
Tiga minggu pasca kejadian di rumah orangtua Sarah, semua terasa tenang dan adem ayem
Mama dan papa Sarah tidak pernah menghubungi Sarah begitupun sebaliknya, meskipun di dalam hati kecil Sarah tentu saja sebagai saudara yang telah tumbuh besar bersama, dia mencemaskan kondisi adiknya itu.
Hanya saja, banyak perasaan yang harus di jaga, bukan hanya karena memikirkan diri sendiri tetapi perasaan Raka sebagai suaminya.
Lebih baik menunggu kepulihan Sally, papa dan mama pasti mengupayakan yang terbaik untuk kesembuhan Sally. Untuk sementara waktu diam adalah pilihan terbaik dari pada memperkeruh keadaan.
Selama dua minggu terakhir ini juga, Sarah mempunyai banyak waktu untuk mengurus butiknya. Banyak yang harus di selesaikannya termasuk beberapa desain orderan yang masuk.
Selama ditinggalnya ke Leiden, banyak yang keteteran, yang Jen ataupun Grace tak bisa menghandel. Biasanya masalah orderan yang fanatik dengan desainnya.
Dan tentu saja dia punya kesibukan utama sekarang, selalu melihat ke jam dinding, untuk memastikan tidak terlambat pulang untuk makan siang bersama suaminya yang setia menunggunya di apartemennya.
Mereka memang memutuskan tinggal di apartemen Sarah sementara ini, dengan pertimbangan dekat dengan butik Sarah.
Dan apartemen Sarah sekarang berubah menjadi tempat kerja Raka, memeriksa dokumen-dokumen pekerjaan dan segala hal yang berhubungan dengan kantor perusahaan.
Dea tentu saja paling sibuk karena Raka memilih membuat kantor pribadi di rumah.
Bolak balik membawakan dokumen dan meminta persetujuan jadwal meeting ataupun konsultasi mengenai beberapa pekerjaan.
Edgar sendiri minta waktu Raka selama libur semesternya untuk kembali mengelola perusahaan sementara dia meluangkan waktu untuk baby Dylan.
"Sayang, tidak kasihan sama Dea, bolak balik seperti kereta begitu..."Tegur Sarah suatu kali.
"Biar saja, sekali-kali bikin dia sibuk." Jawab Raka dengan cuek.
"Biarpun dia asistenmu, punya perasaan sedikitlah..."Ujar Sarah, kasihan juga dengan Dea, yang sebentar-sebentar di telpon Raka.
"Biar dia cepat kurusan, semenjak ku tinggal ke Leiden, dia kurang kerjaan jadi gemukan begitu."Raka menyahut asal.
"Tapi..."Sarah menyela.
"Tak ada tapi-tapian, aku di rumah saja. Lebih nyaman di sini, sambil menunggu istriku pulang."Raka memencet hidung Sarah dengan gemas.
"Aku tidak bisa lama-lama tak melihatmu. Kangen itu berat, aku tidak sanggup, sayang..." Lanjut Raka.
Selalu saja Raka punya jawaban yang membuat Sarah berbunga-bunga.
"Alasan!"Sarah mencibir.
"Ini bukan alasan, tapi sungguhan."
Dulu, saat baru menikah, rasanya Raka tidak begitu. Wajahnya dingin seperti es batu, tatapannya tajam seperti orang yang tak punya hati, nada bicaranya datar bahkan kadang ketus.
Tapi sekarang, semua sungguh terbalik. Rasanya Sarah menikahi orang yang berbeda dengan rupa yang sama.
Raka adalah laki-laki yang penyayang bahkan bisa dikatakan romantis. Dia pengertian meskipun kadang agak nakal dan menjengkelkan.
Entah Raka yang berubah ataukah memang begitulah sebenarnya sifat Raka, yang Sarah tahu dia mencintai suaminya itu apapun adanya.
Sarah melihat ke jam dinding, waktu menunjukkan hampir jam 12. Sarah yakin, Raka sedang menunggunya di apartemen.
Diraihnya ponsel dari atas meja dan menghubungi Raka via video call.
"Haiii, sayang..."Raka nampak di layar dengan kaos T-shirt putihnya yang elegan.
"Kapan pulang?" si sok manja ini menyambar saja, sebelum sempat Sarah berbicara.
"Sepertinya tanggung pulangnya, sayang...kerjaanku hampir selesai nih, sisa finishing sedikit." Sarah meringis, benar-benar enggan meninggalkan pekerjaan yang sebentar lagi selesai itu.
"Yah, aku tidak makan dong siang ini?"protes Raka dari seberang.
"Katanya master chef...?" Sarah tertawa meledek, melihat tingkah konyol Raka.
"Master chefnya lagi pensiun, maunya sekarang makan masakan istri saja"Dalih Raka.
"Tapi, sayang...ini nanggung." Sarah menatap desainnya dengan nanar. Dilema antara pekerjaan dengan suami tersayang yang menunggu di rumah.
"Ya, sudahlah. Selesaikan pekerjaanmu, setelah itu cepat pulang. Aku sudah rindu..."Raka menyahut pasrah.
"Aduh sayang, ini baru empat jam tak bertemu, lho."Sarah melototkan matanya yang bulat cantik itu
"Itu lama, seperti empat tahun!"Sahut Raka.
"Lebay..." Sarah ngakak mendengarnya.
"Aku pesan makan via gofood, ya. Dari restoran favoritmu."Tawar Sarah
"Manjaaaaa..."
Raka tergelak melihat wajah istrinya yang tersipu, pipinya yang mulus itu jadi merah jambu.
"Makan sendiri, ya..."Sarah menghiba.
"Ya, nyonya. Abang makan sendiri, tapi jangan dibiasakan suami sendirian terus, nanti lama-lama bisa pindah makan ke tempat tetangga."Raka menggoda istrinya yang tampak tak enak padanya.
"Ih, memang suaminya yang genit, kepengen makan di rumah tetangga kali." Sarah merajuk.
Raka tertawa lagi, senang melihat istrinya siang-siang pasang wajah kesal.
"Oke, selamat menyelesaikan pekerjaan, ya. Jangan lupa, ada yang menunggu di sini."
"Kumat lebaynya...!"Sarah benar-benar gemas melihat ke layar ponsel, wajah tanpa dosa itu seperti begitu serius.
"Aku pulang terlambat, ya..."Wajah Sarah sekali lagi memohon.
"Iya, sayang."
"Bye sayang, see you"
Sarah menutup telpon sambil tersenyum sendiri. Raka selalu saja bisa membuatnya jadi ingin segera pulang.
Setelah membuka aplikasi go food dan memesan beberapa menu makan siang yang di antar langsung ke apartemennya, Sarah kembali kepada pekerjaannya. Menyelesaikan beberapa detail pada desainnya.
Sarah memencet C pada dial interkom di meja.
"Yes, mam...!"Suara cempreng Jen terdengar di seberang.
"Jen, bawakan aku biskuit dengan juice, ya." Pintanya pada asisten pribadinya itu.
"Itu saja?"Tanya Jen
"Yah, itu saja." Sahut Sarah pendek.
Dia tidak benar-benar lapar tapi dia harus makan sesuatu. Beberapa hari terakhir dia merasa tidak nyaman. Makanan tidak ada yang pas dengan seleranya, kecuali mie instan bikinan Raka. Perutnya sering terasa kram, mungkin memang karena menjelang datang haid, biasanya Sarah merasa gejala seperti itu.
Tidak sampai lima menit Jen muncul di pintu, membawa pesanan Sarah dan meletakkannya di atas meja kaca di depan sofa. Tak ingin menganggu Sarah yang tengah konsen menghadap meja kerjanya.
"Lagi diet, mam?"Tanya Jen usil.
"Siapa bilang diet?"Balik Sarah yang bertanya dengan acuh.
"Itu makannya cuma biskuit sama juice. Biasanya makan siang menu berat."
"Lagi kenyang, Jen."
Jen cuma menggedikkan bahunya mendengar jawaban Sarah.
"Biasanya pulang siang, yang di rumah tidak protes hari ini mangkal di butik."
"Sudah ijin, Jen."
"Pakai ijin segala sekarang, mam. Kayak napi wajib lapor" Jen tertawa yang berakhir dengan timpukan Sarah dengan pensil yang dipegangnya.
"Sembarangan!" Sarah merengut, Jen tergelak. Sambil berlari ke pintu, dia tahu kalau Sarah sedang kesal, benda apa saja yang di tangannya bisa dilemparkannya lagi.
Jen membuka pintu dan terpekik karena hampir menabrak seseorang yang berdiri di depan pintu yang terbuka.
"Mbak Sally?" Jen tercengang, masih dengan raut terpana, lalu dengan segera keluar melewati raut tak ramah di depannya.
Sarah mengangkat wajahnya mendengar nama adiknya di sebut dan menatap ke arah pintu dan tak kalah terkejutnya.
Tubuh Sally yang tampak lebih kurus terbalut celana pendek berwarna hitam dipadukan dengan pakaian basic berwarna putih dan luaran berwarna krem. Tampilannya yang begitu pucat dengan sebuah kacamata hitam besar yang menutup sebagian wajahnya.
"Kita harus bicara, Sarah...!"Suara Sally terdengar serak.
(Maafkan, Author yang lagi pengen UP double hari ini...πππ)
...Dukungan dan VOTEnya author tunggu lhoπ...
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...β€οΈ...
...Dukungan dari semua Readers adalah semangat author untuk terus UPπβΊοΈ...