Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 41 BURONAN CINTA


"Kamu?" Sarah bengong di tempat tak tahu berbuat apa.


"Haiii..." tiba-tiba senyum si cantik bermata kebiruan ini mengembang.


Astaga...selera Raka ternyata tinggi sekali!


Perempuan ini lebih tinggi darinya, badannya berisi meskipun agak putih pucat. Tapi dia sungguh cantik, seperti gadis-gadis dari negeri dongeng.


Sarah masih terperanjat dengan pertemuan yang tak di sangka ini. Dia bingung sendiri karena tak bisa berbahasa belanda.


"Who are you looking for?" tanya Sarah agak gugup, berharap gadis ini mengerti bahasa inggris.


"Tidak perlu berbahasa inggris seperti itu, aku juga setengah indonesia, mami ku jawa asli. Aku bisa bahasa indonesia."Si gadis itu tanpa permisi langsung nyelonong masuk.


Kemudian dengan santainya duduk atas kursi ruang tamu lalu meletakkan dua buah buku besar di atas meja sambil tersenyum lebar.


"Sarah, ya?"Dia menebak sambil merentangkan dua tangannya di sandaran kursi.


Sarah menutup pintu dengan masih sedikit melongo, kejutan si setengah bule ini ternyata bisa berbahasa Indonesia, dia tadi sempat bingung sendiri harus ngomong apa.


"Ya..." Sarah menyahut lalu menutup pintu.


"Istrinya honey kan?"pertanyaan itu seketika membuat kepala Sarah pening, seenaknya gadis ini menyebut Raka honey di depannya. Rasanya ingin sekali di remasnya bibirnya yang berkilat sensual itu.


"Perkenalkan namaku Beatrix. Tapi orang-orang sering memanggilku dengan Bea." Dia berdiri sejenak dari duduknya dan menyodorkan tangannya dengan santai pada Sarah yang masih berdiri, tak tahu harus bagaimana di depan gadis itu.


Sarah menyambut dengan ragu tangan Beatrix.


Beatrix menggoyang tangannya dengan gerakan cepat dan agak kasar, lalu duduk kembali tanpa permisi.


"Oh, ya...Honey kemana? aku mengantarkan bukunya yang kupinjam kemarin. Katanya besok-besok saja dikembalikan di kampus, tapi kebetulan tadi lewat sini, sekalian ku kembalikan."Beatrixe mengoceh tanpa berhenti, tapi bukan itu yang membuat Sarah mangkel, panggilan honey darinya kepada Raka itu benar-benar membuat telinga Sarah panas.


"Dia keluar." Jawab Sarah pendek.


"Kemana dia, sok sibuk sekali? tadi seharian ku tunggu di kampus, tidak muncul-muncul." Sahut Beatrix dengan logat bulenya yang kentara.


Sarah tidak menjawab, tapi tidak juga ikut duduk. Dia berdiri mengawasi gadis yang baru datang ini tanpa ekspresi.


"Sarah, kamu benar-benar seperti yang di ceritakan Raka..."Beatrix tertawa kecil.


Sekarang, meskipun Sarah tidak suka dengan gadis ini, dia menjadi tertarik untuk berbicara padanya, walau hanya sekedar penasaran.


"Dia cerita apa tentang aku?"Pertanyaan Sarah begitu tajam, dia curiga Raka membicarakan hal-hal jelek tentang dirinya untuk menarik perhatian Beatrix. Laki-laki memang suka begitu kalau cari perhatian perempuan lain.


"Ayo, duduklah dulu. Aku tidak bisa bicara sambil mendongak padamu. Leherku sakit."Beatrix memanyunkan bibirnya itu pada Sarah.


Dengan enggan Sarah duduk di kursi dan melayangkan pandangan lurus sambil menunggu Beatrix melanjutkan kalimatnya.


"Honey bilang, istrinya itu pelit ngomong dan suka marah."Beatrix tertawa, tawanya menggema sampai seluruh ruangan.


Wajah Sarah memerah, tamunya ini sungguh tidak sopan, mentertawakan dirinya begitu rupa. Luar biasa Raka ini, benar-benar mahluk tak berperasaan, membuat dirinya jadi bahan gunjingan dengan pacar bulenya yang banyak bicara ini.


Meskipun Sarah pernah diam-diam berpacaran sebentar dengan Dion, dia tidak sekurang ajar itu, menjelek-jelekkan Raka di depan Dion.


"Tapi dia tidak bohong satu hal, istrinya memang cantik."Kelanjutan kalimat itu, seketika membuyarkan sedikit kekesalannya, setidaknya Sarah mengatakan hal baik dengan memujinya begitu di depan pacarnya ini.


