
Dua orang itu terpana di tempatnya masing-masing.
Seketika kenangan-kenangan pahit berlompatan di kepala Sarah, dia tidak mungkin salah, ini adalah Tania, teman dekatnya di waktu kuliah. Dialah sahabatnya dulu, tempatnya bercerita semua kesedihan dan kebahagiaannya.
Dialah orang yang juga mengkhianatinya dengan mengambil kekasihnya. Pertemuan yang tidak di sangka.
"Kalian saling mengenal?" Raka mengernyit dahinya melihat dua perempuan yang kini hanya saling memandang.
"Ya..." Akhirnya Sarah menjawab, dengan pias datar. Sementara Tania benar-benar salah tingkah.
"Kami adalah teman lama." Sarah melanjutkan kalimatnya, sambil menjulurkan tangannya.
"Apa kabar?"dua kata itu semakin membuat wajah Tania yang baby face itu merah padam.
Tania memang dari dulu berwajah manis dan cenderung bisa di katakan cantik dengan badan yang terjaga proporsional dari saat mereka masih kuliah. Bibirnya yang melengkung penuh itu seperti bibir boneka barbie, dilengkapi mata bulat yang selalu berbinar tanpa dosa. type teman periang yang menyenangkan.
Siapa yang menyangka perempuan ini dulu yang pernah membuat Sarah bertahun-tahun trauma untuk mengenal laki-laki bahkan menjadi sedikit introvert dalam berteman.
"Baik." Tania menyahut sedikit gugup, menyambut tangan Sarah dengan tidak nyaman yang kentara.
Raka mengerutkan keningnya melihat kedua perempuan yang mengaku sobat lama tapi saat bertemu pertama kali setelah sekian lama begitu canggung.
Yang dia tahu, jika dua perempuan berteman dan lama tidak berjumpa, maka pertemuan mereka menjadi penuh kegembiraan.
Tak ketinggalan peluk cium, ocehan basa basi yang lebay, saling memuji menyanjung bahkan menjadi sedikit berisik dan heboh.
Tapi, Sarah dan Tania, hampir tanpa reaksi, seperti dua orang yang merasa pertemuan mereka adalah hal yang paling dihindari di dunia. Raka mengenal sekali sikap Sarah, jika dia benar-benar tidak menyukai sesuatu.
Raka menarik kursi untuk Sarah dengan begitu elegan,
"Sayang, duduklah...." Ucap Raka sambil menarik jemari Sarah yang masih berdiri dengan mata memandang lurus ke arah Tania, kesengajaan yang kentara menunjukkan kemesraannya dengan istrinya.
Tania mencuri pandang dengan tatapan sedikit aneh.
"Pak Agra menyuruh saya untuk membawa beberapa katalog contoh bangunan dan menginformasikan beberapa lokasi yang masih tersedia dengan luas seperti yang di sampaikan pak Raka kepada beliau." Tania mengalihkan wajahnya sambil mengambil tempat duduk di kursi persis di depan Sarah dan Raka.
"Semua terserah kepada istri saya saja." Raka menjawab sambil tersenyum pada Sarah.
Mau tidak mau, Tania berpaling kepada Sarah.
"Ibu eh...Sarah..em...saya..." Tania nampak agak kikuk.
"Aku mau lokasi yang tidak jauh dari rumah mama." Sarah menyela sambil memegang punggung tangan Raka yang tergeletak di atas meja, sesungging senyum yang sangat terpaksa di bibirnya tak bisa mencairkan suasana yang terasa aneh.
"Okey, aku mau lokasi yang tersedia di bagian timur kota, sesuai permintaan istriku saja." Raka menggenggam tangan Sarah, meremasnya sedikit seakan memberi kode tidak ada celah antara mereka berdua.
Saat makanan pembuka tiba, Raka dan Sarah tampak sibuk membolak balik katalog beserta keterangan denah di dalamnya.
Sarah sama sekali tidak seantusias ketika mereka turun dari mobil tadi. Tapi demi suaminya yang bersusah payah merencanakan hadiah kejutan untuknya, Sarah berusaha menunjukkan minatnya.
Saat pertama kali dia melihat Tania, dia sudah kehilangan rasa antusiasnya.
"Arsitek kami tersedia tidak hanya untuk bangunan tapi juga untuk interiornya juga, pak Raka hanya menggambarkan imajinasinya kami akan mewujudkannya." Tania benar-benar hampir kehilangan keahliannya dalam memikat calon kliennya ini karena situasi yang tidak terduga.
Biasanya dia sangat ahli merayu klien tidak hanya dengan kata-kata manis tapi juga dengan gerakan tubuhnya yang menggoda.
Kadang untuk beberapa klien laki-laki, hampir tak mendengar semua yang di tuturkan Tania, karena mata mereka terpaku pada perempuan seksi di depannya, menemukan kata setuju tanpa banyak pertimbangan.
"Maaf, pak Raka, saya agak terlambat datang." Pak Agra tiba dengan tergesa.
"Oh, tidak apa-apa. Bu Tania sudah menjelaskan dengan baik." Raka berdiri menyalami laki-laki yang sudah empat puluh tahunan itu, perawakannya lebih pendek dari Raka dengan gaya perlente. Sarah mengikuti, menyalami sambil tersenyum seadanya. Sementara Tania tampak masih canggung.
"Oh, iya pak Raka, syukurlah pak Raka jika demikian, Tania ini adalah salah satu marketing kami yang terbaru dan cukup berdedikasi. Mungkin Pak Raka baru bertemu."
Pak Agra mengenalkan Tania dengan sedikit rasa bangga, mengerling gadis yang duduk di sebelahnya sambil tersenyum.
Raka hanya menganggukkan kepalanya tanpa menyahut apa-apa. Hanya seulas senyum tipis.
"Ibu Sarah, kami pastikan akan mengerjakan sampai sedetilnya rumah yang akan dibangun nantinya. Arsitektur naungan perusahaan kami, sudah pasti berpengalaman di bidangnya." Tawar pak Agro dengan nada promosi yang bersemangat.
"Tentu saja, Pak Agra. Saat ingin menghadiahkan sebuah rumah untuk istriku, yang pertama kali berkelebat di benakku tentu saja jasa perusahaan pak Agra."
Sarah tidak berminat lagi dengan setumpuk katalog di depannya. Dia mendadak merasa mual melihat wajah Tania yang tampak lugu itu.
Dia ingat sekali bagaimana dekatnya mereka, bahkan Sarahlah yang sering membantu membayarkan kost Tania jika temannya itu kesulitan dulu.
Sarah berpacaran dengan kakak tingkatnya, dari jurusan tehnik sipil, Egi namanya pada saat semester tiga. Dia adalah cinta pertama Sarah, seorang laki-laki perhatian yang kalem dan dewasa. Mereka berpacaran satu tahun setengah tetapi akhirnya kandas, karena sang kekasih kecantol dengan teman baiknya sendiri yang dulu selalu menjadi tempat keluh kesahnya tentang Egi, yaitu perempuan yang kini berhadapan dengannya.
Sejak itu Sarah tidak pernah menerima seorang lelakipun sampai menikah dengan Raka, serta hubungan tak jelasnya dengan Dion yang di sesalinya sampai saat ini.
Kalimat dan penjelasan dari Pak Agra, sama sekali tidak menarik lagi bagi Sarah. Raka dan Pak Agra asyik berbicara sementara Sarah dan Tania hanya bertukar tatap sesekali tanpa ada yang mau memulai lebih dulu untuk berbicara.
Orang yang paling dekat dengan kita sebenarnya jika menjadi jahat dia akan lebih berbahaya dari seorang psikopat. Mereka memegang semua rahasia kita bahkan seluk beluk hidup kita. Mereka akan menyerang dengan tidak terduga, dan sakit yang di akibatkannya sungguh luar biasa.
"Sayang, aku ke toilet sebentar," Sarah berucap setengah berbisik pada Raka. Sang suami menganggukkan kepalanya.
Sarah dengan wajah masam menuju toilet, berdiri di depan wastafel, merapikhkan sedikit rambutnya.
Wajah Tania berkelebat, dia benar-benar tidak mengerti kejadian yang telah lama itu masih membekas dikepalanya saat bertemu Tania.
Bukan karena dia masih mencintai Egi, tapi karena kekecewaannya telah di khianati seorang sahabat yang dia percayai.
Sarah menunduk, menghidupkan kran dan mencuci jemarinya, ketika sebuah suara yang sangat dikenalnya dulu kala, memanggil namanya perlahan.
"Sarah..."
Dengan sedikit terkejut Sarah mengangkat wajah, melihat ke cermin wastafel, bayangan Tania telah berdiri dibelakangnya, dengan raut datar namun sedikit tegang.
(Ops...apa yang akan terjadi ya, readers kesayangan? apakah masalah dendam cinta itu akan berakhir dengan kata maaf dan penyesalan ataukah semua menjadi ajang masalah baru🤭 Bagaimana nasib rumah masa depan yang mau di bangun Raka untuk Sarah selanjutnya?Dua sahabat lama itu akan berbicara di episode berikutnya😅. Untuk yang kangen Sally, sementara si adik ngeselin ini masih di Leiden yah, perjalanan pulang menyadari abang Rakanya telah kabur untuk pulang😅😅)
Yuk mari beri dukungan karena komen dari kalian kadang jadi inspirasi yang luar biasa bagi author🙏 ☺️
l
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...I love you all❤️...