Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 197 PERCINTAAN SIMBIOSIS


"Kamu akan bertemu laki-laki?" Raut cemburu itu terpampang di wajah Bram yang merah padam karena pengaruh alkohol.


"Aku akan bertemu siapa, kurasa aku tak perlu melaporkan apa-apa padamu. Selama tidak mengusik kenyamananmu, kurasa aku masih berada di koridor yang benar!"


Bram terhenyak, sejak mereka berdua tinggal serumah beberapa bulan terakhir, tingkah Sally semakin kasar padanya. Dia hanya baik serupa kucing manja saat mereka berdua di atas ranjang. Ketika dia terpuaskan, maka dia bersikap begitu manis dan menggelitik.


"Ada apa denganmu, honey?" Bram menarik bahu Sally untuk menghadap dirinya, begitu banyak kekasihnya ini berubah, sekarang dia sepertinya memperlakukan Bram bahkan h nyaris hanya serupa laki-laki simpanan.


"Memangnya ada apa denganku?" Sally mengerutkan keningnya, menoleh pada Bram yang tak lepas mengawasi dirinya seperti seekor kucing yang melihat ikan asin.


"Kamu benar-benar tidak menghargaiku!" Bram berujar dengan suara meninggi.


"Menghargaimu? berapa tinggi? berapa besar? Apakah kartu kredit yang ku berikan padamu sudah tak lagi cukup?" Sally mendelik.


Mata yang biasa mengerjap manja itu tampak tak menyisakan binar yang sangat di sukai Bram lagi.


"Aku tidak berbicara tentang uang!" Sergah Bram, dengan pias merah padam, rasanua Sally sedang membuatnya malu.


"Lalu, kita berbicara tentang apa?" Sally seolah begitu penasarannya, mimiknya penuh keheranan.


"Aku membicarakan tentang aku sebagai kekasihmu."Tukas Bram kemudian.


"Jangan memulai pertengkaran kita lagi, Bram. Kamu tahu pasti, kita hidup sekarang karena saling membutuhkan. Aku bukan Sally kecil yang dulu lagi, yang kalap oleh cinta. Aku mementingkan yang lebih lagi, tentang hidup dan masa depanku." Sally terkekeh, seolah kalimat yang di lontarkan oleh Bram tak lebih dari lelucon semata.


"Bukankah kita sepakat, bahwa kita akan memulai kembali?" Bram sejenak ragu, menanyakan itu seolah sedang bertanya pada dirinya sendiri.


Sally menatap Bram dengan tak berkedip. Lalu perlahan dia mengalungkan tangannya di leher Bram. Menciumi bibir Bram dengan liar, mulut Bram yang berbau alkohol itu di sasarnya dengan sikap possesif yang aneh.


Saat Bram memegang pinggangnya dan membalas dengan penuh semangat dan gairah, Sally mendorongnya dengan kasar, sambil merapikan rambutnya.


"Kita sepakat untuk tinggal berdua bukan untuk menikah, Bram. Dulu, memang aku yang telalu bodoh meninggalkan pernikahanku karena tergila-gila padamu tapi sekarang, aku merasa ternyata **** bukan segalanya. Aku menginginkan kembali pernikahanku itu, karena aku yakin Raka tak mungkin benar-benar telah melupakan aku." Begitu mulusnya cara Sally mengucapkan kalimat itu seolah-olah dia menganggap perasaan Bram terbuat dari batu.


"Sally!" Rahang Bram mengeras, mencengkeram kedua bahu perempuan yang telah di klaimnya sebagai cinta sejatinya ini.


"Bram, aku tidak pernah menyuruhmu menceraikan istrimu! Kita berdua tahu, hubungan kita ini adalah simbiosis mutualisme, dimana kita berdua saling membutuhkan. Jika suatu saat kamu kembali kepada Diahmu itu, aku tak akan melarangmu, jika kita berdua sama-sama mencari kehangatan, kamu boleh datang. Bukankah itu adil?" Sally menyampirkan tas kecilnya di bahunya.


"Apa maksudmu, Sally? Jangan meracau. Aku tidak sedang ingin mendengar candaanmu." Bram merengut dengan wajah merah padam.


"Aku tidak sedang bercanda, Honey. Aku berbicara serius." Sally menggedikkan bahunya.


"Aku tidak lagi merencanakan masa depanku denganmu, karena aku tahu kamu bukan masa depanku. Aku hanya ingin tetap di sisiku saat aku membutuhkanmu dan kamu boleh pergi jika kamu tak suka. Karena itu bersikap baiklah, jika kamu merasa diriku penting bagimu."


Bram ternganga mendengar penuturan Sally, dulu dia berfikir telah memenangkan hati Sally saat bisa membawa kabur perempuan ini dari pernikahannya. Tapi sekarang saat dia merasa tak punya apa-apa, Sally mempermainkannya sedemikian rupa.


Dia telah kehilangan pernikahannya, dia sudah kehilangan banyak hal demi Sally tapi Sally seakan menganggap hal itu hanyalah bagian dari permainan.


"Aku akan tidur di luar malam ini, honey...tidak usah menungguku. Kau boleh pesan makananmu sendiri, tidur sampai siang. Aku sedang ada urusan. Tidak perlu menelponku." Sally berkata sambil melenggang tanpa menoleh kepada Bram. Dia segera menghilang di balik pintu, meninggalkan Bram yang berdiri seperti patung, tanpa bisa mengucapkan apa-apa.


...***...


Sally sudah diatur oleh mamanya untuk mengikuti acara tersebut sebagai salah satu undangan, di mana pula Doddy Alfajri di pastikan mengikuti acara yang sama.


Dengan langkah penuh percaya diri dia mengitari pandangannya pada tamu yang berjumlah seratusan orang itu.


Beberapa mata tampak terpesona melihat kedatangan Sally, tubuh Sally memang sempurna di balut gaun malam yang seksi membuatnya semakin nampak luar biasa.


Ketika dia menangkap pemandangan di mana Doddy sedang berdiri sambil berbicara dengan beberapa orang.


Setelah mengambil segelas sampagne, Sally menghampiri Doddy.


"Selamat malam..." Dia menyapa sambil tersenyum pada tiga orang teman Doddy yang berdiri di tempat yang sama.


Doddy memalingkan wajahnya, menatap pada Sally sesaat kemudian menyambut kedatangan Sally dengan sikap formal.


Teman-teman Doddy segera menyingkir, menyadari pandangan Sally yang sepertinya ingin berbicara dengan Doddy.


"Mama menyuruhku menemuimu di sini." Sally tersenyum lebar.



Doddy menganggukkan kepalanya, senyum di bibirnya terlihat datar atau mungkin karena wajah Doddy yang cool itu membuatnya terkesan tak tergetar dengan kedatangan Sally.


Laki-laki itu terlihat maskulin dengan mengenakan kemeja putih dengan blazer hitam.



"Apakah kamu membawa dokumen yang di katakan bu Mytha?"


"Oh, aku lupa...Dokumennya ada di mobil." Sally tampak menepuk dahinya sambil tertawa kecil dengan gaya menggoda, seolah dia benar-benar melupakan map yang dititipkan sang mama, map itu sengaja di tinggalkannya di jok mobil.


"Sebenarnya yang saya tahu, menurut papa, ibu Mytha yang menemuiku di sini."


" Mama sedang tidak enak badan, jadi memintaku menggantikannya sekaligus mengantarkan sebuah surat yang katanya sangat penting itu."


Doddy hanya menatap Sally, mendengarkan. Tatapan Doddy yang sejenak terpaku padanya membuat Sally semakin percaya diri untuk menggerak badannya dengan yang lebih seksi.


"Aku bisa ambilkan sekarang..." Dengan wajah menyesal, Sally nampak tergesa meneguk sampagne dari gelas yang ada di tangannya, meletakkannya ke nampan seorang pelayan yang lewat.


Saat dia berbalik, tiba-tiba sepatunya sepertinya tersandung sesuatu,


"Aww..." Tubuh Sally terdorong ke arah Doddy dan dengan reflek Doddy menyambut tubuh Sally.


(Othor usahakan Double UP yah hari ini biar lebih greget😊 Nantikan lanjutannya readers kesayangan semua, berhasilkah Sally dengan misinya ataukah Zonk😁🙏)


...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya.....