
Tidak sampai 15 menit, mobil Doddy berbelok menuju sebuah gedung hotel.
"Hah...kita kemana?" Diah gugup bukan alang kepalang, mukanya memucat seketika saat melihat tulisan besar di depannya, hotel p@r@gon.
Doddy tidak menyahut, dia sibuk menghubungi seseorang.
"Hallo, apakah sudah direservasi sesuai pesanku?" Tanyanya.
Entah jawaban apa dari orang yang di hubunginya, tetapi jawaban dari seberang membuat senyumnya mengembang.
"Okey, ini sudah hampir jam 6 sore kurasa sudah open, ya?" Doddy melirik jam pergelangan tangannya.
Sesaat kemudian Doddy mengakhiri panggilan telpon itu.
"Ayo...kita masuk ke dalam." Doddy membuka pintu mobil di sebelahnya, bersiap keluar ketika mobil mereka berhenti di parkiran hotel itu.
"Aku..." Diah menahan lengan Doddy dengan gemetar.
"Ya..." Doddy berbalik menghadap Diah, urung menurunkan kakinya.
"Aku tidak mau..."Diah menggigit bibirnya dengan wajah seperti remaja yang ketakutan.
"Hah..." Doddy nampak bingung sendiri dengan tingkah Diah.
"Aku tidak mau di ajak ke hotel. Meskipun aku perempuan yang sudah pernah menikah, aku tidak mau di bawa untuk..." Kalimat itu terputus, mata Diah melotot pada Doddy tanpa berkedip, dia sendiri bingung melanjutkan kata-kata yang pantas untuk memberikan penolakan yang jelas. Sejenak terlihat kilat kesal di mata Diah, merasa Doddy tiba-tiba bersikap kurang ajar padanya.
"Astagah." Doddy menepuk jidatnya, dengan senyum geli yang tak bisa di tahannya.
"Aku tidak pernah bermaksud seperti itu." Doddy menggaruk kepalanya sendiri bingung harus menjelaskan bagaimana. Dia bukan jenis pria yang suka banyak bicara dan kadang juga begitu absurd dalam menyampaikan maksudnya apalagi berkaitan dengan perempuan karena itulah dia mencoba dua kali berpacaran semasa kuliah, selalu berakhir bubar jalan.
Selain Doddy bukan tipe yang romantis, yang menambah parahnya, gadis yang ada di fikirannya hanya seorang remaja polos bernama Diah.
"Tapi, kamu membawaku masuk ke dalam hotel." Sahut Diah dengan ekspresi setengah mendelik.
"Aaaa...aku cuma mau membawamu ke rooftoopnya, bukan ke kamarnya..." Doddy si pria bujang high quality dan pewaris tunggal perusahaan itu sangat minim pengalaman soal perempuan, dia bingung sendiri menyadari kesalah pahaman itu memang karena komunikasinya yang tidak jelas dengan Diah.
Intinya dia ingin membuat surprise tetapi malah membuat Diah mengira dia ingin membawa Diah chek in di hotel.
"Rooftoop?"
"Iya, kita cuma ngobrol duduk di rooftoop...cuma itu."
"Oooh..." Wajah Diah langsung berubah, tersipu dengan tuduhannya sendiri, lalu berbalik menyembunyikan wajahnya yang merona itu sambil membuka pintu mobil, segera keluar.
"Kita lama tidak bertemu, jadi aku hanya ingin ngobrol." Doddy masih berusaha menjelaskan saat mereka berdua berjalan beriringan menuju pintu masuk lobby hotel itu, dia sendiri tak kurang malunya dengan kesalahpahaman yang terjadi antara mereka.
...***...
Diah terkesima ketika Doddy membawanya pada Cafe di atap lantai 21 itu, di sebuah sudut dengan sepasang kursi menghadap menghadap pemandangan kota yang begitu estetik di bawah langit senja bersemburat jingga, hampir gelap.
Di atas meja itu di tata vas berisikan bunga warna merah yang mencolok, terlihat romantis.
"Mari...duduklah..." Doddy dengan tergesa menarik salah satu kursi dan mempersilahkan Diah duduk dengan sikap sopan.
"Terimakasih..." Diah duduk dengan masih terpana, menatap ke arah langit.
Matahari di atas sudah hampir seluruhnya tenggelam di barat, menyisakan warna langit yang perlahan berubah temaram.
"Indah sekali." Diah terkagum-kagum pada pemandangan yang terhampar di depan matanya.
Diah tak bersuara hanya kepalanya mendonggak terpesona, betapa dia tak pernah melihat hal seperti ini, hidupnya disibukkan dengan semua keruwetan rumah tangganya, berkutat di dalam rumah bersama semua penderitaannya dan dalam setahun pasca perceraiaannya dia sibuk bekerja dan menata kehidupannya.
Dia sungguh tak tahu jika di luar dunia kecilnya ada pemandangan seindah ini.
Doddy diam-diam menatap wajah di sampingnya itu, tak bisa menjelaskan pada dirinya sendiri bagaimana dia terpesona pada wanita ini, dan menikmati keindahannya melebihi dia mengagumi sunset yang telah berlalu itu.
"Terimakasih sudah membawaku ke sini." Diah tiba-tiba menolehkan wajahnya, membuat Doddy gelagapan sendiri karena tertangkap basah sedang menatap Diah dengan begitu rupa.
Untunglah seorang pramusaji datang dan menanyakan pesanan mereka. Doddy bisa mengalihkan rasa malunya dengan berpura-pura sibuk melihat menu book.
Setelah memesan beberapa jenis makanan, mereka berdua kembali berpandangan.
"Apa kabarmu setahun ini?" Tanya Doddy kemudian memecah kecanggungan mereka berdua.
"Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?" Diah balik bertanya.
"Aku sangat baik." Jawab Doddy pendek. Obrolan canggung itu terasa kaku dan basi.
Hening menyergap mereka berdua beberapa waktu,
"Kemana saja kamu selama ini? Sepertinya kamu sibuk sekali, bahkan aku tak tahu kabarmu..." Diah akhirnya tak tahan untuk tidak mengucapkannya.
Doddy tertegun, matanya mengamati perempuan di depannya itu dengan seksama.
"Apakah...apakah kamu memikirkanku?" Tanya Doddy tiba-tiba, Diah tak menyangka Doddy menanyakan hal itu segera membuang muka ke arah langit yang mulai gelap. Lampu dari seantero kota di bawah mereka menyala, terang benderang.
Diah terdiam, pura-pura tak mendengar pertanyaan Doddy, dia tak punya kata untuk menjawabnya.
"Diah..." Doddy memanggil Diah dengan suara yang lembut.
"Ya..."
"Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Ya." Diah mengarahkan pandangannya kepada Doddy sehingga mereka bersitatap beberapa saat.
"Selama setahun ini, apakah kamu menemukan orang yang tepat untukmu?" Wajah Doddy berubah menjadi sangat serius.
"Maksudnya?" Diah mengernyit dahinya, mencoba memahami arah pembicaraan Doddy.
"Apakah...apakah kamu sudah mempunyai seseorang yang kamu sukai?" Suara Doddy seperti tercekat, sesungguhnya dia sangat gugup menanyakannya, tapi dia tahu, hal ini memang harus di tuntaskannya sekarang dari pada menyiksanya.
Diah terdiam sesaat, matanya tak berkedip menatap Doddy.
"Aku...aku belum memikirkan itu..." Jawab Diah, di sambut helaan nafas lega yang nyaris tak bisa di sembunyikan oleh Doddy.
"Aku bukan orang yang pandai berkata-kata...tapi aku ingin mengatakan sesuatu padamu..." Doddy dengan segenap keberaniannya memandangi Diah lekat-lekat, dia melawan kebekuan sikapnya sendiri demi menjadi berani.
Dengan tatapan yang tak beralih sedikitpun dari wajah Diah, Doddy menegakkan tubuhnya di kursi, jemarinya bertaut, bibirnya yang tipis itu terbuka perlahan,
"Saat aku berpisah dengan seseorang, kemudian aku menyadari bahwa aku sangat mencintainya...jika aku bertemu kembali dengannya di lain waktu setelah itu dan dia tak terikat pada siapapun lagi...aku mempercayai satu hal tentang takdir itu....berarti dia adalah jodohku."
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...