
"Aku tak akan kembali setelah ini." Winarta menyahut bergetar.
Ada satu akar kebencian dari Mytha pada Winarta, yang membuatnya mendendam sampai mati, bukan hanya sekedar karena Winarta menolak menikahi adik sepupu Mytha puluhan tahun yang lalu.
"Aku masih mempunyai foto itu." Senyum licik Mytha terlihat membuat Winarta benar-benar kehilangan kata, kecuali melotot pada perempuan yang kini begitu puas melihat padanya.
"Apa yang berusaha kamu bangun dan perbaiki tak akan pernah benar-benar baik. Bukankah aku pernah bersumpah Winarta, sejak malam itu aku akan membuatmu sengsara sepanjang hidupmu." Mytha tersenyum kecut. Lalu perlahan tangannya merogoh ke dalam tas yang di cangklongnya pada lengannya.
Lalu dua buah foto buram itu berada di tangannya, hanya seukuran telapak tangan tapi nyata di situ seorang perempuan muda yang sedang berciuman dengan seorang lelaki dan di foto kedua seorang perempuan yang dipeluk di tempat tidur oleh seorang pria.
Itu adalah foto Winarta dan Mytha!
Wajah Winarta langsung merah hampir membiru, dia berusaha bangun hendak menggapai foto itu tapi nyeri di bahunya membuatnya harus kembali terjatuh di pembaringan.
Mytha tersenyum sambil memasukkan kembali foto itu ke dalam tasnya.
"Aku pernah mengatakan dulu, Mytha tak pernah menerima penolakan! Tidak akan pernah...karena jika aku merasa terhina maka aku bisa melakukan apa saja."
Foto itu selalu menjadi senjata Mytha untuk menghancurkan dirinya.
"Aku tidak sedikitpun takut untuk diketahui oleh kakakmu Wijaya, paling-paling aku akan di ceraikannya. Dan itupun kalau dia memiliki keberanian melakukannya. Tapi, dirimu? apakah kamu sanggup menamggungnya." Mytha tertawa kecil.
"Apalagi sekarang, kamu baru membangun hubungan dengan anakmu, aku lihat kalian berdua cukup akrab sekarang. Bukankah aku pernah mengatakan jangan kembali? Tapi kamu terlalu keras kepala Win sayang...apa kamu mengira aku melupakan kejadian malam itu?" Mytha menaikkan alisnya. Lalu mendekatkan wajahnya kepada wajah Winarta.
"Aku tidak pernah melupakannya. Seumur hidupku, aku tidak pernah melupakannya. Bahkan saat melihat wajah anakmu aku melihatmu, karena itulah kalian berdua layak menerima hukuman dariku" Mytha tersenyum jahat.
Winarta yang membeku segera hendak menarik kepala Mytha, tapi perempuan itu sudah menjauh dari tempat tidurnya.
31 tahun yang lalu,
Wijaya menikah dengan Mytha, seorang anak konglomerat. Saat itu Wijaya bekerja sebagai asisten dari ayah Mytha.
Mytha yang melihat Wijaya begitu tampan, pendiam dan pintar, menggodanya, sebagai anak orang berada dia manja dan begitu bebas. Akhirnya dua orang itu menjalin hubungan cinta diam-diam, bahkan Mytha rela membelikan apartemen untuknya dan Wijaya sekedar tempat mereka memadu cinta.
Akhirnya, karena hubungan itu, ayah Mytha menikahkan Wijaya dan Mytha, dan lagi Wijaya cukup pintar mengelola perusahaan bersama dengan ayah Mytha sehingga dia termasuk bawahan yang disayangi ayah Mytha.
Pada tahun kedua pernikahan mereka, ayah Mytha menyerahkan hampir separuh dari perusahaannya untuk di kelola oleh Wijaya karena itulah Wijaya memerlukan orang yang bisa membantunya mengurus jadwal dan semua yang berkaitan dengan pekerjaan.
Winarta yang baru saja lulus kuliah, dipercayakannya untuk bekerja dengannya.
Pemuda dengan taraf hidup yang mendadak naik dan memasuki pergaulan borjuis tanpa batas itu membuat Winarta menjadi sedikit hilang kendali. Uang yang cukup dan wajah yang sangat tampan menjadikan pergaulannya benar-benar bebas. Dia menjalin hubungan dengan banyak wanita kalangan atas, mendapatkan fasilitas dari mereka sekedar menjadi pemuas *****, kadang pula dia menjalin hubungan dengan perempuan-perempuan silih berganti, tapi tidak pernah benar-benar serius begitu bosan maka besok teman kencannya beralih.
Pada tahun ketiga pernikahan Mytha, dia jatuh cinta dengan adik iparnya sendiri! Dia tak bisa menahan diri untuk merayu Winarta, adik iparnya yang tampan dan flamboyant sungguh jauh berbeda dengan karakter dan sifat Wijaya yang cenderung pasif dan pendiam. Semula Winarta tak menggubrisnya, karena dia adalah istri dari kakaknya sendiri.
Tapi suatu malam, di sebuah pesta ulang tahun kakaknya sendiri di rumah Mytha dan Wijaya,
mereka mengundang kolega dan teman merayakannya.
Pesta itu sangat meriah dan dijadikan ajang untuk urusan bisnis.
Ayah Mytha larut dalam pembicaraan dengan beberapa rekan bisnisnya, sementara Winarta benar-benar mabuk dengan minuman.
Mytha benar-benar seksi dan menarik, tubuhnya yang sintal berlekuk sempurna membuat siapapun mungkin akan sulit mengalihkan pandangan.
"Kak Mytha..." Winarta menggeleng-gelengkan kepalanya. Matanya terasa kabur, tapi dia benar-benar harus ke dapur, dia ingin mencari pemecah es.
Winarta yang mabuk berat, berjalan sempoyongan dan begitu sampai dapur, seseorang memeluknya dari belakang.
Mytha memeluk Winarta dengan erat, tangannya menyusup kedada kemeja Winarta.
"Win..." ******* Mytha menderu panas di telinga Winarta, membuat Winarta berpaling dengan niat mendorong Mytha, lamat-lamat masih di ingatnya Mytha adalah istri kakaknya sendiri.
Tapi saat dia berpaling, Mytha terduduk di kursi yang terletak di sudut ruangan. Kancing penutup dadanya terbuka, membuat separuh dari buah d*danya terbuka. Kencang dan bulat mengkilat oleh keringat.
Kepalanya mendongak pada Winarta, separuh terbuka. Basah dan menggairahkan. Winarta tak bisa menahan diri untuk tidak menelan ludah, sebagai laki-laki dia tak bisa menolak pemandangan sesempurna itu.
Dan di antara sadar dan tak sadar, Winarta membiarkan jemari Mytha meraih lehernya, membawa bibirnya bertemu dengan bibirnya yang membara.
Dengan masih memegang segelas sampagne, Winarta membalas ciuman Mytha dengan liar. Setan telah metasuki kepalanya sehingga dia lupa perempuan yang kini sedang di cumbunya adalah kakak iparnya sendiri.
"Lakukan untukku, Win...lakukan sekarang...aku sangat menginginkannya..."
Hampir lima belas menit mereka saling memagut di dapur yang sepi itu, Mytha telah menguncinya sebelum dia masuk menyusul Winarta. Tak akan ada yang bisa masuk ke sana bahkan para pelayan sekalipun.
Winarta yang dalam keadaan mabuk, menuruti semua keinginan Mytha di bimbing oleh Mytha yang sadar sepenuhnya dengan apa yang di inginkannya.
Mereka bercinta seperti orang yang lupa diri, entah kapan jika kemudian gaun di bagian atas Mytha telah melorot tanpa penutup, sementara Winarta merangsek menyusup di sana.
Percintaan terlarang itu terjadi di dapur rumah kakaknya, pada saat acara ulang tahun sang kakak, sebuah perbuatan bejat yang mengawali semua kisah cinta terlarang dua orang yang seharusnya bisa saling menghormati dan menjaga diri.
Setelah malam terlarang itu, Winarta menyadari dia telah membuat kesalahan yang luar biasa, karena itulah dia menghindari Mytha.
Dia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama dengan kakak iparnya itu, khilaf terdalam yang pernah di lakukannya sebagai seorang adik. Dia menyesalinya sepanjang hidupnya.
Tapi Mytha tak pernah menyerah, dia sama sekali tidak pernah menyerah untuk mengulang kembali kenikmatan sesaat yang pernah dilakukannya bersama adik iparnya itu.
Sampai suatu ketika...
(Ops...mak othor potong dulu, yaaa...sambungannya di episode berikut, mak othor lagi tarik nafas dulu...mau nulis Windu-Dara, sudah di tunggu UPnya di sebelah😅😅😅 Bagaimana mungkin khilaf terdalam yang di lakukan Winarta bisa membuatnya menderita seumur hidup, ikuti kisah di episode selanjutnya, ya)
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️......
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...I love you all❤️...