Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 230 MEMUTUSKAN TALI DENDAM MASA LALU


"Mama..." Sarah membuka suara, terdengar lembut dan tegas, pada Mytha yang mendelik padanya.


"Pulanglah...sudah waktunya mama beristirahat di rumah, menjalani masa pensiun dengan tenang. Mama tidak perlu bekerja dan berfikir keras, dunia ini hanya sementara. Sally membutuhkan mama lebih dari siapapun sekarang..." Perlahan kalimat itu di ucapkan Sarah, penuh simpatik.


"Aku tidak bisa terima dengan ini semua...!" Mytha mengangkat tangannya, wajahnya yang memerah itu begitu marah.


"Mama, ini ku lakukan untuk menyelamatkan perusahaan yang telah papa rintis dengan susah payah. Bukan karena mama tak berhak berada di sini, tetapi mama bukan orang yang tepat mengelola dunia pekerjaan yang rumit ini. Berhentilah dari kebiasaan mama bertaruh di meja judi karena tak ada orang yang benar-benar bisa kaya tanpa bekerja keras. Berjudi hanya menjual mimpi menunggu waktu kekalahan menjemput, tanpa mama sadari kemudian...kemudian semuanya tak bersisa lagi." kata-kata Sarah itu terdengar datar tanpa emosi.


"Siapa kamu Sarah? Siapa kamu yang berhak menasehatiku?" Mytha menggeram.


"Aku adalah anakmu, ma...seorang anakpun berhak menjadi pengingat jika orangtuanya salah. Meski mama tak pernah menganggapku anak, tak sekalipun aku melupakan bahwa mama lah yang telah mengijinkan aku dirawat di dunia ini. Terlepas dari apapun motif di balik itu. Mama adalah orang satu-satunya di dunia yang bisa kupanggil mama, meskipun kita tak pernah dekat dan kadang silang pendapat, meski kadang aku marah dan kecewa pada mama, tapi aku tak pernah bisa membenci mama." Begitu lembut Sarah berbicara, matanya yang cerah itu berbinar hangat.


"Aku...aku tak pernah menganggapmu anak Sarah, jangan terlalu senang...! Aku membesarkanmu hanya demi membalaskan semua dendamku pada ayahmu, Winarta! Aku memungutmu tanpa kasih sayang sama sekali, jangan pernah bermimpi kalau aku adalah ibumu! Ibumu telah mati saat melahirkanmu!!!" Mytha berteriak seperti orang kerasukan, tangannya teracung-acung penuh dengan kemurkaan. Tapi, matanya menangis, air matanya tumpah ketika mengucapkan semua nada kebencian itu.


Sarah tergugu, kakinya terpaku. Matanya yang hangat itu tak nampak mendingin ataupun marah ketika mendengar semua kalimat yang meluncur dari mulut Mytha.


Ya, Sarah telah kenyang dengan semua penolakan, Sarah telah terbiasa dengan kalimat-kalimat yang menyakitkan telinganya, air matanya tak lagi mudah luruh hanya karena sumpah serapah. Sarah adalah perempuan tegar yang di tempa dari banyak kesedihan dan kekecewaan, tak ada lagi yang bisa mempengaruhinya.


"Lihatlah keadaan mama sekarang...kerutan-kerutan di wajah mama sudah nampak seperti coretan, mama bukan orang yang ditakdirkan mampu melakukan pekerjaan keras dan berat seperti ini...dan...dan... mungkin pesta-pesta yang berlebihan itu juga membuat mama kelelahan...mama perlu istirahat dan merawat diri mama dengan baik. Berdo'a dan rajin ke gereja mungkin bisa memberikan mama ketenangan." Sarah terus bicara dengan penuh keprihatinan, tak perduli mata nyalang Mytha yang tak terima perkataannya.


"Berhentilah!!! Berhentilah bicara, Sarah!!!" Mytha menutup telinganya dengan kedua tangannya, airmatanya turun deras, entah karena alasan apa, tapi sedikitpun dia tak mau menurunkan keegoisan dan keangkuhan wajahnya.


"Mama yang seharusnya berhenti. Tak ada gunanya terus-terusan menyiksa diri dengan kebencian dan menyakiti hati dengan memelihara dendam. Perasaan dendam yang mama anggap benar karena kekecewaan mama terhadap keinginan mama yang tak terpenuhi, tak mama sadari telah menyakiti banyak orang selama ini, bahkan mama telah mengorbankan keluarga dan kebahagiaan mama demi ambisi mama yang keliru. Papa, Sally, ayah dan aku...kami adalah korban yang harus menanggung kehancuran dan kesakitan karena sakit hati mama yang sesungguhnya sama sekali tak beralasan. Mamalah yang harus berhenti...sebelum segala sesuatunya tak terselamatkan lagi." Air muka Sarah terlihat begitu keras dalam ketenangannya. Sarah telah sampai pada titik penerimaan diri yang tertinggi, ketika luka dan sakit hati tak lagi membuatnya mendendam. Dia telah memaafkan orang-orang yang menyakitinya dengan caranya sendiri.


"Aku membencimu Sarah, seperti aku membenci Winarta, seperti aku membenci ibumu yang telah mati itu, seperti...seperti..." Kata-kata Mytha yang berapi-api mengumbar rasa benci itu mengambang seperti orang kebingungan, bahkan dirinya tak bisa menyelami kebencian yang di ucapkannya sendiri.


"Sarah...aku bukan mamamu...aku tak punya anak sepertimu...aku tak pernah menginginkan kamu." bibir Mytha bergetar, air matanya tak putus keluar.


"Apapun yang mama katakan, sesungguhnya aku tak pernah kehilangan rasa hormatku pada mama. Pulanglah, ma...aku memaafkan semua yang telah terjadi seperti halnya aku minta maaf dan ampunan dari mama karena kekurangan dan ketidakmampuanku sebagai anak." Sarah menautkan kedua tangannya di depan dada seperti meminta sebuah permohonan.


"Dan...aku tetap akan menunjukkan baktiku pada mama sebagai anak yang memang berkewajiban merawat orangtuanya, rumah warisan papa yang ditinggali mama sekarang, aku tahu telah digadaikan mama. Rumah itu telah kutebus, jadi mama jangan mencemaskan apapun, itu adalah rumah mama...mama akan tetap tinggal di sana sampai kapanpun. Semua biaya rumah itu, kebutuhan mama, sampai gaji para asisten rumah tangga, aku akan membayarnya setiap bulan.


Mama hanya perlu tinggal di dalamnya dengan tenang. Menghabiskan masa tua mama dengan tenang dan bahagia..."


Seulas senyum manis terulir di bibir Sarah, dia mengucapkan kalimat itu dengan tulus meski mata Mytha tak berkedip padanya dengan mulut yang setengah terbuka.


"Aku pamit, ma...jika mama perlu bantuan untuk memindahkan barang-barang pribadi mama dari kantor bisa hubungi Dea atau Rian, mereka standbye di kantor hari ini. Jangan lupa makan siang, ma. Jaga kesehatan. Sampai bertemu lagi, kalau ada waktu senggang aku akan mengajak suamiku dan Rae menjenguk mama." Sarah membungkukkan badannya dengan penuh rasa hormat lalu berbalik perlahan untuk keluar dari ruangan itu, meninggalkan Mytha yang terdiam tanpa bisa berkata-kata.


Bagaimanapun dia menyatakan kebenciannya pada Sarah tetapi ketika Sarah membalasnya dengan lembut dan tanpa kemarahan, Mytha sungguh tak bisa berbuat apa-apa.


Mytha terduduk di kursinya, tubuhnya gemetaran, mulutnya komat kamit seolah ingin mengatakan sesuatu tapi tak ada kalimat yang keluar dari sana. Bahkan sumpah serapahpun tak bisa dikeluarkannya. Hanya air mata yang membanjiri pipinya sungguh di luar kendalinya.



(Tak ada yang baik dihasilkan dari sebuah dendam...Kejahatan yang di balas dengan kebaikan, adakah yang lebih tinggi dari itu...? rasa benci yang di balas kasih sayang, adakah yang lebih mulia dari itu? 🙏)


...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya....