samar di bibirnya.


"Ada apa kamu kemari? Kalau mencari ribut, di sini bukan tempatnya!" Bram menggeram.


"Aku datang kemari untuk ngopi..." Doddy mengangkat gelas kopinya, menyeruputnya sejenak, seolah kopi itu begitu nikmatnya.


Sekarang, Bram terdiam menatap lurus pada laki-laki yang tampak tenang tetapi mengusik ego lelakinya.


Mengingat Dia terlihat dekat dengan Diah membuatnya di bakar api cemburu.


Lelaki, tak pernah mau dirinya di nomor duakan meskipun mereka kadang menomorsepuluhkan perempuannya.


"Jangan membuatku marah!" Bram menggeram, rasanya tentu memuaskan jika dia mempunyainalasan untuk memukul wajah mulus laki-laki yang berusaha mencari perhatian istrinya itu.


"Pak Bram..." senyum Doddy yang terlihat memuakkan bagi Bram itu kembali menghias pemandangan.


"Apakah karena aku dekat dengan istrimu, kamu begitu penasaran denganku?"


Degh!!


Jantung Bram rasanya berbunyi lebih keras dari seharusnya, Doddy sudah keterlaluan menurut Bram dalam upaya memancing emosinya.


Tangan Bram yang terkepal, sekarang berada di atas meja, menunjukkan suasana hatinya yang mulai tak sabar.


"Kita tak perlu berkelahi untuk sesuatu yang sia-sia. Diah bahkan tak tahu apa-apa. Sungguh memalukan jika kita harus meributkan seseorang yang bahkan tak membuat kesalahan sedikitpun dalam hidupnya." Doddy menyandarkan tubuhnya dengan santai di punggung kursinya.


Bram terdiam membeku,


"Tak ada hubungan apapun antara aku dan Diah jika kamu sangat ingin tahu. Jadi tak perlu mengorek informasi apapun dari sana-sini, itu mempermalukan dirimu dan istrimu saja."


"Bagaimana aku bisa mempercayai kalau tak ada hubungan apa-apa antara kalian?" Akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Bram, meskipun serupa geraman.


"Aku dan Diah, hanya sebatas rekan kerja. Meskipun andai aku sangat ingin menganggapnya lebih, Diah tak akan mengijinkannya. Dia adalah perempuan yang setia dan tak bercela, sayang sekali anda telah menyia-nyiakan istri sebaik dia." Doddy menggeleng-gelengkan kepalanya, tatapannya lurus pada lawan bicara di seberang meja.


Mata Bram yang tajam mengawasi Doddy, seolah dia berusaha meredam kekesalannya.


Dia melihat ke sekeliling, sore ini cafe itu cukup ramai, tentu memalukan jika dia bersikap gegabah dan neninju wajah Doddy, meski dia sangat ingin melakukannya.



"Apa yang sebenarnya yang ingin kamu katakan?" Tanya Bram dengan tatapan tajam.


"Aku ingin mengatakan, antara aku dan Diah tak seperti yang anda fikirkan, meski tentu saja sulit meyakinkan sesorang yang buta oleh kecurigaan. Aku hanya datang untuk meluruskan hal ini padamu, untuk membersihkan nama Diah meski sebenarnya klarifikasi seperti ini tidak perlu. Aku hanya merasa kasihan pada Diah, jika kamu berusaha mempermalukannya dengan alasan kedekatanku dengannya. Bukan karena aku berusaha membela diri tetapi itulah kenyataannya." Doddy tak nampak takut meski rahang Bram terlihat mengeras.


Sekarang tatapan Bram sedikit melunak dan kejengkelan yang tersirat di raut wajahnya mereda.


Dia memang berusaha mencari tahu tentang gubungan Diah dan Doddy, tetapi tak ada bukti yang mengarah bahwa mereka mempunyai hubungan apa-apa, kecuali matanya melihat Doddy dua kali mengantarkan Dish dengan mobilnya. Dia tak punya alasan untuk menuduh mereka.


"Apa yang kamu inginkan, sebenarnya?" Tanya Bram sekali lagi, seolah dia hanya bisa mengulang pertanyaan yang sama, matanya tak berkedip kepada Doddy yang tampak serius di depannya.


"Lepaskan saja Diah..."


(Seorang istri di mata suaminya mungkin tak ada yang istimewa, bahkan serupa batu kerikil saat dia matanya tertutup dengan keindahan perempuan lain tapi, di mata laki-laki lain mungkin saja dia serupa permata🤭 Karena itu suami-suami, jaga pandanganmu takutnya penyesalan datang di akhir, karena seperti salah satu komen readers kesayangan, kalau yang datang di awal itu pendaftaran namanya🤣


Love You all✌️☺️


Bagaimana kisah selanjutnya☺️ Bagaimana bisa Bram berubah fikiran setelah pertemuannya dengan laki-laki yang di cemburuinya itu🤭 penasaran, kan? Yuk tunggu lanjutannya😁 Jangan lupa dukungannya untuk novel ini, yaaaa🙏🤗)


...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya....