Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EKSTRA PART-JANJI KELINGKING


"Apakah om Doddy akan menculik mama, malam ini?" Gadis kecil dengan paras cantik itu, menatap Doddy yang tak berkedip, duduk di kursi tamu.


Rambutnya di ikat dua seadanya di belakang telinga, matanya yang hitam besar seperti mata ayahnya, Bram itu mengerjap lucu di balik poni panjangnya yang hitam.



"Menculik? om Doddy bukan pencilik" Doddy menaikkan alisnya pada gadis kecil itu sambil tertawa kecil.


Dia sudah tiga kali ini bertemu dengan Bella, puteri Diah. Meski mereka tidak begitu akrab tapi Doddy sangat menyukai Bella, dia periang meskipun sedikit judes. Gadis kecil ini selalu tampak protektif dengan mamanya, apalagi jika ada orang yang mendekati sang mama.


"Bella pernah mendengar mama telpon dengan Om Doddy, mama bilang, jangan menculik sembarangan, datang harus kasih kabar." Mulutnya yang menggemaskan itu mengoceh sambil memainkan pensil di tangannya. Dia baru saja masuk SD, jadi sangat suka menggambar dan mewarnai apalagi dia sudah mulai bisa membaca, semua gambarnya itu di berinya tulisan nama.


Malam ini, Doddy membawakan satu set pensil warna dalam kotak besar untuk oleh-oleh buat reporter kecil yang suka bertanya macam-macam pada Doddy jika mereka bertemu.


"Bella menguping pembicaraan orang dewasa?" Doddy mengernyit dahinya, seperti seseorang yang curiga.


"Bukan begitu, om...tapi Bella tidak sengaja, habis mimpi di kejar cokelat, Bella bangun...terus Bella dengar mama bilang begitu."


"Belum tentu mamamu telponan dengan om...bisa saja dengan orang lain." Doddy berkelit, sedikit malu merasa dirinya seperti sedang tertangkap basah backstreet.


"Mama hanya terlihat aneh kalau telponan sama om Doddy." Tuduh Bella dengan muka cemberut.


"Aneh bagaimana?" Doddy tak bisa menyembunyikan raut penasarannya.


"Pipi mama pasti merah seperti buah jambu air di rumah nenek. Terus mama pasti senyum-senyum sendiri, mama bisa aneh begitu kalau om Doddy saja yang telpon." Jawabnya polos.


"Ooooo...." Doddy tak bisa menahan senyumnya.


"Om Doddy, mama dulu suka menangis sendiri kalau malam, sekarang suka senyum-senyum sendiri, apakah normal?" Tanya Bella tiba-tiba.


" Waaaah...kok bisa begitu..." Sekarang Doddy tampak semakin bersemangat meladeni gadis kecil itu ngobrol, ocehannya membuat Doddy yang kegeeran diam-diam.


"Itu sepertinya tidak normal." Doddy berkata setengah berbisik, sambil melirik ke arah pintu kamar Diah yang tertutup rapat, dia takut kepergok sedang menggosip bersama si gadis cerewet ini.


Doddy sedang menunggu Diah bersiap-siap, menghadiri makan malam di rumah Doddy bersama orangtuanya yang baru saja tiba siang tadi dari Jakarta.


"Hah..."Bella mengangkat wajahnya dan melotot lucu pada Doddy, sekarang dia tidak lagi memperhatikan kertas gambarnya.


"Sttt...." Doddy meletakkan telunjuk di bibirnya.


"Mama tidak normal?" Bella benar-benar tak berkedip seperti boneka, raut cemas jelas di wajah mungilnya.


"Ya, ini gejala tidak normal. Om Doddy harus sering menjenguknya kalau begitu, memastikan dia baik-baik saja." Doddy berkata dengan mimik serius.


"Mama tidak akan pergi seperti kak Benni kan?" Tanyanya semakin tampak cemas.


"Hush...dia hanya sedikit sakit, tidak serius. Tapi mamamu akan cepat sembuh jika om Doddy sering di dekatnya." Jawab Doddy iseng, hampir tak bisa menahan tawa melihat gadis ini mengerjap matanya sekali sebelum melongo.


"Ada penyakit seperti itu, om?" Tanya Bella penasaran, sekarang dia melepas pensil warna di tangannya, memutar lewat meja dan duduk persis di samping Doddy, pada sofa panjang yang di duduki Doddy.


"Penyakitnya aneh sekali om, apa nama penyakit seperti itu?"


Sekarang Doddy yang kelabakan mendengar pertanyaan Bella yang tampak serius. Dia hanya mencoba bercanda dengan Bella tapi gadis ini menanggapi dengan serius.


"Itu...itu namanya malaria...eh...malarindu." Doddy yang terlanjur membuat Bella percaya ini, berujar sambil mendekatkan wajahnya pada Diah.


"Bagaimana Bella menjaganya? apakah ada obatnya?"


"Waaah, itu tidak ada obatnya, nanti akan sembuh sendiri. Hanya om doddy yang bisa menyembuhkannya."


"Om Doddy dokter juga?"


Doddy semakin pusing sendiri, Bella menanggapi omongannya dengan serius.


"Om Doddy bukan dokter, tapi om Doddy bisa merawatnya kalau Bella ijinkan."


"Bella Ikhlas....!" Bella menyahut sambil memegang lengan Doddy tiba-tiba.


Doddy melongo tak menyangka si kecil lucu ini berucap demikian.


"Bella benar-benar ikhlas, om Doddy yang merawat mama sampai sembuh. Bella sedih, dulu papa selalu pergi, papa tak suka merawat mama, papa suka marah-marah dan membuat mama sering menangis." Matanya yang bening itu bercerita dengan polos, selama ini Bella terlihat sering cemberut jika melihat mamanya bersama orang lain tapi hari ini dia terlihat begitu senang.


Anak yang belum genap 7 tahun itu berbicara seolah dia sedang mengingat banyak hal sedih yang pernah di lihatnya.


"Om Doddy bisa berjanji kepada Bella?" Gadis kecil cantik itu mengangkat kepalan tangannya yang mungil, jari kelingkingnya mencuat di antara kepalannya.


"Janji? Om Doddy harus berjanji apa pada Bella?"


"Om Doddy sering-sering menelpon mama supaya mama Bella tidak menangis lagi...mama terlihat senang kalau sedang berbicara dengan om Doddy di telpon. Maukkah om Doddy membuat janji kelingking bersama?" kelingking itu terulur, bergerak-gerak lucu, sementara mata bulatnya yang seperti mata anak kucing memohon itu berkedip-kedip manis.


"Om Doddy berjanji, membuat mama Bella selalu tertawa. Tetapi Bella juga hqrus berjanji kepada om Doddy." Doddy mendekatlan wajahnya dan menyentuh ujung hidung Bella yang bangir.


"Janji apa?"Tanya Bella dengan pandangan berbinar penuh semangat.


"Bella tidak pernah membenci papa Bella meskipun papa Bella sering membuat mama menangis. Dia tetap sayang pada Bella dan mama dengan hatinya. Meskipun mama dan papa Bella tidak tinggal bersama lagi, mereka adalah orang tua yang menyayangi Bella sampai kapanpun." Kata Doddy dengan kalimat panjang dan teratur, membiarkan Bella menatapnya seperti boneka Barbie.


"Mama juga bilang begitu, kata mama Bella belum mengerti karena Bella belum dewasa. Tapi sekarang Bella sudah tinggi. Sudah besar. Seharusnya Bella mengerti." Gadis itu berdiri di atas sofa yang di dudukinya, menunjukkan dia tinggi dan besar dalam gaya yang lucu.


"Waaaah, Bella sudah tinggi sekali." Doddy berpura-pura mendonggak, dengan ekspresi terpana yang membuat Bella tertawa girang.


"Kalau Bella sudah dewasa nanti, Bella akan membuat mama selalu tertawa, sementara Bella belum setinggi mama, maukah om Doddy menjaga mama supaya tidak menangis lagi?" Pertanyaan polos itu, membuat dada Doddy tak urung bergemuruh juga. Pembicaraannya dengan Bella yang belum mengerti apa-apa itu benar-benar membuat perasaan terbawa.


"Ayo kita membuat janji kelingking, kalau om Doddy setuju." Bella membungkuk memyorongkan kelingking kecilnya.


Doddy kehilangan kata-katanya, kecuali seulas senyum tertahan sambil menganggukkan kepalanya, lalu dengan gemas dia mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Doddy.


"Sekarang kita teman." Bella tertawa riang sambil menggoyang-goyangkan kelingkingnya.


"Bella, kenapa kamu berdiri di atas kursi seperti itu? Tidak sopan bersikap begitu di depan tamu..."


Diah muncul di depan pintu kamar yang terbuka, berdiri hampir tak di sadari oleh dua orang yang sibuk membuat perjanjian itu.


Kepala Doddy berpaling, tertegun sesaat dan menatap terpana pada Diah tampak begitu anggun dan mempesona dalam balutan gaun floral yang sederhana tetapi saat Diah mengenakan, dia begitu menawan.



...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...