Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 223 BERTUKAR RASA


"Apa yang kamu inginkan, sebenarnya?" Tanya Bram sekali lagi, seolah dia hanya bisa mengulang pertanyaan yang sama, matanya tak berkedip kepada Doddy yang tampak serius di depannya.


"Lepaskan saja Diah..." Kalimat itu pendek menggantung dari mulut Doddy tapi membuat Bram terkesiap di tempatnya.


"Siapa kamu yang merasa begitu berhak mengatakan itu padaku?" Bram bertanya dengan nada bergetar, dia merasa benar-benar tak menyukai kalimat yang di ucapkan Doddy, seolah sedang mencoba menggerogoti harga diri kelelakiannya.


"Sebagai seorang laki-laki, aku memang tak pantas mengucapkan ini, tapi sebagai seorang teman aku rasa, Diah tak layak di sakiti teris menerus. Jika menurut anda, dia sudah tak berarti apa-apa. Lepaskan saja. Tak baik menggantung perasaan orang hanya dengan mengatasnamakan status, ku rasa semua orang tahu sebenarnya apa yang terjadi. Satu gedung Rudiath-Wijaya Group itu tahu, affairmu, itu bukan rahasia lagi." Doddy mengangkat gelas kopi ya dengan tenang, tapi membuat wajah Bram merah padam.


Rasa malu menyergap tak bisa di bohonginya, saat ada seseorang yang dengan berani mengatakan kejujuran itu padanya.


"Anda tahu rasanya, ketika anda berjalan dan semua orang sedang menatap punggungmu dan membicarakanmu? sementara anda sendiri tak tahu apa-apa dan itu bukan kesalahanmu tapi semua orang menggunjingmu?"


Pertanyaan itu terdengar mendengung di telinga, menampar wajah Bram.



Seketika raut wajah Diah berkelebat di depan matanya, seakan sedang melangkah dalam pandangan banyak cibiran.


Bram menggelengkan kepalanya, mencoba membuang bayangan itu, Doddy seolah baru saja menghipnotisnya demgan pertanyaan yang menjebak perasaannya, sementara kini hatinya sedang di landa ragu atas keputusan yang berusaha di fikirkannya, apakah dia berusaha mempertahankan rumah tangganya yang berada di ambang kehancuran ataukah berpisah dengan istrinya, seperti apa yang kini terlihat begitu di inginkan oleh Diah.


Sejenak suasana menjadi mencekam antara dua orang itu. Doddy mengangkat gelas kopinya, pinggiran gelas kopi itu menempel sejenak di bibir Doddy. Dia menyeruput kembali kopinya, seakan memberi jeda kepada Bram untuk mencerna apa yang di ucapkannya.


"Seperti itulah yang di rasakan Diah sekarang..." Lanjutnya dalam nada prihatin yang tulus, setelah mereka sama-sama menikmati kesenyapan.


"Kamu sama sekali tak berhak mengomentari apapun mengenai rumah tanggaku." Bram menunjukkan rasa gusarnya tetapi hatinya mendadak tersentuh ketika membayangkan apa yang di alami oleh Diah, karena perbuatannya.


"Aku memang tak berhak mengomentari rumah tangga orang lain, hanya saja sebagai teman yang mengenalnya dari lama bahkan mungkin sebelum kamu benar-benar mengenal Diah, puluhan tahun yang lalu, aku sepertinya harus sedikit mewakili hatinya."


Bram terdiam, sekarang dia mengerti mengapa Diah tampak tak begitu sungkan dengan Doddy, ternyata mereka telah saling mengenal sejak lama.


"Tidak perlu ikut campur urusanku." Bram membuang mukanya, berusaha menenangkan hatinya yang bergemuruh. Sangat tidak nyaman memang, saat seseorang sedang membicarakan urusan pribadi kita dengan begitu gamblang.


"Bagaimana jika anda bertukar rasa menjadi Diah? Apakah anda terima jika pasanganmu memiliki perempuan lain dalam pernikahanmu. Atau begini saja, bagaimana perasaanmu saat melihat Diah dekat dengan laki-laki lain, meski tidak ada hubungan apa-apa? Bukankah anda kebakaran jenggot sendiri? Cemburu, itu ku rasa pasti. Tapi pernahkah anda mengambil tempat Diah saat terang-terangan anda mengkhianati pernikahan kalian? Tidak hanya di belakang, tetapi di depan Diah tanpa sedikitpun menyanggah meskipun sekedar untuk membohongi hatinya?" Doddy tak melepaskan pandangannnya dari Bram yang membeku di kursi seberangnya, wajahnya merah padam, antara tidak terima di kritik oleh Doddy dengan rasa bersalah yang menghempas nuraninya.


"Andaipun anda tidak mencintainya, setidaknya anda punya hati. Untuk orang yang telah mengorbankan waktunya, hidupnya untuk bertahan mendampingi anda sedemikian lama, seharusnya anda punya sedikit kemanusiaan. Diah sudah sangat menderita."


"Apa yang telah di katakan Diah padamu, sehingga kamu berdiri membelanya begini?"


"Selama aku bertemu kembali dengan Diah, tak pernah satu katapun dia mengucapkan apa-apa tentang penderitaannya, tapi sebagai orang yang telah mengenalnya lama, aku tahu dia benar-benar sedang terpuruk. Dalam pergulatan rumah tangganya yang mungkin tidak semua perempuan sanggup berdiri di tempatnya, tak sekalipun dia mengeluh dan mengumbar aib rumah tangganya, meskipun aku berharap dia menceritakannya sedikit untuk meringankan bebannya. Bagaimana mungkin kamu bertanya, apakah Diah mencari pembelaan padaku." Doddy menarik sudut bibirnya, meskipun dia berusaha bersikap tenang tapi Bram menangkap sesuatu di mata Doddy saat mengungkapkan kalimat panjang tanpa jeda itu. Sebuah kilatan rasa yang tidak hanya sekedar simpatik, pada orang yang tengah di bicarakannya itu.


"Semua orang tahu tentang skandalmu dengan anak petinggi perusahaan Rudiath-Wijaya Group itu, semua orang. Hanya saja orang-orang diam dan berpura-pura tidak tahu, tak ingin ikut campur, karena tak ada yang merasa berkepentingan untuk itu..."


"Lalu apa kepentinganmu ikut campur urusanku?" Bram menyela.


Doddy terdiam sejenak, dia tak berbicara tapi matanya yang tajam tapi teduh tak beriak itu seolah ingin berbicara banyak.


"Kenapa kamu diam?" Cecar Bram, entah mengapa hatinya hancur saat mendapati tatapan Doddy yang menyembunyikan sesuatu itu. Rasanya begitu aneh, saat ada orang lain begitu perduli pada perempuan yang telah di sadarinya beberapa bulan terakhir ini sebagai perempuan yang di sia-siakannya.


Yah, Doddy tak perlu berbicara panjang lebar tentang penderitaan Diah, dalam beberapa hari menjelang perceraiannya ini, dia yang begitu gamang semakin tahu, sungguh tidak mudah hidup menjadi Diah.


Berjengkal-jengkal sesal saat dia mengingat wajah Diah dalam beberapa pertengkaran terakhir mereka, istrinya itu telah begitu dingin dan begitu kaku karena semua yang telah di lakukannya.


Bram telah berusaha menunjukkan kecemburuannya, berharap Diah Sadar, tetapi caranya yang salah dengan membandingkan Sally pada Diah semakin memperkeruh keadaan, padahal dia sungguh sangat cemburu kala itu. Tapi, Diah seolah kehilangan rasa padanya.


Dan kini, ada seorang lelaki yang dengan dagu terangkat memberi pembelaan pada Diah atas ketidak adilan yang telah di lakukannya, itu ternyata sangat menyakitkan, seolah ada mata pisau yang menghujam kalbunya terdalam.


"Aku tak harus memberi alasan padamu soal itu, sebagai seorang teman aku rasa, tidak seharusnya aku berdiam diri melihat ketidak adilan ini..." Doddy tampak bingung sesaat dengan kalimatnya sendiri.


Bram mencondongkan badannya pada laki-laki yang berada di seberang mejanya itu, gelas kopi dari depan hidungnya di gesernya perlahan dalam suara berderak yang halus.


"Apakah kamu mencintai istriku?"


Pertanyaan itu tidak keras tapi terdengar begitu dalam.


Doddy Alfajri terkesiap, mulutnya terkatup, lidahnya terasa kelu.



LOVE YOU MY READERS


Terimakasih buat cangkir-cangkir kopi dan bunga yang melayang hari ini, kalian the best🤗🤗🤗


...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya....