
Sarah seperti tercekik di tempatnya duduk sementara Raka menepuk punggung tangan Sarah yang menggenggam tangannya dari tadi.
"Memanggil namaku?" Raka terkekeh dengan gumam setengah mengejek.
"Tante, aku rasa terjadi kesalah pahaman di sini. Antara aku dan Sally tidak ada hubungan apa-apa lagi. Kalian sendiri tidak sedikitpun memihak padaku ataupun Sarah saat Sally lari dari hari pernikahan kami." Raut wajah Raka sama sekali tidak berubah, ekspresi itu benar-benar dingin.
"Kalian memberikan Sarah untuk ku nikahi, dan kami telah melakukan sesuai dengan permintaan kalian. Ku rasa tidak ada hal yang perlu kami bayar lagi untuk membuat nama baik keluarga besar dua keluarga kita tetap baik di mata orang banyak. Sekarang aku adalah suami Sarah, rasanya tidak pantas jika aku kemudian di kait-kaitkan lagi dengan Sally." Ucapan Raka datar sekali seolah tak menyimpan simpati apapun pada penderitaan Sally.
"Raka, kami tidak meminta kamu kembali kepada Sally, seperti mungkin yang kalian pikirkan. Hanya saja, mungkin kalian bisa menghibur Sally sementara ini. Psikiaternya mengatakan, dia akan segera pulih jika dia bertemu dengan orang-orang yang membuat dia melupakan traumatik yang di alaminya." Papa Sarah berujar dengan pias yang penuh permohonan.
"Aku rasa ini terlalu berlebihan om Wijaya, aku bukan orang yang cukup pandai menghibur orang."
"Sally bukan orang lain! Kamu harus ingat, dia adalah tunanganmu dulu." Suara Mama Sarah terdengar keras, tidak bisa menerima sikap Raka.
"Mantan tunangan, tante...jangan lupakan itu. Hanya mantan tunangan!" Sahut Raka dengan senyum masam yang terpaksa.
"Sayang..." Sarah mendesah sambil menekan jemari Raka, berusaha menenangkan suaminya itu. Dia tahu, Raka sedang menahan kesal.
"Raka, jangan salah paham..." Papa Sarah berusaha menengahi, ketegangan yang terjadi.
"Om, aku tidak masalah melupakan apa yang sudah terjadi di waktu yang sudah lewat. Tanggung jawab kami sebagai anak sudah cukup, beri kesempatan kami hidup tenang sekarang." Pinta Raka sambil menoleh kepada Sarah yang tertunduk di sebelahnya. Betapa sakit hatinya melihat istrinya itu tersudut dan tak berdaya.
"Sarah...apakah kamu masih melihat kami sebagai orang tua yang telah membesarkanmu?" Tiba-tiba mama Sarah menujukan pertanyaan itu kepada Sarah, terdengar sinis di telinga.
Sarah mengangkat wajahnya perlahan dan menatap ibu angkatnya itu.
"Apa yang bisa ku lakukan lagi, Ma? Dosa mana lagi yang harus ku tanggung?" Entah dari mana keberanian itu datang. Dia menjawab dengan pertanyaan yang begitu menusuk.
"Jangan bersikap kurang ajar begitu di depan mama." Perempuan paruh baya yang jarang tersenyum itu, menarik sudut bibirnya dengan sedikit marah.
"Ma, berbicaralah dengan tenang..." Papa Sarah menegur istrinya, melihat situasi yang tiba-tiba memanas.
"Sarah, dengarkan papa..." Suara papa Sarah begitu lunak.
"Papa dan mama hanya ingin kamu mengijinkan Raka menemui Sally, mungkin itu bisa membantu adikmu menjadi sedikit lebih baik." Ujar papa Sarah perlahan.
"Papa tahu, Raka sudah suamimu sekarang tapi Sally sepertinya hanya mengingat Raka dalam keterpurukannya. Bantulah adikmu itu untuk sedikit menyadari keadaannya, siapa tahu melihat Raka bisa membantunya."Papa Sarah tidak pernah bersikap menghiba seperti itu.
"Aku tidak perlu mendapatkan ijin apapun dari istriku untuk melakukan sesuatu yang tidak ku inginkan, om. Aku minta maaf jika untuk permintaan ini, aku mengecewakan om dan tante." Raka melingkarkan tangannya di bahu Sarah di depan dua orang tua itu.
"Sarah adalah isteriku sekarang, mungkin baru hari ini aku sempat berterimakasih, kalian telah menyerahkan seorang perempuan terbaik untuk hidupku. Suatu saat aku pasti akan menunjukkan bakti sebagai menantu. Tapi untuk mengembalikan kesehatan mental Sally sungguh bukan tanggungjawabku ataupun Sarah. Itu di luar kemampuan kami.
Mungkin therapy bersama psikiater lebih menjanjikan." Raka benar-benar menolak untuk terlibat lagi dengan Sally.
"Aku punya kenalan seorang psikiater di Jakarta tante, sangat profesional. Jika om dan tante menginginkan, aku bisa mendatangkannya untuk Sally." Raka menawarkan sebuah solusi yang tentu saja membuat wajah mama Sarah merah padam.
"Jaga sikapmu, Raka. Kamu kira, kami tidak mampu mencarikan psikiater untuk Sally?" Mama berdiri dari duduknya, dia benar-benar marah terhadap sikap Raka.
"Ma, tenanglah. Mereka hanya anak-anak. Tenanglah..." Papa Sarah mendonggakkan wajahnya, menyuruh istrinya itu kembali duduk.
"Bagaimana aku bisa tenang, pa? Anakmu di atas sana seperti orang gila, tak merespon apapun kepada kita. Hanya memanggil-manggil nama Raka saja seperti orang bodoh! Dan anak tinggi hati ini, bersikap seolah-olah kita sedang ingin menjerumuskannya? Bagaimana aku bisa tinggal diam?" Mama Sarah melotot pada Raka.
"Sarah! Apakah sedikitpun kamu tidak memikirkan nasib adikmu itu? Apakah kamu begitu egoisnya, membiarkan Sally menderita begitu?" Mama Sarah mengacungkan telunjuknya kepada Sarah yang duduk dengan wajah tegang.
"Mama..." tiba-tiba Sarah berdiri.
"Jika aku tidak perduli kepada Sally maka aku tidak akan berdiri di sini sekarang." Sarah menjawab dengan getir.
"Aku sangat menyayangi Sally, ma...sampai-sampai tak ada yang tak ku lakukan untuknya selama ini. Apapun yang bisa ku lakukan, telah ku lakukan untuk Sally. Tapi ini tidak lagi hanya tentang aku, ini tentang Raka. Jika dia tidak menyetujui permintaan papa dan mama, aku bisa apa?"
"Tapi dia suamimu!"
"Karena dia suamiku bukan berarti aku bisa mengaturnya sesukaku. Kalau dia sendiri menolak, aku juga tidak bisa melakukan apapun."
"Anak tak tahu terimakasih!" Mama Sarah mendengus dengan marah.
"Maaf, tante...sepertinya kami harus segera kembali. Kami terlanjur berjanji untuk makan malam di rumah mama. Lain kali mungkin kami akan berkunjung kembali, om. Kami hanya bisa berdo'a, semoga Sally cepat pulih kembali." Raka juga berdiri, meraih tangan Sarah.
"Pa, maafkan Sarah..." Sarah memandang kepada laki-laki yang sangat dihormatinya itu. Papanya selalu bersikap lunak padanya, dia lebih mengerti dengan keadaan Sarah meskipun kadang dia tak terlalu bisa berbuat apa-apa karena tak bisa menentang mama Sarah yang lebih keras.
Laki-laki yang masih gagah dalam masa tuanya itu terdiam di tempatnya duduk, dengan wajah lesu. Dia tak bisa memaksa, Raka telah bersikeras tidak mau membantu dan Sarah juga sepertinya bersikap keberatan dalam kepasrahannya.
Dia tak bisa menyalahkan Sarah dan Raka karena dia tahu benar, Sally memang bersalah atas semuanya. Dia seolah menelan karma atas perbuatannya sendiri.
Hanya saja, sesalahnya seorang anak, tetaplah penderitaannya mendatang kesedihan orang tuanya.
Tidak ada yang tidak di usahakan orang tua untuk meringankan beban penderitaan seorang anak meskipun itu terjadi karena kesalahannya sendiri.
"Raka...Raka...apa itu Raka, ma?" Seorang gadis dengan baju piyama warna biru pupus, berdiri di ujung tangga, wajahnya yang pucat dengan rambut yang masai terdengar berkata dengan serak. Semua mata sekarang beralih ke ujung tangga lantai atas itu.
Sally berlari seperti melayang dari sana, matanya hanya tertuju pada Raka. Badan ringkihnya seolah akan menubruk ke arah Raka.
"Raka...!" Panggilnya, antara bahagia dan putus asa.
"Sally..." Sarah tercengang, tapi sebelum Sally memeluk tubuh Raka, Sarah berdiri reflek di depan Raka dengan wajah merona.
"Dia suamiku!"
...**Dukungan dan VOTEnya author tunggu lho,...
...mumpung hari senin nih, bagi yang ikhlas yaaaa...😅**...
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
...Dukungan dari semua Readers adalah semangat author untuk terus UP🙏☺️...