Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 225 SEBUAH SURPRISE


Bram membuka matanya, rasa mabuk berefek pada kepalanya yang terasa berat, situasi itu sejenak membuat matanya terpejam beberapa saat. Bram telah duduk di Bar itu ber jam-jam, di temani gelas anggur. Botol-botol berjajar di atas mejanya.


Usai sidang cerai siang tadi, Bram tak pulang, dia berkeliaran mengelilingi kota Surabaya tanpa tujuan dan saat menjelang malam akhirnya dia masuk ke sebuah Bar.


Hatinya terasa remuk dan hancur, seperti kehilangan sesuatu tapi dia tak tahu itu apa. Otaknya blank, untuk memikirkan apapun sepertinya sangat sulit.


Fikirannya hanya bermuara pada mantan istrinya itu, meskipun bibirnya mengatakan ikhlas tapi hatinya masih saja merasa kehilangan.



Selama berhadapan dengan Diah di dalam persidangan, Bram berusaha terlihat tidak goyah dan tak mau mempersulit penjatuhan keputusan itu.


Dia mantap melepaskan Diah untuk menebus kesalahannya pada perempuan yang telah cukup menderita karena dirinya itu. Jika Diah bahagia dengan perpisahan mereka, maka itulah yang terbaik yang bisa di lakukannya, meski sebenarnya pada saat-saat terakhir dia menyadari perasaan sayang pada Diah muncul begitu saja, menguat dan tak terkendali.


Dia tak bisa menepis perasaan jatuh hati yang aneh pada mantan istrinya itu pada dua tiga bulan terakhir ini, tepat setelah talak pertama itu dia jatuhkan.


Tapi nasi telah menjadi bubur, terlambat untuk menyatakannya, Diah sudah mati rasa padanya.


Apalagi setelah Doddy muncul dengan cara mencintainya yang membuat Bram merasa dirinya sungguh tak ada apa-apanya di banding pria itu.


Dia mencintai Diah begitu tulus, membiarkan Diah memilih bebas dan mungkin suatu saat menjalin kisah baru dengan laki-laki sebaik Doddy barangkali bisa menebus waktu dan air mata Diah yang telah di jatuhkannya.


Saat ini dia hanya tahu tetap melangkah lurus, mencoba membuka kehidupan baru bersama Sally seorang.


Dia telah mengklaim kekasihnya itu sebagai cinta baginya, sekarang meskipun perasaannya telah jauh berkurang dan tak seantusias dulu pada Sally, dia berjanji akan berusaha teguh mendampingi perempuan itu.


Setelah perceraiannya dengan Diah dia ingin memperbaiki hubungannya dengan Sally dan membicarakan kemungkinan untuk membawa Sally pada rumah tangga yang sah.


Secara latar kepercayaan, mereka mungkin berbeda, tetapi Bram yakin menemukan jalan keluar untuk bisa menikahi Sally dengan benar.


Dia berharap dengan mengikat Sally pada pernikahan mungkin bisa membuat perempuan itu melupakan obsesinya pada mantan tunangannya itu. Dan saat ini, Bram tak mungkin meninggalkan Sally begitu saja, setelah beberapa masalah hidupnya yang rumit, Sally menjadi semakin labil dan emosinya kadang meledak-ledak.


Bram mungkin tak bisa memperbaiki kehidupan rumah tangganya yang telah hancur tapi memperbaiki kesalahannya bersama Sally masih bisa di lakukan.


Setiap orang mempunyai pilihan hidup, dan Bram telah memilih yang menurutnya itulah yang terbaik di lakukannya untuk melanjutkan hidupnya yang berantakan.


Subuh menjelang, tepat jam dua dini hari, Bram beranjak dari Bar itu dengan tubuh gontai, membawa mobilnya melaju di jalanan raya yang sepi.


Di sebuah pinggir jalan raya, terlihat sebuah toko bunga dengan lampu terang dan sebuah mobil box yang sedang membongkar muatan di depannya. Tampaknya mobil itu sedang menurunkan beberapa keranjang bunga untuk toko bunga itu.


Bram tergerak untuk berhenti, di toko bunga yang buka karena mungkin sekedar membongkar muatan itu.


Meski pemilik toko itu mengatakan mereka sebenarnya tutup tapi Bram memaksa untuk membeli sebuah buket bunga mawar berwarna merah.


Dengan senyum puas, Bram menenteng buket cantik yang segar itu.


Pagi ini, dia akan memberi kejutan pada Sally, dia ingin melamar gadis manja itu.


"Pak Bram, tumben pulang subuh..." Darto, security yang lebih muda itu menyapa, dia sudah cukup mengenal Bram dengan baik sebagai penghuni tetap apartemen mewah di lantai 4.


Bram orang yang menyenangkan, tak segan-segan membeli mereka makanan atau sekedar rokok jika dia turun dari apartemennya.


Laki-laki ini di mata para security itu orang yang cukup supel meskipun tak pernah membicarakan urusan pribadinya pada orang lain. Yang mereka tahu, Bram adalah kekasih atau mungkin tunangan dari Sally pemilik apartemen yang sudah mereka kenal dari bertahun-tahun sebelumnya.


"Cuma habis sedikit party." Bram berdalih sambil memberikan beberapa bungkus rokok sebagai oleh-oleh pada dua security itu. Di tangan kirinya sebuah buket mawar tergenggam.


"Beli bunga pagi-pagi, pak?"


"Ya, untuk neng Sally, aku mau memberinya surprise..." Bram segera masuk ke dalam lift, senyum tipis tertinggal di bibirnya yang kecoklatan itu.


Security yang satunya tampak gugup, mereka berdua saling pandang, mengiringi hilangnya Bram di balik pintu lift yang perlahan tertutup itu.


Bram melangkah ke depan pintu, tangan kirinya yang menggenggam buket bunga di sembunyikannya di belakang punggungnya, sementara tangan kanannya merogoh saku celananya, mengeluarkan card lock kamar mereka.


Bram dan Sally masing-masing mempunyai kunci kamar apartemen itu, karena Sally kadang berhari-hari di rumah mamanya dan tak tentu kapan pulang, Bram pun kadangkala keluar untuk beberapa kepentingan. Supaya lebih mempermudah akses, mereka mempunyai kunci kamar masing-masing.


Pintu itu terbuka, ruang tamu tampak gelap, saat Bram menghidupkan lampu ruangan, sedikit berantakan dan beberapa botol wine tergeletak di atas meja.


Bram sudah terbiasa dengan pemandangan itu, dia dan Sally sudah sering melakukan pesta sekedar minum. Tapi Bram sedikit tidak nyaman, sepeninggalnya tadi pagi memang Sally tampak kesal dengannya, dia mau Bram tinggal dan tak perlu menghadiri sidang cerai mereka, cukup mengirim seorang pengacara menurut Sally tak perlu Bram hadir.


Tapi, Bram sangat ingin melihat Diah untuk terakhir kalinya, sebelum palu hakim di ketuk, setidaknya dia punya sedikit kenangan pada wajah perempuan itu sebelum menjadi mantan istrinya.


Bram melangkah perlahan, setengah berjinjit menuju pintu kamar, dia sungguh tak ingin membuat Sally terbangun sebelum dia siap dengan kata-kata lamaran yang tengah di rancangnya sambil berjalan di otaknya itu.


Wajah terkejut Sally yang baru bangun, membayang sesaat. Bram tersenyum kecut, akhirnya dia bisa membuat dirinya dan Sally terikat secara utuh setelah ini.


Bunyi pintu yang halus, saat Bram mendorongnya perlahan. Bau alkohol menguar dari dalam, dalam suasana temaram dari lampu tidur berwarna orange, Bram terbelalak menatap dua tubuh seperti siluet bersusun dalam gerakan liar tak lagi berirama, suara lenguh dan des@h berpadu, bahkan tak menyadari Bram berdiri depan pintu kamar yang terbuka setengah itu.


Bram tercekat, kakinya seperti es yang terpaku di lantai, mulutnya menganga tak percaya dengan pemandangan di depannya. Matanya mengerjap dua kali seakan memastikan apa yang dilihatnya itu bukan ilusi karena kepalanya yang sedikit pusing.


Tangannya meraba dinding bagian kanan di mana tombol lampu ruangan berada.


Dengan gemetar tangannya menekan lampu itu, ruang kamar itu menjadi terang benderang, dua orang yang dalam keadaan polos bersimbah keringat itu seperti di beri aba-aba menghentikan gerakannya,


"Bram?!" Suara Sally terdengar terkejut, bersamaan dengan buket bunga yang jatuh dari belakang punggungnya.



( Hari ini akak double UP ya, kalau sanggup mungkin crazy UPπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Tunggu kelanjutannya, tentu saja reader akan bertemu banyak kejutan di ujung-ujung cerita ini. Semoga semua pembaca menyukai kisah iniπŸ˜πŸ˜πŸ™)


...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama RakaπŸ€—...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya....