
"Ma, pa...aku ingin mengatakan sesuatu, tentang tujuanku membawa Diah bertemu dengan papa dan mama malam ini..." Kata Doddy sambil mengatur duduknya, sementara Diah mendadak tegang melihat Doddy terlihat begitu serius.
Mama dan Papa Doddy saling bertatapan.
"Aku ingin menikahi Diah, jika papa dan mama berkenan memberi restu..."
Pernyataan yang tanpa basa basi itu membuat wajah Diah merah merona tak kalah terkejutnya dengan wajah Tuan dan nyonya Ferdian.
Sesaat suasana di sergap hening hanya mereka saling landang, sementara Diah menunduk tak berani berbicara sepatah katapun.
"Menikah?" Akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut papa Doddy.
"Ya, aku ingin menikahi Diah." Jawab Doddy tanpa keraguan sedikitpun.
"Papa kira, perkenalan ini tidak seserius itu." Papa Doddy menegakkan badannya di kursi, wajah itu berubah tidak lagi santai.
"Sebelumnya kamu hanya mengatakan, ingin mengenalkan seorang perempuan yang sedang dekat denganmu tapi tak menyinggung bahwa kalian ada rencana menikah." Lanjut papa Doddy, sekarang wajahnya memandang lurus pada Doddy.
"Aku serius dengan Diah, karena itu tak ada alasan aku menggantung hubungan kami lebih lama. Jadi ku fikir menghalalkan hubungan kami lebih cepat tentu lebih baik untuk menghindari fitnah." Sahut Doddy, dia melirik sesaat pada Diah yang berusaha mengangkat wajahnya dengan gemetaran, dia sekarang begitu tegangnya, bahkan telapak tangan Diah yang saling meremas di pangkuannya terasa sedingin es.
"Apakah kalian berdua sudah berbicara mengenai ini lebih dulu sebelum menyampaikan ini pada orangtua?" Tiba-tiba mama Doddy yang sedari tadi diam hanya mengamati, angkat bicara.
"Kami sudah membicarakannya..." Jawab Doddy, dia tahu orang yang mungkin perlu di lunakkan adalah ibunya, dia adalah orang yang sangat penuh pertimbangan dalam segala hal.
"Apakah kalian meyakininya? Karena berbicara tentang pernikahan itu adalah hal yang sangat sakral, yang di harapkan hanya terjadi satu kali seumur hidup."
Kalimat yang keluar dari bibir mama Doddy seolah tamparan yang sangat keras di wajah Diah. Meskipun di ucapkan dengan suara yang lembut tapi bagi orang yang perbah gagal dalam pernikahannya, Diah merasa seperti perkataan itu adalah pukulan untuknya menyadari dirinya.
"Aku meyakininya, kami merasa cocok satu sama lain..." Doddy tersenyum pada Diah yang benar-benar tegang di sebelahnya.
Diah menyadari, sesadar-sadarnya bahwa begitu sedikit persen dirinya di terima tetapi dia berada di sini sekarang seperti seseorang yang menghadapi ujian hanya karena mencoba berani dan percaya bahwa Doddy memperjuangkan cinta mereka. Doddy begitu meyakinkan, setidaknya dia telah berjuang untuk restu itu jikapun nanti akan patah hati. Dan andai mereka tidak berjodoh, dia telah berada bersama Doddy sampai akhir.
"Mama tidak hanya ingin mendengarkan keyakinan itu dari kamu, Fadjri. Tapi mama juga ingin mendengarnya dari Diah." Mama Doddy menyela ucapan Doddy dengan sikap tak kentara, saat Doddy sedang mengatur nafas ingin melanjutkan ucapannya.
"Aku...aku...semuanya terserah pada Doddy saja. Aku percaya pada keputusannya..." Diah menyahut dengan terbata-bata.
"Pernikahan bukan hanya soal berserah atau terserah. Pernikahan bukan hanya mendengarkan keputusan sepihak. Jangan menikah hanya kamu merasa cocok karena jika tak lagi cocok bisa saja menjadi alasan bubarnya sebuah pernikahan. Melihat landasan yang benar sebelum menikah menentukan pernikahanmu itu akan seberapa lama bisa bertahan. Pernikahan tak semata soal cinta atau perasaan karena itu bisa saja memudar bersama waktu tapi pernikahan juga soal keberanian memegang komitmen sampai akhir, soal kepercayaan dan juga kesetiaan." Mama Doddy mengerjapkan matanya sesaat dan menatap kepada dua orang yang duduk di depannya itu bergantian.
"Kami sudah sama-sama berfikir kalau menikah adalah hal yang benar untuk kami kami lakukan. Kami saling mencintai, dan itu sudah cukup untuk kami memulai ke jenjang yang lebih tinggi." Doddy begitu keukeh memberikan keyakinan pada orang tuanya.
"Fadjri, tujuan pernikahan bukanlah untuk berpikiran sama, melainkan untuk berpikir bersama. Jika kamu memaksakan orang memikirkan hal yang sama maka tak akan ada yang baik, karena itu hanya sisi arogansi saja. Karena itulah perlu cukup waktu untuk mempertimbangkan sebuah keputusan apalagi untuk sebuah pernikahan. Pernikahan bukan jenjang yang kebih tinggi jika itu adalah tahapan tetapi adalah level tertinggi dari suatu hubungan perempuan dan laki-laki." Ucap mama Doddy dengan suara lugas namun tetap terdengar bijak.
"Kami telah mengenal lama, ma. Sangat lama. Kami tidak perlu waktu lagi..."
"Seberapa lama kamu mengenalnya bukan tolak ukur seberapa besar kamu sanggup hidup bersamanya ke depan. Perasaan akan berubah-ubah jika kamu hanya mengandalkan waktu."
Doddy terdiam, menatap mamanya berusaha mencerna maksud dari sang ibu.
"Ibu bangga padamu, Fadjri, telah dengan berani berkata jujur tentang latar belakang Diah termasuk soal kegagalan rumah tangganya sebelum ini pada kami sebelum kamu membawanya dan mengenalkannya lebih jauh. Sebagai orangtua, kami merasa menjadi bagian terpenting dalam hidupmu di atas semua hal di dunia ini. Tetapi..." Mama Doddy menghela nafasnya sesaat, melirik pada suaminya yang diam tak bicara sepatah katapun.
"Maafkan mama jika harus mengatakan ini, mungkin akan sedikit tidak nyaman di telinga tapi mama dan papa percaya, kalian sudah sangat cukup dewasa untuk mengerti...karena kita memang harus saling terbuka sebelum benar-benar mengatakan it's okey. Please proceed." Mama Doddy menarik ujung kerudungnya, dia tampak sangat tenang saat dia berbicara.
"Kami sangat ingin tahu, seberapa berani kamu menikahi Diah dan warisan masa lalunya, seberapa bertanggungjawabnya kamu pada calon istrimu yang tidak hanya membawa dirinya tapi ada seorang anak yang bukan darah dagingmu yang akan memaksamu menjadi seorang ayah bahkan sebelum dirimu belajar menjadi ayah?"
(Mereka memang berjodoh satu sama lain, tapi untuk bertemu simpul yang sama, jalan tak selalu rata, seberapa besar cinta mereka membawa mereka untuk bisa bertemu satu kapal mahligai dalam pelayaran yang sama? Ikuti terus kisah cinta mereka yang penuh pembelajaran bagi dua insan yang berbeda status๐ ๐ Yang Othor janjikan hanya, mereka akan bahagia...๐ค๐ค๐ค)
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor๐ค i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis๐๐๐๐
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...