Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 186 MENCARI WAJAH DALAM TEMARAM


Sesaat matanya tak berkedip mengeja kalimat apa yang tertulis di atas kertas itu, tanpa di sadarinya dia mengucapnya dalam gumanan kecil tapi tetap terdengar jelas,


"Diah Pitaloka binti Sophan Abdillah, saya talak engkau dengan talak satu. Mulai saat ini saya bebaskan engkau dan melepas tanggung jawab saya terhadapmu,"


Mulut Bram ternganga mengangkat wajahnya pada Diah yang mematung menatapnya dari seberang meja,


"Aku menulisnya, takut mas kesulitan merangkai kalimat itu dengan benar." Ucap Diah lugas.


"A...apa maksudmu?" Bram menatap Diah tercengang, tak percaya apa yang sedang di dengarnya.


"Selama ini, bertahun-tahun mas tak pernah memberi nafkah lahir yang benar pada keluargamu, berbulan-bulan mas lupa menafkahi bathin istrimu, entah berapa kali mas telah mengkhianatiku di belakang, secara agama seorang suami telah lalai menafkahi istrinya sedemikian dalam adalah haram dan berdosa. Dengan rentetan kesalahan itu sebenarnya adalah alasan kuat untukku menggugatmu mas, tapi aku berusaha bertahan dalam kesabaran memberimu kesempatan untuk berubah." Diah tampak tak bisa menahan gelombang emosi yang hinggap dan terpancar pada raut wajahnya yang tiba-tiba mengeras.


"Sayangnya, aku manusia biasa, mas. Tak mampu bertahan hanya dengan satu kaki. Jadi aku ikhlas jika mas menceraikanku." Lanjut Diah, dengan suara yang tegar.


"Diah...kita tidak harus begini." Lirih Bram berucap tapi itu hanya sampai di ujung lidahnya, rasa sesal menjalar lewat bilik-bilik hatinya, dia tersadar dirinya telah menyakiti Diah sampai batas yang bahkan tak seorangpun lagi bisa menanggungnya.


"Terima kasih telah membebaskanku dengan mengucap kalimat talak itu padaku, mas." Bibir Diah yang meona itu gemetar.


"Kenapa aku harus melakukan ini? Aku tak mau lebih dulu memohonkan perceraian kepada mas, karena aku takut mendahului hak mas yang telah menikahiku sesuai dengan aturan agama, tetapi aku tetap ingin mas juga menceraikan diriku dengan benar." Diah mengambil nafas sesaat, mengumpulkan oksigen ke paru-parunya yang terasa ingin meledak.


Bram terdiam, tak punya kata, kecuali matanya yang berkedip tak lepas mengawasi Diah yang berbicara.


"Dalam kesadaran penuh Mas Bram selama ini berselingkuh, kuanggap dalam kesadaran pula mas menceraikanku sejak bertahun-tahun yang lalu. Bukankah berkali-kali mas telah mengatakan penyesalan menikahiku, berkali-kali pula aku menutup telingaku dan berpura-pura tuli saat mas menyatakan bahwa mas terpaksa menikahiku! Dan... entah sudah keberapa kali pula mas mengatakan ingin menceraikanku karena tak mencintaiku. Tahu kah mas, secara agama mas Bram telsh menalakku berkali-kali, hanya saja aku yang bodoh ini menghibur diriku dengan berpura-pura tak menganggap mas serius. Semua kata-kata itu telah ku telan begitu saja demi anak-anak yang ku cintai dengan seluruh jiwa ragaku." Diah berhenti sejenak, seolah berusaha bernafas di tengah kalimat panjang yang begitu menyesakkan untuk di ucapkannya itu.


"Dan hari ini aku meluluskan semua keinginan mas untuk menalakku dengan membuat mas mengucapkannya dalam kalimat yang benar, supaya mas tidak perlu lagi mengucapkan kata cerai itu kepadaku hanya pada saat mas memarahiku saja. Dalam pemahamanku yang begitu rendah, tanpa saksi sekalipun secara agama, saat seorang suami mengucapkan kalimat talak itu, hukumnya tetap Sah." Ucap Diah dengan pias lega di ujung kalimatnya.


Bram menatap Diah tak percaya dengan apa yang di dengarnya, sebagai seorang imam dia buta dalam segala hal. Dia tak pernah benar-benar belajar tentang agama, apalagi berusaha untuk menjadi imam untuk keluarganya.


Mata Bram yang tajam dan nanar mengawasi gerakan-gerakan Diah, seolah dia benar-benar terpana dengan apa yang dilihat dan di dengarnya.


"Selama masa tunggu ini, aku tak ijinkan mas Bram menyentuhku seujung kukupun. Meskipun aku masih di rumah ini, aku tidak bisa lagi mengurusmu, jadi uruslah dirimu sendiri jika kamu ada waktu pulang." Diah membungkuk dan meniup lilin besar di tengah meja makan itu dengan gerakan perlahan.


"Seperti lilin yang mati ini, seperti itulah cahaya dalam rumah tangga kita yang telah berusaha ku jaga tetap hidup meskipun kamu berulang kali mencoba mematikannya." Asap dari lilin itu menggeliat putih tipis, dan segera menghilang di udara setelahnya.


"Sekarang, mas... aku sendiri yang suka rela mematikannya. Tanpa perlu mas susah payah berusaha memadamkannya lagi. Bertahun-tahun aku sabar, menjilat nanah dari borok luka hatiku sendiri yang selalu mas gores dengan luka baru setiap hari. Saat ini, aku memilih menyerah dengan rumah tangga kita bukan karena aku yang menginginkannya tetapi karena aku ingin mas hidup dengan tenang, menjalani dosa-dosa, mas. Jika aku masih menjadi istrimu, aku mungkin tak akan sanggup menutupi aib rumah tangga kita sepanjang waktu." Nafas Diah terdengar tenang, menghela satu-satu.


Malam mulai menjelang, Adzan magrip terdengar berkumandang samar,


"Maafkan aku, yang sampai akhir tak pernah bisa membuatmu tenang dengan kehadiranku. Aku tak lagi ingin berjuang untuk menjerumuskan diriku dalam kesia-siaan. Aku tak menyalahkanmu atas penderitaanku, karena aku sendiri yang terjun ke dalam kubangan yang aku tahu adalah lumpur. Mari kita akhiri semuanya, seperti seharusnya pernikahan ini tak pernah terjadi. Aku berdoa, bahkan di alam berbeda, jangan sampai kita dipertemukan lagi."


Setitik air bening jatuh di sudut mata Diah, air mata itu telah di simpannya begitu lama, berharap tak jatuh lagi saat harus mengucapkan kalimat ini. Tapi, dia tetaplah perempuan yang tak bisa menolak tangis saat jiwa dan raganya terluka sedemikian dalamnya.


Bram terpekur menatap kepada perempuan yang berdiri di seberangnya ini, baru kali ini dalam cahaya temaram, dia berharap menemukan cahaya untuk bisa melihat lagi wajah Diah. Dia begitu takut wajah itu menghilang dalam gelap.


(Terimakasih untuk semangat yang diberikan kepada othor, akhirnya bisa double UP lagi hari ini, mudah2an biar bisa Crazy UP lg nanti malam yaaaa...😅🥰🥰 cintaku buat semua pembaca setia😉❤️)



...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya......