
"Apakah kamu ingin bertemu dengan orang yang telah membuatmu merasa terbuang itu?"
Raka menatap Sarah dengan kehangatan yang tak berubah.
"Kenapa kamu menanyakan itu, sayang?" Tanya Sarah, dengan mata tak berkedip.
"Karena aku telah bertemu dengannya..."
Sarah terkesiap, dia memandng Raka dengan mulut ternganga. Bahkan sekarang dia tanpa sadar duduk dari posisi berbaring.
"Sayang...? Apa maksudmu? "
"Aku telah bertemu ayah kandungmu." ulang Raka dengan kalimat yang jelas.
"Kemarin, papamu menelponku...mengatakan ada seseorang yang ingin bertemu denganku. Dia bahkan rela menungguku tiga jam sampai aku selesai meeting..."Raka tidak meneruskan kalimatnya, ketika di lihatnya Sarah hanya memandangnya seperti patung dengan raut tegang.
"Sayang..." Raka bangun, dan duduk di depan Sarah, memegang pundak sang istri.
"Aku tahu kamu tidak akan mudah menerima ini, tapi aku tidak mungkin mengusirnya dari ruanganku setelah tiga jam dia menungguku." Raka menjadi tidak enak dengan ekspresi wajah istrinya itu.
"Kenapa dia mencarimu?" Suara Sarah terdengar begitu dingin, dia mencengkeram ujung selimut diatas pahanya.
Membayangkan seseorang yang meninggalkannya dengan rasa benci dan berpuluh tahun bagai hilang di telan bumi, sekarang muncul tiba-tiba mencari suaminya.
Bukankah itu hal yang sangat mengejutkan?
"Dia datang dari Kanada, sudah sebulan ini. Sangat ingin bertemu denganmu, tapi tak berani melakukannya." Raka menjawab hati-hati.
"Kenapa dia ingin bertemu denganku?" Sarah tak bisa bersikap antusias, setiap luka lama seperti mengambang ke permukaan.
Bagaimana rasanya begitu lama diabaikan, kemudian tiba-tiba dia datang seolah perduli?
"Dia ingin bertemu denganmu dan Rae...sebelum dia kembali ke Kanada." Sahut Raka.
"Bagaimana jika aku tak ingin bertemu dengannya?"
"Biar bagaimanapun, dia adalah ayah kandungmu..."
"Aku tahu. Tapi dia telah membuangku."
"Seorang anak tak bisa membuang ayahnya." Raka berucap dengan lugas.
Sarah menatap mata suaminya yang begitu tenang, seakan ingin meredakan dadanya yang bergejolak.
"Aku sudah menganggapnya tidak ada..." Bibir Sarah yang biasanya lembut itu, begitu dingin.
Raka menghela nafasnya, luka masa lalu sang istri mungkin membuatnya menjadi sekarang, begitu keras hati.
"Tidak apa-apa jika kamu tak ingin bertemu dengannya..." Raka tersenyum lembut pada Sarah yang mulai berkaca-kaca kembali matanya.
"Setiap penyesalan selalu berada di belakang, karena kesalahannya sendiri, dia harus menelan pil pahit ditolak darah dagingnya sendiri." Pelukan Raka yang hangat, membuat Sarah tak kuasa membendung air matanya.
"Kamu tidak salah sayang, kamu berhak memiliki perasaan itu, tapi jangan memelihara kebencian di hatimu karena itu hanya akan membuatmu tersiksa sendiri." Raka mencium kepala Sarah, mencoba membaur dengan perasaan istrinya itu.
Bukan hal mudah memang menerima, saat kita di abaikan bahkan sehak kita tak mengenal merah hitamnya dunia. Ditinggalkan begitu saja, tanpa perduli kita hidup atau mati.
Lalu setelah sekian lama, tiba-tiba datang begitu saja, seolah sekian lama waktu yang berlalu tak berarti apa-apa.
"Hanya saja, jangan sampai kamu memiliki penyesalan yang sama, jika suatu saat kamu tak lagi bisa bertemu dengannya." Bisik Raka hampir tak terdengar.
Sarah terisak dipelukan suaminya itu, dia tak tahu harus berkata apa.
"Bagaimana bisa aku merindukan orang yang tak pernah kukenal?"Desahnya di sela isaknya.
"Darah yang mengalir tak bisa berbohong, sayang. Apapun yang terjadi, dia tetap ayahmu." Raka berucap perlahan
"Apa yang harus kulakukan?" Sarah menggigit bibirnya, sakit hati itu masih terasa, mengingat perjalanan hidupnya yang terasa menyedihkan. Hidup tanpa orangtua kandung, dibesarkan oleh orang lain, dan hanya merasakan kasih sayang dari pengasuhan seorang pembantu yang di anggapnya ibu
"Temui dia..."
"Apa yang harus ku katakan?"
"Maafkan dia."
Mendengar dua kata itu terdengar begitu lugas, begitu ringan dikeluarkan oleh bibirnya.
"Aku tak tahu, apakah aku bisa bertemu dengannya. Aku mungkin belum punya hati sebesar itu." Sarah menunduk.
"Tuhan selalu punya cara..." Raka mengangkat dagu Sarah dengan lembut.
"Apakah aku harus bertemu dengannya?"Tanya Sarah setengah berbisik.
Raka melonggarkan pelukannya.
"Tidak ada yang harus...semua jawaban ada di sini." Raka menunjuk ke dada Sarah.
Sarah tercenung, menatap pada Raka, matanya tak berkedip melihat kepada wajah suaminya itu.
Lalu dengan lembut dihapusnya air mata Sarah dengan jarinya.
Seorang suami memang seharusnya menenangkan istrinya di saat-saat tertentu. Seorang erempuan mempunyai hati dan rapuh dan kadang penuh dengan pertimbangan dan kebimbangan karena mereka adalah pengingat yang ulung. Perempuan sanggup menghitung luka, air mata dan kekecewaan dari berbagai musim dalam hidupnya dan menyimpannya di sudut hatinya. Kadang waktu tak berdaya memulihkan luka dalam tapi cinta dan pengertian dari orang yang kita percaya akan sanggup menenangkan.
"Jangan menangis lagi mommy Rae sayang, periku ini tidak lagi cantik kalau sedang menangis..." Canda Raka, mencairkan suasana.
Suara rengekan kecil terdengar dari dalam box bayi.
Alis Raka langsung naik, sesungging senyum di bibir tipisnya yang manis itu.
"Sttt...ada yang akan bangun sepertinya." Raka menyibak anak rambut yang jatuh di dahi Sarah.
Sarah mengalihkan wajahnya pada box baby Rae. Si kecil itu sedang menggeliat meskipun matanya masih terpejam.
"Ayo...mandi sana, aku akan mengurusnya." Raka mendorong halus tubuh Sarah.
Sarah terdiam sesaat lalu mengangguk patuh untuk segera turun dari tempat tidur, jika Rae sudah bangun nanti dia kesulitan mencari waktu untuk membersihkan diri.
"Sayang..." Sarah berbalik kepada Raka, sebelum beranjak. Sesaat matanya berbinar meski masih sembab.
"Aku akan menemuinya." Lanjutnya dengan suara parau sebelum melangkah menuju kamar mandi. (Nantikan lanjutannya yaaa, seperti apakah pertemuan Sarah pertama kali dengan ayah kandungnya 😊)
...***...
Pengumuman sedikit😅
Haiiii, readers kesayangan, pembaca tercinta bagi yang ingin cari genre berbeda yang di tulis oleh akak, untuk alternatif bacaan sambil menunggu si Sarah-Raka UP tiap hari, mampir ya ke novel akak yang lain, yaa🙏😊
Ini adalah novel akak yang lain, sama-sama do noveltoon.
Silahkan mampir ya, agak mellow di awal tapi akak janjikan happy ending di akhir, karena akak gak suka cerita yang gak bahagia🤣🤣
ini cuplikan sinopnya👇
Agak sad2 di awal...😅👇
Tapi tokoh utama perempuannya akan dibentuk jadi perempuan yang kuat, lho😅👇
Yuk...yang penasaran mampir yaaaa😅
(Terimakasih sudah menjadi pembaca setia karya akak, semoga ke depannya akak akan terus bisa belajar membuat karya-karya yang lebih baik lagi🙏😊
Nantikan episode Menikahi Tunangan Adikku, saat Sarah bertemu ayah kandungnya, apakah Sarah bisa memaafkan samg ayah? dan kenapa ayahnya tiba-tiba muncul dalam kehidupan Sarah? Tetap stay yah...besok akak UP lagi🙏😊
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️......
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...I love you all❤️...