Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 208 MISI PENYELAMATAN


Sarah dan Raka berdiri menyambut Doddy dengan raut wajah yang bersahabat. mereka sudah bertemu di tempat ini ketiga kalinya untuk urusan strategi mengambil alih semua saham yang kini di pegang oleh Mytha.


Sarah menyebutkannya sebagi "misi penyelamatan".


Ya, kenapa hal ini disebut dengan misi penyelamatan, karena Sarah hanya ingin mengamankan aset dan saham yang di wariskan oleh papanya.


Di tangan mama angkatnya itu, bahkan kurang dari setengah tahun, dia sudah hampir kehilangan segalanya.


Sungguh miris Sarah memikirkan semua perjuangan papanya sekaligus satu-satunya kakak ayah kandungnya, pak Wijaya untuk sampai pada titik ini setelah 30 tahun jerih payahnya merintis usaha ini sehingga sekarang menjadi perusahaan besar dan bonafid yang di segani dalam dunia real estate dan perhotelan itu.


Sangat disayangkan, mama angkatnya itu bahkan tak tahu bagaimana mengelolanya.


Yang dia tahu hanyalah saham yang tidak kelihatan wujud nyatanya itu adalah suatu yang bisa dihargai dengan uang, tanpa tahu bagaimana membuatnya menghasilkan uang.


Dan dalam beberapa bulan ini, dia mempermainkan sebagian dari nyawa perusahaan itu dengan semena-mena, untung saja Rudiath-Sarah dan Raka mampu mengcover semua kekacauan di dalam kepemilikan saham itu sehingga tidak sampai mempengaruhi kepercayaan klien dan pegawai yang menggantung banyak kehidupan di dalam usaha itu.


Raka dan Sarah adalah otak di balik semua permainan yang tak disadari oleh Mytha, pemilik saham yang tak mengerti apa-apa itu, bahkan dia di ragukan mengerti tentang apa yang diserahkan padanya oleh mantan suaminya yang patah hati itu.


"Duduklah..." Raka berucap ramah, meski mereka hanya bertemu beberapa kali saja, Raka yang pandai bergaul itu cepat menjadi akrab dengan Doddy.


"Terimakasih, Pak Raka." Doddy menyahut, sekarang dia sudah biasa memanggil Raka dengan pak, meskipun pada Sarah dia mohon ijin tak bisa menyematkan panggilan ibu di sepannya, mereka adalah teman masa kecil, rasanya sangat canggung memanggil Sarah dengan ibu.


Mata Doddy mencuri pandang sesaat pada Diah yang duduk tepat di samping Sarah, di seberang kursi yang kini di tempatinya.


Diah berada di kursi itu karena mereka berdua beberapa saat yang lalu mendiskusikan beberapa hal tentang pergeseran jadwal Sarah yang meminta durasi waktunya di kantor di kurangi jika tidak ada yang penting dan mendesak.


Dalam seminggu ini, dia ingin berada berada di rumah saja, mengurus Rae dan mengunjungi butiknya yang hampir beberapa minggu ini tidak di urusnya.


Diah sengaja di bawa oleh sarah malam itu untuk mendampinginya membicarakan banyak hal terkait pemilihan urusan yang mana yang memang harus dia yang menangani, yang mana yang bisa langsung di handel oleh Raka.


sarah melirik pada Diah yang tertunduk dengan wajah merah jambu di sampingnya.


"Diah..." sarah menyenggol siku Diah.


"Ya, bu." Diah tergagap menyahut.


"Duduklah kembali ke tempatmu, kita sebentar lagi akan makan." Ucap Sarah setengah berbisik.


Diah tercenung sejenak menatap bosnya itu, wajahnya kian memerah saja, dia tak beranjak dari tempatnya.


"Kamu kenapa? kenapa wajahmu merah begitu? kamu sedang demam?" Sarah mengernyitkan dahinya, jelas pias penasaran di matanya atas sikap Diah.


"Oh...maaf..." Diah segera berdiri, beranjak dari sebelah sarah, dengan mengalihkan pandangannya dari Doddy, dia mengambil tempat duduk disebelah laki-laki itu, tempat yang semuala ditempatinya sebelum Doddy tiba.


"Kamu kenapa?" Sarah bertanya lagi, membuat Diah menggigit bibirnya sambil menunduk.


"Saya tidak apa-apa, bu." Diah menyahut tersipu.


"Astaga, bu Sarah ini...kenapa dia harus bertanya begitu?" Diah menunduk dengan semburat merah yang semakin jelas di wajah mulusnya itu.


"Bagaimana dengan pertemuanmu dengan bu Mytha tadi?"tanya Raka kemudian mengalihkan kecanggungan yang aneh antara dua orang itu.


"Sepertinya aku sudah berhasil meyakinkan bu Mytha untuk menjual sahamnya padaku." Jawab Doddy lugas.


"Dia tidak mencurigaimu?" Sarah tersenyum puas mendengar apa yang dikatakan oleh Doddy.


"Sepertinya dia tidak curiga, hanya Sally mungkin akan keberatan dengan tindakan mamanya itu, itu jelas tersirat dari wajahnya tadi."


"Aku tidak kuatir tentang Sally, dia tak akan bisa menang berdebat dengan mama kalau soal kepentingan mama. Dia akan menurut saja nanti, asalkan maam tidak ikut campur urusannya." Sarah menghela nafasnya.


"Aku kemarin sempat ragu dengan skenario yang ditulis oleh Sarah dalam surat itu, bagaimana mungkin kita membuat satu kesempatan untuk Sally maju ke forum dewan direksi, padahal lebih mudah jika Sally sama sekali tidak diberi panggung untuk unjuk gigi." Doddy berucap panjang


"Kemudian aku mengerti dari maksud semua ini setelah melihat bagaimana sebenarnya kemampuan Sally." Doddy menggedikkan bahunya.


"Aku rasa kita sebenarnya tidak terlalu jahat dalam hal ini. kita telah cukup adil pada mereka." Raka menyeringai.


"Bertahan selama ini dengan membiarkan mereka berdua membuat kerusuhan di dalam perusahaan sudah membuatku nyaris tak bisa meyakinkan papa bahwa kita bisa mengatasi mereka berdua dengan cara ini. Papa hampir saja tidak mau mengikuti semua rencana ini, karena menurutnya kita bermain terlalu jauh dalam mempertaruhkan perusahaan. Untunglah Sarah sangat mengerti bagaimana sifat mereka berdua." Raka menarik sudut bibirnya sambil melirik pada Sarah hanya tersenyum kecil.


"Tentu saja kami sangat berterimakasih atas pengertian dan kerjasama anda dan pak Ferdian dalam hal ini ang telah cukup berbesar hati, prihatin pada keadaan ini." Lanjut Raka dengan raut penuh rasa terimakasih.


"Papa adalah teman baik pak Wijaya, dia juga tak bahagia jika melihat perusahaan yang di banggakan oleh pak Wijaya dari dulu ini, menjadi berantakan kerena keserakahan mantan istrinya." Sahut Doddy dengan rendah hati.


"Tapi, andai saja, anda benar-benar tertarik untuk bergabung dengan perusahaan ini. kami mungkin bisa mempertimbangkannya, mengingat jasa dan ketulusan anda dalam membantu kami sampai sejauh ini."


"Pak Raka, aku bukan orang yang mahir dalam dunia real estate, bisnis ini benar-benar di luar kemampuanku.


Aku sudah cukup puas dan sibuk dengan pabrik-pabrik ayahku, jika di tambah dengan bisnis ini, takutnya semua malah menjadi berantakan." Tolak Doddy secara halus.


"Aku tetap pada komitmen awal, membantu Sarah dan pak Raka menyelamatkan saham ini supaya kembali kepada keluarga Wijaya dan Rudiath. Sebagai perantara aku cukup puas, akhirnya mempunyai hubungan baik dengan pak Raka, yang mungkin di kemudian hari siapa tahu aku kesulitan sesuatu dan meminta bantuan juga. Bukankah, pertemanan tidak harus mengambil keuntungan dari apa yang kita perbuat tetapi saling berusaha tetap bediri tegak dalam kesusahan." Doddy tersenyum, mengakhiri kalimat panjangnya.


Diah yang menunduk disebelahnya tak bisa menolak kekaguman dengan kebesaran hati laki-laki yang berada di sampingnya itu.


Doddy bahkan tak ingin mengambil keuntungan dari apa yang terjadi. Dia tetap yakin, memiliki teman yang baik lebih dari memiliki relasi bisnis.



(Memelihara pertemanan kadang lebih baik dari hanya memikirkan keuntungan semata. Karena, Sahabat bukan tentang siapa yang telah lama kamu kenal, tapi tentang siapa yang menghampiri hidupmu dan tidak pernah meninggalkanmu dalam situasi dan kondisi seburuk apa pun🙏☺️


Kehidupan ini bagai papan catur, jika tak memiliki strategi tentu akan kalah dalam menghadapi berbagai rintangan. Siapa tak mempunyai kawan tentu sulit menemukan jalan keluar. Jadi, memelihara pertemanan bukan sekedar karena kita perlu tetapi itu adalah aset di kemudian hari, yang padanya kita bisa berharap menghadapi kesulitan tidak sendiri🤗


Akak sudah double UP ya hari ini, meskipun sudah tinggi malam☺️ gak sabar ketemu para readers kesayangan🤭


Jangan Lupa VOTEnya ya, di senin pagi yang berbahagia, Mak othor akan kirimkan Part selanjutnya yang sedikit bikin baper😅)


...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya.....