
Raka memeluk Sarah yang masih menangis, badannya gemetar meskipun tanpa bersuara.
"Sayang, tidak apa-apa, ada aku..." Raka memeluknya sambil berjalan masuk ke dalam kamar hotel.
Sarah tidak menyahut, semua kalimat-kalimat yang di lontarkan oleh Sally seperti berhamburan di kepalanya, menjadi belati yang mengiris-ngiris hatinya.
Perasaannya seperti tersayat-sayat.
"Sayang..." Raka mendudukkan istrinya di sofa dan mengangkat dagu sang istri, menatap mata yang tergenang buliran bening itu.
"Jangan masukkan ke hati semua ucapan Sally, dia memang brengsek." Raka menghapus air mata Sarah yang membuat wajah perempuan yang di kasihinya menjadi sembab.
"Andai aku bisa memutar kembali, waktu yang telah lewat...aku juga tidak ingin terlahir seperti ini." Bibir Sarah bergetar, matanya mengerjap sesaat menumpahkan air mata yang menggantung di sana.
"Sayang, aku juga tak ingin melihatmu menjadi begini. Apa yang kamu sesali? Kamu menyesal menikah denganku?" Raka menepis anak rambut Sarah yang jatuh di dahinya. Menutupi pipinya yang basah oleh air mata.
"Bukan itu..." Sarah menggigit bibirnya menahan isak.
"Kamu adalah hal terbaik yang kupunya dalam hidupku. Hanya saja...aku merasa begitu tak di inginkan oleh keluargaku sekarang." Sarah tertunduk, kedua telapak tangannya segera menutupi wajahnya.
"Sayang, dengarkan aku..." Raka menarik tubuh Sarah ke dadanya, merengkuhnya dengan kuat sambil menepuk-nepuk punggung istrinya itu.
"Aku akan selalu menginginkanmu, aku akan selalu mencintaimu...aku lah yang akan menjagamu sepanjang hidupmu.
Jika ada yang tak bisa mencintaimu dengan benar, biarlah aku yang menggantikan semua tempat di mana dirimu merasa kosong." Ucap Raka dengan suara hangat.
"Selama aku hidup, aku yang tak akan membiarkanmu merasa tidak di inginkankan lagi." Raka mencium puncak kepala Sarah dengan lembut.
"Aku telah di buang oleh ayah kandungku dan sekarang adikku sendiri membenciku dengan sangat, menganggapku sebagai pencuri kebahagiaannya. Rasa itu benar-benar sakit." Sarah berucap di sela isak tangisnya, sepertinya hatinya benar-benar hancur setelah menerima penghinaan Sally.
"Untuk ayah kandungmu, biarlah waktu yang menjawab, tidak ada kata terlambat untuknya menyadari suatu saat, bahwa ada seorang puteri cantik dan baik yang menunggunya di sini." Raka memainkan helaian rambut Sarah.
"Dan satu hal lagi, Istriku sayang, kamu tidak pernah mencuri apapun dari hidup Sally. Setitikpun tidak. Dia hanya terlalu manja dan naif, sampai-sampai tak punya kemampuan untuk menggerakkan logikanya sendiri. Sally hanya mengatakan apa yang ingin dia dengar, dan menutup diri dari kenyataan. Orang sepicik itu, tidak pantas untuk kamu fikirkan kata-katanya" Raka mencoba menenangkan sang istri.
Sarah tidak berkata apa-apa lagi tapi dia menangis sejadi-jadinya di pelukan Raka, seolah ingin melabuhkan sejuta perasaan yang kini bergejolak, keluar dari liang-liang di hatinya.
Betapa menyakitkan memendam rasa sakit itu sendiri, dan ketika ada dada yang bisa menjadi tempatnya mengadu, semuanya seolah ingin meruah dari sana.
"Sayang, jangan menangis...bayi kita akan menangis juga, kalau mommynya menangis." Raka mengangkat wajah Sarah yang sesenggukan.
Di ciumi dengan lembut mata Sarah yang basah, sampai-sampai bibirnya sendiri basah oleh air mata sang istri.
"Aku berjanji, tak akan membiarkan air mata ini tumpah lagi, hanya karena hal sekecil itu. Kamu penting bagiku, sayang. Kamu adalah hidup dan duniaku, jika ada yang merendahkanmu maka dia juga menyakiti hatiku. Aku tidak mau itu." Raka mencium dahi Sarah berulang-ulang, seolah ingin menghapus kesedihan Sarah dengan ciumannya itu.
"Atau...apakah aku harus kembali ke atas, dan memberi pelajaran yang lebih keras kepada Sally?"
