
Raka memeluk pinggang Sarah yang telah bersiap-siap keluar dari ruangan kerjanya dengan sikap manja.
Pagi ini mereka datang lebih cepat untuk menghadiri meeting terbatas dewan komisaris, yang memang sudah terjadwalkan.
Hanya empat orang yang akan ada dalam ruangan itu, Pak Rudiath selaku pemegang saham utama sekarang, Sarah pemegang saham kedua terbesar, Mytha dan Doddy sebagai pemegang saham masing-masing 15 persen.
Akan diadakan voting untuk persetujuan Sally sebagai perwakilan Mytha sebagai Calon Ceo baru.
Jika hasil itu 75 persen tidak menyetujui, maka Sally tak akan mendapat kesempatan bahkan untuk melakukan presentasi di depan Forum yang di hadiri para Presdir dan kepala cabang. Tapi jika Sally mendapat 50 persen saja suara atau ada dua suara yang menyetujui, maka dia bisa maju ke depan forum.
Andai di dalam forum ternyata Sally di anggap memenuhi syarat, maka dia akan menduduki jabatan setara dengan Raka.
"Sayang..."Suara Raka yang sok di manja-manjain itu membuat Sarah menyeringai lucu
"Ya."
"Aku tunggu di sini, ya. Jangan lama-lama mengurus mereka." Pinta Raka dengan wajah memelas.
Sarah menganggukkan kepalanya. Menatap lurus pada sang suami.
"Aku sebenarnya, bosan meladeni Sally." Keluh Sarah, wajah cantiknya itu sedang tidak bersemangat.
"Tapi Sally dan mama malah semakin menjadi-jadi sekarang." Sarah menghela nafas beratnya. Secara mental, kesabarannya benar-benar di uji oleh dua orang yang sangat membencinya itu.
Raka mengerling seolah dia sebenarnya enggan terlibat, sejurus kemudian dia balas menatap Sarah.
"Sayang, maafkan aku telah membuatmu terlibat dengannya begitu jauh. Aku tahu, pangkal dari semua ini adalah dendam Sally kepadaku." Ucap Raka perlahan dan berat.
"Sally membenciku dengan tak bisa di tawar lagi, itu yang sebenarnya, akar dari kebencian Sally. Dia tetap menganggap aku yang telah merebutmu darinya." Sarah mendes@h sambil menarik nafasnya.
"Karena akalnya tak sehat, dia selalu merasa dia yang benar. Sampai sekarang aku tak mau bersikap lebih keras kepadanya karena aku masih menghargai kamu sebagai keluarganya." Akhirnya Raka menyahut dengan mimik serius.
Sarah menghela nafasnya sekali lagi, jika membicarakan soal Sally dia merasa kepalanya menjadi pusing. Semua hal menjadi serba salah.
"Tapi, dia bahkan tak menganggapku sebagai keluarga." Ucap Sarah, seperti keluh.
"Aku kadang bingung harus bersikap bagaimana, di lain pihak aku masih mempertimbangkan perasaan papa di Kanada, biar bagaimanapun dia adalah papa Sally. Tentu juga tak ingin anaknya benar-benar ku buat menderita, karena dia juga menyayangi Sally, darah dagingnya. Perseteruan kami berdua pasti menyakiti perasaannya." Sarah menunduk, seperti itulah sebenarnya Sarah di balik sikap tegasnya, dia rapuh dan lembut hati
"Sayang...aku mengenal keras hati Sally. Meski aku tak pernah tahu kenapa sikapnya menjadi tak terkendali seperti sekarang. Aku pernah menjadi tunangannya dan selalu berfikir dia hanya manja saja tetapi tak pernah mengira, dia tak pernah dewasa bahkan menghancurkan dirinya sendiri seperti sekarang ini." Raka menepuk punggung Sarah dengan lembut.
"Aku percaya padamu, Sayang...pada apapun yang akan kamu lakukan. Tetaplah bijak meski mungkin kamu berada dalam dilema. Sebagai manusia mungkin manusiawi kita bisa berkeinginan membalas setiap sakit hati, tapi Tuhanlah yang mempunyai semua rencana. Berjalanlah di tempat yang benar. Bedakan antara memberi pelajaran dengan membalas dendam. Karena, dua mata itu berbeda." Raka mencium puncak kepala Sarah dengan sayang.
Sarah memeluk Raka sesaat sebelum melangkah keluar dari ruangan itu, membesarkan hatinya, untuk apa yang di lakukannya.
"Aku akan menunggumu di sini..." Raka mengedipkan mata pada isyrinya itu sembari menutup pintu.
Ruangan meeting itu lengang, empat orang saling berhadapan di meja besar itu. Terasa tegang tidak seperti pertemuan umumnya.
"Ku rasa, sekarang waktu yang tepat untuk kita mengambil suara, karena pengajuan ini atas permintaan dari salah satu komisaris." Pak Rudiath sedari tadi membuka meeting itu dengan cara yang santai kini terlihat lebih serius, dia menegakkan badannya sambil mengamati sebuah dokumen di atas mejanya.
Mytha menatap Sarah, rasa benci terpancar dari matanya. Dia tahu benar, Sarah tidak berada di pihaknya. Tak ada yang lebih dari rasa penyesalannya telah memungut anak itu, karena Sarah yang di anggapnya kucing peliharaannya itu tak segan-segan menggigit tangannya yang menurutnya semdiri telah menyelematkan Sarah.
Sejenak matanya terarah pada Doddy, anak Ferdian yang di anggapnya pengkhianat itu.
Anak laki-laki ini, terlihat begitu serius memperhatikan Pak Rudiath bicara, dia tak melihat ke sekelilingnya tetapi fokus pada leader tertinggi perusahaan itu.
Betapa geram hatinya, merasa begitu tersudutkan oleh orang-orang yang menurutnya telah bersekongkol menjatuhkannya, semua orang di dalam ruangan itu diyakininya berusaha menghancurkan dirinya.
"Saya rasa, kita tidak memerlukan CEO tambahan, karena keberadaan direktur dalam tiap cabang sudah cukup maksimal. Dan lagi satu CEO saat ini sudah cukup untuk menghandel pengelolaan seluruh operasional dan sumber daya perusahaan, dan selama ini satu orang CEO bisa mengelola komunikasi antara dewan direksi serta mewakili semua komisaris dalam pengelolaannya." Ucap Sarah dengan suara yang tegas dan lugas.
"Aku sependapat dengan Sarah." Pak Rudiath menganggukkan kepalanya.
"Aku merasa banyak hal yang tidak cukup transparan dalam pengelolaan perusahaan selama ini, saya merasa ini sangat tidak adil." Mytha menyahut berapi-api.
"Tidak ada hal yang di tutupi dalam setiap laporan, semua di sampaikan dengan jelas di setiap rapat bulanan dewan direksi." Pak Rudiath menyanggah sambil mengerutkan kening.
Dua suara ini sudah jelas menolak pengajuan Sally. Untuk keberadaan Doddy, Mytha tak perlu menganggapnya ada lagi, sudah tentu dia adalah anak bawang yang akan mencari aman.
"Aku hanya ingin, Sally mengawasi untukku. Karena aku tidak percaya siapapun di dalam perusahaan ini." Mytha tampak beringas dalam keputus asaannya, dia duduk dengan tegak dengan amarah yang sudah di tahannya dalam tiga hari ini.
Apalagi, saat Sally datang padanya kemarin malam dengan sesenggukan setelah dipermalukan oleh Doddy.
"Maaf jika saya menyela..." Tiba-tiba Doddy angkat bicara.
"Saya rasa...saya setuju dengan ibu Mytha." Lanjutnya kemudian dengan wajah tanpa ekspresi.
Mytha terpana di tempatnya duduk, hampir tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
Doddy, tak di sangka-sangka ada di pihaknya!
(Ada apa sih dengan Doddy, kenapa tiba-tiba membela Mytha dan Sally, please cari kejelasannya di episode selanjutnya, yaaaah😅 Hufs...nantikan lanjutannya, i love you my readers....🤗)
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya.....