Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPIDODE 71 PERTEMUAN DUA KELUARGA


Sarah sedikit gugup, sejenak dia mencuri pandang pada Raka saat mereka keluar dari mobil. Raka tak kalah tegangnya, dia cemas semua sandiwara Raka mengenai skenario palsu pernikahannya di ketahui orangtuanya.


Dia tidak enak, jika latar belakang pernikahannya dengan Sarah akan terungkap.


Drama besar itu hanya diketahui oleh dirinya dan Sarah serta pihak keluarga Sarah. Kekuatirannya adalah mama dan papa menjadi shock, kekecewaan besar tentu ditanggung orangtua yang di bohongi oleh anaknya sendiri.


Selama ini, Raka menghindari dengan sangat pertemuan dua keluarga besar tersebut, karena sejarah pernikahannya yang begitu rumit dan kacau.


Raka ingin semua hal pahit di awal itu cukup dia dan Sarah yang tahu, andai ke depan semua menjadi baik-baik saja, sejarah kelam itu cukup menjadi rahasia mereka.


Tapi sebuah kebohongan, cepat atau lambat akan terbongkar, menghadapinya secara gentle bukan lagi sebuah pilihan tetapi keharusan.


Mereka semua yang terlibat dalam sandiwara berduri itu tentu saja harus menanggung apapun konsekwensinya.


Yang di sesalkan Raka, Sarah yang tidak bersalah apa-apa akan terseret sebagai pelaku utamanya.


Sementara Sarah menyimpan kekuatiran untuk hal lain.


Kehadiran Sally tentu membuat tanda tanya besar, apa sesungguhnya yang terjadi.


Dari dulu Sally cukup dekat dengan mama Raka, dia adalah kesayangan mertuanya itu.


Mereka berdua bahkan pernah liburan bersama kedua orang tua Raka ke Jerman sekaligus menjenguk Raka yang sedang sekolah waktu itu.


Bisa saja, Sally memutar balik cerita, mengingat bagaimana keadaan Sally sekarang yang begitu menginginkan Raka kembali kepadanya.


Raka membukakan pintu mobil untuk mama dan membantunya untuk keluar.


"Sayang, kenapa tanganmu begitu dingin?" Tanya mama dengan raut heran ketika menyambut tangan Raka untuk keluar dari mobil.


"Tidak apa-apa, ma." Jawab Raka cepat.


" Tumben, sepanjang jalan kalian begitu pendiam?"cecar mama dengan pertanyaan berikut, matanya bergantian menatap Raka dan Sarah.


Sarah yang tampak anggun dengan sebuah dress full lace warna krem itu menunduk dengan jengah sementara Raka tidak menyahut.


"Kalian berkelahi?"Tuduh mama.


"Ayolah, ma. Ngomong apa sih?" Papa merapikan pakaiannya dan berjalan mendahului menuju teras besar keluarga orangtua Sarah.


"Raka...awas, ya...kalau nakal sama mantu mama." Mama mendelik kepada Raka dan mengikuti langkah suaminya yang berjalan lebih dulu.


Raka menutup pintu mobil dan berbalik kepada Sarah yang masih menunggunya.


"Sayang, bagaimana jika mama dan papa membongkar sandiwara di awal pernikahan kita?" Tanya Sarah lirih.


"Sudah ku bilang di rumah kan, kamu tidak perlu ngomong, cukup diam saja. Aku yang akan bicara, jika itu terjadi." Raka memeluk bahu Sarah seolah ingin menenangkannya.


"Mama dan papa bilang apa nanti? mereka akan kecewa, kita berdua berbohong begitu banyak pada mereka." Sarah menyahut, tas tangan kecil yang di pegangnya tanpa sadar di remas-remasnya.


"Sayang, aku mengenal orangtuaku dengan baik. Mereka mungkin kecewa tetapi mereka semua tetap adalah orang tua. Meski mungkin mereka marah tapi tidak akan lama."


Raka menggandeng tangan tangan Sarah menuju pintu rumah besar yang terbuka lebar itu.


Di sana berdiri mbok Yem menunggu seperti sebuah patung.


"Nak Sarah...." Mata Mbok Yem berkaca-kaca.


"Mbok, Sarah kangen." Sarah memeluk tubuh ringkih pengasuhnya itu, rasa haru membuatnya hampir tak bisa berkata-kata.


"Mbok tidak sengaja mendengar pembicaraan tuan dan nyonya." ucap mbok Yem setengah berbisik.


"Apakah benar, nak Sarah sekarang sedang hamil?"Tanya mbok Yem, saat Sarah melepas pelukannya.


Sarah menganggukkan kepalanya sambil menggigit bibirnya sendiri. Rasa bahagia tak bisa di bendungnya, mengabarkan kehamilannya pada orangtua yang telah memberinya kasih sayang menggantikan seorang ibu yang tak pernah dimilikinya.


"Sarah akan baik-baik saja, mbok. Aku akan membuatnya selalu tersenyum." Raka mendekat dari belakang Sarah meraih tangan mbok Yem dan mencium punggung tangan tangannya.


Mbok Yem terkesima, menatap Raka yang begitu santun padanya.


"Sarah sering bercerita tentang mbok yang dianggap seperti ibunya sendiri. Dia sayang sekali dengan mbok. Jadi aku juga harus menghormati mbok sebagaimana Sarah begitu menghormati mbok Yem." Raka tersenyum lebar.


Mata tua itu berbinar-binar, andaipun dia tak lagi bisa bertemu Sarah, dia yakin gadis kecil kesayangannya itu berada pada tempat yang seharusnya bersama orang yang tepat.


"Ayo, masuk...tuan dan nyonya sudah menunggu." Mbok Yem memberi jalan meteka masuk dengan menggeser badan ringkihnya.


Tatapan nanar mbok Yem mengiringi dua orang yang bergandengan tangan itu masuk.


Di ruang tamu, sudah duduk papa dan mama Sarah serta papa dan mama Raka, tampaknya mereka terlibat obrolan yang begitu santai.


Raka dan Sarah terpana dengan situasi yang jauh dari apa yang mereka berdua bayangkan. Mereka berbicara begitu hangat seperti teman lama yang baru bertemu.


"Hallo Sayang, apa kabarmu?" Tiba-tiba mama Sarah berdiri memeluk Sarah yang masih terpaku di tempatnya.


"Kenapa kamu tidak bilang, jika mama akan akan punya cucu?" Sarah ternganga, tak percaya, mendengar pertanyaan bernada keluh itu keluar dari bibirnya.


Pelukan seperti ini sungguh langka bisa di terima oleh Sarah bahkan sedari dia kecil.


Mama bukanlah orang yang lembut baginya, kecuali papa yang selalu lebih memperhatikannya dalam hal apapun.


"Menantu mama ini juga, tidak mau kasih kabar gembira ini cepat-cepat. Kalau tahu, mama kan bisa mengunjungi kalian." Mama memeluk Raka kemudian.


Raka seperti arca yang tak bergeming, di peluk oleh mama Sarah untuk pertama kalinya setelah pernikahannya dengan Sarah.


Dulu, saat dia masih bertunangan dengan Sally memang mama Raka akan selalu baik di depannya, tapi setelah pernikahannya dengan Sarah hubungan mereka menjadi renggang karena Raka benar-benar ingin menjauh dari orang-orang yang telah membuatnya dan Sarah begitu menderita saat Sally melarikan diri dari pernikahannya.


Sarah memeluk papa dengan tulus, hanya laki-laki ini yang selalu berusaha mengerti dirinya, walaupun kadang tidak berdaya di bawah tekanan mama Sarah.


Modal Papa dan mama Sarah merintis perusahaan ini dulu adalah pemberian kakek dari pihak mama Sarah, jadi dalam hal apapun mama Sarah merasa tanpa keluarganya, keluarga mereka tak akan sesukses ini.


Dan itulah alasan mama Sarah selalu mendominasi.


"Selamat ya, Sarah..." Papa berucap, tulus di telinganya. Serupa bisikan hampir tak terdengar.


"Terimakasih sudah mengundang kami kemari." Papa Raka menyilangkan kakinya duduk dengan santai dengan senyum lebar.


"Ya, karena kesibukan kita, beberapa bulan ini jarang bisa bertemu. Senang rasanya kita bisa seperti ini lagi." Sambut papa Sarah.


"Gara-gara kelakuan anak-anak kita, yang tak terduga malah kita sempat dibuat bingung sendiri." Mama Raka terkekeh menambahkan.


"Saya tak menyangka, Raka yang bertunangan dengan Sally malah menikahnya dengan Sarah." Kalimat Mama Raka ini terdengar ringan tapi seperti panah yang menghujam pada semua yang hadir di tempat itu, kecuali papa Raka yang menampakkan raut yang sama dengan istrinya.


"Yah, anak-anak memang aneh. Selalu membuat keputusan yang tak kita mengerti. Mereka labil dan tak tahu apa yang mereka lakukan bisa membuat orangtuanya stroke di buatnya." Papa Sarah menimpsli seolah berusaha mencairkan suasana.


"Tapi kami benar-benar tidak enak dengan sikap Raka ini yang belum dewasa. Untung saja, sekarang semua telah berjalan dengan baik-baik saja.


Meskipun demikian, kami harus tetap meminta maaf untuk sikap Raka." Mama berucap setengah membungkukkan badannya.


Wajah Raka memerah, melihat adegan itu. Mereka sama sekali tak bersalah, semua dilakukan atas tekanan mama dan papa Sarah.


"Raka tidak bersalah, ma. Mama tidak perlu meminta maaf untuk kesalahan yang tidak di lakukan oleh suamiku..." Tiba-tiba Sarah bersuara, terdengar datar dan bergetar.


...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...Nantikan episode selanjutnya, yang lebih seru🙏...