Sarah segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat menyambut pertanyaan suaminya itu.
Semarah apapun dia kepada Sally, sesakit apapun hatinya karena ucapan dan perlakuan Sally, dia tetap tidak ingin menyakiti adiknya itu.
"Kamu tidak perlu kembali ke sana." Jawab Sarah, dengan raut keberatan.
"Kalau begitu, berhentilah menangis...supaya aku tidak mencemaskanmu lagi." Raka menarik wajah Sarah hingga sejengkal dari wajahnya.
Lalu dengan lembut di hapusnya lagi air mata Istrinya itu dengan kedua ibu jarinya.
"Istriku hilang cantiknya lagi kalau sedang menangis." Kelakar Raka, mencoba mencairkan suasana.
Wajah sedih Sarah berubah menjadi sedikit masam, mendengar kalimat sang suami.
"Aku lebih suka melihatmu sedang marah dari pada menangis begitu." Goda Raka.
"Sekarang...berikan aku satu senyum..." Pinta Raka dengan manja, sambil menarik sudut bibir Sarah dengan kedua ujung jari telunjuknya.
Akhirnya, sebaris senyum terpampang di wajah kusut Sarah. Dia tidak tahan, tidak tersenyum dengan sikap jenaka sang suami.
Dia memiliki seorang suami yang mencintai tanpa memandang latar belakang hidupnya.
Seorang suami yang menerima dirinya apa adanya keberadaannya, dan bersedia membela dirinya kapan saja.
"I love You..." Raka membisikkan kata itu di telinga Sarah saat istrinya itu mendonggakkan wajahnya padanya.
"I Love you...i love you...i love you..."Ulang Raka, matanya terarah pada Sarah begitu melekat.
"l Love You." Balas Sarah dengan suara serak dan haru.
"Sayang, ini sudah tengah malam...bagaimana kalau istriku ini membersihkan badannya, berganti baju dan kita berdua beristirahat, kasian anakku dari tadi pagi kelelahan kemudian harus mendengar mommynya menangis tak karuan." Kata Raka sambil menjentikkan dengan lembut hidung Sarah yang memerah karena menangis.
Sarah menganggukkan kepalanya, seulas senyum di bibir ibu hamil dengan perut besar itu begitu lega lalu beranjak dari pelukan suaminya dengan enggan menuju kamar mandi.
Raka mengiringinya dengan senyum lebar, begitu puas melihat sang istri mendengarkannya.
Saat Sarah menghilang di balik pintu kamar mandi, Raka meraih ponselnya dan menelpon Dea.
"Hallo, ya pak..." Suara Dea menyambut dari seberang
"Dea, mulai hari ini aku mau kamu selalu berada di samping istriku, jika aku tidak ada." Perintah itu tanpa basa basi lagi.
"Tapi, pak...bagaimana saya mengurus semua keperluan bapak di kantor?" Dea terdengar sedikit ragu.
"Kamu menemani Sarah, kemana saja jika dia ingin pergi atau butuh bantuan, saat aku tidak bisa menemaninya." Sahut Raka.
"Oh, siap pak." Sahut Dea dengan riang, dia sangat suka berada di dekat ibu boss yang baik hati itu
"Carikan aku seorang asisten sementara sampai Sarah melahirkan."Lanjut Raka kemudian.
"Laki-laki apa perempuan?" Tanya Sarah dengan ragu.
"Laki-laki saja." Sahut Raka dengan tegas.
"Okey, pak."
Dia tidak ingin asisten perempuannyang bisa membuat masalah baru nantinya, terlebih menjaga perasaan sang istri adalah yang terpenting baginya.
"Oh, iya satu hal lagi yang paling penting..."
"Apa pak?"
"Jangan biarkan Sally mendekati Sarah, ingat itu!"
"Baik, pak. Siap saya laksanakan."
Raka memastikan Dea mengerti semua tugasnya, sebelum kemudian menutup panggilan telpon itu.
Raka tidak akan mau terulang kejadian yang sama, saat Sally menyerang istrinya itu.
Dia hanya berusaha melindungi istri dan anaknya.
Masa lalunya dengan Sally benar-benar begitu sulit di akhiri. Mantan tunangannya itu tak pernah menyerah untuk menganggu hidupnya dan Sarah.
(Terimakasih buat yang sudah setia dengan novel Raka dan Sarah☺️ Senangnya punya suami seperti Raka, yaaa😅 Ikuti terus cerita ini, kawal Sarah yang sebentar lagi lahiran🙏😅)
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...I love you all❤️...