Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 216 DILEMA HATI


Sally ada apa denganmu?" Bram kalang kabut menghadapi Sally.


"Aku ingin Raka! aku mau dia..." Sally meracau.


"Hentikan Sally...!"


"Aku mau kembalikan Raka padaku..."


Sally berteriak pada Bram yang hanya memakai celana pendek dan kaos dalaman, dia baru keluar dari kamar mandi.


"Ada apa denganmu, sayang?"


Mata Sally yang kemerahan menatap pada Bram, seperti serigala lapar. Begitu waspada dan aneh tak seperti biasanya.


"Aku...aku mau Raka..." Tiba-tiba Sally menghambur dan menubruk tubuh Bram, seperti seorang anak yang melihat ayahnya.


Bram menelan ludahnya, selama ini dia selalu diam ketika Sally membanding-bandingkan dirinya dengan Raka tapi hari ini dia merasa tengkuknya meremang.


Tubuh Sally melekat erat pada tubuhnya, tangannya mengait Bram erat.


"Aku tak ingin apapun, aku cuma mau Raka." Ucapnya manja, nafasnya tidak lagi terengah-engah seperti tadi.


Bram merasakan hatinya hancur, jiwa lelakinya serasa lum@t ketika berkali-kali Sally mengucapkan hal yang sama.


Dengan gusar Bram melepaskan pelukan Sally.


"Hentikan ini semua, Sally! Aku tak mau mendengar ocehanmu yang tak jelas itu." Bentak Bram.


"Tapi...tapi..."


"Bisakah kamu tak menyebutkan nama Raka lagi?" Bram menggeram.


Baru kali ini dia merasa sangat kesal pada Sally dan tak bisa menahan emosi.


"Aku hanya mau Raka di kembalikan padaku. Dia calon suamiku...di tunanganku." Bibir Sally gemetaran, dia seperti akan menangis lagi dengan mata melotot menerima bentakan dari Bram. Hari ini, Sally benar-benar bersikap seperti anak kecil.


"Bisakah kamu berhenti menyebutkan nama Raka! Kepalaku rasanya mau meledak mendengar kamu menyebutkan namanya!" Bram sudah biasa menelan rasa cemburu saat Sally dengan tanpa mempertimbangkan perasaannya selalu menyebutkan nama Raka sebagai orang yang di inginkannya.


Tapi hari ini, rasanya dia tak bisa kompromi lagi, setelah bagaimana Diah mencampakkannya dengan cara yang menyakitkan, bukan hal yang mudah menekan keegoannya sebagai laki-laki menerima dirinya tak di inginkan oleh perempuan.


Bram tak tahu entah mengapa, rasa hambar sedang mendera perasaannya pada Sally. Dia bertahan bersama Sally karena terlanjur menganggap Sally adalah cintanya. Tapi beberapa minggu ini, dia merasa kata cinta tak cukup mewakili apa yang kini dirasakannya, hatinya berada di tempat lain.


Ya...Bram tak pernah memikirkan Diah sedalam ini, Bram tak pernah begitu ingin melihat Diah seperti sekarang ini. Bram tak pernah sangat menyesali setiap sikap dan tindakannya pada istrinya itu.


Tapi, Diah begitu kukuh tak melunak padanya dan dia tak bisa apa-apa selain mencela Diah, menghasut hatinya sendiri dengan memaki-maki Diah karena rasa cemburu yang aneh membuatnya tak bisa bernafas.


Dia tak tahu harus pulang kemana, selain pada Sally yang meskipun beberapa hari belakangan sering bertengkar dengannya tidak melukai perasaannya meski kerap bertingkah seperti anak kecil tapi selalu bisa kembali bermanja dengannya di atas ranjang. Setidaknya Bram merasa dirinya tetap di inginkan.


Tapi hari ini sikap Sally benar-benar keterlaluan, dia seperti tak menjadi dirinya sendiri. Tak pernah kelakuannya segila ini.


"Aku tak mau mendengarkan nama sialan Raka itu lagi kamu sebutkan!" Ucap Bram tak bisa menyembunyikan gusarnya. Bram berbalik menuju sofa di dekat tempat tidur, menarik celana jeansnya yang tergeletak di sana, mengenakannya. Dia merasa sesak bernafas di tengah amukan Sally yang tiba-tiba dan kecemburuan yang menyadar hatinya tanpa bisa di bendungnya.


"Aku tak mau mendengarmu meracau. Aku sedang tak ingin bertengkar denganmu, Sally!" Raka menyahut dengan acuh tak acuh.


"Braaaam..." Tiba-tiba Sally menghambur, memeluk pinggang Bram.


"Jangan pergi..." Dia terisak di punggung Bram.


"Jangan tinggalkan aku, Bram...aku mau kamu di sini. Aku tak bisa hidup tanpamu. Aku...aku...aku tak mau sendiri." Sally yang tadinya seperti orang kesurupan, mengamuk memanggil nama Raka itu sekarang tersedu-sedu seperti anak kecil yang takut di tinggalkan ayahnya.


"Bram, maafkan aku..."


Kalimat pamungkas yang di ucapkan Sally hari ini membuat Bram tak bergeming.


Dia tak pernah bisa menolak sikap ini dari dulu, meski segamang apapun. Dia selalu kalah.


Br berbalik menatap mata nanar yang bersimbah air mata itu. Jiwa Sally yang aneh dan senantiasa labil ini, kadang kala menimbulkan tanya dalam hatinya. Tapi setiap dia melihat bola mata yang berkaca-kaca itu dia tak pernah bisa menyakiti Sally.


Selama ini, Sally tak pernah benar-benar berpaling darinya, meskipun dia selalu mendengung-dengungkan nama Raka dan memujanya. Bram menganggap Sally hanya melampiaskan rasa kecewa dan dendamnya saja pada Raka tapi tak tahu cara mengucapkannya. Toh, meskipun dia kerap menyebut nama Raka, Bram memenangkan perhatian terlebih tubuh Sally dan sekarang bahkan Sallylah yang membuatnya tetap bisa hidup dalam pesta dan foya-foya.


Uang Sally yang banyak itu, dia menikmatinya seperti halnya tubuh Sally. Jadi dia tak pernah menganggap perkataan Sally serius jika mengatakan ingin Raka.


Tapi hari ini, dia merasa, ada yang berbeda dari diri Sally yang membuatnya merinding. Sally seperti orang yang sakit mentalnya, tatapan matanya berubah dalam waktu sepersekian menit.


"Ada apa denganmu, Sally?" Bram menyentuh kedua bahu Sally.


"Bram, jangan tinggalkan aku..." Sally menyahut, dengan jawaban yang tak nyambung sama sekali.


"Kenapa kamu membuatku takut?" Suara Bram bergetar, dia tak lagi membentak Sally.


"Bram, jangan pergi yaaa, malam ini aku akan membuat Bram kesayanganku bahagia..." Sally memeluk Bram dengan suara manja yang menggoda.


Bram membiarkan Sally memeluknya, meski dia menjadi sedikit ketakutan sendiri dengan sikap Sally.


Emosi Sally benar-benar tak stabil, Bram tak menyadari bahwa perempuan selingkuhannya itu adalah perempuan yang tengah menderita gangguan mental akibat kemanjaan dan keegoisannya sendiri.


Dalam dilema hatinya, Bram tak tahu mengapa, benaknya melayang pada bayangan Diah saat memeluk tubuh Sally, ini bukan hal yang biasa, karena selama ini ketika dia memeluk tubuh Diah dalam gelap dia membayangkan itu adalah Sally.


Dunia Bram sedang berputar, meski dia berusaha melawan perasaan itu.




LOVE YOU MY READERS.


Terimakasih buat cangkir-cangkir kopi dan bunga yang melayang hari ini, kalian the best🤗🤗🤗


...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...