Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 179 SESEORANG INGIN BERTEMU


"Sayang, jangan begini." Sarah akhirnya berbisik dengan parau, dia tak menolak tapi mulutnya meracau seperti keberatan.


"Aku harus bagaimana? Kamu yang memulai..." Raka terus bergerilya, tangannya menyasar tak bisa diam ke sana kemari, menyusup di antara celah kemeja yang di kenakan oleh Sarah.


"Aku hanya main-main saja tadi." Bisik Sarah, dengan raut memohon supaya Raka menghentikan gerakan-gerakannya yang semakin liar.


Jika Raka terus melakukannya, dia kuatir tak bisa menahan dirinya juga.


"Undur-undur tak ada di sini, lumayan kukuk tak perlu kuatir dipelototin tiba-tiba sama Rae." Raka terkekeh, tampak puas dengan senang dengan ketidak hadiran cctv kecil mereka itu.


"Memangnya kukuk itu bangun?" Tanya Sarah sembari mendelik pada suaminya itu.


"Kukuk tak bisa melihat kamu langsung melek." Sahut Raka dengan nada parau, dia hanya bisa menelan salivanya, ketika tangan Sarah menahan gerakannya dengan sebuah cengkeraman.


"Astaga...kukuk ini memang luar biasa." Sarah tertawa mendengar sahutan Raka.


"Stt...si kukuk ini paling kenal tempat favoritnya. Jadi, sayangku...aku sarankan, kamu diam saja, kita gunakan ruang kerja keramat ini se efisien mungkin." Raka mulai menyerang dengan ciuman yang lebih panas, ritmenya semakin tak sabaran. Sarah menggelinjang geli.


Tanpa Sadar dia menyambut ciuman Raka, menarik erat tubuh sang suami lebih menempel ke badannya, membuat setiap gerakan mereka menimbulkan gesekan-gesekan menggoda iman.


"Oh, astaga...kamu selalu saja membuatku bergairah." Raka mengoceh dengan nafas tersengal.


TOK! TOK! TOK!


Pintu diketuk, membuyarkan pelukan keduanya yang saling mengait tak jelas di badan masing-masing.


"Astaga...siapa sih yang sibuk sekali siang-siang begini." Raka mengomel sementara Sarah menarik tubuhnya dengan dan merapikan pakaiannya yang berantakan dengan pias merah jambu.


"Ini memang kantor, sayang...kita yang sibuk sendiri."Sarah tergelak melihat bagaimana raut penasaran sang suami itu kesal bukan kepalang karena ritualnya terpaksa cancel.


"Ini pasti Rian, Kalau dia tidak membawa hal yang penting, ku buat dia jadi sate keong." Rutuknya sembari menenangkan si kukuk yang melemas setelah sempat upacara tegap sempurna sesaat di dalam kediamannya.


"Sudahlah, kita lanjutkan di rumah saja." Sarah menepuk pipi sang suami sambil mengedipkan matanya.


"Kamu yang menggodaku duluan. Si kukuk sudah adem ayem, lho tadi." Omel Raka.


"Kukuk ini keterlaluan juga, tadi subuh sudah di kasih sarapan, ini kok masih lapar saja." Sarah tak bisa menahan tawanya, sambil merapikan kerah baju sang suami yang sebagian berdiri sebagian terlipat.


"Makan siangnya belum..." sahut Raka, sempat-sempatnya mencium kepala sang istri.


TOK! TOK! TOK!


Pintu itu di ketuk lagi, sepertinya memang tak sabar.


"Masuklah!" Raka menjawab ketukan pintu itu dengan wajah sedikit masam , sementara Sarah menjauh dari suaminya itu, masuk ke dalam toilet sambil tersenyum sendiri, mengingat tingkah nakal mereka berdua siang ini.


Pintu terbuka dari luar, tampak Rian muncul dengan wajah menunduk, sangat jelas rautnya segan serta sedikit tak enak, dia tahu kedatangannya itu menganggu bossnya itu.


"Maaf , saya menganggu, pak..."Ucapnya sambil membungkuk, asistennya yang ini bersikap sangat formal berbeda dengan Dea yang jauh lebih luwes bahkan masih bisa bercanda dengan bosnya.


Mungkin karena dia masih terlalu baru sehingga masih begitu canggung atau keculunannya itu memang sudah melekat erat.


"Tahu saja kalau sudah mengganggu." Gerutu Raka dalam hati, tetapi wajahnya tanpa ekspresi, menampilkan wibawa di depan bawahannya itu.


"Ada apa?" tanya Raka kemudian, dengan alis yang dinaikkan, tak beminat menanggapi basa-basi sang asisten.


"Siapa? sudah ada janji?" Raka mengangkat wajahnya dari lembaran kertas setlah sempat berpura-pura sibuk.


"Belum ada janji, pak. Tapi beliau bilang ingin bertemu dengan bapak karena pak Rudiath sedang berada di luar negeri sekarang." Rian menjawab dengan sedikit lebih tenang, bossnya itu tak menampakkan kekesalan, dia yakin pak boss ini tadi memang tidak terlalu terganggu dengan kehadirannya.


"Oh, papa memang sedang ada urusan ke Jepang kemarin. Ada pertemuan yang harus di hadirinya bersama kak Edgar. Apakah hal ini tidak menunggu papa datang saja?" Raka bertanya dengan enggan, rasanya dia sedang tidak ingin bertemu siapapun. Fikirannya separuh di kegiatannya yang sempat tertunda tadi.


"Ibu Dian, sekretaris pak Rudiath yang merekomendasikan supaya bisa bertemu dengan pak Raka saja atau kalau bisa dengan bu Sarah sekaligus, kata ibu Dian." Sahut Rian lagi.


Sekarang alis Raka bertaut dengan heran dan penasaran.


"Apakah sepenting itu?" Tanya Raka kemudian dengan penuh selidik.


"Saya juga tidak tahu pak."


Jawab Rian, cepat.


"Ada apa?" Sarah yang baru keluar dari toilet nampak sedikit bingung, melihat Raka dan Rian terlihat begitu serius.


"Sepertinya kita akan menerima tamu siang ini." Sahut Raka pada sang istri, sesaat dia melirik pada Sarah yang sudah rapi jali seolah-olah tidak terjadi apa-apa beberapa saat yang lewat.


Sarah sejenak menanggapi dengan dahi yang berkerut.


"Kamu sudah tanya dengan ibu Dian, mengenai hal apa ini?" Tanya Raka lagi, mencecar pada Rian.


"Ibu Dian hanya bilang, hanya pak Raka atau ibu Sarah yang bisa menanganinya."


Sekarang Raka terlihat menjadi sangat antusias sekaligus penasaran


"Dimana orangnya? suruh saja dia menemuiku sekarang." Raka menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya, mempersilahkan Rian untuk membawa tamu yang mendesak itu segera.


"Tidak bertemu di kantor ini, pak." Rian menjawab ragu-ragu.


"Lalu? Di mana?" Raka mengernyit dahinya dengan pandangan sedikit bingung.


"Bu Dian telah mengatur pertemuan bapak dengan orang itu di sebuah restoran, setengah jam lagi." Jawab Rian sambil merapihkan kacamatanya dengan gugup. Di tatap berbarengan oleh kedua orang bossnya itu membuat dirinya salah tingkah.


Sarah dan Raka saling berpandangan, sepertinya ada sesuatu yang bersifat rahasia yang bahkan tidak bisa dibicarakan dengan sembarangan di kantor mereka.


"Baiklah...aku dan bu Sarah akan menemuinya siang ini." Akhirnya Raka menyetujui pertemuan mendadak itu.


Raka tahu, jika sekretarisnya mengatur sesuatu dengan begitu detil, maka hal itu pastilah sangat penting.


Hal seperti itu memang jarang terjadi, tapi jika sekretaris ayahnya itu sampai turun tangan menjadwalkan pertemuan klien atau kolega dengan dirinya berarti hal itu cukup penting dan mendesak.


(Jangan penasaran yaaa....mak othor dah double UP lho hari ini, khusus untuk menemani malam minggu reders kesayangan semua😅 Yuk Vote, like dan komen buat novel ini...part selanjutnya pasti lebih seru...😅)




...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya......