Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 108 KEBAHAGIAAN DALAM SATU MALAM


Saat pintu itu terbuka lagi dan sesosok tubuh berdiri disana dengan tangan bertaut saling meremas di depan dadanya. Memandang Sarah dengan tatapan bahagia.


Sarah tak bisa menahan diri untuk tidak segera menghambur memeluknya.


"Mbok Yem..." Sarah tak bisa lagi membendung tangisnya, dia memeluk orangtua yang telah mengasuhnya dengan kasih sayang itu.


"Nak Sarah..." Mbok Yem membalas pelukan Sarah, air matanya turun ke pipinya yang mulai kentara keriput.


"Terimakasih sudah datang, mbok." Ucap Sarah di sela tangisnya.


"Terimakasih kepada tuan besar yang telah mengijinkan mbok ikut, nak." sambut mbok Yem, saat Sarah melepaskan pelukannya.


"Terimakasih untuk kalian semua." Sarah memandang papanya dan mbok Yem bergantian.


"Papa tahu, kamu pasti senang jika mbok Yem ikut."


"Iya pa, kadatangan kalian adalah hadiah terindah untukku hari ini. Kebahagiaanku terasa sempurna sekarang. Tak ada lagi yang ku keluhkan." Sarah benar-benar terharu, kedua tangannya memegang jemari mbok Yem, rasanya menyenangkan melihat ibu tua yang telah mengasuhnya sejak telapak kakinya masih merah itu.


Dia tidak tahu entah bagaimana jadinya dirinya jika tidak di didik dengan penuh kasih sayang oleh pembantu yang welas asih itu.


Mungkin dia tidak akan menjadi sekuat dirinya sekarang melewati semua rintangan hidupnya yang begitu berat.


Tapi, kasih sayang selalu memenangkan segalanya. Tumbuh tanpa menyimpan rasa benci atas ketidak adilan hidup ternyata bisa membuatnya lebih kuat dan dewasa.


"Nak, semoga kehamilanmu lancar, ya. Si jabang bayi selalu sehat sampai lahiran. Mbok akan selalu mendoakanmu..." Mbok Yem tersenyu pada Sarah. Masih senyum yang sehangat dulu, hanya saja wajah itu telah menjadi sangat banyak lukisannya.


"Terimakasih, mbok. Terimakasih." Entah untuk kali ke berapa Sarah telah mengucapkan kalimat itu.


"Senang rasanya, bisa melihat anak si mbok menjadi seperti sekarang." Mata tua itu berkaca-kaca.


"Tuhan selalu melindungimu, Nak..." Bisiknya, hampir tak terdengar.


"Sayang..."Tiba-tiba Raka dengan raut menyesal memotong pembicaraan mereka.


"Kita harus naik ke atas, tamu sudah menunggu." Ucap Raka agak sungkan.


"Baiklah, nak..." Papa mendekati Sarah, senyum itu tak pernah lepas dari bibirnya.


"Ayok, mbok." Sarah menggandeng tangan mbok Yem tanpa sedikitpun risih meskipun pakaian pengasuhnya itu begitu sederhana, sebuah kebaya kutubaru berwarna coklat muda, kebaya itu sedikit longgar di badan mbok Yem. Itu Kebaya hadiah dari Sarah, saat pertama kali dia belajar membuat desain waktu kuliah. Modelnya adalah mbok Yem.


Dulu, kebaya itu begitu pas di badan mbok Yem, sekarang sepertinya badan tua mbok Yem telah menyusut.


Setelah itu Sarah sering membelikan baju untuk mbok Yem, tapi entah mengapa si mbok lebih sayang dengan baju ini. Meski sudah bertahun-tahun berlalu, dia selalu menyukai baju pertama buatan tangan Sarah ini.


"Sayang..." Raka menjulurkan tangannya, hendak menggandeng sarah.


"Nak, bolehkah aku menggandeng Sarah menuju ballroom?" Tiba-tiba papa Sarah menyela, setengah memohon.


Raka tertegun, dia serta merta mengurungkan niatnya untuk menggandeng istrinya itu.


Sarah tak kalah terpana, bahkan saat menikah dengan Raka dulu, tak ada yang menggandeng tangan Sarah menuju altar.


Ayahnya ini hanya melihatnya dari jauh, berjalan kepada Raka, seakan-akan tak ada yang benar-benar merestuinya.


Sekarang, mendengar permintaan sang ayah, tentu saja dia hampir tak percaya.


"Aku ingin membayar sedikit dari banyak kesalahanku pada anakku ini. Setidaknya aku boleh menggandengnya malam ini." Ucap papa Sarah perlahan, melihat pias keraguan di raut muka Raka.


"Tentu saja boleh..." Raka dan mbok Yem bergeser dari samping Sarah dengan reflek.


Jemari papa Sarah sekonyong-konyong meraih tangan Sarah dan mengaitkannya ke sikunya yang menekuk.


"Seorang Ayah seharusnya melakukan ini dari dulu." Desisnya sambil menoleh kepada Sarah yang sama sekali tak bisa berkata apa-apa. Matanya berkaca-kaca, rasa haru menggelayar sampai sanubarinya.


Ucapan itu tidak keluar dari mulut Sarah tapi dari mulut Raka.


Lalu dengan penuh hormat di raihnya tangan kanan papa Sarah dan menciumnya, sebuah tanda penghormatan yang pernah di lakukannya sejak dia menikahi Sarah.


Untuk pertama kalinya dalam hidup Raka memanggil ayah mertuanya itu dengan papa.


Sarah tak kalah terkejutnya, matanya beralih bergantian dari Raka kemudian kepada papanya.


Dia serasa bermimpi telah memiliki segala hal yang menjadi sumber kebahagiaannya hanya dalam waktu satu malam.


...***...


Langkah Sarah begitu ringan memasuki Ballroom yang sudah di penuhi tamu undangan.


Tangannya memeluk lengan sang ayah seperti mempelai yang sedang menuju altar di hari pernikahannya.


Senyumnya merekah, diiringi mbok Yem dan sang suami yang ada di belakangnya.


Saat dia duduk dengan Raka seperti dua mempelai di depan podium ballroom yang di sediakan sedemikian rupa, ada papa dan mama Raka, ada papanya dan mbok Yem mendampingi. Semuanya tak ada lagi yang kurang, kebahahagiaan Sarah sudah lengkap.


Ucapan selamat berdatangan dari semua orang tamu dan undangan, begitu ruah dan membuat Sarah benar-benar tak bisa menahan haru biru.


Bayi di dalam kandungannya benar-benar adalah berkah yang luar biasa dalam hidupnya.


"Mam...selamat, ya..."Jen memeluk Sarah dengan girang.


"Ponakanku ini laki apa cewek?"Jen mencolek Sarah dengan gaya centil.


"Yang pasti gak kayak kamu deh, Jen." Grace menyahut di sambut tawa semua yang memdengar, sementara Jen masam mesem sendiri.


Dokter Yogi pun tampak hadir, sepertinya dia dengan asisten Raka, si manis Dea sudah tampak berbicara di sebuah sudut, di sela kesibukannya ikut melayani tamu . Tampak wajahnya tak bisa menyembunyikan pias riangnya yang berseri-seri dalam roman malu-malu sementara dokter Yogi menanggapi dengan wajah yang lebih serius, entah apa yang sedang mereka bahas.


Acara perjamuan makanpun berjalan dengan lancar. Diselingi canda tawa para tamu, beberapa kolega dan rekan bisnis yang bertemu dalam acara itupun semuanya tampak menggunakan momen itu membicarakan hal-hal tentang pekerjaan dan kemungkinan kerjasama.


Sarah tersenyum sepanjang acara, begitu puas, bahkan sama sekali tidak lelah meski harus kadang berdiri dan kadang kala duduk, selama ber jam-jam.


...***...


Acara itu akhirnya usai, menjelang tengah malam. Papa dan Mbok Yem baru saja pulang. Orang tua Raka juga sepertinya bersiap kembali pulang, mereka tidak mau menginap di hotel seperti Raka dan Sarah.


"Sayang, aku akan kembali lebih dulu ke kamar." Sarah berucap, pamit sementara Raka masih terlibat pembicaraan serius dengan dua orang temannya. Pinggangnya terasa pegal.


"Dea akan mengantarmu..."Raka menatap istrinya yang tampak letih meski senyumnya mengambang tak lepas.


Saat Sarah melihat Dea tampak sedang sibuk mengurus semua tumpukan hadiah yang berada di satu meja, memberi instruksi kepada petugas hotel untuk memindahkannya, dia mengurungkan niatnya untuk mengganggu Dea.


Dengan langkah pendek, Sarah melangkah di lorong hotel, saat akan sampai pintu lift, seseorang berdiri menghadangnya, dalam mini dress warna biru malam, seolah hendak menghadiri pesta.


"Apakah aku datang terlalu malam, kakakku sayang? " Sally tersenyum sinis, pandangan matanya menyapu Sarah dari ujung kaki sampai ujung rambut.


"Apakah aku benar-benar melewatkan pestanya?" Tanyanya lagi, sorot mata itu masih menyimpan dendam.


(Nantikan episode selanjutnya ya🤗 Terimakasih sudah tetap menunggu UPnya Raka dan sarah setiap hari😘, sambil nunggu UP Sarah, cek kisah cinta Windu dan Dara di novel pendek author " DI ANTARA DUA HATI" hanya sebagai alternatif bacaan, agak berderai air mata di sana, kalau gak kuat gak usah di tengok😂😂 )



...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...I love you all❤️...