
(Warning 21+ please skip bawah umur dan jomblo )
Setelah di beri ASI baby Rae tampak cerah ceria dalam gendongan sang daddy.
"Tadi ku coba tidurkan, matanya malah sebesar kelereng melotot padaku..." Raka mengadu pada sang istri.
"Ya, iyalah sayang...tadi dia baru saja tidur hampir tiga jam, mana mau dia tidur cepat." Sarah tertawa mendengarnya sambil merapihkan kancing baju pada bagian dadanya.
"Tidak usah ditutup..." Ujar raka serak sambil menelan liurnya.
"Hush..." Sarah melotot pada suaminya yang agak genit malam ini.
"Nanti, tidak susah buka lagi."sahut Raka sekenanya sambil menimang baby Rae yang berusaha meraih wajahnya.
Sarah tambah melotot pada Raka.
"Tuh kah Sayang, mommymu melotot terus, sebentar lagi dia banyak alasan...tidur ya, daddy dan mommy ada urusan malam ini." Raka memeluk Rae yang terdengar merengek kecil.
Bunyi handphone Sarah mau tidak mau mengganggu dua orang yang sedang berjuang menidurkan si kecil demi berbuka puasa segera.
Di layar handphone terlihat bahwa Jen yang menghubunginya.
Raka mengeryit dahinya dengan muka kesal.
"Jen..." Sarah menunjukkan layar handphonenya, setengah berbisik, karena kelihatannya Rae mulai mengantuk.
Raka memberi isyarat supaya Sarah menyambut telpon itu keluar ke balkon, dia benar-benar tak ingin suara Sarah membuat keributan, yang membuat Rae batal mengantuk.
Sepeninggal Sarah bayi mungil ini segera mengantuk, matanya berpijar seperti bohlam 5 watt yang meredup seakan mengerti sang daddy yang sedari tadi menatap memelas padanya.
"Anak baik, anak daddy...Sayang daddy ini memang pengertian." Raka memeluk Rae dengan sayang.
Sarah berjinjit masuk ke dalam kamar, dia tidak ingin menimbulkan suara berisik, ketika dilihatnya baby Rae sedang terlelap di dalam boxnya.
Di tempat tidur Raka sudah masam mesem meihat kedatangan sang istri, hanya menggunakan celana pendek yang atasannya sudah entah kemana perginya.
Dada bidangnya, terlihat begitu menggoda, membuat Sarah merinding sendiri.
"Aduh, jangan pasang wajah norak begitu, geli aku..."Sarah mengikik kecil sambil naik ke tempat tidur dengan perlahan.
"Stt...." Raka menarik badan sang istri dengan tak sabar, membuat Sarah mendarat langsung diatas dada Raka.
"Jangan ribut, kalau Rae bangun, kamu denda banyak." Bisik Raka, sambil menyasar bibir Sarah yang basah.
Dia mengul*m dengan penuh gairah, bibir yang sudah lama ingin di lum*tny berhari-hari ini.
Tangannya bergerilya, menyusup ke sana ke mari membuat Sarah menggelinjang.
Tapi dengan pasrah Sarah menerima perlakuan itu, dia sendiri merasa rindu dengan sentuhan sang suami itu.
"Sayang, kamu hampir membuatku gila." Raka mendesah dengan nafas yang memburu.
"Stt..." Sarah menutup mulut Raka yang sedang mengoceh sambil menyusuri lehernya.
"Nanti Rae bangun kalau kamu ngomong terus." Protes Sarah sambil merangkak di atas tubuh sang suami.
"Okey, sayang...kita mode silent saja." Raka menyahut serak sambil tangannya meletakkan jari telunjuk di bibirnya sendiri.
Sarah tersenyum kecil, tangannya bergerak pelan melorotkan gaun tidurnya melewati bahu, melepasnya perlahan dengan tatapan menggoda.
Raka tak berkedip menatap gerakan sang istri, pemandangan yang terpampang di depannya hampir membuatnya tak bisa bernafas.
Dada Sarah yang besar padat itu membusung menantang, benar-benar membuat jantung raka berdegup lebih cepat dari seharusnya.
"Ini punya Rae, sayang..." Sarah tersenyum lebar pada Raka sambil mengedipkan matanya, jemarinya merayap di dada Raka.
"Rae tidak akan keberatan, Daddynya pinjam sebentar saja." Raka menarik tubuh Sarah ke bawah lalu wajahnya menyusup di antara gundukan yang putih mulus dengan put*ng kecoklatan khas ibu menyusui itu.
"Itu ada ASInya sayang...." Sarah hampir tergelak melihat tingkah Raka, sang suami yang layaknya seorang pemburu kelelahan ini benar-benar tak perduli lagi. Dia mencumbu Sarah dengan liar. Buka puasa ini harus dituntaskan segera.
Percintaan mode silent itu, luar biasa liarnya, Raka menyusuri seluruh badan Sarah dari ujung rambut sampai ujung kaki, seperti tim gegana memeriksa kemungkinan ancamaman bom, tak ada sejengkalpun yang terlewatkan.
Sarah hampir tak bisa menahan suaranya, menikmati setiap sentuhan itu. Bibir bawahnya kemerahan karena digigitnya meredam pekik dan des*hannya yang seolah memaksa keluar dari rongga mulutnya.
Daddy Rae memuaskan setiap dahaga yang begitu menuntut berminggu-minggu ini, tak ada yang ingin dilewatkannya.
"Sayang...tolong cepat...." Sarah tak tahu lagi harus meminta bagaimana, dia sudah tak sabar lagi.
"Nanti dulu, sabarlah sebentar..." Raka berbisik disela dengusnya sambil menggigit kecil daun telinga Sarah.
"Ugh...please..." Sarah melengkung dengan wajah memerah.
"Aku menghukummu mommy Rae sayang, karena telah memperpanjang puasaku 11 hari secara sepihak." Raka meremas dada Sarah dengan perlahan.
"Astaga, sayang...aku kan cuma bercanda...aku cuma melatih kesabaranmu..." Sarah menggigit bibirnya lebih keras, lalu dengan gerakan yang tak dinyana dia mendorong tubuh Raka dengan kasar, lalu dalam kejap berikutnya sang mommy ini telah berada di atas badan suaminya.
Tanpa aba-aba di tarik sisa kain yang melekat di tubuhnya.
Raka terkesiap melihat gerakan Sarah yang setengah brutal itu.
"Sekarang...masih mau menunggu?" Sarah menatap nanar wajah suaminya yang melongo.
"Jika di tunda lagi, si Rae mungkin akan memperpanjang puasamu..." Sarah berucap dalam suara serak yang mengancam.
"Owh...sekarang saja kalau begitu." Raka menarik sang istri ke dadanya, membuat tubuh mereka bersusun begitu rupa, dengan cepat posisi telah berubah sekarang Sarah telah di bawah.
Raka melepaskan, apapun yang mungkin menghalangi pertempuran itu terjadi.
Lalu, di detik berikutnya hanya des*h nafas mereka saling memburu, sekarang mode menjadi setengah silent karena mereka berdua tak kuasa menahan sedikit rint*h dan lenguh di sela nafas mereka yang saling memburu.
Dua penjelajah yang lama tak bersua itu, menuntaskan hasrat sampai pada titik puncaknya, dengan tubuh yang bersimbah keringat melepaskan suara penutup yang penuh penghayatan nikm*t bersamaan dengan rengekan kecil Rae.
"Akh..." Raka dan Sarah mengeluar suara yang hampir berbarengan.
"Waaaa..." Si Rae mungil menyumbangkan suaranya pula.
Sarah menarik kain selimut dengan cepat menutupi tubuhnya sementara Raka menggelepar dengan mata terpejam p*as.
"Akhirnya..." Raka mengembangkan senyumnya, si daddy yang lama berpuasa ini bertemu hari rayanya.
Sarah beringsut mengintip ke dalam box, si kecil Rae membuka matanya lebar-lebar.
"Sayang..." Sarah berbisik sambil memeriksa popok baby Rae.
Baby Rae menangis dengan tak sabar, ketika merasakan ada seseorang yang menyentuh tubuhnya.
"Sayang...ini mommy." Sarah menyampirkan kain selimut seadanya dan mengangkat tubuh si bayi yang terbangun karena popoknya basah itu.
"Sayang...ambilkan popoknya Rae, dong..." Sarah berbalik kepada sang suami yang terbaring di tempat tidur.
Tapi si daddy yang barusan berbuka puasa itu sudah terlelap, dengan raut puas menghias wajahnya.
Sarah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan wajah kesal.
"Sayang, lihat daddymu itu...kalau sudah menyelesaikan maunya, langsung molor saja." Sarah mengoceh sambil membaringkan kembali bayi mungil yang semakin montok itu dan mengganti popok baby Rae sendiri.
(Begitulah nasib emak-emak dengan batita, memang harus banyak bersabar😆🤣🤣
Yuk, nantikan Sarah dan Raka di episode berikut, ya jangan lupa Vote, Like, komen dan jika ada yang berkenan memberikan tips koin lagi diterima dengan senang hati🙏☺️🤭😆😆)
...Mommy Rae...
...Baby Rae...
...Daddy Rae...
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...I love you all❤️...