
Mata Sally begitu nanar dan nyalang, yang ada di sana hanyalah luapan dendam dari ingatan masa lalu yang bercampur aduk seperti pita kusut di kepalanya.
"Kamu benar-benar gila..." Bram bergumam, terpaku pada wajah Sally, hampir tak bisa mencerna semua yang di dengarnya.
Bram tak bisa berkata apa-apa mulutnya tercekat seperti terjebak dalam lingkaran hitam neraka yang di buatnya sendiri.
"Jika kamu berani memukul Agil, maka aku akan melemparmu keluar!"
Sally berteriak dengan suara tinggi, tangannya mencengkeram kain selimut di dadanya, nafasnya yang turun naik terlihat menyiratkan dendam yang begitu aneh.
Bram sekali lagi menggelengkan kepalanya, amarah yang sedari tadi seperti lava itu seperti menguap begitu saja, berganti dengan kekosongan yang dingin.
Merasa sedih adalah respon alami ketika mengetahui pasangan berselingkuh. Namun yang dirasakan Bram sungguh berbeda, dia merasakan jiwanya mendadak kosong, tak memiliki emosi apapun lagi.
Ya, Kekosongan adalah salah satu mekanisme psikologis yang digunakan manusia ketika mereka mengalami shock atau trauma. Dalam beberapa hal kekosongan ini melindungi otak dan pikiran.
Bram sama sekali diluar kemampuannya untuk memikirkan apapun.
"Kamu tak perlu melemparku untuk keluar dari tempat menjijikkan ini...aku dengan suka rela keluar dari sini." Bram sejenak beradu tatap dengan Sally yang masih bersandar di pintu kamar mandi, dia tak punya minat lagi melepaskan seribu emosi yang tadi sempat bergolak.
Kemudian dengan gerakan kasar Bram berbalik dan melangkah keluar dari kamar yang selama ini menjadi surganya.
Kehancuran hidupnya sampai pada ambang batas, di campakkan oleh dua perempuan dengan cara berbeda pada hari yang sama. Dia benar-benar
merasakan kehilangan terdalam, tidak hanya kehilangan cinta, kehilangan pernikahan tetapi juga kehilangan harga diri dan kehormatannya sebagai laki-laki. Karma telah menjemputnya dengan sadis atas dosa-dosanya.
...***...
BRAM
Dalam langkah gontai, kaki yang hampir mati rasa, Bram keluar dari apartemen itu. Sakit hatinya melebihi apa yang pernah diketahuinya, sampai-sampai dia tak tahu jika tubuhnya membawanya kemana.
Langit masih gelap, hawanya dingin menusuk di musim hujan, penghujung tahun.
Bram terus saja menyetir membawa hatinya yang kosong, tak lagi mengerti arah hanya terus saja berjalan membawa mobilnya.
Mobil yang di kendarai Bram terhenti di depan sebuah mesjid tak seberapa besar pada sebuah ujung jalan, berada di seberang sebuah gang, jalan yang tak dikenali oleh Bram.
Suara lantunan sholawat terdengar merdu dari toa mesjid itu, tiba-tiba membuat Bram terkesima. Mobilnya berhenti begitu saja.
Sholawat itu terasa akrab di telinganya membangkitkan rindu yang menggelitik pada suatu masa, sesaat di pejamkannya mata, mengingat di mana dia pernah begitu sering mendengarnya.
Kamar Beni!
Ya, di kamar Beni anak sulungnya yang telah tiada, dari dalam kamar itu dia sering mendengar nada sholawat yang begitu merdu dan menyayat setiap menjelang subuh.
Kemudian, dia pernah pulang dini hari, sangat kesal dengan suara lantunan itu, dan di dapatinya, Diah sedang duduk dalam sujudnya di balut mukena putih bersih, melantunkan sholawat di bawah tempat tidur Beni yang tertidur lelap dalam sakitnya.
Dalam penasaran dia mengintip sang istri, yang begitu fasih mengucapkan ayat demi ayat, kemudian melakukan sholat tahajjud yang tak pernah sekalipun di lakukannya kecuali pada saat dia masih serumah dengan orangtuanya dan ibunya membangunkannya untuk sahur kemudian supaya dia tidak tidur kembali, ibunya melantunkan sholawat sebelum sholat.
Kenangan-kenangan itu berlompatan, membawa kaki Bram turun dari mobilnya, di mesjid yang benderang dalam subuh itu, Bram seperti mendengar suara Diah sedang melantunkan sholawat yang sama, begitu merdu, bening, mendayu dan menyayat hati.
Mata Bram tak sadar melihat ke jam tangannya, pukul tiga lewat, hari menjelang subuh.
Dengan badan gemetar seperti musafir yang telah lama tersesat, dia mendapati dirinya membersihkan tubuhnya di sebuah keran samping mesjid itu.
Entah apa yang menggerakkannya dengan telanjang kaki dan tubuh yang gentar, dia menapaki tangga mesjid itu, memasukinya seperti sedang mencari sesuatu.
Di tengah ruangan mesjid yang terang benderang itu, dia merasa lututnya goyah, dia tersungkur di sana tepat menghadap sebuah mihrab.
Tak ada Diah di sana, sholawat itu berasal dari rekaman yang di putar, sebelum seseorang menyuarakan adzan subuh.
Bram benar-benar tersungkur, dengan air mata uang mengalir deras tak lagi bisa di tahannya.
Rasa amarah, kesedihan, penyesalan dan ketakutan menyatu tertumpah bersamanya.
Sekarang, baru di sadarinya, betapa jauh langkahnya tersesat, betapa lama dia larut dalam dosa dan maksiat sehingga berharap menemukan Diah melantunkan sholawat di telinganyapun adalah hal yang mustahil.
"Ya...Allah...Yaaaa...Allaaaah..." Pertama kali setelah sekian lama dia menyebutkan kalimat itu, bibirnya gemetar memanggil-manggil Tuhan, yang terasa begitu jauh darinya.
Bukan karena Tuhan yang meninggalkannya tetapi dirinya sendiri yang meninggalkan Tuhan.
Entah kapan, seseorang telah berdiri di mihrab itu, menyuarakan adzan dengan suara yang lantang dan bening.
Dia hanya tahu, air matanya turun begitu saja,
Entah berapa lama dia tidak masuk ke dalam mesjid, entah berapa lama pula dia telah meninggalkah sholat, bahkan dia hampir lupa apa yang harus di lakukan, apa yang harus di ucapkan.
Bram tenggelam dalam perasaan haru dan rindu yang sangat sulit dia jelaskan, rasa malu yang tak bisa di jabarkan karena merasa dirinya begitu kotor untuk berada di tempat suci ini.
Sebuah tepukan lembut di bahunya, menyadarkan lamunannya.
"Selamat datang di rumah Allah, anakku..." Bapak tua yang sederhana itu dengan sebuah peci di kepala, sarungnya yang lusuh tapi bersih membalut tubuh cekingnya, menyapa Bram dengan suara lembut.
Tadi beliau berdiri di depan untuk mengumandangkan adzan, kini duduk di samping Bram dengan senyum ramah yang tulus.
"Ketika hati kita tak tenang, jiwa kita dalam kebimbangan, ke rumah Tuhanlah tempat yang tepat kita mengadu...kamu telah datang pada rumah yang tepat, nak." Lanjutnya dengan begitu tenangnya.
Bram menatap bapak itu dengan tatapan terluka,
"Aku adalah manusia yang kotor...Tuhan akan mengutukku..." Ucap Bram terbata-bata, jendak beranjak pergi, tetapi tangan kurus itu menahannya, sebenarnya begitu ringan dan ringkih tetapi membuat Bram seperti di tahan oleh batu besar.
"Setiap manusia di dunia, setiap anak Adam pasti berbuat salah dan tak ada yang bersih dari dosa, tetapi sebaik-baik mereka yang berbuat kesalahan adalah yang mau bertaubat." Bapak itu berkata perlahan tapi sanggup membuat Bram seperti terhipnotis mendengarnya.
"Tidak ada kata terlambat untuk memohon ampunan kepada Allah, mungkin saja matahari masih terbit esok hari, tapi belum tentu dengan kita, apakah masih di beri kesempatan untuk melihatnya lagi ataukah kehilangan waktu untuk itu, maka jika hatimu tergerak, bertaubatlah hari ini, sebelum semuanya menjadi terlambat."
Bram tertegun memandang pada bapak itu, tak lepas lagi. Seakan dia sedang bercerita dengan mata dan raut wajahnya, tentang keadaannya yang hancur lebur.
"Kamu menginginkan kedamaian? Kamu mencari dimana tempat terbaik untuk menenangkan setiap permasalahan, mari taruh keningmu di atas tanah, bicaralah kepada-Nya dan ungkapkan semua isi hatimu, menyesallah dengan sungguh-sungguh niatkan hati untuk bertaubat." Hati Bram yang keras itu seketika luluh saat rangkaian kalimat itu.
"Apakah...apakah Allah akan menerima taubatku? Aku telah berbuat maksiat bahkan hampir sepanjang hidupku?" Tanya Bram dalam suara parau, seperti anak kecil yang begitu putus asa dan ketakutan.
"Saat kita berkubang dalam kemaksiatan sesungguhnya kita sedang menggali jalan menuju penderitaan, hanya taubat yang mampu membatalkan perjalanan kita menuju itu.
Sekelam apapun masa lalu kita, sehitam apapun sejarah hidup kita, Allah tak pernah menolak setiap taubat kita, jangan pernah meragukan kebesaran hati Allah dalam memberikan pengampunan.
Taubat sejati bukan hanya berhenti dari berbuat maksiat, tetapi juga berbalik menuju kebaikan dan terus menjaga niat untuk tetap berada di jalan kebaikan itu..." Bapak tua itu menatap Bram dengan tatapan hangat.
"Bagaimana aku tahu jika Allah menerimaku...?"
"Imam Syafi'i pernah berkata, Kulihat dosa-dosaku seakan begitu besar. Tapi saat kusandingkan dengan ampunan-Mu, ternyata ampunan-Mu jauh lebih besar. Anakku, percayalah Allah itu maha pengampun dan pemaaf." Sahut bapak tua yang bahkan Bram sendiri tak tahu namanya itu.
Sejenak hening mencekam, Bram tergugu di depan si bapak berwajah lembut ini.
"Nak, mari kita sholat..." Ajaknya kemudian.
"Tapi..." Bram sejenak ragu.
"Kenapa? bukankah kamu seorang muslim?" Pertanyaan itu terasa menohok hati Bram.
Bram menganggukkan kepalanya lamat-lamat.
"Tapi...tapi aku telah lama meninggalkannya...aku...aku mungkin lupa." Bram menjawab dengan wajah merah, betapa malu dirinya mengucapkam kalimat itu.
Sejenak, bapak tua itu mengernyit dahi, sedikit heran tapi sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia sedang mempertanyakan Bram.
"Kamu sudah berwudhu, nak?" Tanya bapak itu dengan lembut.
"Sudah." Jawab Bram sambil mengangguk tegas.
"Nak, kamu hanya lupa, tetapi apa yang di ajarkan di waktu kecil sekalipun akan tersimpan di memorry kita, Aku akan membimbingmu untuk mengingatkanmu kembali pada indahnya sholat..."
Bram mengerjap matanya yang sembab, kepalanya terangguk seperti seorang anak kecil yang sedang menurut pada ayahnya.
Saat dia merasa terjebak dalam lingkaran neraka yang sangat hitam, suara Diah yang syahdu dalam sholawatnya seolah memanggilnya pulang pada jalan yang telah lama di tinggalkannya dan tangan bapak tua yang dikirim Tuhan ini menariknya perlahan.
(Adakah yang bisa menebak nasib seseorang? setiap taburan akan berbuah tuaian, setiap kesalahan tanpa taubat akan menjanjikan penderitaan berlipat-lipat. Manusia mungkin memang adalah sarang salah dan dosa, tapi selalu ada kesempatan untuk memperbaiki diri, pergunakanlah itu, sebelum sesal datang menghancurkan hidup☺️
Tuhan maha pengasih selalu membuka pintu taubat, hanya apakah kita ingin untuk menemukan jalannya? setiap manusia di beri hati untuk mengenal arah kepada penciftanya...kembali kepada niat, itulah yang membuat kita tahu di mana pintu itu berada)
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya....