Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 45 BUKAN MIMPI


Sarah terbangun ketika matahari dari atas atap kaca langsung menuju matanya.


Refleks matanya memicing dan meletakkan punggung tangannya menghalangi matanya.


Raka bergerak sedikit, tapi tampaknya dia terlelap. Wajah tampannya tampak segar merona. Seperti orang yang baru saja mendapatkan apa yang dia inginkan.


Badan Sarah masih terasa pegal luar biasa, membuatnya enggan bergerak. Raka telah membuatnya hampir-hampir tak punya waktu memejamkan mata.


Sarah menyangga kepalanya dengan telapak tangan dan berbaring miring, tubuh mereka berdua hanya di tutupi pakaian dalam.


Senyumnya mengambang melihat suaminya terlelap dengan begitu nyamannya.


Sepanjang malam, dia membuat Sarah kewalahan. Si dingin yang sok ini ternyata lumayan perkasa saat dibakar gairah. Dulu, dia berpikir mungkin saja karena dia patah hati sampai tak punya rasa pada perempuan, melihat Sarahpun dia sama sekali tak tertarik.


Tapi, malam pertama mereka yang benar-benar luar biasa itu membuat pendapat sepihak Sarah itu terbantahkan.


Raka benar-benar sempurna!


Tapi perutnya yang keroncongan membuatnya merasa harus segera turun dari tempat yang menyenangkan itu, terlalu lama di sini bisa saja membuatnya tak bisa kemana-mana.


"Hey..."Raka membuka matanya dan menyentuh pipi Sarah dengan lembut, mengejutkan Sarah yang masih memandang wajah Raka.


"Tidak perlu mengagumiku seperti itu..."suara berat yang mengantuk itu membuat Sarah tersipu malu.


"Laki-laki tampan di sebelahmu ini suami aslimu...bukan suami pura-pura lagi."


"Sudah bangun?"Tanya Sarah dengan salah tingkah, berusaha mengalihkan pembicaraan Raka yang seperti orang mabuk.


"Masih tidur..."Jawab Raka pendek, lalu menarik pinggang Sarah merapat.


"Aku mau memeluk istriku ini, sekali lagi, memastikan semuanya bukan mimpi."Lanjutnya lagi dengan raut senang.


"Aku harus bangun. Membuatkan sarapan untuk kita."Kata Sarah manja, meskipun dia tak menolak sama sekali ketika tubuhnya di peluk Raka lagi.


"Aku tidak lapar. Melihatmu saja rasanya sudah kenyang." Raka tersenyum sendiri, sambil memainkan anak rambut Sarah yang jatuh di dahinya.


Mereka berdua berbaring saling berhadapan, saling memandang begitu dekat. Sarah tersenyum kecil, pertama kali dirinya begitu dekat dengan Raka bertukar tatap begitu lama dan berbicara.


"Sayang, aku jadi ingat gadis galak yang senyumnya paling mahal dulu. Ternyata kalau dia tersenyum, sangat cantik."Telunjuk Raka memencet hidung bangir Sarah.


"Gombal!"Sarah menyahut, bibirnya dimanyunkan begitu rupa.


"Aku serius, kamu memang cantik, sayang. Sayangnya, muka galakmu itu kadang membuatmu seperti nenek-nenek pemarah." Raka tergelak.


Disambut sebuah cubitan di perutnya.


"Awas kalau bilang aku nenek-nenek pemarah lagi, aku pulang besok."


"Lho, urusan bisnismu bagaimana kalau pulang cepat-cepat."


"Cancel."


"Masak bisa cancel-cancel sembarangan?"


"Biarin." Sarah merengut, pura-pura ngambek.


"Atau jangan-jangan kamu datang ke Leiden hanya untuk berurusan dengan suamimu ini?"


Raka mengedipkan matanya.


Sarah tentu saja jadi salah tingkah, tebakan itu sungguh menohoknya.


Dengan wajah memerah, Sarah berusaha membebaskan diri dari pelukan Raka tapi tangan Raka malah semakin kuat mengait pinggangnya.


"Aku akan senang, jika kamu hanya datang untukku, bukan untuk urusan apa-apa."Raka mendaratkan sebuah ciuman di dahi Sarah.


"Aku tak pernah menyangka bisa jatuh cinta padamu..."Raka terkekeh, merasa lucu dengan keadaan mereka berdua.


Tiba-tiba HP Raka berbunyi. Raka meraihnya dari meja di sebelah tempat tidur.


"Mama ini, pagi-pagi sudah VC"


Sarah mendengarnya menjadi kelabakan, badan mereka berdua setengah telanjang, bagaimana mungkin menerima video call dari mama.


Ketika Sarah hendak melompat dari tempat tidur, Raka menariknya. Membawanya kembali ke dalam pelukannya dan menarik selimut tinggi-tinggi.


"Oh, mama mengganggu ya...?"Senyum mama merekah di sana.


"Iya, mama sedang mengganggu dua orang yang berjuang memberikan cucu baru untuk mama." Sahut Raka, nyengir.


"Serius ini? mama mau dikasih cucu?"


"Seriuslah...masa bohongan, tanya saja sama menantu mama ini."


Sarah benar-benar malu mendengar celotehan Raka.


"Sayang, Raka menjagamu dengan baik kan?"Mama bertanya dengan wajah sumringah. Sarah menarik selimut sampai batas lehernya, kepalanya mengangguk kecil, wajahnya memerah seperti kepiting rebus.


"Mama dari kemarin khawatir Raka tidak menjemputmu dari Amsterdam."


"Ya, ma...hampir saja dia diculik kalau aku terlambat. Untung mama kasih tahu, dia baru pertama kali ke sini. Menantu mama ini memang keras kepala."


Mata Sarah melotot kepada Raka, protes.


"Sayang, mama senang sekali melihat kalian berdua."Mama tertawa di sana, wajahnya bahagia.


"Baiklah, kalian lanjutkan saja misi membuat cucu untuk mama. Nanti mama telpon lagi. Bye sayang"


"Bye mama."


Mama menghilang dari layar HP, telpon terputus. Sarah melotot kepada Raka.


"Kenapa?"Tanya Raka tanpa dosa.


"Tidak harus kan ngomong begitu sama mama?"


"Ngomong apa?"


"Soal bikin cucu..."


"Memangnya kita tidak sedang bikin cucu?"


"Memangnya bikin cucu cuma satu malam?"


"Berarti kita harus sering melakukannya biar cepat jadi cucunya."


Cubitan kecil mendarat lagi di perut Raka.


Dengan wajah merah padam Sarah keluar dari dalam selimut dan beranjak turun.


Diambilnya dress tidurnya yang tergeletak di lantai, lalu mengenakan di bawah pandangan Raka yang tak rela.


"Sayang..."Raka berujar dengan suara protes.


"Mau bikin cucu juga perlu tenaga. Aku mau buatkan sarapan dulu." Sarah membuka pintu dan menuruni tangga tanpa menoleh lagi.


Raka tersenyum sendiri, dan kembali membaringkan tubuhnya, meletakkan punggung tangannya di dahi. Menghayalkan semua yang terjadi. Rasanya seperti mimpi.


Dia tak menyangka gadis dingin yang menjaga jarak itu menjadi begitu berani dan berterus terang.


Dia sendiri kelimpungan, memikirkan bagaimana caranya jujur tentang isi hatinya kepada Sarah tapi Tuhan sedang berpihak kepadanya, segala sesuatu sudah di mudahkan. Dia tidak perlu bersusah payah untuk merancang skenario sulit untuk meluruskan segalanya, Sarah menyerahkan dirinya kepada Raka.


Cinta memang aneh, sangat-sangat aneh.


Dia dulu mengira, dia cinta mati kepada Sally, tapi ternyata perasaan kepada Sally sungguh berbeda sensasinya dengan perasaannya kepada Sarah.


Dia menyukai Sally karena sifat manjanya, merasa dirinya penting karena gadis itu banyak menggantungkan diri kepada Raka.


Ternyata kepada Sarah, dia tidak hanya mempunyai perasaan suka tapi juga penasaran yang luar biasa.


Dia begitu mandiri bahkan terkesan memaksakan diri untuk menjadi dewasa, Raka hampir tak punya tempat untuk membuktikan diri di depan Sarah.


Terlalu gengsi ternyata hampir membuat mereka berdua kehilangan momen untuk saling mengakui bahwa mereka telah jatuh cinta.


...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...


...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...


...Biar author tambah rajin UP...