"Dia tidak bilang kamu akan datang ke sini. Dia cuma sering cerita tentang kamu yang lucu, dia suka bikin kamu marah karena kalau kamu marah, matamu membesar dan menjadi tambah cantik."Beatrix tertawa lagi, sekarang Sarah bingung sendiri dengan pembicaraan Beatrix yang seperti orang mabuk itu.


Dia enteng saja menceritakan tentang semua yang mungkin dikatakan Raka tentang Sarah, sedikitpun tidak menunjukkan dia keberatan, tidak seperti seseorang yang cemburu dengan kehadiran Sarah.


"Bagaimana dengan rencana perceraian kalian, lancarkan?"


Oh, my God!


Bukan pertanyaan yang keluar dari mulut Beatrix yang membuatnya seperti di sambar geledek tapi memikirkan Raka yang benar-benar kelewatan. Meskipun dia dan Raka hanya menjalani kehidupan rumah tangga yang hanya pura-pura, tidak perlu juga dia mengumbar hal sedetail itu pada orang lain, meskipun itu pada pacarnya ini.


"Honeymu itu bilang apa lagi? Apa dia tidak bilang juga aku nenek lampir?"Sarah bertanya dengan jengkel, andai dia dianggap istri yang sesungguhnya oleh Raka, sudah di jambaknya perempuan ini karena merasa kesal.


"Am I'nt misjudging? you jealous?" tiba-tiba dengan wajah terheran-heran, Beatrix melotot kepada Sarah. Wajah Sarah seketika merah padam mendengar ucapan Beatrix.


"Jelaslah aku cemburu, aku kan istrinya! Hana hani dari tadi! Kamu kira kupingku ini panci"Sarah sekarang tidak bisa menahan diri, dia mengomel tak jelas. Pertama kali dalam hidup Sarah merasa dirinya begitu kanak-kanak hanya karena begitu cemburu.


Ini sama sekali bukan mencerminkan kepribadiannya yang tenang dalam bersikap menghadapi apapun.


Ternyata cinta begitu ajaib, bisa membuat orang tak bisa mengendalikan dirinya.


Dua orang bisa membuatnya kesal sekali yang pertama Raka dan yang kedua gadis ini!


"Wow, surprise!"Beatrix ngakak dengan kurang ajarnya di depan Sarah.


"Kalian berdua memang pasangan yang aneh! katanya menikah terpaksa, katanya tidak saling cinta, katanya mau segera bercerai. Tapi kok sama-sama punya perasaan. Yang satunya selalu ngomongin kamu seperti orang gila setiap hari kalau ketemu, yang satunya bisa pasang wajah jutek begitu karena cemburu!" Beatrix tertawa lagi.


Sekarang Sarah bertambah bingung dengan Beatrix ini.


Si konyol yang seenaknya begitu mesra di depannya dengan Raka di layar ponsel kemarin dan mulutnya yang menyebalkan dengan menyebut Raka honey-honey itu, sebenarnya waras tidak sih?


"Stt...Sarah, kamu harus tahu, Raka bayar mahal lho supaya berpura-pura jadi pacarnya di depan mamanya. Biar mamanya tidak nyalahin kamu jika kalian bercerai nanti.


Kalau kalian sama-sama saling suka, rugi dong dia bayarin aku." Beatrix mendoyongkan badan seksinya itu ke depan.


Sarah melongo seperti orang bodoh mendengar ucapan Beatrix itu. Rasanya dia ingin mendengar kembali pengakuan itu untuk memastikan apa yang di dengarnya.


"Kamu bukan honey nya Raka?"Sarah bertanya dengan bingung.


'Ya...aku honey nya Raka, dia panggil aku begitu dari dulu, kakakku Willem teman dekatnya Raka dari sekolah di Jerman. Dia suka panggil aku honey, karena aku seperti lebah yang berisik, katanya. Aku juga suka panggil dia honey karena dia manis, So sweet kan?" Beatrix begitu sumringah.


"Kamu bukan pacarnya Raka?"Sarah melotot pada Beatrix.


"Pacarnya lah...! Tapi di depan mamanya saja..."


gigi Beatrix yang putih bersih itu berbaris rapi menunjukkan dirinya ketika sipemiliknya tertawa lagi.


"Oh, iya...Raka benar-benar menyukaimu tapi dia sepertinya takut kamu tidak menyukainya. Sebenarnya, Raka itu buronan..."Beatrix mendekatkan wajahnya ke arah Sarah setengah berbisik. Mata Beatrix mengedip nakal.


"Buronan?"Sarah menyahut dengan mulut setengah terbuka


"Buronan dari cintanya...!" Beatrix ngakak lagi ketika melihat perubahan pias wajah Sarah, begitu senang telah bisa mempermainkan gadis itu.


Sekarang, Sarah terhenyak di tempat duduknya, jantungnya berdegup tak karuan, dia bahagia sekaligus salah tingkah, dia tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata, bagaimana perasaannya saat ini.


...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...


...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...


...Biar author tambah rajin UP...